Archive for the ‘bisnis internasional’ Tag

Perilaku Etis dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan   Leave a comment

Dalam kehidupan bermasyarakat, walaupun betapa kecil populasinya tentu setidaknya kelompok tersebut memiliki nilai-nilai etika yang dijunjung bersama sehingga dapat meminimalisasi timbulnya konflik atau mencengah salah satu pihak mengalami kerugian. Begitupula dalam suatu bisnis, perusahan dalam menjalankan operasinya juga harus memperharikan etika yang berlaku karena etika secara langsung ataupun tidak langsung berpengaruh penting pada pandangan masyarakat mengenai citra perusahaan yang memproduksi produk-produk yang mereka kenali. Dias dan Shah, (2009:110) mendefinisikan etika sebagai pemahaman standar-standar perilaku moral yang diterima oleh masyarakat yang kemudian dinilai benar atau salah. Etika ini biasanya bersumber dari agama atau budaya Perbedaan antara etika dan hukum adalah dari segi ilegal atau tidaknya suatu perbuatan. Secara umum, sesuatu yang ilegal adalah juga merupakan sesuatu yang tidak etis, namun sesuatu yang tidak etis belum tentu ilegal. Contoh mencuri uang perusahaan adalah tindakan yang ilegal sekaligus tidak etis, dan patut dikenakan sanksi hukuman. Namun perbuatan membicarakan (baca: menggosipkan) pekerja lain dibelakangnya adalah hal yang tidak etis namun bukan hal yang ilegal (Dias & Shah, 2009:112). Etika dalam bisnis internasional dibagi menjadi dua yakni etika personal dan etika perusahaan.
Dalam etika personal ada lima pendekatan utama yang dapat membantu seseorang untuk membuat keputusan yang benar baik secara hukum maupun etika. Pendekatan yang pertama adalah Utilitarian atau manfaat yang berasumsi bahwa tindakan yang diambil haruslah memberikan apa yang terbaik bagi lingkungan dan diri sendiri. Kedua the rights approach yang menekankan bahwa tindakan etis adalah ketika seseorang bisa menjaga sikap dan respek terhadap hak-hak orang lain. Ketiga adalah pendekatan the fairness or justice approach yang mentyatakan bahwa tindakan etis akam membuat manusia pada posisi yang sama atau tidak sama sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Contoh perusahaan memberikan gaji pada tiap karyawannya yang jumlahnya tidaklah sama disesuaikan dengan jabatan, jenis pekerjaan, ataupun kontribusi mereka terhadap perusahaan. Yang keempat adalah pendekatan the common good approach yang merujuk pada hubungan yang terjadi dalam masyarakat yang berbasiskan pada etika rasional dan rasa respect atau saling menghormati dan rasa belas kasih terhadap satu sama lain. Kemudian pendekatan yang terakhir adalah the virtue approach yang menyatakan bahwa tindakan etis setidaknya harus bersifat konsisten dengan kebaikan ideal yang dapat mengembangkan rasa kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat (Dias & Shah, 2009: 114).
Selain manusia secara personal, perusahaan juga memiliki nilai-nilai etik tertentu yang harus ditaati yang dikodifikasikan secara formal dalam bentuk kode etik dan harus dijalankan oleh seluruh pekerjanya. Ada dua kategori kode etik perusahaan yaitu kode etik berbasis kerelaan dan kode etik berbasis integritas. Kode etik berbasis kerelaan menekankan pengenaan hukuman bagi para pelanggarnya dan meningkatkan kontrol untuk pemenuhan bagi setiap kewajiban. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dominasi penentuan keputusan, pelanggaran atau nilai benar salahnya oleh seorang saja secara khusus. Metode yang digunakan dalam penerapan kode etik ini adalah dengan meningkatkan kontrol, pendidikan, penalti, dan sebagainya. Sedangkan kode etik berbasis integritas lebih menekankan pada menetukan nilai-nilai tertentu dalam perusahaan agar mendukung terpenuhinya sikap-sikap etis tertentu. Sehingga kode etik ini terwujud baik berdasarkan standar umum seperti kode etik berbasis kerelaan juga ada kode etik standar internal tersendiri yang diciptakan. Namun keputusan tertinggi dipegang oleh manajer dengan bantuan pengacara, dan metode penerapannya dengan pelatian kepemimpinan, proses pengambilan keputusan, pendidikan, dan sebagainya (Dias & Shah, 2009: 116).
Selain menerapkan perilaku etis dalam bisnisnya, ada kegiatan salah satu kegiatan yang perlu dan penting untuk dilakukan perusahaan agar bisa meningkatkan nilai tambah dan citranya dalam masyarakat adalah dengan melakukan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu kepedulian bisnis kepada kesejahteraan masyarakat sekitar (Dias & Shah, 2009: 118). Tanggung jawab perusahaan menyangkut semua hal yang dilakukan perusahaan yang berhubungan dengan masyarakat mulai merekrut karyawan dari kelompok minoritas, menghemat energi, meminimalkan polusi dan sebagainya. Salah satu fungsi dari CSR ini adalah untuk menilai kerja sosial perusahaan yang dapat dilihat berdasarkan tiga kategori, yaitu kedermawanan perusahaan, tanggung jawab perusahaan, dan kebijakan perusahaan (Dias & Shah, 2009: 118). Kedermawanan perusahaan dapat berupa bantuan atau sumbangan sukarela yang diberikan pada kelompok-kelompok non-profit tertentu. Program ini ada yang merupakan program tetap perusahaan dan dapat dilakukan perusahaan besar maupun kecil. Dan dalam rangka menciptakan citra yang baik dengan melakukan CSR perusahaan biasanya akan menerbitkan laporan kegiatan sosialnya secara berkala kepada publik untuk. Namun untuk memberitakan kegiatan sosialnya, perusahaan harus bisa mengukur kontribusi positifnya terhadap mayarakat dan mengurangi dampak sosial negatifnya dengan menggunakan audit sosial. Audit sosial adalah evaluasi sistematik dari perkembangan masyarakat untuk mengimplementasi program tanggung jawab sosialnya dan biasanya meski dimulai oleh perusahaan namun ditangani oleh pihak luar yang ahli di bidangnya. Selain menggunakan audit sosial, biasanya ada pula kelompok-kelompok yang pekerjaannya memang mengawasi bagaimana perusahaan melaksanakan tanggung jawab sosialnya dan berlaku etis, yaitu investor yang peduli terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan, pecinta lingkungan, kelompok pekerja, dan pelanggan (Dias & Shah, 2009: 127-8).
Salah satu perbuatan etis yang paling mendasar dan minimal untuk dilakukan oleh perusahaan adalah memenuhi tanggung jawabnya pada pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut atau stakeholder yaitu meliputi pelanggan, investor, karyawan, masyarakat dan lingkungan (Dias & Shah, 2009: 122-7). Tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan yang paling penting adalah memuaskan pelanggan dengan produk dan jasanya yang berkualitas, caranya adalah dengan jujur kepada pelanggan mengenai produk yang mereka miliki dan tidak berlebihan dalam meng-iklankan produknya (baca: iklan bohong dan tidak sesuai kenyataan produk) serta dapat dipercaya. Tanggung jawab kedua adalah kepada investor dimana perusahaan harus berusaha sedemikian mungkin untuk selalu meningkatkan kekayaan investor yang telah memberikan dananya agar perusahaan tersebut bisa beroperasi dan jujur mengenai kondisi keuangan perusahaan kepada investor. Hal ini perlu dilakukan agar investor tetap mau bekerjasama dengan perusahaan. Tanggung jawab ketiga adalah kepada karyawan, diantaranya adalah tanggung jawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan menghargai karyawannya dengan perlakuan yang adil. Penghargaan ini salah satunya adalah dengan pemberian kompensasi dan membayar karyawannya dengan seharusnya. Dan tanggung jawab terakhir adalah kepada masyarakat dan lingkungan sekitar, yaitu menciptakan kesejahteraan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka tanggung jawab terhadap masyarakat adalah dengan mempromosikan keadilan sosial, donasi-donasi, berusaha melakukan bisnis tanpa membahayakan lingkungan, dan sebagainya.
Dewasa ini, tanggung jawab sosial dan perilaku etis perusahaan tidak hanya ditujukan pada lingkungan sekitar saja, namun juga kepada dunia global dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia mengingat banyak perusahaan yang berskala global (Multinational Corporation) dan hubungan bisnis dapat dijalankan semudah kita menggeser jari. Standar etis semakin hari semakin tinggi dan pelanggan tidak hanya menginginkan hal itu datang dari perusahaan di sekitar mereka saja, tapi juga perusahaan internasional lain yang mendistribusikan barangnya ke negara mereka agar perusahaan tersebut berkomitmen pada hal-hal yang melestarikan kehidupan manusia. Standar-standar tertentu juga tidak jarang ditetapkan oleh pemerintah kepada perusahaan asing yang ada di negaranya atau produknya akan diimporkan ke negaranya.
Namun yang perlu diingat menurut penulis adalah bahwa ketika banyak perusahaan internasional masuk pada suatu negara, ia seringkali disalahkan atas beberapa masalah sosial yang terjadi, padahal perusahaan disini hadir bukan untuk merusak lingkungan atau membuat para pengusaha kelas bawah menjadi gulung tikar, ia secara sederhananya ada hanya untuk merespon dan menghadirkan barang atau jasa yang orang inginkan, dengan cara itulah mereka (perusahaan) mendapatkan keuntungan. Jadi disini misi dan tujuan utama dari suatu perusahaan adalah bisnis pembuatan uang, dan selalu mengejar pada keuntungan, bukan suatu badan amal yang bertugas mengentaskan kemiskinan atau meningkatkan pendidikan (Stiglitz, 2006 : 189).. Dan dalam usaha meningkatkan profit-nya tersebut perusahaan multinasional telah banyak membawa kemajuan bagi beberapa negara berkembang seperti; membantu barang-barang dari negara berkembang untuk mencapai pasar negara-negara maju, transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang, menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan standar hidup di negara berkembang dan lain sebagainya. Dan tentunya jika ingin globalisasi berjalan maka perusahaan multinasional sangat penting keberadaannya

Referensi :
Dias, Laura dan Shah, Amit. 2009. ‘Demonstrating Ethical Behavior and Social Responsibility’ dalam Introduction to Business. New York: McGraw-Hill.
Stiglitz, J. (2006). Chapter 7 The Multinational Corporation. Dalam MAKING GLOBALIZATION WORK (hal. 187-210). New York: W W. Norton & Company, Inc. [Diunduh dari http://library.nu/docs/4HYOVEM3B1/Making%20Globalization%20Work pada 05 ‎Juni ‎2011, ‏‎21:53:30

Iklan

Posted Januari 25, 2012 by moze in Bisnis Internasional

Tagged with , , ,

Pemasaran : Tempat dan Promosi   Leave a comment

Dalam marketing mix ada empat proses yang turut mempengaruhi kesuksesan suatu bisnis internasional, hal-hal tersebut adalah penentuan product, price, place dan promotion. Dalam jurnal kali ini penulis akan lebih membahas pada dua elemen terakhir yakni tempat atau place dan promosi. Tempat disini memiliki makna proses fisik dalam mendistribusikan produk dan stategi yang dipakai dalam distribusi tersebut. Dengan kata lain yang dimaksud place dalam dunia marketing adalah penentuan dan penempatan lokasi dimana produk tersebut akan dijual. Sementara promosi lebih berhubungan dengan iklan, strategi bagaimana menjual produk secara langsung kepada konsumen, public relation dan penjualan secara personal.
A. Tempat (Place)
Agar suatu produk bisa sampai dari produsen ke tangan konsumen akhir, maka suatu produk tersebut harus melewati suatu rantai distribusi atau perantara. Perantara pemasaran dalam bisnis internasional dapat dibagi menjadi tiga yakni pedagang grosir (merchant wholesaler), agen dan broker, serta retailer. Merchant wholesalers adalah perusahaan grosir independen yang memakai nama dari produk yang mereka tangani (Dias & Shah. 2009: 319). Merchant wholesaler ini dibagi lagi menjadi dua tipe yakni yang bersifat full-service yaitu pedagang grosir yang melakukan semua fungsi distribusinya dan limited function bagi pedagang grosir yang hanya melakukan beberapa fungsi distribusi seperti rack jobbers yang tugasnya hanya menyediakan semua barang dagangan dan berbagi untung dengan pengecer. Lalu tipe cash-and-carry yang melayani hampir semua pengecer yang lebih kecil namun dengan macam-macam produk yang terbatas. Dan terakhir tipe drop shippers dimana ia hanya mengumpulkan pesanan dari retailer dan pedagang grosir lainnya. Kemudian tipe perantara pemasaran yang kedua yakni agen dan broker yang mana tugas keduanya hanyalah mempertemukan antara penjual dan pembeli untuk bernegosiasi dan mereka tidak memiliki produk sendiri. Perbedaan diantara keduanya adalah hubungan yang dijalankan antara agen dan produsen lebih bersifat jangka panjang. Lalu tipe perantantara pemasan yang terakhir adalah retail intermediaries atau pengecer, mereka itu adalah pihak yang membawa produk barang maupun jasa kepada konsumen final untuk dikonsumsi (Dias & Shah. 2009: 322-323).
Kemudian masalah yang juga berkaitan dengan tempat adalah tentang bagaimana cara untuk memindahkan barang atau jasa dari satu kota ke kota lainnya atau dari satu negara ke negara lainnya secara efektif dan efisien sehingga perusahaan dapat memperoleh competitive advantages mereka seperti harga yang lebih murah dan pengiriman yang cepat sehingga dapat mendongkrak kepuasan konsumen. Untuk tujuan itulah maka perusahaan memakai supply chain management yaitu pengaturan proses pemindahan barang dan jasa satu tempat ke tempat lainnya. Ia terdiri dari supplier, manufacture, wholesaler, retailer dan konsumen. Sedangkan logistik yang nantinya akan mengatur supply chain dan segala proses yang menyertainya. Logistik disini termasuk rencana, implementasi dan kontrol terhadap aliran materi, barang serta informasi yang berkaitan dengan poin asal barang dan poin dimana barang tersebut akan dikonsumsi (Dias & Shah. 2009: 324).
Pembahasan selanjutnya adalah tentang retailing atau menjual eceran. Seorang retailer adalah perantara marketing yang menjual kepada konsumen akhir. Mengingat begitu banyaknya pengecer, maka untuk mendapatkan konsumen yang banyak pula, maka para pengecer tersebut harus berkompetisi dengan pengecer lainnya. Ada lima cara yang dapat dipakai oleh pengecer agar mendapatkan pelanggan yaitu dengan kompetisi harga, pelayanan, lokasi, pemilihan dan hiburan. Berkaitan dengan distribusi maka pengecer dikategorikan menjadi tiga, hal ini dikarenakan perbedaan produk menyebabkan perbedaan strategi distribusi yang harus dilakukan. Pertama adalah distribusi intensiv dimana sebisa mungkin menaruh sebanyak-banyaknya produk di pengecer. Kedua, distribusi selektif yang menaruh produk hanya kepada pengecer yang lebih disukai dalam satu area. Dan ketiga distribusi eksklusif yang hanya mengirim produk kepada satu pengecer dalam satu area geografis. Diluar tiga pengecer diatas, masih ada lagi tipe-tipe pengecer lain yang bermunculan ketika ia didukung oleh perkembangan teknologi seperti pengecer melalui internet, telemarketing, vending, dan direct selling atau door to door (Dias & Shah. 2009: 325-333).
B. Promosi
Secara sederhana promosi adalah usaha yang dilakukan oleh seorang pemasar (marketers) untuk menginformasikan dan mengingatkan orang-orang yang menjadi target pasarnya tentang produk mereka disertai dengan bujukan agar mereka mau membeli produk-produk tertentu. Yang menjadi fokus utama dalam promosi adalah bagaimana cara memilih metode komunikasi yang tepat serta desain pesan yang menarik agar apa yang ingin mereka sampaikan dapat dipahami dengan baik serta dapat mempengaruhi target pasar tersebut. Untuk itu seorang pemasar dapat menggunakan alat-alat seperti iklan, penjualan personal, public relation dan sales promotion. Kombinasi dari alat-alat promosi diatas disebut promotion mix (Dias & Shah. 2009: 334).
Iklan adalah komunikasi nonpersonal melalui berbagai macam media menggunakan organisasi atau individu yang dengan cara-cara tertentu mereka menyampaikan pesan dari pemasar dan sifatnya dibayar. Media yang paling efektif dalam promosi adalah televisi. Kemudian penjualan secara personal adalah presentasi face to face dan promosi barang dan jasa. Tahap tahap untuk melakukan penjualan personal adalah 1) identifikasi prospek dan kualifikasi pemenuhan syarat calon pembeli, 2) preapproach dengan mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh calon pembeli, 3) pendekatan, 4) membuat presentasi, 5) menjawab tujuan dan keberatan calon pembeli, 6) menutup penjualan dengan menanyakan komitmen konsumen untuk membeli, 7) follow up dan pemeliharaan hubungan. Lalu metode yang ketiga adalah public relation yang merupakan suatu fungsi manajemen yang mengevaluasi perilaku publik, perubahan kebijakan dan prosedur yang sesuai, serta melaksanakan program aksi dan informasi untuk mendapatkan pemahaman dan penerimaan dari masyarakat. Publisitas adalah tiap informasi mengenai individu, produk atau organisasi yang didistribusikan ke publik melalui media dan sifatnya tidak dibayar atau dikontrol oleh penjual. Selanjutnya metode yang terakhir adalah promosi dengan cara sales promotion atau menstimulasi konsumen untuk membeli dengan menggunakan serta melibatkan cara dan aktivitas yang dilaksanakan dalam waktu singkat (Dias & Shah. 2009: 334-344), contoh produk kecantikan yang mendatangi tempat-tempat umum dan menawarkan pemerikasaan kulit dan facial secara gratis jika konsumen mau membeli produk mereka.
Selain empat metode yang telah dijelaskan diatas, ada dua tipe promosi lainnya yaitu viral marketing dan word-of-mouth promotion. Viral marketing adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan aktivitas promosi yang dilakukan dengancara membayar orang untuk mengatakan hal yang positif di internet terkait dengan produk-produk tertentu, cara ini disetel degan skema multilevel dimana konsumen dapat memperoleh komisi jika berhasil mengarahkan teman-temannya atau orang lain untuk mengunjung website tertentu. Sedangkan word-of-mouth promotion adalah promosi yang dilakukan dengan melibatkan orang-orang untuk memberi tahu orang lainnya bahwa mereka telah membeli produk tertentu. Atau istilah sederhananya adalah promosi ‘dari mulut ke mulut’ (Dias & Shah. 2009: 346).
Selain empat undur promosi diatas yang dikenal dengan promotion mix, dalam dunia promosi saat ini ada istilah yang tidak kalah menarik yaitu integrated marketing communication (IMC) yaitu ‘way of thinking’ tentang promosi yang mengkombinasikan semua alat-alat promosi dan lain sebagainya dalam satu kesatuan strategi promosi yang komprehensif dan terpadu. Dalam IMC yang terjadi adalah semua area promosi menawarkan pesan yang sama kepada konsumen. Dimana perusahaan disini berusaha untuk memastikan letterhead, logo, dan warna penanda agar dapat mencerminkan iklan-iklan yang konsisten dan mendukung dan menyatukan tema bauran promosi. IMC ini diterapkan berdasarkan pertimbangan bahwa seringkali kurangnya koordinasi antara perusahaan iklan dan perusahaan dapat menyebabkan adanya inkonsistensi pesan yang disampaikan kepada konsumen. IMC biasanya digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan brand image yang positif dan untuk mempertemukan antara strategi pemasaran dan tujuan promosi dari perusahaan tersebut. IMC ini pertama-tama dapat dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan data tentang kebutuhan dari pelanggan dan stakeholder. Data tersebut kemuadian diolah untuk melihat gambaran luas dari sasaran pasar mereka dan hal tersebut tentu akan membuat tim promosi memahami apa yang harus mereka lakukan agar pesan mereka tersampaikan dengan baik dan benar serta menarik bagi konsumen (Dias & Shah. 2009: 349).

Referensi :
Dias, Laura Portolese & Shah, Amit. J. 2009. Marketing : Place and Promotion, dalam Introduction to Business. New York : McGraw-Hill.

Manajemen Sumber Daya Manusia   Leave a comment

Efetivitas dan keberhasilan suatu organisasi tidak dapat dipungkiri tergantung pada berbagai macam aspek perusahaan dan lingkungan sekitar, termasuk sumber daya manusia dan bagaimana cara kerjanya diatur sedemikian rupa. Untuk itu diperlukan seorang manajer dalam bidang sumber daya manusia yang bertanggung jawab untuk mengawasi para pekerja agar melaksanakan kewajiban masing-masing dan mengintegrasikan sumber daya manusia tersebut dengan sumber daya fisik (kebendaan) agar menghasilkan sistem produksi yang efektif. Kegiatan manajemen sumber daya manusia ini meliputi perkiraan jumlah pegawai yang dibutuhkan, seleksi dan rekruitmen, training dan pengembangan, motivasi, kompensasi, disiplin, serta pemberhentian pegawai. Bagi perusahaan yang melakukan bisnis internasional dan beroperasi di luar negeri tentunya akan semakin membutuhkan orang-orang atau sumber daya manusia yang memiliki kemampuan lebih serta bikultural. Dalam artian para pegawai dan karyawan di perusahaan internasional haruslah mempunyai pengetahuan tentang praktik bisnis baik di negara asal maupun di negara tujuan dan kebiasaan-kebiasaannya (Wild, 2008: 542).
Beberapa penelitian mengatakan bahwa menurut para CEO yang beroperasi dalam bisnis internasional, mengembangkan suatu global mind-set merupakan prasyarat awal bagi sebuah perusahaan yang beroperasi lintas negara. Global mind-set disini berarti sebuah pemikiran yang mengkombinasikan keterbukaan dan penghargaan terhadap perbedaan pada pasar internasional serta perbedaan budaya dengan kecenderungan dan kemampuan untuk menggabungkan (mensintesa) perbedaan tersebut (Wild, 2008: 542). Atau dalam kalimat yang sederhana, seorang pegawai (manajer khususnya) yang berada dalam lingkungan bisnis global maka ia harus dapat membuka pikirannya dan menyerap perbedaan yang ada serta menyesuaikan diri dan perusahaan dengan lingkungan dimana ia berada agar dapat bertahan dan menghasilkan keuntungan. Global mind-set ini sebaiknya diterapkan dalam semua aspek manajemen sumber daya manusia.
Tahap awal manajemen sumber daya manusia adalah menentukan berapa perkiraan jumlah pegawai yang dibutuhkan dan apa saja persyaratannya, kemudian yang kedua adalah tahap rektrutmen dan seleksi dimana proses ini ditentukan oleh orientasi strategi perusahaan yang meliputi kebijakan etnosentris, polisentris, regiosentris, ataukan geosentris. Kebijakan etnosentis disini digunakan ketika sebuah perusahaan merekrut dan mempromosikan pegawainya berdasarkan ketentuan perusahaan induk di negara asal (Wild, 2008: 543). Atau dengan kata lain perusahaan di negara asal mengirimkan orang-orang dari negaranya ke negara tujuan untuk ditempatkan di posisi-posisi tertentu. Dengan demikian otoritas tertinggi tetap berada di tangan perusahaan induk termasuk evaluasi dan kontol yang sesuai dengan standar negara asal. Keuntungan dari kebijakan ini adalah dengan mengirimkan pegawai mereka ke negara lain yang memiliki perbedaan suasana dan permasalahan, maka akan menambah pengalaman pegawai tersebut dalam menyerap perbedaan dan semakin siap untuk dijadikan manajer di perusahaan induk.
Kemudian kebijakan polisentris digunakan oleh perusahaan yang berorientasi strategi multidomestik ketika ia merekrut dan mempromosikan karyawannya berdasarkan spesifikasi konteks lokal dimana anak perusahaan tersebut berada (Wild, 2008: 545). Jadi perusahaan internasional tersebut merekrut dan menepatkan penduduk lokal di posisi-posisi penting dengan asumsi orang lokal lebih memahami situasi dan kondisi dimana perusahaan tersebut beroperasi sehingga diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang tepat. Kebijakan polisentris ini memiliki ortoritas yang lemah dari perusahaan induk sehingga evaluasi dan kontrol-nya pun dibentuk secara lokal dan aliran informasi dan komunikasi antara perusahaan induk dan cabang relatif sedikit. Hal ini terkadang mengakibatkan kebijakan yang dibuat di ranah cabang tidak sesuai dengan visi misi perusahaan induk.
Lalu kebijakan regiosentris dilakukan ketika suatu perusahaan merekrut atau mempromosikan karyawannya berdasarkan konteks spesifikasi regional dimana perusahaan tersebut beroperasi. Dalam artian perusahaan mengambil pegawai dari wilayah regional tertentu untuk menempati posisi posisi penting di manapun perusahaan tersebut berada, namun masih dalam regional teresebut. Otoritas tertinggi perusahaan, berada dan ditentukan secara regional, termasuk kontrol, evaluasi, komunikasi dan informasi. Oleh karena itu kebijakan ini banyak diadopsi oleh perusahaan dan bisnis yang berorientasi strategi regional (Wild, 2008: 546).
Dan mekanisme rekrutmen-seleksi yang terakhir yakni menggunakan kebijakan geosentris yang mana banyak digunakan oleh perusahaan internasional dengan orientasi strategi transnasional. Dalam artian perusahaan merekrut dan mempromosikan karyawannya berdasarkan kemampuan dan pengalamannya tanpa mempertimbangkan ras atau kewarganegaraan. Hal ini dilakukan dengan cara perusahaan memilih orang-orang terbaik dimanapun di seluruh dunia untuk ditempatkan di posisi-posisi strategis perusahaan cabang manapun. Otoritasnya juga berdasarkan kolaborasi dari semua perusahaan baik induk ataupun cabang di seluruh dunia yang terintegrasi secara global baik dalam mekanisme konrol-evaluasi ataupun komunikasi-informasi (Wild, 2008: 547).
Aktivitas manajemen sumber daya manusia yang ketiga yakni pelatihan dan pengembangan yang mana berkaitan dengan proses rekrutmen diatas. Proses rekrutmen inilah yang nantinya menentukan jenis pelatihan seperti apa yang dibutuhkan oleh pegawai. Secara garis besar sebelum mengirim pegawainya untuk mengoperasikan perusahaan cabang, biasanya perusahaan melatih dan membekali mereka dengan berbagai macam kemampuan yang sekiranya dibutuhkan agar dapat beradaptasi dengan baik, seperti bahasa (terutama bahasa Inggris dan bahasa lokal) dan kebudayaan negara tujuan/host country.
Dari penjelasan tentang rekrutmen diatas maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia (SDM) perusahaan internasional dapat diperoleh baik dari negara asal perusahaan, negara tujuan perusahaan ataupun dari negara ketiga. Perkrutan ini kemudian membawa dampak munculnya expatriat di negara tujuan perusahaan. Expatriat disini didefinisikan sebagai seseorang yang bertempat tinggal diluar wilayah kewarganegaraannya (Wild, 2008: 542). Keberadaan expratriat disini berguna untuk menghadirkan atau membawa kemampuan teknis atau manajerial yang jarang ditemui di negara tujuan serta mentransfer baik sistem perusahaan atau kebudayaan. Namun keberadaan expatriat ini membutuhkan perhatian yang lebih besar dan pertimbangan yang matang agar performa kinerjanya tetap bagus. Oleh karena itu sebelum mengirim pegawainya ke luar negeri, perusahaan perlu memberikan pelatihan bahasa dan budaya lokal negara tujuan agar terhindar dari language trap (situasi dimana seseorang yang melakukan bisnis internasional hanya dapat berbicara dengan bahasa ibunya) dan masalah culture shock akibat tidak bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi negara dimana ia ditempatkan. Selain itu perusahaan juga perlu memperhatikan keluarga dari pegawai expatriat tersebut, karena berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa 9 dari 10 kegagalan expatriat berkaitan dengan masalah keluarga (Wild, 2008: 551).
Bahkan setelah expatriat bertugas di luar negeri dan kembali ke negara asalnya, masih ada kemungkinan masalah lain seperti repatriation atau kondisi dimana ia mengalami culture shock di negera asalnya akibat kebiasaan yang diperoleh dari luar negeri (Wild, 2008: 554). Oleh karena itu menjadi penting untuk merencanakan kembalinya expatriat tersebut sebelum persetujuan pengiriman ke luar negeri dibuat. Perencanaan pengembalian itu termasuk konseling repatriation bagi mereka yang kesulitan untuk kembali ke kebiasaan lama negara asal.
Bagi sebuah perusahaan internasional (terutama pemilik) tentu merupakan hal yang agak sulit jika mempercayakan bisnis mereka di tangan pegawai yang dikirim ke luar negeri, untuk itu para expatriat perlu diberi fasilitas-fasilitas khusus dan istimewa agar dapat bekerja dengan maksimal dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya (baca: kompensasi untuk mendapatkan loyalitas expatriat). Kompensasi itu meliputi gaji pokok, allowance, bonus, dan status internasional (Wild, 2008: 555). Gaji pokok adalah sejumlah bayaran yang diberikan kepada expatriat sesuai dengan pekerjaan yang dijaklankannya. Sedangkan allowance adalah kompensasi bayaran pegawai yang ditambahkan pada gaji pokok karena pengeluaran yang lebih tinggi saat hidup di luar negeri, meliputi tempat tinggal, biaya hidup, pajak, pendidikan dan biaya kepindahan. Kemudian bonus yang merupakan kompensasi bayaran pegawai expatriat yang ditambahkan pada gaji pokok dan allowance dikarenakan kerja kerasnya, gangguan yang dialaminya ataupun jika terlibat bahaya. Bonus disini meliputi keistimewaan bekerja di luar negeri, pembayaran akhir kontrak, kesempatan untuk kembali atau berkunjung ke negara asal (Wild, 2008: 555-558). Pada intinya performa kerja dan kemauan expatriat untuk dikirim ke luar negeri salah satunya adalah tergantung pada fasilitas yang dijanjikan oleh perusahaan. Melihat fakta yang ada sekarang dimana dengan adanya globalisasi baik bisnis maupun teknologi serta transportasi, maka prospek keberadaan expatriat ini akan semakin meningkat.
Referensi :
Wild, John J. et.al. 2008. “Human Rescoursce Management” dalam Business : the Challenges of Globalisation. New Jersey : Pearson

Jenis-jenis Bisnis Internasional   Leave a comment

Ada peribahasa mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma’ setidaknya hal itu sangat berlaku bagi kalangan bisnis baik nasional maupun internasional yang meyakini bahwa ‘banyak pula jalan menuju keuntungan’. Berbisnis di dunia internasional, apalagi di era globalisasi ini sangat mungkin dilakukan oleh setiap orang dengan banyak cara dan model karena dengan adanya globalisasi dan kemajuan terknologi, hubungan dan mobilisasi antarmanusia yang tinggal di kutub yang berlainan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Pada intinya jarak dan waktu di era globalisasi ini tidak lagi menjadi masalah.
Contoh dari bisnis internasional yang sukses memasuki pasar dunia-Indonesia khususnya- adalah handphone Blackberry. Pada awal mula peluncuran produknya, Blackberry hanya merupakan ponsel biasa yang bentuknya hampir sama dengan merek lain seperti Nokia, Sony Ericson, Xiemens yang hanya memiliki jumlah keypad sedikit. Lalu karena ia dalam bisnis handphone hanya merupakan followers alias cuma ikut-ikutan saja tanpa ada fitur tambahan yang ‘beda’ dengan merek-merek sebelumnya, maka ia gagal menembus pasaran handphone. Selang beberapa tahun kemudian, ia kembali meluncurkan produknya dan kali ini ia berhasil menembus pasaran handphone dengan cara menyediakan bentuk dan fitur handphone yang ‘beda’ dengan yang lain serta mengubah cara orang memakai handphone. Tak pelak lagi konsumen mulai mengenali keistimewaan produk Blackberry ini dan seterusnya Blackberry menjadi trend baru dalam bisnis telfon genggam dan mengalahkan kompetitor lain. Dari contoh diatas dapat dikatakan bahwa di awal, ketika Blackberry hanya menjadi followers dari handphone berbagai merek, kemunculannya tidak banyak mendapatkan apresiasi alias gagal. Namun ketika ia menjadi pioneers dari handphone model ‘qwerty’ ia disambut dengan hangat oleh sejumlah konsumen bahkan sampai sekarangpun belum ada yang mengalahkan ia di bidangnya. Contoh kasus diatas sangat tepat apabila dikaitkan dengan artikel Wild yang mengatakan bahwa ‘…pioner yang dapat bertahan, memegang porsi pasar yang lebih besar daripada kompetitor lain…’. Wild dalam artikelnya juga mengatakan bahwa sebenarnya followers tidak selalu gagal, adakalanya ia berhasil menyaingi pendahulunya dengan catatan jika ia memiliki kecepatatan dan modal yang memadai, selain itu keuntungan menjadi followers adalah ia dapat menghindari resiko yang diemban oleh pioneers dan mengamati apa saja kelemahan dan kekuarangan si pioneer (Wild, Wild, & Han, 2008 : 426). Jadi menurut penulis, untuk memasuki pasar bisnis internasional selalu ada resiko dan keuntungan baik bagi followers maupun pioneers, faktor penempatan waktu dan tempat-lah yang sangat berpengaruh bagi kesuksesan sebuah produk atau jasa (baca: right things on the right time and place).
Dari artikel ‘Entry Modes’ dalam buku International Business : The Challenges of Globalization yang ditulis bersama oleh John J. Wild, Kenneth Wild dan Jerry Han dijelaskan bahwa macam-macam variasi bisnis internasional secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yakni yang berbasiskan Equity dan Non-Equity. Untuk yang berbasiskan equity ada tujuh jenis yaitu:
1. Export, terdiri dari dua jenis yaitu Indirect Export yang mengekspor barang dan jasa melalui beberapa macam tipe pangkalan induk ekportir. Dan Direct Export yang bidangnya adalah mengekspor barang atau jasa yang mereka produksi sendiri. Direct Export disini jika ia sudah berkembang pesat dan banyak melayani pelanggan diluar negeri, maka kemudian perusahan (yang memproduksi) tersebut akan membuat sebuah sales company di negara tujuan ekspor, yang tugasnya adalah bertujuan untuk memasarkan barang dan jasa tersebut.
2. Turnkey Project adalah sebuah mekanisme ekspor teknologi, keahlian manajerial, dan sebagian berbentuk perlengkapan modal. Disini yang terlibat adalah pihak kontraktor dimana ia setuju untuk mendesain dan mendirikan sebuah pabrik, menyediakan teknologi pemrosesan, menyuplai bahan mentah yang dibutuhkan dan lain sebagainya serta melatih personel untuk mengoperasikan alat-alat dan teknologi tersebut, sedangkan instansi yang menyewanya hanya tinggal meneruskan dan mengembangkan bisnis tersebut. Contoh, bisnis penyulingan minyak dan produksi baja.
3. Countertrade
4. Licencing adalah pengaturan kontrak yang mana satu perusahaan (the licencor) memberikan akses hak paten, keahlian, prosesur pemasaran, trademarks, rahasia penjualan atau teknologi kepada perusahaan lain (the licencee) untuk mendapatkan bayaran. Besarnya ongkos tergantung bargaining power masing-masing perusahaan dan pihak licencee harus memberikan royalti sebesar 2 sampai 5 persen dari penjualannya sebagai ganti pertolongan (assistance) yang diberikan oleh licencor selama kontrak tersebut masih berlaku. Contoh majalah Cosmopolitan yang terbit di lebih dari 100 negara.
5. Franchising adalah bentuk dari lisensi dimana satu perusahaan (franchisee) melakukan kontrak dengan perusahaan lain untuk mengoperasikan tipe bisnis tertentu dibawah nama perusahaan yang sudah terkenal menurut peraturan yang spesifik. Contohnya adalah McDonald di Indonesia dimana walaupun gerainya milik orang lokal, namun untuk manajemen, produksi dan pengembangan pasarnya masih tetap dikontrol pihak yang memiliki brand tersebut.
6. Contract Manufacturing adalah sejenis pengaturan kontrak dimana satu perusahaan bersedia untuk memproduksi barang bagi perusahaan lain, yang produk tersebut sesuai dengan spesifikasi permintaan perusahaan kedua yang nantinya akan mereka pasarkan sendiri. Contoh, perusahaan air kemasan jawa timur ‘flow’ yang bersedia untuk menyediakan air kemasan bagi Universitas Airlangga Surabaya dengan memakai label Universitas Airlangga sebagai merek air kemasan tersebut.
7. Management Contract adalah pengaturan dimana satu perusahaan menyediakan mekanisme manajemen dalam satu atau semua area kepada perusahaan lain. Contoh jaringan hotel Hilton di dunia yang kepemilikannya kepunyaan orang-orang tertentu yang berlainan namun untuk manajemen hotelnya langsung disediakan oleh jaringan Hilton.
(Wild, Wild, & Han, 2008 : 427-430)
Sedangkan untuk bisnis internasional yang berbasiskan Non-Equity terdiri dari tiga jenis yaitu :
a) Wholly Owned Subsidiary atau dalam bahasa sederhananya adalah cabang perusahaan di luar negeri dimana kepemilikannya bersifat menyeluruh bagi perusahaan tersebut. Wholly Owned Subsidiary ini dapat dicapai dengan cara perusahaan membangun cabang pabrik dari awal, atau mengambil alih kepemilikan perusahaan (akuisisi) lokal dengan begitu ia tidak perlu mulai dari awal dan hanya tinggal mengembangkannya. Akuisisi dan merger (penggabungan perusahaan) ini ternyata seringkali dilakukan oleh perusahaan karena dengan begitu akan lebih menghemat biaya pengembangan dan distribusi produk (Wild, Wild, & Han, 2008 : 431).
b) Joint Venture adalah usaha kerjasama antara dua atau lebih perusahaan yang berbagi kepentingan yang sama dalam sebuah perusahaan bisnis atau pelaksanaannya. Secara garis besar menurut Wild, ada empat bentuk joint venture; 1) suatu entitas perusahaan yang dibentuk oleh perusahaan internasional (skala besar) dan pemilik lokal, 2) sebuah entitas perusahaan yang dibentuk oleh dua perusahaan internasional, 3) entitas perusahaan yang dibentuk oleh agen pemerintah dan perusahaan internasional, dan 4) kerjasama antara dua atau lebih perusahaan untuk melaksanakan suatu proyek yang terbatas seperti proyek pembangunan jalan tol dan bandara udara. Ada banyak keuntungan dalam menjalankan join venture ini diantaranya ialah, ia menawarkan komitmen finansial dan sumber pengaturan yang lebih ringan dan mudah karena ditanggung bersama (walaupun porsinya beda) diantara partner, serta resiko yang dibawa oleh joint venture lebih kecil. Namun kerugian dari melakukan joint venture ini adalah pertama keuntungannnya harus dibagi, kedua apalagi jika ada peraturan pemerintah setempat yang mengharuskan partisipasi perusahaan luar tidak lebih dari 49% dan jika ditambah dengan sempitnya atau ketiadaan pasar modal di negara tersebut para pemegang saham tentunya akan kesulitan untuk mengembangkan dan menjual saham mereka. Pada intinya semua kelemahan ini bermuara pada satu masalah yakni para pemegang saham atau perusahaan asing ingin mendapatkan kontrol yang lebih besar atas aset yang mereka miliki (Wild, Wild, & Han, 2008, p. 434).
Joint venture, walaupun kelihatannya cukup membatasi gerak perusahaan asing, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia merupakan bentuk kerjasama yang menguntungkan, buktinya masih banyak perusahaan yang melakukan mekanisme ini walaupun beberapa negara mensyaratkan harus ada partisipasi lokal, bahkan tanpa disuruhpun ada perusahaan yang mencari partner lokal guna memudahkan pemasaran produk mereka di negara tersebut. Hal ini dilakukan oleh perusahaan asing agar nasionalisme warga negara setempat tidak tersulut dan menolak perusahaan tersebut, disamping itu di beberapa negara berkembang seringkali masyarakatnya tidak senang dengan keberadaan perusahaan asing karena dianggap mengeksploitasi mereka. Meskipun ketentuan partisipasi perusahaan asing hanya dibolehkan tidak lebih dari 49 persen, namun perusahaan asing tersebut pada kenyataannya dapat memperoleh kontrol yang lebih besar terhadap investasi mereka dengan cara bekerjasama dengan ‘sleeping partner’ seperti agen pemerintah, perusahaan asuransi, dan institusi finansial dimana fokus mereka hanyalah mendapatkan keuntungan dan alih-alih menyerahkan seluruh manajemen perusahaan ke partner asing mereka. Atau kontrol dapat juga diperoleh dengan mekanisme manajemen kontrak (Wild, Wild, & Han, 2008, pp. 433-435), yang mana nantinya para ahli (terutama di posisi manajer produksi dan teknik) dari partner asing inilah yang nantinya akan mengatur jalannya perusahaan joint venture bukan pemilik besar saham.
c) Strategic Alliances adalah bentuk pertnership atau persekutuan antara kompetitor, pelanggan, atau suppliers yang melibatkan satu atau bermacam-macam bentuk baik equity atau non equity. Tujuan dari stategi aliansi ini adalah untuk mempercepat proses masuk pada pasar internasional dan memantapkan posisi awal perusahaan, untuk mendapatkan akses produk terbaru, teknologi, pasar, dan pembagian biaya produksi, sumber daya dan resiko (Wild, Wild, & Han, 2008 : 435).
Referensi :
Wild, J. J., Wild, K. L., & Han, J. C. (2008). Entry Modes. In International Business : The Challenges of Globalization (pp. 424-443). New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Posted Januari 25, 2012 by moze in Bisnis Internasional

Tagged with

Globalisasi dan Bisnis Internasional   Leave a comment

Nama : Muzainiyeh (070912061)
Tugas pertemuan ke-2 Bisnis Internasional

Berbicara mengenai bisnis internasional, seringkali benak kita tidak lepas dengan istilah atau kata yang sangat booming saat ini, yakni Globalisasi. Kedua istilah tersebut tidak bisa dipungkiri memang memiliki keterkaitan yang erat antara satu sama lain. Secara sederhana globalisasi didefinisikan oleh John D. Daniel sebagai proses memperdalam dan memperluas hubungan dan saling ketergantungan diantara negara-negara yang berlangsung secara terus menerus, sedangkan bisnis internasional ialah merupakan mekanisme untuk mewujudkan globalisasi tersebut (Daniels, Radebaugh, & Sullivan, 2007, hal. 26). Jika disuruh menentukan mana diantara kedua istilah tersebut yang lebih penting, mungkin penulis akan kebingungan karena globalisasi sendiri muncul dengan membawa background ekonomi atau dalam hal ini bisnis internasional.
Ada lima alasan menurut Daniel mengapa mempelajari bisnis internasional menjadi penting dan perlu. Pertama, karena sebagian besar perusahaan beroperasi secara internasional atau berkompetisi dengan perusahaan internasional lainnya. Kedua, jika suatu perusahaan beroperasi secara internasional maka ia terikat dengan beberapa model operasi bisnis yang tentunya akan berbeda dengan operasi atau mekanisme bisnis di wilayah domestik. Ketiga, setiap negara mungkin memiliki cara atau pola berbeda untuk menerapkan mekanisme terbaik bagi negara mereka. Keempat, dengan mempelajari bisnis internasional dan segala aspek yang menyertainya, kita terbantu untuk menentukan karir mana yang terbaik. Dan terakhir, dengan memahami bisnis internasional, kita tahu mana dari kebijakan pemerintah yang perlu didukung dan ditolak (Daniels, Radebaugh, & Sullivan, 2007, hal. 7).
Untuk mengilustrasikan bagaimana keterkaitan erat antara globalisasi dan bisnis internasional, maka penulis akan memulai dengan pernyataan yang sama yang dikatakan oleh Walter LaFeber yakni “ The most globalized business in the world, and the most lucrative, is the drug trade, but for legitimate businesses, sports is probably number 1.” Hampir seluruh dari umat manusia menurut penulis menyukai sepakbola dan selalu menantikan even piala dunia yang dilaksanakan dalam rentang empat tahun tersebut. Tentunya kita harus bersyukur karena berkat globalisasi dan penemuan satelit maka kita bisa menonton pertandingan secara langsung walaupun jarak kita bermil-mil jauhnya dari tempat pertandingan tersebut diselenggarakan. Piala Dunia, ternyata tidak hanya menyangkut permainan bola dan siapa yang menang serta siapa yang kalah. Karena berkat globalisasi pula, banyak perusahaan yang memandang bahwa bisnis olahraga adalah ladang yang sangat subur untuk ditanami dan kemudian dipanen. Tentu bukan hal yang aneh bagi para penonton pertandingan sepak bola jika melihat papan display di pinggir lapangan ditayangkan beberapa logo merek dagang atau spanduk berisi nama perusahaan, bahkan di kaos pemain bola terpampang logo suatu perusahaan. Hal tersebut tentu saja merupakan bagian dari bisnis internasional yang melibatkan uang yang tidak sedikit. Dalam artikelnya Daniel mengatakan bahwa ‘semakin banyak suatu pertandingan menarik perhatian penonton baik yang datang langsung ataupun lewat televisi maka semakin banyak pula iklan dan sponsor yang bersedia untuk membayar’ (Daniels, Radebaugh, & Sullivan, 2007, hal. 4). Secara sederhana cara kerjanya adalah karena pertandingan piala dunia disiarkan di beberapa ratus negara, maka banyak perusahaan yang ingin meluaskan pasar mereka dengan cara menjadi sponsor dari piala dunia tersebut, dengan menjadi sponsor maka nama perusahaan atau produk atau logo mereka akan semakin dikenali oleh masyarakat dunia, yang mana hal ini diharapkan semakin meningkatkan penjualan produk dan profit yang mereka dapatkan. Kemudian berkat globalisasi pula para fans bola dapat berpindah tempat dengan mudah dan mengikuti kemana tim favoritnya akan bertanding. Tentu hal ini juga mendatangkan keuntungan tersendiri bagi para perusahaan penerbangan. Belum lagi keuntungan yang diperoleh oleh para pegecer yang menjual kaos para pemain sepakbola. Tentu hal-hal diatas telah menjadi bukti bahwa globalisasi telah mendorong keberlangsungan bisnis internasional, dan begitu pula sebaliknya.
Layaknya globalisasi yang telah merambah hampir seluruh sektor kehidupan manusia, bisnis internasional-pun juga telah menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia. Tidak benar jika memahami bisnis internasional hanya berupa transaksi jual beli antar negara dan hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Exxon mobile atau McDonald saja. karena jika merujuk pada definisi bisnis interenasional yang dikemukakan oleh Daniel, maka bisnis internasional adalah seluruh transaksi komersial –baik privat ataupun publik; penjualan, investasi, dan transportasi– yang melibatkan dua negara atau lebih (Daniels, Radebaugh, & Sullivan, 2007, hal. 7). Di era globalisasi ini bisnis internasional sudah tidak asing lagi, bahkan semakin mengglobal dikarenakan beberapa alasan yakni, pertama seperti yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnya, bahwa sejalan dengan teknologi yang semakin meluas maka bisnis internasional semakin mudah dilakukan , kemudian pasca Perang Dunia II banyak negara merubah bentuk perekonomiannya menjadi lebih bebas dan terbuka, alasan ketiga mengapa bisnis makin mengglobal adalah karena semakin banyak muncul jenis jasa yang dapat ditawarkan dalam bisnis internasional, keempat karena arus informasi tak terbendung berkat adanya globalisasi maka konsumen menginginkan produk dan jasa terbaik dengan harga termurah, kelima dalam globalisasi semua aktor boleh terlibat dan ikut berkompetisi sehingga semua berlomba-lomba memperkaya diri atau institusi. Alasan keenam adalah karena perubahan situasi politik dunia dimana ada beberapa negara yang memiliki kekuatan ekonomi lebih daripada yang lain sehingga ia dapat menyetir arah perekonomian dunia. Kemudian alasan terakhir yakni karena negara mulai berpikir bahwa mereka dapat mencapai kepentingan nasional mereka jika melakukan kerjasama dengan negara lainnya, oleh karena itu banyak diadakan dan diatur beberapa pertemuan dan perjanjian antar negara guna membahas persoalan yang mereka hadapi bersama (Daniels, Radebaugh, & Sullivan, 2007, hal. 9-13).
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa bisnis internasional adalah semua transaksi komersial yang melibatkan lebih dari satu negara baik itu dilakukan oleh privat ataupun pemerintah. Tujuan utama mengapa seseorang atau sebuah institusi terlibat dalam bisnis internasional adalah untuk mengejar profit, hal ini menjadi motif utama dari pihak swasta (privat) sedangkan pemerintah ikut berkecimpung di dalam bisnis internasinoal selain mengunakan alasan diatas juga terkadang karena alasan-alasan politik. Selanjutnya, ruang lingkup dari bisnis internasional meliputi beberapa aspek yakni; Merchandise exports & imports, Service Exports & Imports, dan Investments. Adapun Merchandise exports menurut Daniel adalah produk nyata –barang- yang dikirim ke luar negeri, sedangkan merchandise imports adalah barang-barang yang dibawa masuk ke sebuah negara. Lalu Service Exports & Imports secara umum dikatakan sebagai keuntungan nonproduk bisnis internasional. Dikatakan service Exports jika suatu perusahaan atau seseorang mendapatkan pembayaran dari pihak asing, dan dikatakan service import jika seseorang atau perusahan melakukan pembayaran ke pihak asing. Masih menurut Daniel, ada setidaknya tiga bentuk dari Service Exports & Imports ini yaitu, kepariwisataan dan transportasi, pendayagunaan jasa, dan penggunaan aset. Contoh sederhana dari kepariwisataan dan transportasi adalah para jama’ah haji Indonesia yang membayar biaya pesawat terbang milik maskapai penerbangan Saudi Arabia guna mencapai tanah suci Makkah. Maka pembayaran tersebut dikatakan sebagai service import bagi Indonesia, dan service export bagi Saudi Arabia. Kemudian contoh dari pendayagunaan jasa seperti jasa perbankan, asuransi, manajemen, dan persewaan. Selanjutnya contoh dari penggunaan aset seperti penggunaan merek dagang, hak paten, hak cipta dan lisensi. Kemudian model ketiga dari bisnis internasional adalah investasi atau Investments. Investasi asing secara sederhana dapat dikatakan sebagai kepemilikan properti asing sebagai pertukaran dengan imbalan keuangan seperti kepemilikan saham dan bunga–bank–. Investasi dapat dikategorikan menjadi dua yakni investasi langsung (Foreign Direct Investment ) dan investasi portofolio. Disebut investasi langsung jika investor diberikan kebebasan untuk mengontrol perusahaan dimana investasinya ditanamkan, contohnya perusahaan Toyota yang membangun anak perusahaan di Indonesia dan mereka bebas mengontrol serta meletakkan para manajernya beserta manajemennya dalam perusahaan (di Indonesia) tersebut. Sebaliknya disebut sebagai investasi portofolio jika investor tidak bisa mengontrol investasinya ataupun mempengaruhi manajemen dalam perusahaan tersebut, contoh deposito bank dimana para nasabah tidak bisa seenaknya menentukan bunga yang mereka dapatkan ataupun memecat karyawan yang kurang profesional (Daniels, Radebaugh, & Sullivan, 2007, hal. 19-20).
Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa semua aspek mekanisme (terutama ekspor-impor dan offshoring—memproduksi suatu produk di wilayah yang lebih murah tingkat gaji pekerjanya dan sumber dayanya–) yang diterapkan dalam bisnis internasional adalah untuk mempermudah, dan mengurangi jurang antara negara, yang diharapkan dapat menekan harga sehingga konsumen tidak dirugikan, namun yang aneh menurut penulis adalah di zaman globalisasi seperti ini, dimana transportasi dan komunikasi semakin mudah, sangat sulit sekali menemukan produk barang atau jasa yang dijual dengan harga murah karena rata-rata semua harga barang selalu naik. Selain itu dengan menjamurnya bisnis internasional, banyak sekali kita temukan fenomena brain drain dimana para ahli dan profesional dari negara berkembang atau terbelakang malah pergi meninggalkan negaranya dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan di negara maju. Dengan demikian maka secara kasar, dapat dikatakan yang pintar akan semakin pintar dan yang bodoh akan semakin bodoh dan tertinggal.

Referensi :
Daniels, J. D., Radebaugh, L. H., & Sullivan, D. P. (2007). International Business: Environment and Operations. Chapter 1 : Globalization and International Business. New Jersey: Pearson Prentice Hal.