“Regime Dynamics : The Rise and Fall of International Regimes” -Oran R.Young-   Leave a comment

Menurut Oran R. Young, rezim adalah institusi sosial yang mengendalikan aksi dari para partisipannya dan sebagaimana halnya dalam institusi sosial lainnya, para partisipan mengakui adanya kesepakatan pola tingkah laku tersebut sehubungan dengan adanya kesamaan tujuan antara mereka (Young, 1982 : 93). Kesamaan tujuan atau convergen expectation inilah yang nantinya mempengaruhi pola tingkah laku para anggota di dalamnya. Sehingga perilaku anggota selalu mengacu pada kesepakatan sosial bersama diantara mereka. Namun hal ini tidak mejamin setiap pihak di dalamnya akan selalu mentaati aturan yang disepakati dalam rezim. Terkadang ada beberapa penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh seorang aktor, dan hal tersebut menurut Young merupakan hal yang lumrah dan tidak lantas menghancurkan rezim. Hal ini dikarenakan rezim merupakan institusi yang dinamis, dan berubah secara kontinyu sebagai bentuk respon atas dinamika perubahan yang terjadi dalam rezim itu sendiri maupun karena pengaruh kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang terjadi di lingkungan (Young, 1982 : 95).
Young menganggap rezim sendiri sebagai human artifacts. Dengan begitu dinamika yang terjadi pada rezim selalu terkait dengan tingkah laku individu atau sekelompok manusia. Keberadaan rezim merupakan respon terhadap permasalahan yang dihadapi dan dikoordinasikan oleh sekelompok pihak, sehingga apa yang terjadi dalam rezim internasional merupakan outcome dari perilaku pihak yang terlibat di dalamnya (Young, 1982 : 94-96). Singkat kajta rezim mengalami perubahan atau tidak tergantung actor yang bermain di dalamnya. Oleh karena itu berdasarkan dinamika perkembangannya, Young membagi rezim internasional menjadi tiga ketegori yakni :
 Spontaneous orders
Kemunculan rezim jenis ini tidak dapat dipahami secara jelas karena ia seringkali hanya berupa reaksi spontan terhadap satu hal seiring interaksi yang terjadi dalam lingkungan sosial yang cenderung modern. Rezim kategori ini cirri-cirinya adalah tidak adanya koordinasi yang benar-benar nyata antara para partisipan, tidak memerlukan adanya kesepakatan yang eksplisit, absennya traksaksi dengan biaya tinggi (high transaction costs), tidak ada larangan formal yang menghalangi kebebasan partisipan. Dan bahkan partisipan tidak harus memikirkan keberadaan dirinya dalam rezim internasional. Namun walaupun begitu, tindakan yang mereka perbuat dapat berpengaruh pada tatanan sosial (Young, 1982 : 98)
 Negotiated orders
Rezim jenis ini muncul seiring dengan adanya perubahan dalam hal sentralisasi kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat. Karakteristik utama dari rezim ini adalah adanya usaha nyata untuk menciptakan ketetapan yang disetujui oleh mayoritas partisipan, adanya high-transaction costs, adanya sedikit pembatasan terhadap kebebasan individu dalam berperilaku, adanya kesepakatan eksplisit antara partisipan, dan adanya bentuk ekspresi atau tindakan formal terhadap hasil kesepakatan. Adapun kesepakatan yang berhasil dicapai harus selalu mementingkan faktor kesetaraan atau equity di antara anggota. Rezim jenis ini banyak terdapat di negara-negara berkembang yang disana tidak memungkinkan adanya penggunaan paksaan dalam fungsi sosialnya, sehingga segala hal perlu dinegosiasikan. Dalam negotiated order ada dua proses yang mungkin terjadi dalam pembuatan kesepakatan, yakni: ‘constitutional contracts’ dimana subjek terlibat langsung dalam dalam negosiasi, dan ‘legislative bargains’ dimana subjek tidak berpartisipasi secara langsung dalam negosiasi tapi diwakili oleh representator (Young, 1982 : 99).
 Imposed orders
Perbedaan mencolok rezim ini dengan dua yang lainnya adalah bahwa rezim ini biasanya didominasi oleh power dari aktor atau kelompok aktor yang lebih dominan. Dalam interaksinya, rezim jenis ini tidak mengandalkan adanya kesepakatan eksplisit daintara para anggota, khususnya dari ator yang di’dominasi’. Segala yang terjadi di dalam rezim merupakan kesengajaan aktor dominan yang berusaha mengajak aktor sub-ordinat (yang didominasi) untuk mematuhi persyaratan-persyaratan yang dibuatnya, entah itu dengan cara memaksa, kooptasi, atau pemberian insentif, bahkan dalam beberapa kasus adanya interdependensi antar aktor menyebabkan aktor dominan tidak perlu bersusah payah memaksa aktor sub-ordinat karena ia biasanya akan selalu mendukung keputusan si dominan atau hegemon tersebut. Sehingga intensitas penggunaan paksaan disini sangat dipengaruhi tingkat ketergantungan masing-masing aktor yang terlibat dalam rezim internasional tersebut. Dalam Imposed Order seringkali kesepakatan yang tercapai bersifat tidak efektif dan hanya merepresentasikan kepentingan aktor-aktor dominan (Young, 1982 : 100-101).
Dinamika perubahan yang terjadi dalam rezim internasional biasanya disebabkan karena adanya tekanan-tekanan pada rezim, seperti adanya kontradiksi internal (internal contradiction), restrukturisasi power (shift in the underlying structure of power), dan adanya tekanan dari luar (exogonous forces). Faktor pertama, kontradiksi internal antar anggota disini jika tidak terselesaikan secara cepat dan baik, dapat mengakibatkan munculnya problematika serius yang dapat mengubah atau memecah belah rezim itu sendiri. Kedua, Restrukturisasi kekuasaan baik yang terjadi secara bertahap maupun mendadak, dapat membawa perubahan yang signifikan pada rezim. Restrukturisasi kekuasaan terjadi ketika pemimpin atau hegemon dalam rezim gagal memberikan kepuasan bagi para anggotanya baik dalam tindakan maupun cara berpikirnya. Ketiga adalah tekanan pihak luar yang tidak dapat diprediksi kapan munculnya, seperti perubahan lingkungan, perkembangan teknologi, dan ledakan populasi (Young, 1982 : 108-109).

Kesimpulan :
Ada tiga bentuk rezim internasional yakni spontaneous order, negotiated order dan imposed order. Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun menurut penulis yang paling rentan terhadap perubahan dan kehancuran adalah rezim yang bersifat spontaneous order karena tidak adanya aturan yang jelas-jelas mengikat dan tidak ada transaksi ekonomi yang terlibat, hanya spontan dan tergantung situasi. Sedangkan dua yang lainnya cukup mampu bertahan dari perubahan karena adanya tatanan yang eksplisit dan transaksi serta interaksi yang bernilai antara para anggota. Selain itu rezim yang berbentuk negotiated order relative lebih stabil karena ia mengusung prinsip kesetaraan dan mengakomodir kepentingan tiap-tiap aktor sehingga konflik internal antar anggota dapat dihindarkan.

Referensi :
Young, O. R. (1982). Regime Dynamics : The Rise and Fall of International Regimes. In S. D. Krasner, International Organization (pp. 93-113). Massachusetts Institute of Technology.

Nama : Muzainiyeh 070912061
Tugas : Rezim Internasional Jurnal 3

Posted April 19, 2011 by moze in Rezim Internasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: