Rezim Hegemonic Stability pasca Perang Dingin   Leave a comment

Rezim internasional menurut Krasner adalah suatu tatanan yang berisi kumpulan prinsip, norma, aturan, proses pembuatan keputusan baik bersifat eksplisit maupun implisit yang berkaitan dengan ekspektasi atau pengharapan aktor-aktor dan memuat kepentingan aktor itu sendiri dalam hubungan Internasional (Krasner. 1982 : 1). Jadi disini dapat dikatakan bahwa rezim internasional itu ada walaupun tidak berbentuk suatu institusi atau organisasi tertentu. Yang terpenting adalah adanya convergen expectation atau harapan yang diharapkan bersama oleh para aktor yang terlibat sehingga tercipta suatu rule yang mengikat diantara mereka. Karena itu rezim dikatakan berhasil dan berjalan baik apabila rezim dapat mempengaruhi tindakan atau pemikiran setiap aktor yang berada dalam keanggotaannya. Seperti yang dikatakan oleh Puchala dan Hopkins bahwa salah satu fungsi utama rezim internasional adalah mengatur, mambatasi bahkan memaksa para anggotanya untuk berperilaku sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka capai, melilih isu-isu yang layak diperhatikan dan aktivitas apa saja yang terlegitimasi dan yang tidak dan terakhir mempengaruhi bagaimana dan kapan suatu konflik diselesaikan. Karena itu menurut Donald J.Puchala and Raymond F.Hopkins, rezim internasional sejatinya merupakan salah satu bentuk wadah penyaluran ide, impian dan aksi yang mempengaruhi dunia perpolitikan dalam sistem internasional (Puchala & Hopkins, 1982 : 61).
Berangkat dari definisi dan penjelasan diatas maka penulis disini akan berusaha menganalisis dan menjelaskan keberadaan Amerika Serikat sebagai aktor hegemon dunia pasca runtuhnya Uni Soviet di awal tahun 1990 an. Seperti yang kita tahu, dunia internasional pasca Perang Dunia II dikuasai oleh dua kekuatan besar yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang mana keduanya sama-sama berlomba untuk menjadi pemimpin dunia dengan saling bersaing kemajuan baik teknologi, militer, dan pengaruh. Dengan runtuh dan terpecah belahnya Uni Soviet pada tahun 1990 maka runtuh pula sistem balance of power dengan dua kutub kekuatan. Dan Amerika Serikat mucul sebagai satu-satunya negara yang memiliki berbagai macam power dan dunia meletakkannya pada posisi pemimpin yang hampir tidak tersaingi, karena itulah Amerika Serikat menjadi hegemoni hampir di setiap bidang baik ekonomi, militer maupun poliitik. Mau tidak mau arah politik dan perekonomian dunia terseret dan berpatokan pada sistem yang ada di Amerika Serikat. Menurut Robert Cox (dalam Jackson, R., &. Sorensen, G. , 1999, p. 254), tatanan Hegemonik yang stabil didasarkan pada sekumpulan nilai dan pemahaman yang dimiliki bersama yang berasal dari cara-cara berbuat dan berpikir strata sosial dominan dari negara dominan. Karena itulah sistem ekonomi liberal dianut di banyak negara, karena negara-negara kecil dan berkembang mau tidak mau harus menyamakan dirinya dengan negara besar dan maju agar semakin tidak tertinggal. Teori stabilitas hegemon disini penting keberadaanya karena kekuatan ekonomi dan militer yang dominan diperlukan bagi penciptaan dan pembangunan sepenuhnya perekonomian pasar dunia yang liberal, itulah inti dari teori stabilitas hegemon menurut Jackson, R., &. Sorensen, G. , (1999, p. 246).
Sebenarnya teori Hegemonic Stability ini jika dirunut dari asalnya, ia muncul dari perspektif pendekatan keamanan yang banyak diaplikasikan pada masa Perang Dunia I, terutama pendekatan mengenai keamanan bersama dan juga ia hadir sebagai pengganti dari pendekatan perimbangan kekuasaan (Balance of Power), meski ide originalnya berasal dari Immanuel Kant (1724-1804), pendekatan hegemonic stability ini memandang keamanan nasional sebagai keuntungan disamping kehendak dunia untuk mengatur otoritas kepentingan dari atas, yang menolak bahwasanya aliansi dan tindakan netral dapat efektif, sehingga mengganti ide “an attack against one is an attack against all” sehingga diperlukan kerjasama untuk menjaga keamanan bersama. Secara umum pendekatan ini menekankan pada kepentingan setiap negara untuk melindungi negaranya dari ancaman luar, dan oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan luar negeri yang baik, dan didalamnya termuat ide-ide politik hegemon. Negara dalam hal ini berada dalam situasi dilemma of common aversions dimana hal ini terjadi ketika para aktor tidak berharap pada terciptanya outcome yang sama bagi setiap pihak namun mareka semua setuju untuk menghindari satu outcome bersama. Pada situasi ini tiap-tiap aktor mempunyai kepentingan yang sama dalam menghindari (avoiding) outcome tertentu. Kondisi ini menyebabkan adanya multiple equilibria (dikatakan terdapat dua equilibria jika terdapat dua aktor dengan masing-masing aktor memiliki dua pilihan) sehingga membutuhkan adanya koordinasi antara para aktor agar keputusan satu aktor tidak mengganggu equilibria aktor lainnya. Dalam hal ini rezim internasional juga dapat menjadi solusi pemecahan masalah karena dengan adanya dilema ini, akan mendorong masing-masing pihak untuk menghindari pembuatan keputusan secara independen (Stein, 1982 : 125).
Jadi selain dibutuhkan satu aktor hegemon yang mendukung adanya suatu rezim, ia juga membutuhkan kerelaan para aktor lainnya dan berkomitmen untuk mendukung rezim hegemon negara tersebut. Kesamaan tujuan common aversion diataslah yang menurut penulis menjadi kontrak sosial bagi aktor yang terlibat dalam rezim hemonik tersebut. Hegemon disini sejauh yang penulis pahami berfungsi sebagai penjaga stabilitas ekonomi dan keamanan dunia pada umumya dan memberikan bantuan pada negara-negara yang sedang menghadapi krisis babik ekonomi maupun keamanan serta menjaga agar krisis tersebut tidak meluas dan berdampak pada negara lainnya. Namun yang perlu kita takutkan disini adalah jika negara yang kita anggap hegemon malah menjadi predator bagi negara lainnya dan bukannya melindungi dan menjaga stabilitas keamanan dunia, bagaikan “pagar makan tanaman”. Berikut beberapa ringkasan tentang rezim stabilitas hegemon yang penulis dapatkan dari sumber berbeda :
Tahap Teori Stabilitas Hegemoni Neorealis
Krisis Great Power berjuang untuk mendapatkan dominansi
Pembentukan Rezim Kekuatan hegemon menentukan aturan main
Kepatuhan terhadap rezim
dan kerjasama Hegemon menjaga aturan main dengan hukuman dan hadiah
Menurunnya Hegemon Hegemon melakukan tindakan reaktif terhadap menurunnya hegemoni, misalnya tindakan terhadap bentuk ketidaktaatan aktor terhadap aturan main dsb.
Sumber: (Woods 1997, hal.131)
Referensi :
Jackson, R., &. Sorensen, G. . (1999). Introduction to International Relations. Oxford University Press.
Krasner, S. D. (1982). Structural causes and regime consequences : regimes as intervening variables. Massachusetts Institute of Technology.
Puchala, D. J., & Hopkins, R. F. (1982). International Regimes : Lessons from Inductive Analysis. Dalam S. D. Krasner, International Organization (hal. 61-92). Massachusetts Institute of Technology.
Stein, A. A. (1982). Coordination and Collaboration : Regimes in An Anarchic World. In S. D. Krasner, International Organization (pp. 115-139). Massachusetts Institute of Technology
Woods.1997. Australia and the Security of the South Pasific. Pp.111-123

Nama : Muzainiyeh (070912061)
Jurnal Rezim Internasional ke-7

Posted Juni 30, 2011 by moze in Rezim Internasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: