STKS : Perkembangan Studi Strategi   Leave a comment

Studi mengenai strategi secara akademik mulai muncul setelah Perang Dunia II, namun dasar-dasarnya telah ada sejak berabad-abad lalu ketika seorang jenderal besar Cina yakni Sun Tzu menuliskan pemikirannya menegenai bagaimana strategi mencapai tujuan perang dalam bukunya Thr Art of War. Namun dalam tulisan ini kami hanya ingin membahas mengenai perkembangan studi strategis setelah masa Perang Dunia II.
Studi strategis pada mulanya berkembang diluar para akademia universitas dan sangat identik dengan dunia militer serta perang. Setelah Perang Dunia I, benih-benih empirik munculnya studi strategis ini mulai ada ketika beberapa universitas mendirikan jurusan hubungan internasional sebagai upaya menghindari terjadinya kembali perang. Namun pada kenyataannya studi strategis ini pada masa itu muncul dan banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu alam seperti fisika dan teknik. Pada perkembangan selanjutnya kondisi dunia yang mengalami Perang Dingin dan perlombaan senjata memungkinkan stidi strategis berkembang pesat, namun lagi-lagi masih sangat berbau militer. Beberapa usaha mendirikan dan mengembangkan studi strategis sebagai subjek akademik telah dilakukan dengan memanfaatkan kondisi Perang Dingin. Namun barbagai pergantian kebijakan membuat studi ini sulit untuk berdiri di universitas sehingga saat itu belum ada kurikulum yang pasti mengenai studi strategi (Freedman, 2007, hal. 357-358).
Selanjutnya studi strategi pada masa Perang Dingin sebenarnya cukup simpel, hanya fokus pada syarat-syarat apa yang disebut deterrence. Deterrence sebagai isu utama saat itu banyak digunakan oleh kedua kubu (Amerika Serikat vs Uni Soviet) untuk saling menggertak lawan dengan tujuan agar lawan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengancam keseimbanagan dunia dengan memulai perang lagi. Sehingga sebelum tahun 1991 cakupan studi strategi menjadi semakin luas dan berkenaan dengan konteks politik hubungan internasional. Saat itu studi strategi belum dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu hanya merupakan area studi yang luas dan hadir dibawah tema-tema utama seperti perdamaian, perang, keamanan dll. Ketika Perang Dingin berakhir, studi strategis memasuki dunia baru dimana banyak terjadi konflik etnik yang melibatkan lingkungan internasional sehingga memerlukan cakupan keahlian yang lebih luas. Pasca perang dingin ini dunia dalam ketidakteraturan dan para pembuat kebijakan kurang memperhatikan apa yang dikatakan oleh para akademisi, sehingga membuat para pemerhati studi strategi merubah perhatiannya pada teori dan metodologi saja (Freedman, 2007, hal. 358-360).
Sementara itu, ketegangan yang tidak bisa diabaikan muncul antara para akademisi studi strategi dan dunia politik yang semuanya berakar dari perbedaan tanggung jawab yang diemban oleh masing-masing pihak. Para ‘praktisioner’ seringkali mengeluhkan tentang ketidaksesuaian antara studi staretegi secara akademik dengan masalah yang benar-benar mereka hadapi. Hal ini disebabkan karena dalam dunia nyata, suatu kebijakan yang sangat penting harus diambil secepat mungkin dan para akademisi dinilai terlalu banyak pertimbangan sehinggga ditakutkan waktu yang digunakan untuk berpikir akan menghilangkan kesempatan yang bagus dalam menyerang. Selain itu para praktisioner seakan memiliki intuisi dan firasat berkenaan dengan strategi itu sendiri yang mereka peroleh dari pengalaman. Ahli strategi tentunya akan mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat dipentuhnya namun pada praktiknya waktu selalu membatasi pertimbangan yang luas. Strategi pada kenyatannya meliputi banyak hal dan bersifat interdisipliner serta tidak seperti gambaran sempit yang difokuskan oleh mayoritas departemen (Freedman, 2007, hal. 360-362).
Studi strategis fokus pada aktor individu dan pentingnya untuk berhati-hati dalam memilih kebijakan serta memetakan masalah pada ilmu sosial, selain itu studi strategis juga menekankan pada pola perilaku secara luas dan kesempatan terbatas untuk mencapai perubahan yang signifikan. Perubahan yang dimaksud adalah tujuan pokok dan utama dari serangan yang dilakukan. Jadi hal pertama yang dilakukan oleh ahli strategi adalah memetakan kekuatan diri sendiri dan lawan serta memahami secara mendalam bagaimana kondisi medan pertempuran. Lalu mengaplikasikan informasi itu untuk merangkai strategi jitu yang dapat melumpuhkan lawan tanpa harus bersusah payah. Para ahli strategi adalah ‘voyeurs’ yang meneliti secara cermat pilihan atau keputusan apa yang dibuat oleh pihak lain yang terkait dengan keputusan sulit mengenai peran angkatan bersenjata (Freedman, 2007, hal. 363-364).
Studi strategis sejatinya banyak memiliki kesinambungan dengan aliran realisme yang asumsi dasarnya adalah manusia adalah makhluk yang egois dan ingin menang sendiri. Ini sejalan dengan studi strategi yang menganggap pihak lain sebagai lawan dan mempelajari bagaimana menaklukan lawan. Meskipun ada banyak kritikan yang dilancarkan kepada kaum realis namun aliran pemikiran ini memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat bagi studi strategi, disamping elemen lainnya yang dapat dikembangkan sesuai zaman. Aliran realis ini memberikan pendekatan yang lebih halus pada peran kekuatan dalam politik internasional daripada pendekatan neo-realis yang menekankan bahwa struktur yang mempengaruhi atau memaksa perilaku negara. Selain aliran realisme, pendekatan para konstruktifis juga banyak membantu pengembangan studi srtategis dengan memberikan fokus perhatiannya pada pentingnya dinamika hubungan antara ‘tujuan’ dan ‘cara’ yang sangat krusial dan mempengaruhi hasil akhir dalam setiap konflik (Freedman, 2007, hal. 365-366).
Realisme pada perkembangannya membutuhkan fokus yang lebih luas daripada masa lalu untuk dapat memahami nature (sifat alami) dari konflik yang terjadi saat ini, namun ia tidak harus mengabaikan peran angkatan bersenjata. Strategi selalu ada dimana politik berada meskipun tujuan politik itu dapat dicapai tanpa kekerasan dan perang. Meskipun studi strategi mencoba untuk mengaplikasikan analogi ‘perang’ secara luas, namun studi strategis juga fokus pada peran angkatan bersenjata dalam situasi damai maupun perang (Freedman, 2007, hal. 366-368).
Kesimpulan :
Studi strategis pada hakekatnya merupakan studi yang dinamis serta peka dengan perubahan zaman. Di masa Sun Tzu dan awal-awal kemunculannya studi strategi hanya fokus pada bidang militer dan perang saja. Namun pada perkembangan selanjutnya setelah Perang Dingin ia banyak digunakan oleh para elite politik untuk mencapai tujuan politis. Sehingga studi strategi bukan lagi hanya masalah keamanan dalam arti daya tangkal atau kemampuan militer dalam mengatasi serangan musuh, tetapi juga kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam bidang ekonomi, pengembangan teknologi, kerjasama internasional, dan sebagainya. Di masa-masa sekarang, strategi bahkan dipakai oleh kalangan ekonomi dan bisnis untuk memajukan usahanya.

Referensi :
Freedman, L. (2007). The Future of Strategic Studies. Dalam J. Baylish, Strategy in The Contemporary Age (hal. 356-370). Oxford: Oxford University Press.

Nama : Muzainiyeh (070912061)
Tugas : Studi Strategi dan Tata Kelola Strategi minggu ke 3

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: