Pemasaran : Tempat dan Promosi   Leave a comment

Dalam marketing mix ada empat proses yang turut mempengaruhi kesuksesan suatu bisnis internasional, hal-hal tersebut adalah penentuan product, price, place dan promotion. Dalam jurnal kali ini penulis akan lebih membahas pada dua elemen terakhir yakni tempat atau place dan promosi. Tempat disini memiliki makna proses fisik dalam mendistribusikan produk dan stategi yang dipakai dalam distribusi tersebut. Dengan kata lain yang dimaksud place dalam dunia marketing adalah penentuan dan penempatan lokasi dimana produk tersebut akan dijual. Sementara promosi lebih berhubungan dengan iklan, strategi bagaimana menjual produk secara langsung kepada konsumen, public relation dan penjualan secara personal.
A. Tempat (Place)
Agar suatu produk bisa sampai dari produsen ke tangan konsumen akhir, maka suatu produk tersebut harus melewati suatu rantai distribusi atau perantara. Perantara pemasaran dalam bisnis internasional dapat dibagi menjadi tiga yakni pedagang grosir (merchant wholesaler), agen dan broker, serta retailer. Merchant wholesalers adalah perusahaan grosir independen yang memakai nama dari produk yang mereka tangani (Dias & Shah. 2009: 319). Merchant wholesaler ini dibagi lagi menjadi dua tipe yakni yang bersifat full-service yaitu pedagang grosir yang melakukan semua fungsi distribusinya dan limited function bagi pedagang grosir yang hanya melakukan beberapa fungsi distribusi seperti rack jobbers yang tugasnya hanya menyediakan semua barang dagangan dan berbagi untung dengan pengecer. Lalu tipe cash-and-carry yang melayani hampir semua pengecer yang lebih kecil namun dengan macam-macam produk yang terbatas. Dan terakhir tipe drop shippers dimana ia hanya mengumpulkan pesanan dari retailer dan pedagang grosir lainnya. Kemudian tipe perantara pemasaran yang kedua yakni agen dan broker yang mana tugas keduanya hanyalah mempertemukan antara penjual dan pembeli untuk bernegosiasi dan mereka tidak memiliki produk sendiri. Perbedaan diantara keduanya adalah hubungan yang dijalankan antara agen dan produsen lebih bersifat jangka panjang. Lalu tipe perantantara pemasan yang terakhir adalah retail intermediaries atau pengecer, mereka itu adalah pihak yang membawa produk barang maupun jasa kepada konsumen final untuk dikonsumsi (Dias & Shah. 2009: 322-323).
Kemudian masalah yang juga berkaitan dengan tempat adalah tentang bagaimana cara untuk memindahkan barang atau jasa dari satu kota ke kota lainnya atau dari satu negara ke negara lainnya secara efektif dan efisien sehingga perusahaan dapat memperoleh competitive advantages mereka seperti harga yang lebih murah dan pengiriman yang cepat sehingga dapat mendongkrak kepuasan konsumen. Untuk tujuan itulah maka perusahaan memakai supply chain management yaitu pengaturan proses pemindahan barang dan jasa satu tempat ke tempat lainnya. Ia terdiri dari supplier, manufacture, wholesaler, retailer dan konsumen. Sedangkan logistik yang nantinya akan mengatur supply chain dan segala proses yang menyertainya. Logistik disini termasuk rencana, implementasi dan kontrol terhadap aliran materi, barang serta informasi yang berkaitan dengan poin asal barang dan poin dimana barang tersebut akan dikonsumsi (Dias & Shah. 2009: 324).
Pembahasan selanjutnya adalah tentang retailing atau menjual eceran. Seorang retailer adalah perantara marketing yang menjual kepada konsumen akhir. Mengingat begitu banyaknya pengecer, maka untuk mendapatkan konsumen yang banyak pula, maka para pengecer tersebut harus berkompetisi dengan pengecer lainnya. Ada lima cara yang dapat dipakai oleh pengecer agar mendapatkan pelanggan yaitu dengan kompetisi harga, pelayanan, lokasi, pemilihan dan hiburan. Berkaitan dengan distribusi maka pengecer dikategorikan menjadi tiga, hal ini dikarenakan perbedaan produk menyebabkan perbedaan strategi distribusi yang harus dilakukan. Pertama adalah distribusi intensiv dimana sebisa mungkin menaruh sebanyak-banyaknya produk di pengecer. Kedua, distribusi selektif yang menaruh produk hanya kepada pengecer yang lebih disukai dalam satu area. Dan ketiga distribusi eksklusif yang hanya mengirim produk kepada satu pengecer dalam satu area geografis. Diluar tiga pengecer diatas, masih ada lagi tipe-tipe pengecer lain yang bermunculan ketika ia didukung oleh perkembangan teknologi seperti pengecer melalui internet, telemarketing, vending, dan direct selling atau door to door (Dias & Shah. 2009: 325-333).
B. Promosi
Secara sederhana promosi adalah usaha yang dilakukan oleh seorang pemasar (marketers) untuk menginformasikan dan mengingatkan orang-orang yang menjadi target pasarnya tentang produk mereka disertai dengan bujukan agar mereka mau membeli produk-produk tertentu. Yang menjadi fokus utama dalam promosi adalah bagaimana cara memilih metode komunikasi yang tepat serta desain pesan yang menarik agar apa yang ingin mereka sampaikan dapat dipahami dengan baik serta dapat mempengaruhi target pasar tersebut. Untuk itu seorang pemasar dapat menggunakan alat-alat seperti iklan, penjualan personal, public relation dan sales promotion. Kombinasi dari alat-alat promosi diatas disebut promotion mix (Dias & Shah. 2009: 334).
Iklan adalah komunikasi nonpersonal melalui berbagai macam media menggunakan organisasi atau individu yang dengan cara-cara tertentu mereka menyampaikan pesan dari pemasar dan sifatnya dibayar. Media yang paling efektif dalam promosi adalah televisi. Kemudian penjualan secara personal adalah presentasi face to face dan promosi barang dan jasa. Tahap tahap untuk melakukan penjualan personal adalah 1) identifikasi prospek dan kualifikasi pemenuhan syarat calon pembeli, 2) preapproach dengan mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh calon pembeli, 3) pendekatan, 4) membuat presentasi, 5) menjawab tujuan dan keberatan calon pembeli, 6) menutup penjualan dengan menanyakan komitmen konsumen untuk membeli, 7) follow up dan pemeliharaan hubungan. Lalu metode yang ketiga adalah public relation yang merupakan suatu fungsi manajemen yang mengevaluasi perilaku publik, perubahan kebijakan dan prosedur yang sesuai, serta melaksanakan program aksi dan informasi untuk mendapatkan pemahaman dan penerimaan dari masyarakat. Publisitas adalah tiap informasi mengenai individu, produk atau organisasi yang didistribusikan ke publik melalui media dan sifatnya tidak dibayar atau dikontrol oleh penjual. Selanjutnya metode yang terakhir adalah promosi dengan cara sales promotion atau menstimulasi konsumen untuk membeli dengan menggunakan serta melibatkan cara dan aktivitas yang dilaksanakan dalam waktu singkat (Dias & Shah. 2009: 334-344), contoh produk kecantikan yang mendatangi tempat-tempat umum dan menawarkan pemerikasaan kulit dan facial secara gratis jika konsumen mau membeli produk mereka.
Selain empat metode yang telah dijelaskan diatas, ada dua tipe promosi lainnya yaitu viral marketing dan word-of-mouth promotion. Viral marketing adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan aktivitas promosi yang dilakukan dengancara membayar orang untuk mengatakan hal yang positif di internet terkait dengan produk-produk tertentu, cara ini disetel degan skema multilevel dimana konsumen dapat memperoleh komisi jika berhasil mengarahkan teman-temannya atau orang lain untuk mengunjung website tertentu. Sedangkan word-of-mouth promotion adalah promosi yang dilakukan dengan melibatkan orang-orang untuk memberi tahu orang lainnya bahwa mereka telah membeli produk tertentu. Atau istilah sederhananya adalah promosi ‘dari mulut ke mulut’ (Dias & Shah. 2009: 346).
Selain empat undur promosi diatas yang dikenal dengan promotion mix, dalam dunia promosi saat ini ada istilah yang tidak kalah menarik yaitu integrated marketing communication (IMC) yaitu ‘way of thinking’ tentang promosi yang mengkombinasikan semua alat-alat promosi dan lain sebagainya dalam satu kesatuan strategi promosi yang komprehensif dan terpadu. Dalam IMC yang terjadi adalah semua area promosi menawarkan pesan yang sama kepada konsumen. Dimana perusahaan disini berusaha untuk memastikan letterhead, logo, dan warna penanda agar dapat mencerminkan iklan-iklan yang konsisten dan mendukung dan menyatukan tema bauran promosi. IMC ini diterapkan berdasarkan pertimbangan bahwa seringkali kurangnya koordinasi antara perusahaan iklan dan perusahaan dapat menyebabkan adanya inkonsistensi pesan yang disampaikan kepada konsumen. IMC biasanya digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan brand image yang positif dan untuk mempertemukan antara strategi pemasaran dan tujuan promosi dari perusahaan tersebut. IMC ini pertama-tama dapat dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan data tentang kebutuhan dari pelanggan dan stakeholder. Data tersebut kemuadian diolah untuk melihat gambaran luas dari sasaran pasar mereka dan hal tersebut tentu akan membuat tim promosi memahami apa yang harus mereka lakukan agar pesan mereka tersampaikan dengan baik dan benar serta menarik bagi konsumen (Dias & Shah. 2009: 349).

Referensi :
Dias, Laura Portolese & Shah, Amit. J. 2009. Marketing : Place and Promotion, dalam Introduction to Business. New York : McGraw-Hill.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: