Elemen Identitas Masyarakat Arab   Leave a comment

Nama : Muzainiyeh (070912061)
Tugas Pertemuan 2 MBP Timur Tengah

Berbicara menegenai Timur Tengah, hal pertama yang muncul dalam benak penulis adalah Islam, bangsa Arab dan konflik yang berkepanjangan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dan sudah tentu menjadi sebuah rangkaian yang tidak pernah lepas dan ikut membentuk identitas masyarakat Timur Tengah selama berabad-abad yang lalu. Dan kemudian identitas inilah yang turut mempengaruhi budaya politik atau perilaku politik di Timur Tengah. Mengutip apa yang telah dikatakan Hudson bahwa “ budaya adalah media (tempat) dimana suatu organisme hidup, sifat dasar dari satu media akan mempengaruhi kelangsungan hidup dan perilaku organisme” (Hudson, 1997, hal. 33) oleh karena itu sangat penting untuk mempelajari media, atau dalam hal ini budaya jika ingin memahami perilaku politik atau identitas suatu bangsa.
Sebenarnya wilayah Timur Tengah tidak hanya didominasi oleh bangsa Arab saja, melainkan disana juga ada bangsa Kurdi, Persia, Yahudi dan lain sebagainya. Dari segi agamapun, Timur Tengah juga termasuk wilayah yang pluralismenya sangat tinggi dan ia merupakan pusat tiga agama samawi berasal yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Namun banyaknya perbedaan diatas tidak menghalagi integrasi nasional suatu negara, karena secara umum dan dipandang dari segi sejarah, mereka telah hidup berdampingan selama berabad-abad yang lalu dengan harmonis. Disamping itu perlu diingat bahwa aspek national identification sangat berkaitan dengan kesamaan nilai nasionalisme yang berkaitan dengan pemerintahan suatu komunitas, isu kedaulatan, kemerdekaan, kekuasaan, dan otoritas (Hudson, 1997, hal. 35). Tetapi walaupun kehidupan diantara mereka berlangsung secara damai, kebanyakan dari negara-negara di Timur Tengah mempunyai komposisi penduduk yang terkonsentrasi pada satu madzhab atau satu etnis saja disamping minoritas yang ada. Selain itu menurut Hudson yang perlu diakui adalah bahwa meskipun persebaran penduduk yang relatif beragam dan pluralisme yang sangat tinggi di Timur Tengah menjadi hal atau moral yang sangat hebat, kedua hal tersebut terkadang menjadi rintangan yang berat untuk mencapai kesatuan politik yang formal (Hudson, 1997, hal. 55)
Identitas nasional bangsa Arab merupakan hal yang unik jika dibandingkan dengan identitas nasional bangsa lain, karena dalam dunia Arab ada beberapa identitas primordial yang saling tumpah tindih dan seringkali diidentifikasikan sebagai identitas nasional bangsa Arab, seperti kin group (sanak famili), madzhab, kesukuan, dan agama universal komunitas (Islam). Hudson mencontohkan seperti negara Jordania yang mana identitas nasional mereka diwarnai oleh suku-suku yang ada di dalamnya, lalu negara Lebanon dan Yaman dimana identitas nasionalnya dikaitkan dengan madzhab tertentu dan Saudi Arabia yang memakai simbol-simbol agama serta persaudaraan muslim sebagai identitas mereka. Namun secara garis besar, nasionalisme bangsa Arab seperti yang dikatakan oleh Abd al-Rahman al-Bazzas adalah tidak berdasarkan ras, tetapi lebih pada kesamaan bahasa, sejarah, budaya, ikatan spiritual dan kepentingan fundamental yang vital (Hudson, 1997, hal. 34).
Dalam dunia arab, perbedaan solidaritas grup dapat dikenali dari penamaan identitas keanggotan yang berbeda, antara lain Asabiyya, Qawm, umma¸ milla, dan watan. Asabiyya jika diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana adalah ‘semangat ke-sanak famili-an atau group feeling yang mana merujuk pada hubungan (ikatan darah) orang atau anak laki-laki dari garis keluarga laki-laki atau suku dan menandakan rasa solidaritas yang mengikat mereka satu sama lain dan saling bekerjasama melawan kekuatan pihak luar. Asabiyya ini merupakan elemen budaya politik yang seringkali banyak dijunjung oleh masyarakat arab daripada elemen lainnya. Sedangkan qawm lebih merujuk pada konsep komunal kemanusiaan (baca : kerakyatan). Kemudian kata umma dipakai untuk menggambarkan komunitas islam, kata ini juga pernah dipakai untuk merefleksikan nasionalisme Arab dan umma al-arabiyya sebagai ganti daripada negara Arab . Lalu kata milla yang berarti komunitas agama dalam suatu umma al-islamiyya. Selanjutnya ketika solidaritas fundamental hanya terkungkung pada agama dan komunal, dalam jangka panjang maka keberadaan komunitas tersebut akan mengarah pada gagasan pembentukan national territory atau watan (Hudson, 1997, hal. 36-38).
Dari penjelasan diatas, dapat digaris bawahi bahwa elemen identitas pembentuk bangsa Arab adalah berdasarkan dimensi etnik, yaitu bahasa Arab dan budaya serta berdasarkan dimensi agama, yakni Islam. Dikatakan ber’elemen etnik karena disandarkan pada pernyataan Sati al-Husri yang menyebutkan bahwa “ setiap orang yang berbahasa arab, adalah orang arab” dimana pernyataan ini banyak diamini oleh para nasionalis Arab kontemporer dengan alasan bahwa setiap orang yang bahasa pribuminya adalah bahasa Arab, maka ia bagian dari umma al-arabiyya, bangsa Arab, dan mengambil bagian dari uruba, Arabisme (Hudson, 1997, hal. 39). Dan dikatakan identitas bangsa Arab memiliki dimensi Islam karena, agama islam di Arab dipandang sebagai sebuah (dalam bahasa penulis) way of life, dan bagian penting dari sosialisasi masyarakat yang nantinya akan berpengaruh pada status seseorang serta ia memainkan peranan penting dalam proses perpolitikan (Hudson, 1997, hal. 52). Namun tak lepas dari kedua dimensi diatas, sebagian besar bangsa Arab baik elite ataupun massanya berharap dapat mencapai derajat integrasi politik yang tinggi agar supaya mereka mengalami masa renaissance yang setidaknya setara atau melebihi peradaban Arab-Islam abad pertengahan dulu (Hudson, 1997, hal. 40).
Dikarenakan dunia Arab dan Islam saling berkaitan maka tak jarang keduanya diasosiasikan sebagai satu kesatuan yang sama, bahkan karena pengaruh islam yang sangat mengakar pada bangsa Arab, maka antara Arabisme dan Islam seringkali keduanya berbagi kesamaan nilai dan kepentingan (Hudson, 1997, hal. 54). Tak heran jika sampai sekarang masalah antara Palestina dan Israel belum tuntas sepenuhnya karena di satu sisi Israel didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya, begitu pula Palestina yang mendapat dukungan dari Liga Arab. Kesamaan identitas dan solidaritas sebagai bangsa Arab inilah yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan berbagai kerjasama seperti yang berkaitan dengan ‘emas hitam’ kepunyaan mereka dan sikap mereka yang tidak tunduk pada negara superpower.

Referensi :
Hudson, M. C. (1997). Arab Politics : The Search for Legitimacy. New Haven & London: Yale University Press. Chapter 2 : The Elements of Arab Identity. pp. 33-55

Posted Desember 23, 2011 by moze in MBP Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: