NUKLIR IRAN   Leave a comment

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau hubungan antara Iran dan negeri paman Sam, Amerika Serikat sedang tidak harmonis. Dan isu utama yang berperan dalam memperburuknya hubungan ini adalah program nuklir yang dilakukan oleh Iran. Amerika Serikat disini sebagai negara superpower dan hegemon merasa keberatan dengan nuklir yang dikembangkan Iran, walaupun hanya sebatas sebagai sumber energi, bukan senjata. Pada awalnya nuklir yang dikembangkan di Iran sebenarnya merupakan program iniasiasi Amerika Serikat pada masa rezim Pahlevi guna menangkal pengaruh Uni Soviet di Timur Tengahpada masa Perang Dingin. Saat itu Iran dan Arab Saudi-lah yang merupakan basis pertahanan dan partner utama Amerika Serikat. Namun setelah terjadi Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979 hubungan kedua negara tersebut menjadi renggang bahkan dapat dikatakan bermusuhan. Amerika Serikat menjadi memusuhi dan mengkritik segala program nuklir Iran, begitupula Iran yang yang sikapnya menjadi kontra terhadap segala kebijakan yang dikeluarkan Amerika Serikat khususnya yang diterapkan di timur tengah. Permusuhan itu sempat mendingin ketika Iran bersedia untuk menerima kunjungan IAEA yang bertugas mengawasi perkembangan nuklirnya, namun kembali memanas ketika pada tahun 2003 Khatami, presiden Iran saat itu kembali membuka proyek nuklir Iran dan mengembangkannya secara serius. Dalam jurnal kali penulis akan mencoba secara khusus membahas mengenai kebangkitan Iran, terutama program nuklirnya serta implikasinya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengahyang juga menimbulkan kekhawatIran bagi Amerika Serikat dan Israel.
Iran dibandingkan dengan negara Timur Tengahlainnya memiliki keunikan tersendiri dalam bentuk pemerintahannya yakni republik teokrasi. Selain itu Iran merupakan satu-satunya negara Timur Tengahyang sangat menentang Amerika Serikat dan sekutunya. Secara garis besar, ada dua alasan mengapa Iran sangat berambisi untuk mengembangkan program nuklirnya. Pertama, menurut Rahigh-Aghsan dan Jakobsen adalah karena Iran dengan ideolologi yang dimilikinya yakni Syi’ah ingin untuk melebarkan sayap kekuatannya di wilayah Timur Tengahdan menjadi pemimpin bagi seluruh umat beragama Islam di dunia (Rahigh-Aghsan & Jakobsen. 2010: 561). Dan alasan kedua adalah rasa tidak aman (sense of insecurity) yang dimiliki Iran terhadap keberadaan pasukan Amerika Serikat di sepanjang jazirah arab. Rasa tidak aman ini tidak muncul begitu saja, melainkan akumulasi dari trauma mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi seperti perang Irak-Iran di tahun 1980an, sikap Amerika Serikat pasca 9/11, dan invasi Amerika Serikat di Irak pada 2003 (Bowman.2008: 82). Karena pertimbangan itulah Iran bersikeras mengembangkan nuklirnya dan kekuatan pasukan militernya agar dapat mendeter Amerika Serikat supaya tidak menjadikannya sasaran invasi seperti yang terjadi di Irak dan afghanistan.
Dalam pandangan kaum realis mengenai hard power kebangkitan Iran adalah peningkatan akan ancaman (Rahigh-Aghsan & Jakobsen. 2010: 560). Atau secara sederhananya jika Iran meningkatkan kekuatannya baik yang hard power maupun soft power karena merasa tidak aman. Maka negara sekitarnya akan merespon peningkatan kekuatan Iran sebagai ancaman terhadap dirinya sehingga akan mendorong negara sekitarnya juga melakukan hal yang sama. Begitulah yang terjadi di timur tengah, keberadaan program nuklir Iran mebuat tetangganya seperti Arab Saudi, Mesir, bahrain dan sekitarnya merasa tidak aman dari Iran karena takut diserang. Begitupula dari perspektif softpower, kebangkitan Iran dapat dipandang sebagai kebangkitan model ideologi Syi’ah yang dapat mendominasi dan mengancam keberadaan rezim Sunni di bahrain, Arab Saudi, Jordan, dan Syiria mengingat baru-baru ini muncul rezim Syi’ah pula di Irak pasca runtuhnya rezim Saddam Hussein serta bentrok kekerasan antara Sunni-Syi’ah di Irak dan Lebanon. Oleh karena itu secara garis besar kebangkitan Iran baik program nuklirnya ataupun ideologi Syi’ahnya secara garis besar telah menambah daftar pemicu ketidakstabilan dan perang sipil di kawasan timur tengah.
Ternyata pada praktiknya, kebangkitan Iran ini tidak hanya membawa ancaman terhadap stabilitas kawasan timur tengah, tapi juga mempengaruhi Amerika Serikat dan sekutu abadinya yakni israel. Amerika Serikat disini khawatir jika program nuklir Iran akan memicu munculnya nuclear domino effect dan memicu perlombaan kekuatan pasukan bersenjata. sangat masuk akal sebenarnya jika Iran memiliki senjata nuklir maka Arab Saudi sebagai pesainganya di kawasan Timur Tengahtentu akan merasa tertantang untuk memilikinya juga. Kemudian diikuti oleh Mesir yang karena merasa ia sebagai pemimpin dunia arab, dia juga harus memiliki nuklir pula dan selanjutnya diikuti turki dan negara lainnya yang merasa tidak aman pula (Rahigh-Aghsan & Jakobsen. 2010: 571). Pada akhirnya keberadaan Amerika Serikat di Timur Tengahtidak lagi diperlukan bahkan dapat mengancam eksistensinya sendiri jika semua dunia arab bersatu dan memusuhinya. belum lagi dengan adanya senjata nuklir di Iran, maka banyak kepentingan Amerika Serikat akan semakin terhambat seperti misi pemberantasan teroris dan minyak karena adanya kekuatan besar di Timur Tengah(yakni Iran) yang memusuhi dan terus menghalanginya. Kemudian ada lagi ketakutan amerika bahwa senjata nuklir Iran tersebut akan jatuh ke tangan teroris atau digunakan untuk menyerang sahabatnya, israel. Israel disini memang sudah seharusnya khawatir terhadap program nuklir yang dikembangkan oleh Iran mengingat data terbaru yang mengatakan bahwa nuklir terbaru Iran di tahun 2003, yakni Shahab-3 memiliki luas jangkauan sepanjang 1.300 km dan mampu untuk mencapai israel (Rahigh-Aghsan & Jakobsen. 2010: 562).
Namun disini yang perlu penulis sampaikan adalah bahwa sebenarnya dalam artikel “The Rise of Iran: How Durable, How Dangerous?” disebutkan bahwa sebenarnya kekhawatIran negara-negara teluk dan Amerika Serikat serta israel tidak beralasan karena pada kenyataannya wacana kebangkitan Iran adalah hal yang dibesar-besarkan. Mengapa demikian? Ada tiga alasan, pertama hard power yang dimiliki Iran terlalu sedikit dan terbatas sehingga ia tidak akan mampu mendominasi kawasan timur tengah. Contoh Iran hanya memiliki 55 pesawat tempur dan 730 tank militer, sedangkan negara anggota GCC memiliki 495 pesawat tempur dan 1.816 tank. Kedua, ideologi Syi’ah (soft power) yang dimilikinya tidak banyak dianut oleh masyarakat diluar Iran mengingat hanya 10-15% muslim di dunia yang menganut paham Syi’ah. Ketiga, pertumbuhan politik internal dan ketidakstabilan ekonomi tidak memungkinkan untuk menjadikannya seorang hegemon di kawasan tersebut (Rahigh-Aghsan & Jakobsen. 2010: 559). Sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya kekuatan Iran belumlah seberapa jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan tidak cukup untuk menjadikannya penguasa di timur tengah. Yang dilakukan Iran adalah hanya memanfaatkan isu nuklir yang dilontarkan oleh Amerika Serikat untuk menaikkan posisi tawarnya di kawasan. Sedangkan amerika pada mulanya mem-blow up isu nuklir ini dengan tujuan agar ia mendapat dukungan dari negara Timur Tengahlainnya untuk menekan Iran agar menghentikan program nuklirnya. Tapi pada akhirnya terbukti bahwa Iran dapat memainkan isu nuklir tersebut lebih baik daripada Amerika Serikat.

Referensi :
Bowman, Bradley L., 2008. After Irak: Future U.S. Military Posture in the Middle East. The Washington Quarterly, 31 (2): 77-91.
Rahigh-Aghsan, Ali dan Peter Viggo Jakobsen. 2010. “The Rise of Iran: How Durable, How Dangerous?”, The Middle East Journal, 64 (4): 559-573.

Posted Januari 25, 2012 by moze in MBP Timur Tengah

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: