“ International Regimes : Lessons from Inductive Analysis” -Donald J.Puchala and Raymond F.Hopkins-   Leave a comment

Salah satu fungsi utama rezim internasional adalah mengatur, mambatasi bahkan memaksa para anggotanya untuk berperilaku sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka capai, melilih isu-isu yang layak diperhatikan dan aktivitas apa saja yang terlegitimasi dan yang tidak dan terakhir mempengaruhi bagaimana dan kapan suatu konflik diselesaikan. Karena itu menurut Donald J.Puchala and Raymond F.Hopkins. rezim internasional sejatinya merupakan salah satu bentuk wadah penyaluran ide, impian dan aksi yang mempengaruhi dunia perpolitikan dalam sistem internasional. Di awal-awal penjelasan mereka, Puchala dan Hopkins menggarisbawahi lima hal penting dalam rezim internasional, yakni : (a) rezim adalah fenomena attitudinal, artinya rezim dikatakan eksis dan efektif jika para partisipannya berperilaku sesuai norma dan aturan yang telah disepakati bersama. Rezim juga bersifat subjektive artinya ketentuan dan norma yang dibuat itu tergantung pada kesepakatan para partisipan dan mereka berperilaku sesuai moral dan norma yang diyakini bersama. Karena merupakan fenomena attitudinal maka terkadang aktivitas dan perilaku dalam rezim bersifat independen dengan fenomena yang terjadi dalam sistem internasional, (b) norma dalam rezim internasional memiliki cakupan yang luas dalam mempengaruhi prosesur pembuatan keputusan yang nantinya akan berpengaruh pada kebijakan yang dihasilkan. Norma disini tidak hanya bersifat subtantive melainkan meliputi aturan mengenai siapa saja yang berpartisipasi, kepentingan apa yang mendominasi, dan aturan seperti apa yang digunakan untuk melindungi rezim tersebut dari dominasi satu aktor, (c) deskripsi mengenai rezim harus mencakup karekteristik prinsip-prinsip utama dalam rezim tersebut, (d) setiap rezim internasional memiliki sejumlah elite yang bertindak sebagai practical actors. Yang menjadi aktor dalam rezim internasional biasanya adalah pemerintah atau negara-bangsa, namun tidak menutup kemungkinan bagi organisasi internasional, transnasional, atau subnasional untuk bergabung di dalamnya, (e) sezim selalu ada di setiap subtantive isue-area dalam hubungan internasional yang pola perilakunya dapat dilihat. Artinya dimana ada keteraturan pola perilaku yang berkaitan dengan prinsip, norma dan aturan maka disitulah rezim berada (Puchala & Hopkins, 1982 : 62-63).
Dalam artikelnya Puchala dan Hopkins berusaha menganalisis rezim internasional menggunakan cara pandang induktif. Dalam pendekatan ini analis mengenai prinsip-prinsip rezim didapat melalui kesaksian para partisipan dan aturan-aturan tertulis seperti charters, treaties, dan codes dan bukan melalui teori-teori umum hubungan internasional atau pola model dalam mikroekonomi (baca: pendekatan deduktif). Menurut hasil analisis mereka ada empat karakteristik yang mendasari studi rezim internasional.
1. Specific vs. diffuse regimes
Specific rezim Single-issue Bertahan lama Partisipan relatif sedikit Bersifat substructure Contoh : norma mengenai larangan intervensi urusan domestik negara lain
diffuse regimes Multi-issues Tidak bertahan lama dan sering terjadi perubahan Partisipan relatif banyak Bersifat superstructure Contoh : Prinsip mengenai balance of power diantara para aktor pada abad 19 yang direfleksikan melalui regulasi ekspansi dan peperangan
2. Formal vs. informal regimes
Rezim yang formal biasanya dibentuk oleh organisasi internasional dan didukung oleh dewan, konggres dan dimonitori oleh biroktasi internasional. Sedangkan rezim yang informal diwujudkan dengan adanya pertemuan dan konsensus diantara partisipan yang terlibat, dorongan utama pembentuknya adalah self-interest serta dimonitori oleh badan pengawas yang dibentuk kemudian (Puchala & Hopkins, 1982 : 65)
3. Evolutionary vs. revolutionary change within the regime
Evolutionaty change dalam artian perubahan terjadi dalam aturan-aturan yang bersifat prosedural dalam rezim dan biasanya tidak diikuti dengan perubahan dalam hal distribusi kekuasaan diantara para partisipan. Sedangkan revolutionary change dapat dipahami sebagai perubahan dalam power-structure. Revolutionary change sering terjadi diantara rezim yang hubungan para anggotanya bersifat advantage dan disadvantage (Puchala & Hopkins, 1982 : 65-66).
4. Distributive bias
Semua rezim adalah bias. Mereka membangun hierarkhi nilai, menegaskan beberapa diantaranya dan mengabaikan nilai lainnya. Rezim juga memberikan keuntungan pada satu aktor dan menimbulkan kerugian pada aktor lainnya (Puchala & Hopkins, 1982 : 66)
Setelah mengidentifikasi rezim dari berbagai prinsip utama diatas, selanjutnya Puchala dan Hopkins mencoba untuk mengaplikasikan teori mereka dengan cara membandingkan dua rezim yang sangat kontras yakni rezim pada zaman kolonialisme tahun 1870-1914 dan rezim pada era 1949 (Food Regime)
Kolonialisme 1870-1914
Era tahun 1870-1914 merupakan masa kolonialisme paling luas di dunia, saat itu rezim imperialisme membentang dalam hubungan internasional dan rezim-rezim kolonialisme mulai disebarkan. Adapun dasar subjektif yang dipakai saat itu bersumber dari beberapa prinsip dan norma yang ada pada rezim kolonial, antara lain : (a) Pembagian peradaban. Dunia saat itu dibagi menjadi dua dikotomi yaitu negara dan rakyat serta berdab atau tidak beradab. Karena itu orang yang beradab harus menguasai orang yangtidak beradab karena orang yang tidak beradab sering dan berpotensi melakukan tindak kekerasan yang dapat merusak (b) kemampuan menerima peraturan asing, (c) akumulasi penguasaan tanah berda di tangan bangsawan atau negara, (d) pentingnya keseimbangan kekuasaan diantara para pemimpin atau tuan tanah, (e) legitimasi dalam neomerkantilisme yang membolehkan negara untuk mengontol penuh perekonomian rakyat (f) non-interfensi dalam setiap urusan kolonial lain (Puchala & Hopkins, 1982 : 70-72).
Food 1949-1980
Rezim makanan ini muncul sesaat setelah Perang Dunia II berakhir karena saat itu banyak negara dan rakyat yang jatuh miskin dan mengalami kelaparan akibat perang. Lalu muncullah Amerika Utara sebagai pemimpin dari rezim makanan ini yang kemudian berperan besar dalam penyediaan gandum di pasar dunia serta menyebarkan praktik dan teknik pertanian yang lebih produktif dan efisien. Rezim ini pada perkembangannya mengatur segala aktifitas internasional yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi makanan dan diikuti oleh sebagian besar negara. Dalam rezim makanan, banyak terdapat agen-agen yang tercipta didalamnya dan turut menyebarkan prinsip dan norma utama dari rezim makanan ini, seperti FAO (Food and Agriculture Organization) atau biasa kita sebut organisasi makanan dan pertanian yang terdapat dalam PBB. Convergen expectations utama dari rezim makanan ini adalah menyediakan makanan yang menyehatkan bagi warga dunia serta menghilangkan bencana kelaparan dari muka bumi (Puchala & Hopkins, 1982 : 79)

Referensi :
Puchala, D. J., & Hopkins, R. F. (1982). International Regimes : Lessons from Inductive Analysis. Dalam S. D. Krasner, International Organization (hal. 61-92). Massachusetts Institute of Technology.

Nama : Muzainiyeh 070912061
Tugas : Rezim Internasional Jurnal 3

Posted April 19, 2011 by moze in Rezim Internasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: