Lebanon di Tengah Pusaran Konflik   Leave a comment

Dipandang dari sudut georafis, Lebanon merupakan sebuah negara kecil di wilayah Timur Tengah yang memiliki nilai stategis yang sangat penting, mengingat negara tersebut berbatasan langsung dengan laut Tengah dan posisinya yang sangat berdekatan dengan Israel dan Syiria. Sebelum meletusnya perang saudara pada tahun 1975-1990, Lebanon dapat dikatakan sebagai negara yang sukses mewujudkan perdamaian dalam negerinya walaupun masyarakatnya sangat beragam dan cenderung sektarian (http://www.bbc.co.uk/). Belum lagi Lebanon juga merupakan negara yang indah dengan pegunungan dan garis pantai yang membentang di hampir keseluruhan wilayahnya. Keindahan didukung pula oleh percampuran beragam budaya baik dari Eropa maupun Timur Tengah itu sendiri sehingga menjadikan Lebanon sangat potensial sebagai tempat pariwisata.
Namun segala keindahan itu kurang berarti lagi jika ke-strategis-an wilayah Lebanon tersebut malah menjadi medan perang bagi negara sekitarnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan Lebanon berbatasan langsung dengan Israel yang notabene merupakan musuh bersama dari poros Syi’ah yakni Hizbullah-Syiria-Iran. Menurut Mayor Jenderal Amidror, seorang anggota Israel Defense Force Hizbullah disini merupakan partai atau organisasi Islam Syi’ah garis keras di Lebanon yang pendiriannya banyak mendapat dukungan dari Iran dan Syiria. Sedangkan peran Syiria dalam hal ini adalah menjadi jembatan bagi Iran untuk meyalurkan senjata ataupun prajurit ke Lebanon untuk mendukung Hizbullah yang gencar sekali melakukan aksi-aksi terorisme bagi negara tetangganya, Israel (Amidror. 2007:3-4). Oleh karena itu bukan hal yang mengejutkan jika muslim Syi’ah di Iran maupun di Lebanon bersedia menyediakan bantuan langsung bagi saudara muslim mereka di jalur Gaza jika berkaitan dengan musuh bersama poros Syi’ah tersebut, yakni Israel.
Dilihat sekilas, Iran dan Syiria merupakan negara yang memiliki rezim yang berbeda, di satu sisi Syiria merupakan negara yang sekuler dibawah pemerintahan Alawite dan di sisi lain Iran merupakan negara yang berbasiskan Islam. Namun keduanya memutuskan untuk bekerjasama untuk mencapai hasil yang lebih maksimal. Oleh karena itu, jika ditelisik lebih jauh maka akan terlihat jelas kepentingan Iran disini adalah ingin menyebarkan sekte atau madzhab Syi’ah di negara-negara Timur Tengah sekaligus menjadi hegemon atau kekuatan regional di wilayah Timur Tengah. Sedangkan kepentingan Syiria yang ingin dicapai adalah ia membutuhkan Iran untuk membantunya dalam hal keuangan dan pembangun kekuatan militer di negaranya (Amidror. 2007:4). Dan untuk mewujudkan mimpinya menjadi kekuatan regional maka Iran membangun kekuatan nuklirnya guna mengimbangi kekuatan Israel. Sedangkan Hizbullah disini merupakan pejuang garis depan yang tugasnya selalu melakukan serangan bagi Israel dan melakukan kekacauan di Lebanon dengan agenda penyebaaran madzhab Syi’ah. Pada Hisbullah-lah letak dari kerjasama dan koneksi antara Iran dan Syiria dan melalui Hizbullah juga kedua negara baik tersebut mendapat kontrol di dunia perpolitikan Lebanon.
Mengapa konflik di Lebanon ini sulit diatasi adalah dikarenakan Lebanon merupakan medan perang dimana kekuatan senjata nuklir Iran juga harus dipertimbangkan. Dan payung perlindungan nuklir milik Iran ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan poros Syi’ah dari pihak manapun yang mencoba untuk menghentikan kegiatan yang mereka lakukan. Pihak Amerika Serikat dan Israel pun segan untuk merespon secara keras karena khawatir wilayah Timur Tengah akan semakin bergejolak dan meruncing pada perang nuklir. Faktor lainnya dikarenakan organisasi-organisasi Islam garis keras tersebut mendapat suntikan dana dari Iran sehingga terkadang mereka tidak independen dan mengingat bahwa kebanyakan teroris berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah maka akan mudah sekali bagi Iran untuk tetap melakukan aksi terornya melakui organisasi tersebut, atau secara kasar oleh Amidror di parafrase-kan menjadi “ If you don’t commit terrorattack, we will not pay your salaries” (Amidror. 2007:3). Faktor selanjutnya yakni Syiria yang tetap bersikukuh berada di pihak Iran, mengingat negara tersebut merupakan jembatan antara Iran dan Hizbullah di Lebanon tentunya jika jembatan tersebut putus maka akan sulit menjalankan bagi Iran untuk berkomunikasi dengan Hizbullah ataupun mengirim persenjataan. Namun jika dilihat dari sudut Syiria adalah hal yang sangat menguntungkan jika mereka tetap di pihak Iran karena dengan begitu mereka tidak perlu khawatir akan nuklir yang dimiliki oleh Iran, bahkan mereka terlindungi dengan kedekatan hubungan yang mereka jalani tersebut. Selain itu Iran juga telah banyak memberikan bantuan bagi Syiria yang tidak dilakukan oleh negara Arab lainnya.
Pada intinya dalam artikel The Hizballah-Syria-Iran Triangle yang ditulis oleh Amidror, yang ingin ia tekankan adalah poros Syi’ah tidak muncul tiba-tiba akibat perang Lebanon, begitupula hubungan antara Syiria dan Iran yang pada dasarnya telah berlangsung sejak lama. Sehingga perang Lebanon di tahun 2006 hanyalah sebentuk penyadaran akan adanya kekuatan poros Syi’ah di Timur Tengah yang mengancam akan mendominasi wilayah tersebut, sehingga sudah selayaknya jika negara-negara di Timur Tengah mengkhawatirkan hal tersebut. namun yang perlu diingat dan dikritisi adalah bahwa penulis artikel ini merupakan salah satu anggota penting dari Israel Defense Force sehingga pemikirannya menurut penulis tidak sepenuhnya objektif. Hal ini penulis katakan berdasarkan pada kuliah minggu sebelumnya telah dijelaskan dan dibahas bahwa pada dasarnya nuklir yang dikembangkan oleh Iran berdasarkan teknologi dan skala kerusakannya belumlah seberapa jika dibandingkan dengan nuklir yang dimiliki negara NATO. Negara-negara seperti Israel dan Amerika Serikat disini memiliki kepentingan untuk mem-blow up masalah ini demi mencari dukungan dari negara Timur Tengah lainnnya dalam rangka memusuhi Iran. Namun isu nuklir yang dikemukakan oleh Amerika Serikat dan Israel ini malah ‘dimainkan’ dengan cantik oleh Iran guna meningkatkan bargaining position-nya di kawasan Timur Tengah.

Referensi :
Amidror, Yaakov, 2007. “The Hizballah-Syria-Iran Triangle”, dalam Middle East Review of International Affairs, 11 (1): 1-5.
http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-14647308 [diakses pada 05 Desember 2011 11:30 am]

Posted Desember 23, 2011 by moze in MBP Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: