STKS : General Tao Hanzhang’s Commentary on the Art of War   Leave a comment

Sun Tzu merupakan pemikir strategi perang yang hidup di periode 403-221 SM. Pokok-pokok pikiran yang dia tuangkan dalam bukunya The Art of War mengenai strategi bukanlah suatu gagasan yang muncul begitu saja melainkan berdasarkan produk kebiasaan sosial dimana dan kapan ia hidup serta pengaruh lingkungannya pada masa itu. Ditinjau dari segi historis, Sun Tzu hidup pada akhir Periode Catatan Musim Bunga dan Musim Rontok (Period of Spring and Autumn Annals) hingga Periode Peperangan Antar Negara (Period of Warring States). Dimana kondisi sistem masyarakat Cina Kuno saat itu sedang mengalami peralihan dari masyarakat perbudakan menjadi masyarakat feodal, oleh karena itu banyak terjadi pergolakan di antara kerajaan-kerajaan kecil saat itu sampai terbentuknya Negara Kesatuan pertama kalinya di Cina dengan sistem Kekaisaran (Hanzhang, 1998: 107).
Estimasi mendasar dalam karya Sun Tzu adalah bagaimana caranya mengatasi musuh dengan kebijaksanaan dan tidak hanya dengan kekuatan saja. Dia percaya bahwa perjuangan militer tidak hanya mengenai kompetisi antara kekuatan militer tapi juga mencakup banyak hal seperti politik, ekonomi, keuatan militer dan diplomasi. Sun Tzu berkata “ Perang merupakan sesuatu yang sangat vital bagi suatu negara, yang berkaitan dengan hidup dan mati, jalan menuju keberlangsungan hidup atau kehancurannya” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 63). Oleh karena itu penting bagi setiap pihak yang berperang agar menggunakan strategi yang jitu untuk menghindari korban yang terlalu banyak dan kehancuran perekonomian. Strategi penting yang diletakkan Sun Tzu dalam perang adalah “Hal penting terbaik dalam perang adalah mengecewakan rencana strategi lawan, kemudian mengacaukan aliansinya dengan cara diplomasi, lalu menyerang tentaranya dan keputusan yang paling buruk adalah menyerang kotanya” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 67).
Dari penjelasan diatas, jelas bahwa Sun Tzu mengutamakan dimensi Diplomasi dalam setiap peperangan. Karena itu penting untuk melakukan aliansi dengan pihak lainnya yang disebut focal ground atau area persimpangan tiga negara utama. Pihak yang mampu mengontrol focal ground akan memperoleh dukungan dari negara-negara tersebut dan menciptakan aliansi yang banyak. Jadi posisi ini akan menguntungkan dan strategis. Untuk menguasai focal ground dibutuhkan kemampuan berdiplomasi yang memadai dan kekuatan ekonomi. MenurutSun Tzu mengalahkan 100 musuh dalam 100 pertempuran bukanlah pertanda akan keahlian dalam perang tapi mengalahkan musuh tanpa berperang itulah yang dinamakan skill terbaik. Kata-katanya yang terkenal mengenai hal ini adalah “to subdue the enemy’s troops without fighting is the supreme exellence” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 109).
Menurut Sun Tzu, ada lima faktor fundamental dalam perang yang harus diperhatikan oleh para perancang strategi dan memperbandingkannya dengan kondisi lawan. Kelima faktor tersebut adalah politik, cuaca atau iklim, medan tempur (terrain), pemimpin dan doktrin (seperti organisasi militer, hierarki pasukan, dll) sebelum memulai perang. Dan menurutnya kemenangan hanya dapat dicapai jika kesemua factor tersebut dimasukkan dalam pertimbangan yang komprehensif (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 64). Pertimbangan akan kelima faktor diatas nantinya akan membantu pemimpin perang untuk berinisiatif kapan ia akan menyerang atau strategi apa yang cocok diterapkan dan sesuai dengan kondisi pasukan yang dimilikinya serta bertempur dalam tempo yang cepat dan tidak memperpanjang perang.
Buku The Art of War secara garis besar berkata bahwa dalam setiap perang terdapat unsur penipuan, Sun Tzu berkata “ Perang adalah sebuah ‘bahan tipuan’ untuk membuat lawanmu kebingungan. Cobalah selalu menangkap musuhmu dengan tiba-tiba dan menyerang ketika musuh merasa dirinya aman dan dalam kondisi tak teratur. Gunakan pasukanmu dalam tempat dan waktu yang tepat yang tidak dapat diprediksi” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:…) Oleh karena itu lakukanlah kepura-puraan, jika kita siap menyerang maka pura-pura tidak siap, jika pasukan aktif bergerak maka pura-pura pasif, jika posisi dekat dengan musuh maka buatlah seakan jarak kita jauh, dan terus sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan informasi yang diperoleh lawan melalui mata-mata. Gunakan hal ini sebagai sisi lemah musuh.. Cobalah untuk merenggut hal-hal yang paling penting dari peperangan. Selain itu pasukan harus mampu berpindah dengan cepat dan mengatasi kemungkinan terburuk. Disaat bersamaan diperlukan adanya kebijaksanaan dalam merancanakan masa depan, kewaspadaan, keberanian, dan kehati-hatian Hindari terjebak dalam sesuatu yang sempurna atau pasti. Serta harus fleksibel dalam menerapkan taktik berperang. Semakin bersifat fleksibel suatu pasukan maka akan semakin cepat kemenangan diperoleh, sebab kapabilitas dalam menyesuaikan diri terhadap berbagai permasalahan dan kondisi mendorong pasukan melakukan taktik secara terstruktur dan lancar menuju kemenangan mutlak terhadap musuh. Seperti kata-kata “ Ingatlah, tidak ada prinsip yang universal yang dapat memenangkan pertempuran” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 84). Contoh pada tahun 279 SM, jenderal Qi, Tian Dan, dikepung oleh pasukan Jimo yang secara militer lebih kuat. Untuk menyelamatkan kerajaannya dia menerapkan taktik, mewarnai ribuan lembu yang ia miliki dan memberi tanduknya dengan rerumputan dan pada malam hari ketika pasukan lawan tertidur ia menyerang tenda-tendanya dengan lembu tersebut, hingga pada akhirnya ia memenangkan pertarungan tersebut. (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:79).
Dalam perang, sangat penting untuk mengetahui ciri-ciri dan watak dari musuh serta pemimpinnya. Oleh karena itu penggunaan mata-mata merupakan hal yang penting dalam pertempuran. Tujuannya adalah untuk menyadari keberadaan musuh. Sun Tzu berkata ‘ketahuilah musuhmu dan dirimu, maka dalam ratusan pertarungan kamu tidak akan pernah dikalahkan’ hal ini penting agar ketika seorang komandan atau pasukan menjalankan strategi dan taktiknya mereka benar-benar sadar akan kondisi aktual peperangan dan basis pengetahuan penuh terhadap musuh. Sehingga pasukan dapat berfokus pada kemampuan dalam membaca situasi musuh dengan variasi informasi tanpa mengindahkan hal-hal mistis maupun mitos. (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:79).’
Cara memanfaatkan pasukan harus luar biasa dan bervariasi sehingga pihak lawan tidak dapat memprediksi pergerakan dari pasukan tersebut. Dalam Sun Tzu’s The Art of War, di chapter Void and Actuality, Sun Tzu menuliskan: “dalam peperangan, seorang pasukan harus menghindari kekuatan dan menyerang kelemahan. Seorang pasukan juga harus berhasil menjadi seorang pemenang ketika berhadapan dengan musuh”. Muslihat sangat mutlak diperlukan untuk memenangkan perperangan. Berkonsentrasilah pada persebaran pasukan sesuai dengan keadaan dan bergeraklah ketika hal tersebut menguntungkan Hindarilah musuh jikalau musuh terlihat sangat kuat dan tunggu saat ia mulai lemah dan kemudian kau berhak untuk menyerangnya (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:85-86).
Penulis disini setuju dengan apa yang telah dituliskan oleh Sun Tzu berabad-abad silam bahwa peperangan tidak melulu tentang unjuk kekuatan militer tapi berkaitan dengan masalah ekonomi, politik, alam dll. Oleh karena itu para pemimpin harus lebih fokus pada interest yang ingin dicapainya dan tidak meletakkan perang sebagai solusi utama konflik. Perang tidak perlu terjadi jika masih ada jalan lain yang bisa ditempuh seperti diplomasi. Adapun mengenai strategi perang Sun Tzu menurut penulis masih relevan jika digunakan dimasa sekarang, hanya memerlukan sedikit modifikasi pada teknologi dan informasi.

Referensi :
Hanzhang, Tao. 1998. “General Tao Hanzhang’s Commentary on the Art of War”. Hertfordshire: Wordworth Classic of World Literature, pp. 63-130

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: