Ancaman Terorisme di Timur Tengah   Leave a comment

Sudah bukan hal yang asing lagi di telinga kita akan kata terorisme, sudah hampir seabad lebih media banyak menayangkan aksi-aksi seperti bom bunuh diri, pembajakan pesawat dan aksi penyerangan lainnya sebagai bagian dari terorisme. Sebagai tonggaknya adalah saat pengeboman terhadap gedung World Trade Centre di Amerika Serikat oleh jaringan teroris internasional seperti Al-Qaeda. Ironisnya banyak negara barat yang salah mengartikan bahwa Islam merupakan agama yang menghasilkan terorisme, akibatnya banyak pandangan miring terhadap negara-negara di Timur Tengah. Bahkan sampai sekarang istilah terorisme sangat lekat dengan istilah timur tengah itu sendiri. Memang tak dapat dipungkiri bahwa Timur Tengah memiliki banyak kelompok-kelompok militan seperti Hamas di Palestina dan Taliban di Afghanistan yang sangat membenci keberadaan Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya fenomena dan oorganisasi teroris tidak hanya ada dan terjadi di Timur Tengah saja tetapi hampir seluruh belahan dunia. Mengapa demikian? Karena istilah terorisme yang penulis pahami secara sederhana tidak hanya merujuk pada militan-militan islam tetapi pada semua aksi-aksi kekerasan yang bermuatan politis yang sasarannya tidak tentu dan cenderung umum serta bertujuan untuk memunculkan perasaan ‘di-teror’ atau terancam bagi masyarakat luas. Oleh karena itu tidak heran jika organisasi teroris ini berada di sebagian besar negara, termasuk Indonesia, Filipina dan Malaysia yang dikatakan sebagai bagian atau cabang dari Al-Qaeda . Namun dalam jurnal kali ini penulis akan lebih membahas mengenai ancaman-ancaman terorisme yang ada di wilayah timur tengah itu sendiri, khususnya di wilayah Aljazair.
Pada awalnya Al-Qaeda didirikan di Pakistan pada tahun 1988 dan merupakan sebuah organisasi yang secara penuh mendedikasikan dirinya bagi jihad secara global. Namun pada tahun 1996 Usama bin Ladin dan rekannya Ayman al Zawahiri menyatakan deklarasinya tentang jihad melawan Amerika. Dan dua tahun setelahnya di bulan Februari mereka berdua mendirikan ‘World Islamic Front Jihad against the Jews and the Crusaders’ dan mengeluarkan pernyataan bahwa jihal global merupakan kewajiban bagi setiap muslim dimanapun ia berada. Jihad yang dilancarkan oleh Usamah ini tentunya bertentangan dengan nilai-nilai damai islam dan terlalu membabi buta karena tidak membuat perbedaan target antara militer atau penduduk sipil (Filiu.2009: 213). Hal ini berbanding terbalik dengan konsep jihad yang dilakukan oleh ‘Abd al-Qadir pada tahun 1832-1847 di Aljazair, dimana konsep jihad saat itu lebih pada perjuangan anti penjajahan dalam versi islam yang musuhnya saat itu adalah Prancis (Filiu.2009: 214). Pada tahun 2007 AlQaeda berhasil memperluas jaringannya hingga ke Afrika Utara yakni di Aljazair. Berdirinya AlQaeda di Aljazair ditandai dengan bergabungnya Algerian Salafist Group for Preaching and Combat (GSPC) dengan AlQaeda dan menjadikan dirinya sebagai sayap AlQaeda di Afrika utara. Semenjak saat itu insiden penyerangan terhadap kantor-kantor pemerintahan dan keamanan kerap terjadi di Aljazair.
Begitu besar dan mengakarnya ide jihad ini membuat gerakan-gerakan ini sulit diberantas, bahkan di beberapa negara seperti Aljazair, Pakistan, Afghanistan gerakan dan organisasi ini telah bertransformasi sedemikian rupa dan menjadi kekuatan politik yang mampu memberikan pengaruh serta menentukan arah pemerintahan dan negara mereka. Bukan hal aneh lagi jika banyak para elite pemerintahan di negara-negara tersebut memiliki hubungan aliansi dengan kelompok teroris ini demi mengukuhkan legitimasinya. Dan yang lebih parah terkadang para teroris ini bersatu membentuk kekuatan yang dapat menggulingkan sebuah rezim dan mengambil alih struktur pemerintahan setempat. Tak pelak lagi keberadaan terorisme ini akan mengganggu stabilitas kawasan timur tengah termasuk pada ranah jalannya pemerintahan dan proses demokratisasi yang ada. Selain itu organisasi teroris semacam AlQaeda dapat terus berdiri dan melakukan aksi-aksinya karena mendapatkan dukungan dana dari beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab dan ingin mengacaukan rezim pemerintahan yang ada.
Banyaknya dan luasnya jaringan terorisme di kawasan timur tengah ini bukan berarti pemerintah setempat mengabaikan dan membiarkan isu ini berkembang begitu saja. Sebenarnya pemerintah dimana teroris ini berada sudah melakukan upaya-upaya untuk memberantas jaringan teroris dengan melakukan kerjasama dengan negara-negara barat. Namun usaha ini kurang begitu berhasil mengingat slogan jihad yang digunakan oleh para terorisme ini sama dengan jihad dalam islam yang merupakan kegiatan berpahala. Apalagi masyarakat islam awam yang cenderung kurang paham perbedaan makna ’jihad’ dalam islam dan jihad menurut para teroris sehingga mereka cenderung melindungi para teroris ini dan menganggap mereka pahlawan yang berjuang mengusir orang ‘kafir’ dari negara mereka. Di lain pihak tindakan pemerintah setempat dengan meminta bantuan berupa tentara untuk menjaga keamanan wilayah mereka malah membuat para teroris ini semakin marah. Akibatnya bukan lagi gedung-gedung atau orang yang menyimbolkan amerika yang mereka serang tapi mereka juga menyerang gedung-gedung pemerintahan mereka sendiri atau orang-orang yang sekiranya dianggap pengkhianat dan pro terhadap amerika serikat
Pada intinya terorisme merupakan bentuk tindak kekerasan yang bermuatan politis dengan target yang tidak jelas dan bertujuan untuk menebar rasa takut di masyarakat. Adapun faktor utama yang mendasari munculnya tindakan-tindakan terorisme di wilayah timur tengah adalah kebencian terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Disadari atau tidak keberadaaan Amerika serikat dan tentaranya beserta pangkalan militernya di wilayah timur tengah turut mendorong bagi munculnya tindakan terorisme yang sering ditujukan terhadap negeri paman Sam tersebut. Kelompok-kelompok dan organisasi teroris internasional seperti AlQaeda mempunyai banyak jaringan yang tersebar luas di hampir semua negara seperti Asia dan Australia.
Referensi :
Filiu, Jean-Pierre, 2009. “The Local and Global Jihad of al-Qa’ida in the Islamic Maghrib”, Middle East Journal, 63 (2): 213-226

Posted Desember 23, 2011 by moze in MBP Timur Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: