Prospek Demokrasi di Timur Tengah   Leave a comment

Beberapa minggu yang lalu, media gencar sekali menayangkan berita tentang gejolak yang terjadi di Timur Tengah, mulai dari pergantian rezim di Mesir, Tunisia sampai penggulingan kekuasaan di Libya yang banyak sekali memakan korban jiwa. Semua itu terjadi karena dan untuk satu hal yakni ‘demokrasi’. Mungkin demokrasi di bebeberapa wilayah seperti Eropa dan Asia tidak begitu sulit ditegakkan, namun seperti yang umum diketahui bahwa wilayah Timur Tengah dan Afrika bagian utara merupakan wilayah yang spesial dimana demokrasi yang menjunjung tinggi liberalisme agak kurang sesuai dengan kebudayaan dan identitas mayarakat disana yang mayoritas muslim. Sehingga tak jarang di Timur Tengah masih banyak dijumpai negara yang menggunakan sistem monarki atau demokrasi secara setengah-setengah. Seperti yang telah dijelaskan di awal pertemuan dan jurnal mata kuliah ini bahwa identitas nasional dan kultural sangat berperan besar dalam mepengaruhi perilaku dan pandangan politik masyarakat di negara tersebut. Oleh karena itu tidak heran jika masalah demokrasi di Timur Tengah ini banyak terkait dengan Islam dan nasionalisme bangsa Arab. Kedua isu ini saling bersaing dan berebut kekuatan di Timur Tengah, namun pada dasarnya mereka memiliki dan berbagi persepsi serta tujuan yang sama dan sejalan.
Mengapa demokrasi sulit berkembang di Timur Tengah menurut Rubin (2007: 89) dalam artikelnya yang berjudul ‘How Arab Regimes Defeated The Liberalization Challenge’ adalah dikarenakan persepsi ancaman yang mereka sematkan pada negara-negara barat terutama Amerika Serikat dan Israel. Dalam pandangan mereka, kedua negara tersebut berkonspirasi melawan Arab dan Islam dengan segala macam tetek bengek nilai yang dibawa mereka. Adapun liberalisme, reformasi dan demokrasi hanyalah selingan dan alat semata agar negara barat tersebut lebih mudah mengontrol negara negara di Timur Tengah. Bahkan dalam pidatonya Presiden Syiria Bashar al-Asad menyebut nilai-nilai barat tersebut sebagai invasi yang sistematik terhadap pikiran dan semangat identitas nasional mereka. Oleh karena itu sangat penting bagi masyarakat Timur Tengah untuk bersatu di bawah satu kepemimpinan, adapun mereka-mereka yang moderat, reformis dan mendukung barat maka akan dicap sebagai budak setan dan pengkhianat yang akan mengancam kepentingan sosial dan negara, nilai-nilai dasar serta hukum yang ada. Pandangan seperti ini kerapkali disebarkan oleh pemerintah dan secara tidak sengaja didukung pula oleh kalangan islam agar membentuk opini umum bahwa demokrasi itu tidak baik dan pemerintahan yang sudah ada merupakan rezim yang sesuai bagi masyarakat.
Bukan perkara mudah membawa demokrasi di Timur Tengah, karena beberapa rezim bereaksi secara berlebihan dan terkadang bertindak represif terhadap para reformis di negara mereka. Taktik yang biasanya mereka gunakan untuk membungkam dan mengurangi aktivitas demokratisasi adalah dengan menghukum para pengkhianat tersebut, dengan begitu orang-orang yang memiliki pandangan serupa akan merasa terintimidasi dan berhenti mengkritik pemerintah agar supaya tidak mengalami nasib yang sama dengan rekan mereka, seperti kasus yang menimpa Saad Eddin Ibrahim yang dihukum karena berkomentar tentang usaha Presiden Mesir Husni Mubarok yang ingin menjadikan anaknya sebagai pengganti dirinya. Pada intinya rezim yang berkuasa secara diktator di Timur Tengah tidak peduli untuk membuang dan menghabisi orang-orang yang berpotensi akan menjadi penggerak demokrasi. Atau terkadang pemerintah menerapkan strategi stick and carrot dengan memberi mereka uang, kehormatan dan lain sebagainya (Rubin. 2007 : 93-94).
Taktik selanjutnya yakni dengan menyebarkan wacana bahwa demokrasi dan reformasi akan membawa resiko kekacauan atau pengambil-alihan islam. Apalagi etnis dan agama yang ada di Timur Tengah cukup beragam sehingga dikhawatirkan jika rezim diktator runtuh, maka akan terjadi gejolak politik, perebutan kekuasaan atau perang saudara. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Iraq pasca invasi Amerika Serikat di tahun 2003 sampai sekarang masih belum stabil bahkan semakin memburuk. Sehingga masyarakat berpikir status quo tidaklah begitu buruk dibanding demokrasi (Rubin. 2007 : 95).
Reaksi selanjutnya yang dilakukan oleh rezim terkait dengan tuntutan demokrasi ini adalah dengan berpura-pura melakukan reformasi dan demokratisasi di negara mereka. Merujuk pada perkataan Sean L. Yom dan pengamat barat lainnya bahwa prasyarat utama untuk melakukan transisi ke arah demokrasi di wilayah Timur Tengah dan afrika utara adalah dengan membentuk dan mengembangkan masyarakat sipil sebagai kekuatan utama rakyat agar dapat menghasilkan perubahan demokratis (Yom. 2005 : 1). Oleh karena itu banyak negara-negara di Timur Tengah membentuk institusi masyarakat sipil yang berada dibawah kontrol pemerintah, dengan harapan dapat mempropagandakan kebijakan pemerintah tersebut dan terlepas dari pengamatan dan kecaman negara lain. Selain itu demi membangun citra baik dan demokratis dalam pandangan dunia, Mesir contohnya ia menerbitkan jurnal tentang demokrasi namun lebih banyak dicetak dalam bahasa Inggris daripada bahasa Arab dan isinya memuat sedikit tentang dunia Arab dan hampir tidak ada satu halamanpun yang membahas tentang negara itu sendiri. Bahkan pemilu yang ada di sebagian negara-negara Timur Tengah ini telah didesain sedemikian rupa agar memunculkan pemenang tertentu (Rubin. 2007 : 96-97).
Melihat dan menimbang keadaan di Timur Tengah dari penjelasan diatas maka memang cenderung menghasilkan pandangan pesimisme tentang demokrasi di masa yang akan datang. Di kebanyakan negara Timur Tengah, rezim penguasa mengklaim dirinya demokratis dengan hanya melakukan satu dari banyak hal yang wajib dipenuhi oleh negara yang demokratis. Contohnya Kuwait dan Jordania yang secara periodik melakukan pemilu tapi kontrol terhadap parlemen sangat kurang, Bahrain yang memperbolehkan wanita duduk di kursi parlemen dengan catatan ia ditunjuk dan mendukung rezim yang berkuasa, sistem pendidikan di Tunisia yang menekankan toleransi, persamaan gender dan pluralistik namun disisi lain pemerintahannya sangat represif dan otoriter, kemudian Maroko yang notabene memiliki kelompok masyarakat sipil dan gender yang kuat namun dikontol oleh para birokrasi politik dan elit monarkhi. Tapi diantara negara-negara Timur Tengah lainnya, yang paling berhasil menerapkan demokrasi adalah Qatar karena ia berhasil menjalankan pemilu dengan tenang dan adil dan setengah dari pemilihnya adalah kaum wanita (Rubin. 2007 : 97-99). Dari contoh-contoh yang ada diatas dan peristiwa yang baru-baru ini terjadi, maka prospek demokrasi yang sesungguhnya di masa akan datang masih ada walaupun kecil. Sekarang mungkin cukup dengan demokrasi secara administratif namun nantinya jiwa demokrasi ini akan muncul seiring dengan perkembangan masyarakat sipil.
Menurut hemat penulis, menumbuhkan demokrasi di Timur Tengah merupakan suatu yang sangat sulit karena lumayan bertetangan dengan identitas dan budaya masyarakat secara umum. Selain itu tuntutan yang terus menerus akan demokrasi dan campur tangan pihak asing akan cenderung mendorong pemerintah untuk semakin berperilaku represif, oleh karena itu biarkan negara-negara Timur Tengah mengatur dirinya sendiri asalkan tidak mengorbankan hak asasi manusia. Apalagi istilah demokrasi, teokrasi, otoriter, atau apapun sebutan terhadap sistem tersebut, semuanya itu hanya konstruksi manusia, yang terpenting adalah rakyat sejahtera, adil dan makmur apapun sistemnya semua memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga semuanya sama. Atau dalam kata lain yang terpenting itu pemimpin dan keputusannya, bukan masalah sistemnya demokrasi atau tidak.
Referensi :
Rubin, Barry, 2007. “How Arab Regimes Defeated The Liberalization Challenge” dalam Middle East Review of International Affairs, 11 (3): 89-105.
Yom, Sean L. 2005. “Civil Society and Democratization in the Arab World” dalam Middle East Review of International Affairs. Vol. 9, No.4, Article 2- December 2005

Posted Desember 23, 2011 by moze in MBP Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: