Kepentingan Barat di Timur Tengah   Leave a comment

Satu kata yang paling menonjol dan menjadi ciri khas negara-negara di Timur Tengah dan menjadi magnet bagi negara-negara lain terutama negara-negara Barat adalah ‘minyak’. Menurut data yang dilansir oleh Energy Information Agency (EIA), prospek konsumsi energi dunia akan naik menjadi 71 persen dari tahun 2003 sampai 2030 dan kebanyakan konsumsi ini sebagian besar didapat dari Bahan Bakar Minyak. Dari sumber yang sama pula disebutkan bahwa antara rentan tahun 2005 sampai 2030 konsumsi dunia dan Amerika Serikat terhadap minyak akan naik sebesar 39 persen dan 23 persen. (International Energy Outlook 2006 dalam Bowman.2008: 78). Begitu banyaknya permintaan terhadap minyak ternyata tidak diimbangi oleh persebaran sumber minyak yang merata di bumi. Sebagian besar cadangan minyak terdapat di kawasan Timur Tengah, terutama wilayah Teluk Persia. Oleh karena itu kawasan Timur Tengah ini memiliki peran yang sangat signifikan dan strategis bagi negara-negara maju, terutama Amerika Serikat.
Dalam artikel yang ditulis oleh Bowman, dia memang secara khusus membahas mengenai postur militer Amerika Serikat di Timur Tengah dan bukan negara barat secara umum. Namun menurut penulis Amerika Serikat saja sudah cukup untuk dijadikan representasi dari negara-negara barat secara umum karena Amerika Serikat merupakan negara yang paling berpengaruh dan memiliki kepentingan yang sangat signifikan dan berpengaruh di Timur Tengah. Menurut Bowman (2008: 78), ada tiga kepentingan utama Amerika Serikat di Timur Tengah, pertama dan yang dalam jangka panjang adalah kepentingan untuk mengamankan dan tidak dirintanginya aliran minyak dari kawasan teluk persia ke Amerika Serikat dan negara-negara industri lainnya. Untuk mencapai kepentingannya tersebut maka negara-negara barat perlu untuk mengamankan cadangan minyak tersebut dari gangguan teroris atau negara-negara musuh. Kepentingan kedua Amerika Serikat di Timur Tengah yakni memastikan bahwa baik aktor negara maupun non-negara di kawasan tersebut tidak mengembangkan, memperoleh, atau menggunakan senjata pemusnah massal atau Weapon of Mass Destruction (Bowman.2008: 79). Saat ini negara di Timur Tengah yang menjadi ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat adalah Iran, dimana negara tersebut dengan bangganya memamerkan teknologi nuklir yang mereka miliki dan mengecam negara-negara barat yang mengahalangi usaha mereka serta dengan gampangnya mengabaikan resolusi dan sanksi yang diberikan PBB kepadanya. Kekhawatiran Amerika Serikat terhadap nuklir di Iran tentunya mempunyai alasan karena ditakutkan Iran akan menyerang sekutu dan sahabat Amerika Serikat di Timur Tengah yakni Israel. Yang kemudian akan mengundang aksi balasan dari negara sekutu dan akhirnya berujung pada perang nuklir. Kemudian kepentingan Amerika Serikat yang ketiga yakni membantu kawasan tersebut agar tidak menjadi sarang, panggung aksi, ataupun pengekspor ekstrimis Islam yang mengandalkan kekerasan (Bowman.2008: 80). Mengapa Amerika Serikat membenci dan berusaha memberantas terroris adalah karena mereka inilah yang melawan Amerika Serikat secara terang-terangan dan melakukan aksi-aksi nekat yang dapat membuat kekacauan dan akhirnya mengganggu kepentingan Amerika Serikat yang lain seperti usaha bom bunuh diri yang dilakukan anggota Al Qaeda di pabrik minyak Abqaiq di Saudi Arabia (Bowman.2008: 79). Belum lagi ketakutan Amerika Serikat jika sampai senjata pemusnah massal seperti teknologi nuklir jatuk ke tangan terroris, tentu akibatnya buruknya akan berlipat ganda.
Untuk mengamankan kepentingan mereka di Timur Tengah maka yang dilakukan Amerika Serikat hanyalah menempatkan pasukan militernya sebanyak mungkin di kawasan tersebut (Bowman.2008: 81). Ibaratnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, karena hanya dengan keberadaan pasukan militer, tiga kepentingan tersebut dapat tercapai. Dengan adanya militer Amerika Serikat di Timur Tengah, mereka dapat ditugaskan untuk mengawasi sumber-sumber minyak dari gangguan terroris ataupun instabilitas domestik kawasan, dan juga mengawasi pergerakan aktor-aktor yang mengembangkan senjata nuklir seperti Iran, bahkan boleh jadi penempatan tentara Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah yang cukup merata memang disiapkan untuk men-deter Iran ataupun mengepung negara tersebut jika melakukan tindakan yang tidak disukai Amerika Serikat. Serta dengan keberadaan pasukan tersebut, Amerika Serikat lebih mudah untuk memburu para gembong terroris seperti Al Qaeda dan Hizbullah.
Untuk memperlancar kepentingannya dan agar mendapatkan izin penempatan pasukan secara permanen di wilayah tersebut, tentunya Amerika Serikat perlu untuk mendapatkan izin dari negara-negara terkait. Oleh karena itu dia sejak tahun 1930an sudah berusaha untuk menjalin kerjasama dengan negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran (1953-1979). Di masa-masa awal kerjasama mereka, Amerika Serikat sebenarnya lebih fokus untuk meminimalisasi pengaruh Uni Soviet dengan cara mendukung dan memberi bantuan militer dan ekonomi bagi pemerintah yang anti-Soviet (Bowman.2008: 80). Namun ternyata keberadaan pasukan Amerika Serikat ini menurut Bowman kurang diapresiasi oleh penduduk setempat dan akhirnya turut memicu menjamurnya gerakan-gerakan radikalisasi. Oleh karena itu keberadaan militer negara-negara Barat dinilai tidak berguna dan counterproductive karena malah memunculkan kemarahan bagi umat Islam yang kemudian berlomba-lomba melakukan Jihad yang bertujuan agar negara-negara barat hengkang dari bumi Timur Tengah. Bahkan dalam surat pentolan Al Qaeda seperti Al Zawahiri yang ditujukan kepada Zarqawi, dia mengatakan “ The muslim masses…do not rally except against an outside occupying enemy; especially if the enemy is firstly Jewish, and secondly American ”(Bowman.2008 : 84-85).
Menurut penulis, pada hakekatnya Amerika Serikat atau barat yang didominasi oleh negara maju merupakan negara-negara yang arogan dan cenderung bersifat superior, dia menganggap terroris atau negara yang tidak tunduk pada kebijakannya sebagai musuh. Tindakan atau kebijakan yang dikeluarkannya tergolong berlebihan untuk mengamankan kepentingan dirinya di sebuah negara dan seringkali melanggar asas asas kedaulatan dan non-intervensi. Adapun terrorisme dan tindakan radikal yang sering terjadi di Timur Tengah sejatinya juga disebabkan oleh kebencian kaum pribumi yang merasa tanahnya di okupasi oleh negara lain. Selain itu kebudayaan barat yang menjunjung tinggi kebebasan tidak cocok jika ditemukan dengan kebudayaan Timur Tengah yang sangat agamis dan menjunjung tinggi kesucian. Mungkin secara kasarnya dapat penulis katakan, Timur Tengah adalah wilayah dimana pusat tiga agama samawi berasal, oleh karena itu merupakan tempat suci, akan jadi apa ‘kesucian dan kesakralan’ wilayah tersebut jika banyak tentara Amerika Serikat yang (berada disana) melakukan tindakan sesuka hati dan tidak sesuai dengan tuntuntan agama?
Referensi :
Bowman, Bradley L., 2008. After Iraq: Future U.S. Military Posture in the Middle East. The Washington Quarterly, 31 (2): 77-91.

Posted Desember 23, 2011 by moze in MBP Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: