Globalisasi dan Strategi : On Growth and Equality   Leave a comment

Globalisasi disini seperti yang kami pahami dari berbagai sumber bacaan singkatnya adalah merupakan suatu proses pembentukan tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah sehingga mereka semakin terhubungkan (interconnected) satu sama lainnya dalam berbagai aspek kehidupan mereka baik dalam hal budaya, ekonomi, politik, agama, teknologi, maupun lingkungan. Arus globalisasi ini berlangsung di setiap sudut dunia dengan didukung oleh kemajuan teknologi, transportasi dan komunikasi yang meliputi berbagai produk ekonomi, bisnis, sosial dan budaya yang berkembang pesat dan cepat. Sehingga globalisasi ini telah sukses menisbikan jarak, waktu dan batas antar negara, ideologi, dan sosiologi-budaya-agama bahkan keluarga. Intinya adalah bahwa globalisasi telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, terutama aspek ekonomi. Bahkan para kaum globalis mengatakan bahwa “ciri penting globalisasi adalah ketika dunia dan pasar-pasar terintegrasi dan terkoneksi satu sama lain dalam lingkungan global yang tanpa batas. Pasar merupakan fenomena alamiah dan globalisasi adalah fakta sejarah yang tidak dapat dikelola”(Winarno. 2008, hal. 1). Berkaitan dengan masalah globalisasi dan ekonomi, berikut kami akan mencoba untuk menjawab tiga pertanyaan utama mengenai perekonomian dalam dunia globalisasi yaitu : 1) Apakah globalisasi mengentaskan kemiskinan?; 2) Bagaimana prospek pertumbuhan ekonomi dalam globalisasi?; 3) Sejauh mana kesuksesan globalisasi terkait pemerataan ekonomi?
Kemiskinan sejatinya merupakan persoalan yang bersifat inheren dan fungsional dalam kehidupan manusia. Kemiskinan selalu berjalan beriringan dengan kekayaan atau kemakmuran, tidak akan pernah ada kekayaan kalau tidak ada kemiskinan, keduanya bagaikan sekeping mata uang yang mempunyai dua sisi. Dalam setiap masa kehidupan pasti selalu ada kondisi kemiskinan, kita tidak dapat memberantas habis masalah kemiskinan ini, namun yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha mengurasi kemiskinan yang melanda umat manusia. Bahkan jika mengutip teori pertumbuhan : setiap bangsa di dunia memulai kehidupan mereka dari tingkat materi yang paling rendah (Winarno. 2008, hal. 3). Kemudian jika pertumbuhan ekonomi berlangsung terus menerus, pada akhirnya kehidupan setiap penduduk akan terangkat diatas garis kemiskinan absolut. Dengan demikian kemiskinan absolut adalah kondisi awal manusia. Bahkan kaum penganut neoliberal mengatakan bahwa suatu negara tak perlu membuat negara lain menjadi miskin unjuk menjadikan dirinya kaya. Adapun kemunduran yang terjadi di negara dunia ketiga disebabkan oleh kurangnya mereka membuka pasar-pasar nasional terhadap pasar-pasar global (Winarno. 2008, hal. 3). Dengan kata lain suatu negara terbelakang dan mengalami kemiskinan karena negara tersebut tak tersentuh globalisasi. Namun kami tidak sependapat dengan pernyataan diatas karena pertama di dunia ini berlaku hukum rimba yaitu yang menang mengalahkan yang kuat, sehingga jika suatu negara ingin kaya maka ia harus memiskinkan negara lain dan berebut sumber daya yang terbatas. Kedua tidak semua negara siap dan memiliki daya tahan yang cukup untuk terlibat dalam kancah lalu lintas perdagangan dan finansial global, karena setiap negara memiliki ke-khas-an dan kekurangannya masing-masing. Ketiga pertumbuhan tidak bersifat pasif dengan hanya mengandalkan teori trickle-down effect yang mengatakan bahwa jika pertumbuhan terjadi di lapisan penduduk menengah atas maka pertumbuhan itu akan menetes ke bawah dan ikut menguntungkan pula bagi penduduk lapisasan bawah. Melainkan pertumbuhan itu harus bersifat aktif dengan mengandalkan dorongan strategi dan kebijakan yang tepat bagi pengentasan kemiskinan. Untuk menjawab apakah Globasisasi mengentaskan kemiskinan? Maka jawaban kami adalah iya, globalisasi di satu sisi turut mengentaskan kemiskinan seseorang atau sebuah negara dan di sisi lain juga mendorong pada jurang kemiskinan bagi negara lain.
Selanjutnya, alam globalisasi seperti yang telah dijelaskan oleh para pakar dan pendukungnya menjanjikan dunia yang lebih bebas dan mudah. Begitupula halnya yang terjadi dengan pasar dan perdagangan. Globalisasi memberikan kesempatan yang luas bagi setiap individu untuk berpartisipasi dan berkompetisi di dalamnya, termasuk dalam dunia perdagangan yang dikenal dengan free trade. Seperti yang telah dijelaskan dalam bukunya Bhagwati bahwa perdagangan disini berperan sangat penting untuk mendorong pertumbuhann ekonomi dan pertumbuhan tersebut nantinya dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Bahkan menurut Sir Denis Robertson ”perdagangan adalah mesin pertumbuhan” (Bhagwati. 2004, hal. 53). Dengan membuka negara kita pada pasar bebas maka kita akan mendapatkan beberapa kenyamanan menikmati fasilitas dan teknologi yang mutakhir sehingga mempermudah dan mempercepat produksi maupun konsumsi dalam negeri. Kami contohkan, karena globalisasi-lah maka kita sekarang dapat menikmati renyahnya ayam goreng khas McDonald dan meraup untung karena berbisnis lewat internet. Selain itu dengan adanya free trade yang dibawa oleh globalisasi maka bisnis ekspor-impor semakin lancar dan tidak tersendat sendat oleh birokrasi yang tidak jelas. Namun seperti yang sudah kami utarakan diatas bahwa dalam globalisasi tetap berlaku aturan hukum rimba. Jadi untuk menjawab bagaimana prospek pertumbuhan ekonomi dalam globalisasi? Maka jawaban kami adalah prospek pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan oleh globalisasi sangat bagus dan menjanjikan, dengan catatan bagi individu dan negara yang mampu beradaptasi dan mengendalikan globalisasi itu sendiri. Bagi individu atau negara yang tidak mampu beradaptasi maka dia akan semakin dihancurkan oleh globalisasi dan negara maju lainnya. Contohnya saja berapa banyak warung dan toko keluarga yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan indomaret?
Kembali lagi pada penjelasan utama kami bahwa globalisasi membawa keuntungan bagi seseorang atau sebuah negara sebesar dia memberikan kerugian pada individu atau negara lainnya. Hal inilah yang kemudian menjelaskan kenapa masih ada negara miskin dan negara kaya di dunia ini. Menurut laporan yang dilansir oleh Asian Development Bank, China mengalami pertumbuhan 10% pertahun dan penduduknya yang miskin berkurang dari 28% pada tahun 1978 menjadi 9% pada tahun 1998. Begitu pula yang terjadi di India dengan tingkat pertumbuhan 6% pertahun dia berhasil memangkas kemiskinan dari yang awalnya 51% di tahun 1977 turun menjadi 26% di tahun 1999 (Bhagwati. 2004, hal. 65). Semua itu berkat kemudahan yang diberikan oleh globalisasi. Namun di sisi lain ILO (International Labour Organization) memperkirakan ada peningkatan penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan dari 53,5 pada tahun 1985 menjadi 54% pada tahun 1990 di Afrika Sub-Sahara dan 23% menjadi 27,8% di Amerika Latin. Dan sebanyak kurang lebih 33% penduduk dunia yang berada di negara berkembang menghabiskan hanya 1 dolar AS perhari sebagai konsumsi. Belum lagi laporan Laporan Human Development dan UNDP tahun 1992 : 20% dari populasi dunia yang tinggal di negara maju memperoleh 82,7% dari total pendapatan dunia, sementara 20% lainnya yang tinggal di negara termiskin hanya menerima 1,4%. dan berdasarkan laporan tahun 1989 rata rata pendapatan 20% masyarakat yang hidup di negara terkaya mencapai 60 kali lipat lebih tinggi dibandiingkan dengan 20% masyarakat yang hidup di dunia termiskin (Winarno. 2008, hal. 5). Jadi disini kami beranggapan bahwa globalisasi belumlah dan tidak akan pernah sukses dalam pemerataan ekonomi, karena globalisasi sendiri adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan terus menerus sehingga selalu ada suatu negara yang maju dan ada negara yang tertinggal.
Adapun kesimpulan dan opini yang kami dapat dari uraian diatas adalah jangan sekali-kali menceburkan diri atau membiarkan negara kita terseret arus globalisasi jika modal, sarana, prasarana dan sumber daya kita belum mencukupi bagi kita untuk ikut bersaing di dalamnya. Globalisasi ekonomi menyangkut siapa yang mendapatkan kue terbesar dari proses globalisasi tersebut dan fakta menunjukkan bahwa negara majulah yang mendapatkan porsi terbesar sedangkan negara miskin tetap rugi dan bertambah miskin. Free trade adalah sebuah pilihan bukan keharusan oleh karena itu pasar tetaplah hasil ciptaan manusia dan dapat diarahkan untuk kemajuan sebaik-baiknya bagi warga negara oleh pemerintah. Tidak ada invisible hands yang mengendalikan pasar, namun sebaliknya keberadaan pasar adalah dikarenakan hasil dari serangkaian kebijakan pemerintahan nasional yang mendukung liberalisasi pasar pada suatu titik tertentu. Jadi pada intinya dalam globalisasi diperlukan strategi dan kebijakan yang jitu agar tidak mudah diperdaya dan dihancurkan oleh negara-negara yang telah mengalami kemajuan lebih dulu.

Sources :
Bhagwati, J. (2004). Poverty : Enhanced or Diminished ? Dalam In Defense of Globalization (hal. 51-67). Oxford: Oxford University Press.
Winarno, B. (2008). Globalisasi peluang atau ancaman bagi Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: