“ Words can hurt you; or, who said what to whom about regimes” -Ernst B. Haas-   Leave a comment

Setiap orang sangat mungkin mempunyai interpretasi dan definisi yang berbeda mengenai rezim internasional, namun yang perlu digaris bawahi dari pengertian rezim itu adalah bahwa rezim haruslah terfokus pada specific area dan adanya convergen expectation atau harapan yang sama-sama diayakini dan sifatnya mengikat. Kedua hal tersebut kemudian diterjemahkan menjadi serangkaian peraturan dan prosedur yang nantinya mempengaruhi negara dalam berperilaku. Intinya rezim internasional dapat dikatakan sebagai ‘governance without government’. Namun dalam artikel yang ditulis oleh Ernst B. Haas ini, dia tidak lagi memperdebatkan definisi dari rezim internasional, melainkan metode yang perlu dilakukan agar mudah mempelajari rezim internasional dan pendapatnya mengenai dinamika rezim internasional. Dalam artikelnya dia menjelaskan bagaimana setting intelektual untuk mepelajari rezim, rezim dan metafora organik, rezim dan metafora mekanik dan terakhir sintesis evolusioner. Berikut poin-poin yang kami pahami dari artikel tersebut.
Menurut Haas, hal pertama yang perlu kita ingat dan lakukan dalam mempelajari rezim adalah membentuk setting intelektual. Caranya adalah dengan memisahkan dan menarik perbedaan antara istilah order (tatanan), sistem dan rezim itu sendiri. Rezim disini merupakan salah satu bagian dari sistem yang berupa sekumpulan prinsip, norma, aturan dan prosedur pembuatan keputusan diantara aktor yang tergabung dan membuat kelompok tertentu dalam hubungan internasional. Namun seperti yang dikatakan Haas rezim tidak selalu merupakan kolaborasi kebijakan, tapi terkadang rezim hanyalah sebuah bentuk koordinasi kebijakan antara aktor-aktor (baca : negara) yang terikat di dalamnya (Haas, 1982, hal. 27, 30). Jadi, studi mengenai rezim internasional sangatlah dinamis dari masa ke masa, ia tidak lagi hanya sebatas ilmu yang berkaitan dengan interaksi dunia internasional dalam hal politik, melainkan juga mencakup pola interaksi antara negara sebagai homo politicus dengan lingkungan dan budaya dalam konteks global.
• Rezim dan Metafora Organik
Dalam rezim internasional ada dua cara pendekatan dalam memahami rezim, salah satunya adalah dengan Metafora Organik. Metafora Organik memandang bahwa alam selalu berkembang, oleh karena itu rezim turut berkembang pula, dia juga memandang rezim sebagai bagian dari sistem internasional yang terbuka dan memberikan kesempatan bagi umat manusia untuk berubah menjadi lebih baik. Intinya pendekatan ini menekankan akan pentingnya kelangsungan hidup spesies. Dia memandang dunia sedang berada dalam ketidak seimbangan sistem dan sebagai makhluk hidup yang menderita dan akan berakhir dalam disorder jika tidak segera diperbaiki (Haas, 1982, hal. 34-35). Oleh karena itu penting untuk membentuk proses yang harmonis dan dinamis dalam sistem internasional. Pendekatan metafora organik ini terbagi lagi menjadi tiga kelompok yakni :
– Eco-environmentalism atau Eco-evolutionism. Kelompok ini memandang bahwa umat manusia tengah menghadapi krisis yang dapat mengancam kelestarian ras manusia sebagai akibat dari ketidakseimbangan sistem. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama yang baik antara pengetahuan, agama, manusia dan lingkungan agar tercipta kesejahteraan dan keseimbangan ekologi (Haas, 1982, hal. 37).
– Eco-reformism memandang rezim sebagai kepentingan, oleh karena itu perlu adanya upaya mencari akar permasalahan antara ekonomi dan lingkungan agar tercipta kualitas hidup yang baik bagi semua (Haas, 1982, hal. 39).
– Egalitarianism, dia berpendapat bahwa akibat kepentingan para aktor yang bersifat egois dan semena-mena maka terciptalah lingkungan yang tidak seimbang. Oleh karena itu sistem harus diatur lagi dengan moralitas yang baru, intinya pada distribusi ulang yang lebih adil agar negara miskin dapat sejahtera (Haas, 1982, hal. 43).
• Rezim dan metafora mekanik
Ada tiga kelompok dalam pendekatan ini yaitu liberal, merkantilis dan mainstream. Ketiganya fokus pada perkembagan rezim menyangkut ekonomi dan politik serta interdependensi yang kompleks antar negara di dalam kedua isu tersebut. Pendekatan metafora mekanik ini pesimis dalam memandang dunia sebagai sistem yang tertutup dan terkotak-kotak menjadi beberapa negara yang kuat dan tertutup pula. Konflik merupakan hal yang natural bahkan terkadang menjadi jalan untuk mengembalikan keseimbangan. Sehingga masa depan dunia tergantung pada hukum yang berlaku. Konsep utama dari pendekatan ini adalah hegemoni, negara yang menjadi hegemon dapat mengendalikan distribusi sumber daya dan mengontrol jalannya rezim yang berlaku (Haas, 1982, hal. 45-46). Berikut perbedaan dari tiga kelompok diatas:
– Liberal. Menganggap bahwa interest yang dimiliki tiap aktor bersifat selfish dan jangka pendek demi efisiensi bersama
– Merkantilis, memandang kepentingan aktor sebagai sesuatu yang selfish namun bersifat jangka panjang demi kemakmuran ketahanan negara
– Mainstream. Kelompok ini merupakan gabungan dari dua yang diatas. Sehingga interest bersifat selfish dan jangka pendek, dengan tujuan melindungi kepentingan negara yang tergabung dalam koalisi hegemon (Haas, 1982, hal. 49, 50, 51).
Masalah terakhir yang dibahas oleh Haas adalah mengenai sintesis evolusioner. Pada pembahasan sebelumnya Haas telah menjelaskan bahwa metafora mekanik menggunakan konteks Ekonomi dan Politik untuk memahami rezim internasional. Namun pada perkembangannya ia gagal menjelaskan akar permasalahan dari ekonomi dan politik itu sendiri. Sehingga di akhir artikelnya dia mengungkapkan harapan akan adanya rezim internasional yang terbentuk melalui sintesis evolusioner dari metafora organik dan metafora mekanisk diatas. Sehingga dapat menggabungkan kepentingan manusia dan kelestarian lingkungan. Salah satu contoh dari sintesis evolusioner ini adalah Rezim UNCLOS atau United Nation on The Law of The Sea. Pada awalnya peraturan ini dibuat untuk menciptakan akses laut terbuka guna meningkatkan perekonomian, namun pada perkembangannya hukum laut ini menjadi spesifik pada batas-batas laut teritorial, zona konservasi, restriction on transit, zona bebas polusi, zona penambangan lepas pantai dan zona-zona yang lain (Haas, 1982, hal. 53). Dengan demikian tampak bahwa zona-zona diatas ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip gabungan dari golongan eco-environtment, eco-reformis, egalitarian, liberal, merkantilis dan mainstream.

Referensi :
Haas, E. B. (1982). Words can hurt you; or, who said what to whom about regimes. Dalam S. D. Krasner, International Organization (hal. 23-59). Massachusetts Institute of Technology.

Nama : Muzainiyeh (070912061)
Tugas : Rezim Internasional, Jurnal ke-2

Posted Juni 16, 2011 by moze in Rezim Internasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: