“ Coordination and Collaboration : Regime in An Anarchic World ” -Arthur A. Stein-   Leave a comment

Di awal artikenya Arthur A. Stein, banyak membahas mengenai perbedaan rezim dan dunia (khususnya negara) yang bersifat anarki. Istilah anarki disini seperti yang dipahami dalam dunia akademisi hubungan internasional yakni tidak adanya kedaulatan tertinggi diatas dan dalam relasi sebuah negara dengan negara lainnya. Atau dengan kata lain negara (nation-state) dipandang sebagai subjek yang mempu mempertimbangkan secara mandiri pilihan-pilihan yang ada serta konsekuensi yang melekat bersamanya dan pada akhirnya ia dapat membuat keputusan secara independen tanpa intervensi aktor lainnya. Jadi, dalam pandangan dunia yang anarki, negara merupakan entitas berdaulat yang dapat secara otonom menentukan strategi yang diambil, serta dapat memetakan sendiri arah pembuatan keputusannya (Stein, 1982 : 116). Sedangkan rezim internasional disini lebih diartikan sebagai institusi internasional yang berisikan seperangkat tatanan yang berisi kumpulan prinsip, norma, aturan, proses pembuatan keputusan. Dari penjelasan diatas, dapat kita lihat perbedaan cara memandang negara dalam dunia yang anarki dan dalam rezim internasional. Dalam dunia yang anarki, negara dilihat sebagai suatu entitas yang berdaulat dan percaya akan kemampuannya, oleh karena itu segala keputusan yang diambil negara bersifat independen (independent decision making), sedangkan dalam rezim internasional negara tidak bebas mengambil keputusan secara mandiri dan mengandalkan pembuatan keputusan secara bersama diantara anggota yang terlibat (joint decision making).
Keberadaan rezim di tengah dunia yang anarki ternyata masih sangat relevan. Hal ini karena terkadang kepentingan dan otonomi masing-masing negara saling berkaitan atau bertentangan. Oleh karena itu rezim hadir dan diperlukan ketika terjadi dua keadaan diatas untuk memberikan aturan dan paksaan guna mengatur interaksi antara pihak yang satu dengan lainnya sehingga dapat mencegah terjadinya konflik. Dan selanjutnya pengambilan keputusan diantara pihak-pihak tersebut tidak lagi bersifat independen melainkan interdependen. Interdependensi aturan dan pembuatan keputusan inilah yang nantinya akan menghasilkan suatu pola tingkah laku tertentu (Stein, 1982 : 117). Namun rezim internasional tidak diperlukan selama tingkah laku negara yang berkaitan dengan hubungan internasional terjadi tanpa paksaan (unconstrained) dan keputusan diambil secara independen. Rezim juga tidak dibutuhkan ketika tiap-tiap negara dapat mencapai hasil yang diinginkan melalui keputusan yang independen sehingga tidak ada konflik yang muncul (Stein, 1982 : 119). Salah satu contoh keadaan yang tidak membutuhkan rezim misalnya barter dan pemberian bantuan bencana alam.
Stein dalam artikelnya menerangkan lebih lanjut mengenai suatu kondisi yang mendorong para aktor untuk tidak bertindak secara independen dalam membuat keputusan. dikarenakan keputusan yang dibuat secara independen dipandang tidak memberikan hasil yang maksimal bila dibandingkan dengan hasil yang dicapai melalui pembuatan keputusan secara bersama. Kondisi tersebut diistilahkan oleh Stein sebagai suatu dilema, ada dua dilema yang mendorong negara untuk mengikatkan dirinya pada rezim internasional yakni dilemma of common interests, dan dilemma of common aversion (Stein, 1982 : 120)
• Dilemma of common interests
Dilemma of common interests muncul ketika keputusan yang dibuat secara independen pada akhirnya menghasilkan equilibrium outcome yang bersifat Pareto-lemah (Pareto-deficient) yakni outcome yang mana semua aktor yang terlibat lebih memilih outcome lain dibandingkan outcome yang benar-benar equilibrium (Stein, 1982 : 120). Contoh yan disebutkan oleh Stein adalah ‘the prisoners’dilemma’ dimana strategi dominan dari para aktor adalah masing-masing pihak yang terlibat sepakat untuk memaksa dan saling mengontrol satu sama lain demi memastikan dihasilkannya outcome yang maksimal dari kerjasama yang dilakukan. Hal tersebut mereka lakukan guna menjamin bahwa tidak ada seorang pun yang mengambil keuntungan lebih dari kerjasama tersebut dengan melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap kesepakatan yang telah dibuat (Stein, 1982 : 122). Pada situasi dilemma of common interests ini, tiap-tiap aktor mempunyai kepentingan yang sama dalam memastikan (insuring) tercapainya suatu outcome yang diingini bersama, contoh mudahnya dalam dunia nyata adalah kasus kepemilikan bersama atas suatu barang, misalkan saja kilang minyak milik Indonesia dan Malaysia. Maka rezim disini perlu hadir untuk membatasi penggunaan kilang minyak yang berlebihan oleh satu anggota atau penjualan kepemilikan kepada negara lain yang dapat merugikan partnernya. Dan tiap-tiap pihak saling memaksa adanya kontribusi dari tiap pihak yang terlibat sehingga dapat terhindarkan dari munculnya ‘free rider’ yang mendapatkan manfaat dari kilang minyak tersebut tanpa berkontribusi. Situasi dilemma of common interests membutuhkan penanganan dengan kolaborasi karena hanya akan ada satu equilibrium outcome yang sifatnya deficient bagi semua aktor yang terlibat. Adanya kolaborasi disini penting untuk menciptakan pola tingkah laku yang ketat antara para aktor dan untuk memastikan bahwa tidak satupun aktor yang berbuat kecurangan.[3]
• Dilemma of common aversions
Situasi dilemma of common aversions ini terjadi ketika para aktor tidak berharap pada terciptanya outcome yang sama bagi setiap pihak namun mareka semua setuju untuk menghindari satu outcome bersama. Pada situasi ini tiap-tiap aktor mempunyai kepentingan yang sama dalam menghindari (avoiding) outcome tertentu. Kondisi ini menyebabkan adanya multiple equilibria (dikatakan terdapat dua equilibria jika terdapat dua aktor dengan masing-masing aktor memiliki dua pilihan) sehingga membutuhkan adanya koordinasi antara para aktor agar keputusan satu aktor tidak mengganggu equilibria aktor lainnya. Dalam hal ini rezim internasional juga dapat menjadi solusi pemecahan masalah karena dengan adanya dilema ini, akan mendorong masing-masing pihak untuk menghindari pembuatan keputusan secara independen (Stein, 1982 : 125).
Kesimpulan :
Ada 3 poin utama yang harus digarisbawahi dalam artikel Stein untuk memahami peran rezim internasional di dunia anarki, yakni: (1) Terdapat situasi-situasi tertentu (common interests dan common aversions) dalam dunia yang anarki yang mendorong para aktor untuk lebih memilih joint decision making daripada independent decision making; (2) Interdependensi dan kepentingan untuk mencapai joint decision making dalam situasi dilema diatas dapat mendorong terciptanya suatu rezim internasional untuk membatasi tindakan dan menghindarkan adanya kecurangan dari masing-masing aktor; (3) Decision making dalam rezim internasional tergantung pada dilema yang dihadapi, jika dilemanya menyangkut common interests maka mekanisme pengambilan keputusan dilakukan dengan cara ‘kolaborasi’, dan jika dilemanya berkaitan dengan common aversions maka keputusan diambil dengan cara ‘koordinasi’.

Referensi :
Stein, A. A. (1982). Coordination and Collaboration : Regimes in An Anarchic World. In S. D. Krasner, International Organization (pp. 115-139). Massachusetts Institute of Technology

Nama : Muzainiyeh 070912061
Tugas : Rezim Internasional Jurnal 5

Posted April 19, 2011 by moze in Rezim Internasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: