Arab Saudi : Gambaran Singkat Tentang Politik dan Permasalahannya   Leave a comment

Ditinjau dari sudut sejarah, Arab Saudi atau Saudi Arabia (Al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su’udiyah) merupakan salah satu negara yang terletak di jazirah Arab dengan sistem pemerintahan kekerajaan yang berdasarkan pada Islam serta bersifat oligarki. Negara ini secara resmi terbentuk pada tanggal 23 September 1932 ketika Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Saud memproklamasikan berdirinya kerajaan Arab Saudi dengan dirinya sebagai Raja pertama karena ia berhasil menyatukan wilayah-wilayah kekuasaannya. Untuk selanjutnya setelah ia meninggal dunia, kekuasaan dan tahta kerajaan diteruskan oleh anak-anaknya yang diperkirakan jumlahnya mencapai 44 orang putra dan sejumlah putri yang tidak terhitung dari 17 istri yang dia miliki. Sampai saat ini terhitung ada lima orang putranya yang berhasil naik tahta, yaitu : Sa’ud bin Abdul Aziz (1953-1964), Faisal bin Abdul Aziz (1964-1975), Khalid bin Abdul Aziz (1975-1982), Fahd bin Abdul Aziz (1982-2005) dan Abdullah bin Abdul Aziz (2005-sekarang) (Raphaeli. 2003: 21 & 24).
Menurut Raphaeli dalam artikelnya yang berjudul “Saudi Arabia: A Brief Guide to Its Politics and Problems” (2003: 21) oligarki adalah bentuk pemerintahan dimana sedikit orang mengatur banyak orang, yang mana dalam kasus di Arab Saudi sangat jelas karena banyak putra kerajaan menjadi anggota elit pemerintahan di negara tersebut dan menguasai hampir keseluruhan kekayaan alam yang ada di wilayah mereka, serta menganggap bahwa kekayaan minyak dan mineral adalah milik mereka yang dapat digunakan sekehendak hati. Akibatnya para pangeran tersebut terkenal dengan gaya hidup yang glamour sedangkan masyarakat miskin semakin meningkat. Sebagai buktinya ketika GDP negara tersebut meningkat rata-rata 1,25% pertahun antara tahun 1981 dan 2001, dari $155,1 milyar di tahun 1981 ke $186,5 milyar di tahun 2001, rata-rata pendapatan perkapita turun sebesar 2,5% pertahun pada dekade yang sama walaupun di tahun 1999 telah terjadi kenaikan harga minyak yang cukup signifikan. Namun ternyata penurunan pendapatan perkapita ini tidak menyentuh kalangan elit kerajaan. Hal ini dikarenakan sumber-sumber minyak telah dikuasai oleh mereka sehingga naiknya harga minyak hanya menguntungkan mereka saja, padahal sumber pendapatan negara tertinggi berasal dari minyak yakni sebesar 75% dan 25 % dari sektor privat. Kondisi ini diperburuk dengan masalah ekonomi yang juga berada dalam genggaman keluarga kerajaan. Walhasil, mereka para elit memonopoli perdagangan dan pengadaan impor barang, tanpa dikenai pajak sehingga pemerintah tidak diuntungan dengan bisnis internasional atau perdagangan luar negeri yang mereka jalankan. Alih-alih mereka juga dilindungi oleh ketentuan Syari’ah yang hanya mewajibkan pengeluaran zakat sukarela sebesar 2,5 % dari seluruh kekayaan yang dimiliki (Raphaeli. 2003: 22). Masalah selanjutnya yakni mengenai populasi yang terus meningkat sebesar 3,67% pertahun namun tidak diimbangi dengan peningkatan GDP yang hanya sebesar 1,25% pertahun. Permasalahan populasi ini kemudian memunculkan wacana tentang suplai air mengingat Arab Saudi merupakan negara yang tergolong kering. Kemudian masalah mengenai pengangguran yang jumlahnya pastinya ibaratkan gunung es, yang terlihat hanyalah puncaknya saja belum terhitung yang ada dibawah permukaan air dan tidak terekspos. Ironisnya pemerintah setempat telah mempekerjakan 6-7 juta tenaga kerja asing yang di hari kepulangan merekapun, akan tetap menguras dana pemerintah (Raphaeli. 2003: 23).
Berikut ini akan penulis gambarkan bagaimana keluarga kerajaan atau monarkhi berpengaruh terhadap perpolitikan di Arab Saudi, namun pembahasan ini akan terfokus pada pemerintahan pada masa Raja Fahd bin Abdul Aziz. Struktur dan peran keluarga Saud dalam pemerintahan di Arab Saudi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, telah banyak tersebar di semua lini pemerintahan dan posisi-posisi strategis kenegaraan. Di masa raja Fahd, figur sentral keluarga kerajaan disebut ‘Sudairi seven’ yang terdiri dari raja Fahd dan keenam saudaranya yang mereka semua merupakan putra-putra raja Abdul Aziz dari istri yang sama yakni Hassa bint Ahmad al-Sudairi. Sedangkan yang menjadi pangeran mahkota dan berhak meneruskan kekuasaan jika raja Fahd meninggal adalah pangeran Abdullah bin Abdul Aziz yang mana merupakan saudara tiri raja Fahd dari ibu yang berbeda yakni al-Fadha bint Asi al-Shuraim. Pangeran mahkota ini dipilih oleh keluarga kerajaan secara rahasia dan memegang posisi sebagai wakil menteri dalam kabinet raja samapai waktunya ia diangkat menjadi raja. Di masa raja Fahd berkuasa terhitung ada 103 pangeran (1 Putri) yang menjabat posisi penting di pemerintahan. Mereka-mereka itu adalah pengeran Abdul Aziz (menteri perminyakan), anak dari pangeran Salman yang memerintah wilayah Riyadh, pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz yang menjabat sebagai duta besar Arab Saudi untuk Amerika, pangeran Naif, saudara raja Fahd yang menjadi menteri dalam negeri yang membawahi 13 wilayah di Arab Saudi dan lain sebagainya (Raphaeli. 2003: 24). Saat ini yang menjadi raja adalah Abdullah dan yang menjadi pangeran mahkota adalah saudara tirinya juga yakni pangeran Sultan bin Abdul Aziz.
Kenyataan bahwa negara mereka dipimpin oleh sejumlah elit kerajaan dan dijalankan dengan kurang bijaksana, menurut Raphaeli belum cukup memunculkan gelombang demonstrasi yang tinggi dan gerakan penggulingan rezim. Hal ini dikarenakan keluarga kerajaan menguasai sektor media massa dan informasi sehingga hal tersebut masih dapat ditutupi, selain itu keluarga kerajaan kerapkali memberikan hibah dan bantuan kemanuasian yang berasal dari kekayaan pribadi mereka (Raphaeli. 2003: 28). Namun yang perlu dikritisi adalah dari mana uang sumbangan tersebut berasal, dan jika berasal dari kantong pribadi menagapa keluarga kerajaan begitu murah hati kecuali jika mereka memiliki akses yang tidak terbatas pada keuangan negara?. Dari uraian diatas cukup jelas bahwa sejauh ini kekuasaan monarki belum mendapat ancaman yang signifikan, apalagi jika menyangkut kaum minoritas Syiah yang ada di negara tersebut yang jumlahnya hanya sekitar 20% dari popoulasi total masyarakat Arab Saudi yang mayoritas beraliran Sunni. Namun mengingat baru-baru ini banyak terjadi gelombang demokrasi dan reformasi di negara-negara Timur Tengah seperti di Mesir, Libya, Tunisia, Yaman dan lain sebagainya, maka sudah sepatutnya jika keluarga kerajaan Saud mulai mendengarkan aspirasi rakyatnya jika tidak mau mengalami nasib yang serupa, karena permasalahan di suatu negara seperti demokrasi bersifat domino effect dan dapat menular di negara sekitarnya.
Berkaitan dengan tuntutan proses demokratisasi di Arab Saudi yang ditekankan oleh dunia internasional, terutama partnernya Amerika Serikat maka keluarga kerajaan telah mendirikan berbagai institusi ataupun forum yang merepresentasikan masyarakat sipil yang tugasnya menginformasikan pada dunia bahwa negara mereka telah benar-benar demokratis. Namun ironisnya tetap saja institusi tersebut dikontrol oleh keluarga kerajaan, contoh saja forum dialog nasional yang didirikan oleh raja Abdullah dan mengundang sejumlah pakar politik, kemanusiaan, sosial dan lain sebagainya, namun rekomendasi yang muncul dari diskusi dan dialog tersebut tidak direalisasikan dalam pemerintahan. Lalu penerbitan majalah al-Watan milik pangeran yang berisikan artikel-artikel liberal, namun editornya Jamal Khashoggi dipecat karena mengkritisi ulama yang mendukung terorisme (Rubin. 2007). Hal ini menunjukkan bahwa proses demokratisasi di Arab Saudi hanya menyentuh aspek prosedural dan mekanisme, bukan pada inti dari demokrasi itu sendiri.
Referensi :
Raphaeli, Nimrod. 2003. “Saudi Arabia: A Brief Guide to Its Politics and Problems”, dalam Middle East Review of International Affairs, September, 7 (3).
Rubin, Barry, 2007. “How Arab Regimes Defeated The Liberalization Challenge” dalam Middle East Review of International Affairs, 11 (3): 89-105.

Posted Desember 23, 2011 by moze in MBP Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: