Evolusi dan Perkembangan Analisis Kebijakan Luar Negeri   Leave a comment

Setiap disiplin ilmu pada dasarnya memiliki wilayah kajiannya masing-masing, termasuk studi Hubungan Internasional dimana bidang kajiannya menurut Hudson adalah ‘semua hal yang terjadi antara negara-negara dan melintasi negara tersebut yang berkaitan dengan dimensi kemanusiaan si pembuat keputusan yang bertindak secara individu atau grup’ (Hudson, 2007 : 3). Kebijakan luar negeri disini dikatakan berkaitan dengan kemanusiaan sang pembuat keputusan adalah hal yang sangat masuk akal karena jika merujuk pada artikel Hudson, maka negara disini hanyalah sebagai institusi yang dikendalikan oleh manusia, dan negara bukan merupakan sebuah agen, melainkan hanya abstraksi dari ide-ide yang dimiliki oleh manusia (Hudson, 2007 : 6). Selain itu jika tidak memasukkan unsur human being maka negara sebagai institusi cenderung tidak mengalami perubahan dan hanya stagnan pada naturenya saja (baca : just machine). Oleh karena itu studi mengenai HI, terutama mengenai pengambilan kebijakan luar negeri haruslah memasukkan unsur kemanusiaan, begitupula jika ingin membandingkan suatu kebijakan luar negeri sebuah negara dengan negara lain.
Adapun pengertian dari kebijakan luar negeri atau Foreign Policy menurut Kamus Hubungan Internasional adalah ‘suatu strategi atau rencana tindakan yang dibuat oleh para pembuat keputusan negara dalam menghadapi negara lain atau unit politik internasional lainnya, dan dikendalikan untuk mencapai tujuan nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional (Plano & Olton, 1999). Kebijakan luar negeri merupakan sebuah fenomena yang sangat kompleks dan berpengaruh pada interaksi negara mereka dengan negara lainnya, oleh karena itu proses pembuatan kebijakan luar negeri ini begitu rumit dan melibatkan serta dipengaruhi oleh beberapa unsur seperti identitas nasional, background si pembuat keputusan, kepentingan nasional, media massa dan masih banyak lagi.
Studi mengenai analisis kebijakan luar negeri atau FPA (Foreign Policy Analysis) ini sebenarnya muncul seiring perkembangan sejarah ketika seseorang mulai mempertanyakan mengapa para pemimpin nasional mengambil pilihan yang (telah) mereka ambil mengenai hubungan antar negara. Namun kajian ini mulai masuk dalam bidang HI pada akhir dekade 1950an dan awal 1960an. Pada awal terbentuknya ada tiga paradigma utama yang mendasari FPA, yakni 1) Decision Making dimana oleh Snyder dan partnernya ia dipandang sebagai ‘perilaku yang terorganisasi’ oleh karena itu butuh pengamatan yang lebih lanjut tentang aktor-aktor yang terlibat, aliran komunikasi dan informasi, serta motivasi masing-masing aktor. 2) Pre-Theories & Theoris, yang dibangun oleh James N. Rosenau, menurutnya seperti halnya ilmu sains (alam), negara disini juga memiliki beberapa genotipe yang berbeda dan nantinya akan mendorong pada penjelasan akan model interaksinya, dengan itu peneliti dapat memperkirakan kekuatannnya. Ia juga menganjurkan untuk membedakan level analisis baik pemimpin individu maupun sistem internasional. 3) Kemudian hipotesis mengenai Man-Milieu Relationship yang dikemukakan oleh Harold dan Margaret Sprout. Sumbangan yang diberikan oleh mereka berdua adalah pemahaman mengenai hasil kebijakan luar negeri (output) yang mereka asosiasikan dengan analisis kapabilitas power dalam sistem interstate (Hudson, 2007 : 14-16).
Studi FPA ini kemudian terus berkembang dan menghasilkan beberapa generasi. Generasi yang pertama (1954-1973) ini membuat kemajuan yang sangat besar, sumbangan mereka yang terpenting adalah dalam hal konseptualisasi kebijakan luar negeri, yang kemudian juga sejalan dengan koleksi data yang memadai serta peletakan metode eksperimen. Kemudian disusul oleh FPA generasi kedua (1974-1993) dimana mereka banyak menyempurnakan dan turut membangun fondasi bagi studi FPA seperti; pembentukan kerangka pemikiran dan penentuan sample yang representatif. Pada intinya kedua generasi ini berusaha untuk mempelajari mengapa ‘ specific things’ dari sebuah negara dapat menuntun pada perbedaan perilaku atau kebijakan luar negeri yang diambil sehingga paling tidak penemuan mereka dapat digeneralisasikan dan dapat dipakai antar-negara (Hudson, 2007 : 17).

Referensi :
Hudson, V. (2007). Overview and Evolution of Foreign Analysis. Rowman and Littlefield.
Plano, J. C., & Olton, R. (1999). Kamus Hubungan Internasional. Bandung: Abardin.

Posted Desember 23, 2011 by moze in PPLN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: