IR Between World War I & World War II   Leave a comment

INTERNATIONAL RELATIONS JOURNAL

BY :

ARIF SETYANTO                               (070912051)

ANDONO WICAKSONO                 (070912088)

MUZAINIYEH                                     (070912061)

RISKA ROSALINE                               (070912098)

Dinar Okti N.S.                                    (070912076)

 

DEPARTEMEN HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK

UNIVERSITAS AIRLANGGA

23  November 2009

 

 

Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan peperangan terbesar di sejarah manusia. Di dalam jurnal ini akan di bahas berbagai hal yang terjadi pada saat PD I dan PD II. Akan dibahas lebih lanjut dalam jurnal ini Deskripsi ringkas mengenai Perang Dunia I & II, hubungan antara Nasionalisme dan dua perang dunia tersebut, Konstelasi Sistem Internasional pada masa PD I & II, Implikasi PD terhadap sistem internasional, dan Implikasi PD terhadap studi Hubungan Internasional (Pasca Perang).

Deskripsi ringkas mengenai Perang Dunia I & II

Perang Dunia I

Sebab Terjadinya :

Perang Dunia I mengubah dunia dan menghasilkan jurang pemisah antara peradaban sebelum dan sesudah perang yang lebih keras. Perang yang sebenarnya adalah perang saudara di Eropa yang juga merupakan perang antara beberapa cabang keluarga kerajaan Eropa ini terjadi berawal karena terbunuhnya pewaris tahta Austria-Hungaria sekaligus kritikus nasionalisme Serbia, Archduke Ferdinand, pada tanggal 28 Juni 1914 oleh seorang siswa Bosnia berumur 18 tahun, Gavrilo Princip-anggota kelompok nasionalis Serbia, “Black Hand”, di Sarajevo. Hal ini menyulut kemarahan Austria-Hungaria hingga akhirnya negara ini menyatakan perang terhadap Serbia.

Jalannya Perang :

Pernyataan Perang Austria-Hungaria didukung oleh Jerman. Tak kalah dengannya, Serbia pun didukung penuh oleh Rusia. Diawali dengan mobilisasi serdadu melawan Austria-Hungaria pada 29 Juli, dengan sendirinya Jerman merasa posisinya terancam. Dengan rancangan strategi militer yang diberi nama “Rencana Schlieffen”. Rencana pertamanya adalah menduduki Luxemburg pada 3 Agustus, dan pasukan kedua menyeberangi perbatasan Belgia sehari kemudian. Pada 16 Agustus setelah pemboman dan pengepungan Jerman, kota Liege jatuh. Sedangkan, pasukan pertama Jerman menyerang Belgia, menguasai Brussel, lalu bergerak ke selatan dipimpin oleh Alexander Von Kluck, memaksa Perancis dan BEF ( British Expeditionary Force ) untuk mundur dari Charleroi dan Mons.

Karena terlalu cepat dan hebatnya serangan pada 16 Agustus, kekuatan Jerman melemah, sehingga Prancis serta BEF dapat memukul mundur Jerman pada 13 September dari sungai Marne ke dataran tinggi Chemin des Dames dan ke Timur, ke arah Verdun, pertempuran ini dikenal sebagai “Pertempuran Marne”.

Pada bulan Desember 1914 terjadi genjatan senjata tidak resmi antara Jerman dan Inggris. Pada tanggal 26 Desember tepatnya pada jam 8.30 pagi, setelah merayakan natal permusuhan kembali dimulai.

Perang yang berlangsung ini adalah sebuah bentuk perang baru yang lebih berupa pertahanan posisi dalam parit daripada gerakan cepat. Perang total Industrialis yang melibatkan rakyat sipil dan juga tentara ini merupakan sebuah fenomena sejarah baru. Inggris mengerahkan pasukan sukarelawan yang diberi nama Pasukan Kitchner. Perang telah menimbulkan banyak korban seperti pada Mei 1915, Kapal penumpang Lusitania ditenggelamkan kapal selam Jerman U-20. Sebanyak 1.198 penumpang kapal itu tenggelam.

Tahun1915 merupakan tahun yang buruk. Cacatnya taktik militer yang dimiliki sekutu menimbulkan banyak kehilangan besar walaupun di Garis Depan Barat sekutu memenangkan pertempuran Neuve Chapelle pada bulan Maret namun pertempuran kedua Ypres saat Jerman menyerang dengan gas beracun, Prancis menderita korban yang sangat banyak. Begitu pula yang dialami oleh Inggris yang kehilangan 16.000 serdadunya. Karena tidak adanya pemecahan, Pemerintah Inggris memutuskan untuk membuka garis depan baru, di Peninsula Gallipoli, Turki.

Pada 25 April sebuah serangan darat dipimpin oleh Liman Von Sanders menjebak pasukan Inggris, Prancis, dan ANZAC ( Australia dan Selandia Baru ). Terjadi penyerangan kembali, di ANZAC dan Suvla pada 16 Oktober yang menimbulkan banyak korban, 200.000 serdadu tewas dalam pertempuran ini.

Hingga akhir 1915 perang ini telah menghabiskan banyak korban dan materi. Namun, perperangan masih berlanjut. Pertempuran di kota Verdun menjadi pengawal pada tahun 1916. Dalam perang yang paling berdarah ini tidak ada pihak yang memenangkan keuntungan telak. Di Natal ini terlihat bahwa serangan Jerman terhadap benteng Douaumont, Vaux, dan Thiaoumont mengalami kegagalan dan Prancis berhasil mempertahankan Verdun.

Pertempuran dilanjutkan di Somme. Serangan Somme yang telah dirancang sebelumnya pada tahun 1915 memberi perubahan dramatis. Inggris ingin menyerang dengan bergerak berdampingan namun hal ini malah menimbulkan banyak korban dari sekutu. Sebanyak 600.000 serdadu tewas sia-sia dalam pertempuran ini.

Setelah tragedi memilukan di atas, perang dilanjutkan. Dikenal sebagai “Pertempuran Ketiga Ypres”. Pertempuran yang terdiri dari enam pertempuran terpisah ini yaitu: Pertempuran Menin Road, Pertempuran Polygon Wood, Pertempuran Broodseinde, Pertempuran Poelkapelle, dan Pertempuran Pertama dan Kedua Passchendaele. Berulang kali serangan ini di Passchendaele ini gagal melawan pertahanan Jerman. Pada 5 November Kanada mnguasai Passchendaele. Pertempuran ini tidak memberi keuntungan pada sekutu. Tiga hari pada April 1918, Jerman dapat merebut kembali titik tersebut.

Berakhirnya Perang :

Akhirnya perang dunia I berakhir pada tanggal 11 November 1918. Gagalnya Jerman dan berhasilnya serangan sekutu di Hindenburg menyebabkan Jerman menyerah. Diawali pada tanggal 3 Oktober Pangeran Max Von Baden meminta Presiden Amerika Serikat, Preseiden Woodrow, untuk menengahi sebuah genjatan senjata. Sebulan kemudia, Austria-Hungaria menyerah, dan pada 30 Oktober, Turki mengikuti. Di sebuah gerbong kereta di Compiegne, Pada 6 November Jerman menandatangani perjanjian genjatan senjata. Jerman sepakat untuk mundur dari semua wilayah dan menyerahkan angkatan lautnya. Sekutu menduduki Rhineland, sebelah barat Jerman, pada 1 Desember untuk mengontrol seluruh bagian negara. Perang pun berakhir.

Perang Dunia II :

Sebab Terjadinya :

Setelah Perang Dunia I berakhir dibuat sebuah perjanjian pada 28 Juni 1919. Para pemimpin gerakan sekutu berkumpul untuk menentukan syarat-syarat perjanjian perdamaian di Bangsal Kaca di Versailles dekat Paris. Jerman dipaksa untuk mnyetujui segala isi dari “Perjanjian Versailles” ini dan tidak memiliki hak untuk berargumen. Di dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa Jerman harus menerima tanggung jawab karena memulai peang, berjanji membayar ganti rugi sebesar 6.000 poundsterling untuk kerusakan yang diakibatkannya dan angkatan perang yang dibatasi hanya 100.000 serdadu. Jerman juga wajib menyerahkan wilyahnya di Eropa dan diambilnya koloni-koloni di Afrika. Tidak diperkenankan pula bagi Jerman untuk bergabung dalam Liga Bangsa-Bangsa, atau bersatu dengan Austria.

Syarat-syarat perjanjian ini begitu memberatkan Jerman sehingga menimbulkan kebencian dan politik ekstrem. Perang Dunia I yang dikiranya adalah akhir dari segala bentuk perang ternyata keliru. Selama 20 tahun setelah Perjanjian Vershailes dibuat, Jerman mempersiapkan adanya perang kembali. Persis ketika Pemerintahan Amerika dibutuhkan, negara  ini malah masuk ke dalam kebijakan isolasi, yang mencegah bantuan apa pun dalam restrukturasi keuangan global dan pembayaran utang. Selain itu, banyaknya komunis penghasut menyebabkan keruntuhan. Perjanjian Vershailles yang menegaskan Jerman hanya dapat menyimpan 100.000 serdadu bersenjata menyebabkan banyak mantan serdadu yang membentuk kelompok ekstrem sayap kanan selama kekacauan sosial pada tahun 1920-an. Ditambah dengan adanya inflasi tinggi dan tidak mampunya pemerintah Jerman mengatasinya, akhirnya terbentuklah Partai Sosialis Nasional ( Nazi ) di bawah Adolf Hitler, perdana menteri terpilih tahun 1933. Adolf Hitler mengembangkan fasisme dan kemudian memulai Perang Dunia II dengan menyerbu Polandia pada tanggal 1 September 1939 di kota Danzig. Peristiwa itulah yang menjadi sebab langsung terjadinya Perang Dunia II.

Polandia merupakan negara di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bamgsa. Hitler menuntut Danzig karena pendudukanya adalah bangsa Jerman, tetapi Polandia menolak tuntutan itu. Pada tanggal 3 September 1939 negara-negara pendukung LBB terutama Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada Jerman, kemudian diikuti sekutu-sekutunya. Sedangkan Perang Dunia di Pasifik disebabkan oleh serbuan Jepang terhadap Pangkalan Armada Laut Amerika di Pearl Harbour, Hawai pada 7 Desember 1941.

Jalannya Perang :

Setelah penyerangan Jerman terhadap Polandia. Jerman melakukan serangan ke utara yakni ke Denmark dan Norwegia pada 9 April 1940. Berhasil menduduki dua negara ini, Jerman pada Mei 1940 berhasil pula menduduki Belanda sehingga Ratu Wilhelmina mengungsi ke Inggris. Dilanjutkan pada 10 Juni 1940 Italia mengumumkan perang kepada Perancis dan Inggris, kemudian Italia menyerbu Perancis. Italia ikut menyerang sebab Italia merasa telah diperlakukan tidak adil dan semena-mena di Versailles walau berada di sisi sekutu. Pada bulan Juni 1940 pasukan Jerman berhasil menduduki Perancis, tentara Perancis mengungsi pula ke Inggris dipimpin oleh Charles de Gaulle.

Kekuatan kedua negara penganut fasisme ini makin kuat. Angkatan Udara Jerman menyerbu Inggris tetapi gagal kemudian beralih mengebom angkatan laut Inggris. Kemudian, Jerman, Italia, dan Jepang bergabung dalam “Perjanjian Tiga Negara” pada 27 September 1940.

Finlandia dan Rumania membantu pula Jerman menyerang Rusia pada tanggal 22 Juni 1941 walaupun sebenarnya 18 bulan sebelumnya Hitler telah mengadakan perjanjian dengan Uni Soviet untuk tidak saling menyerang.

Tidak hanya di Eropa, perperangan dilaksanakan pula di Afrika. Inggris dapat memukul mundur tentara Italia di Afrika Utara. Pada 23 Oktober 1942 sekutu menyerang Blok Sentral yang dipusatkan di El Alamien, Mesir. Di tangan Jenderal Erwin Rommel tentara Jerman menyerbu Afrika dan menghantam Inggris sampai di muka Alexandria. Serangan ini dapat ditaklukan oleh Inggris dan Amerika Serikat pada tanggal 12 November 1942.

Berakhirnya Perang :

Bala bantuan dari Amerika ini membuat Jerman semakin rapuh. Pada 19 November 1942 Jerman kalah melawan Rusia dalam pertempuran di Stalingrad. Lalu, Rusia menyerbu Balkan dan Polandia, Rumania dan Bulgaria pun menyerah. Hongaria pun menyerah pada tanggal 13 Februari 1945. Berlin pun akhirnya dapat diduduki sekutu dari segala arah. Akhirnya, pada tanggal 30 April 1945 Hitler bunuh diri, dan pada tanggal 7 Mei 1945 Jerman menyerah kepada sekutu tanpa syarat di Reeims, Perancis.

Jalannya Perang Medan Asia Pasifik :

Perang di medan Asia Pasifik diawali dengan penyerbuan pangkalan Armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 7 Desember 1941 oleh Jepang. Perang yang menewaskan 2.330 tentara Amerika Serikat dan 100 orang sipil di samping menghancurkan peralatan perang Amerika Serikat.

Amerika Serikat tidak tinggal diam dengan tindakan Jepang. Mereka memakai taktik serangan dari pulau satu ke pulau yang lain. Dipimpin Jendral Dauglags dan Laksamana mereka menyerang tentara Jepang di Laut Karang dan Midway ( 7 Mei 1942 ). Lalu Amerika Serikat dapat dengan mudahnya merebut Filipina, Iwo Jima, Okinawa. Kemudian Inggris menyerbu Birma dan menghancurkan tentara Jepang. Dari Saipan dan Okinawa Amerika Serikat menyerang kota-kota di Jepang. Namun, Jepang tidak pernah menyerah.

Akhir Perang  :

Pada 6 Agustus 1945  kota Hiroshima dijatuhi bom atom dan dilanjutkan pada tanggal 9 Agustus 1945 di Nagasaki, karena telah menjatuhkan banyak korban Jepang akhirnya menyerah pada sekutu pada 14 Agustus 1945, namun, secara resmi tanggal 2 September 1945 di Kapal “Missouri” di Teluk Tokyo.

Nasionalisme dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II

Nasionalisme bisa dikatakan sebagai penyebab dan juga efek dari perang dunia. Nasionalisme sendiri dapat didefinisikan sebagai persepsi identitas seseorang terhadap suatu kolektifitas politik yang terorganisasi secara teritorial. Jika merujuk kepada sejarah penyebab khusus perang dunia pertama, pembunuhan Pangeran Ferdinand dari Austria-Hongaria yang menyulut nasionalisme dari Austria untuk berkonfrontasi dengan Serbia. Persepsi tentang identitas bersama yang bersifat ideologis pada akhirnya akan menimbulkan sebuah gerakan yang mengacu pada nasionalisme. Begitu juga dengan Jerman yang menjadi pihak yang kalah dalam perang dunia pertama, terbentuklah sebuah nasionalisme yang menjadi akar perang dunia kedua. pada perang dunia kedua dimana terdapat pemikiran bahwa negara sama dengan organisme yang hidup, yang melalui fase-fase kelahiran, masa remaja, dan ahirnya menjadi tua. Mereka mengklaim peranan yang dominan bagi bangsa mereka karena menganggap mempunyai warisan biologis yang unggul. Pemikiran tersebut yang menyebabkan aliran pemikiran organik, yaitu negara harus besar sebelum negara itu mati, karena itu penakluan terhadap ruang kehidupan (lebensraum) menjadi sangat vital. Adolf Hitler dan Benito Mussolini merupakan penganut nasionalisme organik yang ekstrim yang menjadi pemain penting dalam perang dunia kedua.

Konsepsi negara bangsa organik dibangun berdasarkan pemahaman filosofis yang merujuk pada seorang filsuf Jerman bernama Georg William Hegel. Hegel memandang negara nasional adalah bentuk unit politik tertinggi. Kurangnya subordinasi akan menyebaban anarki dan kekacauan. Negara atau pemerintah muncul sebagai perwujudan dari keinginan dan tujuan bangsa. Negara juga tidak memiliki tugas yang lebih tinggi selain membela dan memperkuat dirinya sendiri. Menurut konsepsi ini individu-individu adalah alat negara yang nilainya akan diukur melalui kontribusi mereka bagi kelangsungan hidup organisme negara tersebut. Pemikiran yang dikemukakan sosialis jerman adolf hitler mendesak negara bangsa versi liberal abad 19 dan menghendaki adanya formasi sistem negara-negara eropa yang bersifat hierarkis yang dikuasai oleh ras yang secara biologis terpilih menurut kemurnia ideologi dan kekuatan. Perang dunia kedua merupakan penyebab dari nasionalisme di Asia Afrika yang dulunya merupakan daerah koloni. Kekalahan pihak kolonial pada perang dunia, menyebabkan nasionalisme yang menjadi sebuah ideologi akhirnya timbul national self determination yang merupakan kepercayaan yang lahir di banyak negara bekas koloni sehingga banyak negara yang memerdekakan diri di akhir perang dunia kedua.

Konstelasi Sistem Internasional pada masa PD I & II

Pada bulan Agustus 1914, sebuah perang besar pecah di Eropa. Pembunuhan oleh orang Serbia terhadap putra mahkota Austria Frans Ferdinand mengawali pecahnya perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Dunia 1 ini. Industrialisme, nasionalisme, dan imperialisme menjadi akar dari pecahnya perang ini (Tobjorn L. Knutsen, 1997). Perang ini melibatkan beberapa negara yang memang telah membentuk sistem aliansi. Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia tergabung dalam sebuah aliansi yang dikenal dengan Triple Alliance. Lahirnya aliansi berawal sejak Austria-Hungaria mengalami krisis dengan Bosnia yang telah dibantu oleh Serbia dan Rusia pada. Oleh karena itu Austria-Hungaria meminta bantuan pada Jerman pada tahun 1879. Sedangkan Italia yang sedang berselisih dengan Perancis dalam memperebutkan Tunisia menjalin kerjasama dengan kedua negara (Jerman, Austria-Hungaria). Italia memiliki tujuan yang sama dengan kedua negara tersebut yakni untuk menjadi Great Power di Eropa. Aliansi in kemudian dikenal sebagai Blok Poros. Sistem aliansi lain yang menjadi tandingan aliansi ini adalah Triple Etente. Triple Etente ini terdiri dari Inggris, Perancis, dan Rusia yang telah menandatangani Anglo Russian Etente atau Anglo Russian Convention pada 31 Agustus1907 di St Petersburg. Hasil dari Anglo Russian Etente itu menggambarkan masing-masing mereka diharuskan saling memperbaiki hubungan diplomatik dan memperbesar kekuasaan. Aliansi ini kemudian sebagai Blok Sekutu.

Setelah berakhirnya perang dunia, maka cita-cita untuk menciptakan perdamaian yang abadi dengan melenyapkan perang dari muka bumi, selalu timbul setelah orang mengalami kengerian peperangan besar. Hal tersebutlah yang mendorong berdirinya Liga Bangsa Bangsa (Leahue of Nations). Dimana LBB ini merupakan gagasan dari presiden Amerika yaitu Woodrow Wilson. Beliau mengusulkan suatu konsep perdamaian yang disebut dengan “Peace Without Victory”. Usul tersebut kemudian menjelma menjadi Wilson’s Fourteen Poin (14 pasal perdamaian Wilson). Pasal-pasal inilah yang akhirnya menjadi landasan lahirnya LBB pada tanggal 10 Januari 1920. Pada awal berdirinya LBB mempunyai anggota 24 negara selanjutnya berkembang menjadi 60 negara dengan berkedudukan di Jenewa, Swiss. Pada intinya LBB bertujuan menjamin perdamian dunia, melenyapkan perang, mengadakan diplomasi terbuka dan menaati hukum internasional dan perjanjian internasional. Dalam susunan organisasi, LBB mempunyai empat badan utama yaitu Sidang Umum (the council), Sekretariat Tetap (the secretary), Dewan Khusus dan Mahkamah Internasional (the world court). Sedangkan sifat dari keanggotaan LBB adalah sukarela, tidak mengikat, walaupun ada sangsi berupa boikot untuk negara-negara yang melanggar tetapi negara lain sukarela menjalankan atau tidak. Maka dengan hal tersebut pada akhirnya LBB mengalami kegagalan dan tidak mampu menciptakan perdamaian dikarenakan negara-negara besar menggunakan LBB untuk kepentingan sendiri.

Disamping hal tersebut LBB tidak mempunyai alat kekuasaan yang nyata untuk memaksa suatu negara yang menentangnya untuk tunduk kembali ke LBB. Dan hal inilah tujuan LBB tergelincir dari soal-soal perdamaian menjadi soal politik belaka, akibatnya LBB menjadi alat politik negara-negara besar

Liga Bangsa-Bangsa yang telah dibentuk ternyata tidak bertahan lama. Kegagalan LBB yang tidak sanggup menjamin perdamaian sehingga terjadi perlombaan senjata dan politik alliansi atau politik mencari kawan, yang terdiri dari tiga blok besar yaitu Blok Perancis, (demokrasi), Blok Jerman (Fascis/Nazi), dan Blok Rusia (komunis) menyebabkan pecahnya perang dunia 2. Sistem aliansi ini juga mewarnai Perang Dunia 2. Perang Dunia 2 juga diwarnai dengan nasionalisme yang kuat namun menjurus pada chauvinisme. Nazisme yang lahir di Jerman dan Fasisme yang berkembang di Italia adalah suatu contoh nasionalisme yang berlebihan yang juga mewarnai perang dunia 2. Pada awalnya Rusia tidak terlibat PD 2 karena terikat perjanjian dengan Jerman untuk tidak saling menyerang pada tanggal 23 Agustus1941, tetapi Jerman menyalahi sendiri perjanjiannya pada tanggal 22 Juni 1941 dengan menyerbu ke Rusia. Hal ini penting artinya bagi jalannya peperangan. Demikian pula bagi Amerika yang semula bersikap netral dalam PD 2 tetapi karena Amerika merupakan gudang kebutuhan perang bagi sekutu (Arsenal of Democracy) diserang Jepang 7 Desember 1941, dan akibatnya tanggal 8 Agustus 1941 Amerika menyatakan perang kepada Jepang yang diikuti dengan pernyataan perang Jerman, Italia kepada Amerika tanggal 11 Desember 1941. Dengan demikian perang dunia 2 meluas tidak hanya di Eropa tetapi meliputi seluruh dunia. Akibat yang ditimbulkan oleh Perang Dunia 2 adalah Amerika dan Rusia sebagai pemenang dan sekaligus yang menyebabkan kemengan kemenangan sehingga Amerika dan Rusia mempunyai pengaruh besar. Pengaruh Amerika dan Rusia disebabkan karena Amerika mempunyai kedudukan pensuplai materil yang kuat sedangkan Rusia memiliki kedudukan psikologis yang kuat dengan baying-bayang komunisme yang sangat ditakuti sebagai akibatnya terjadilah perebutan hemegoni (pengaruh) antara Amerika dan Rusia. Perebutan hemegoni antara Amerika dan Rusia menimbulkan politik perimbangan (Balance of Power Policy) yang akhirnya mengarah kepada terbentuknya politik allianci yang berdasarkan keamanan bersama (Collective Security) yaitu seperti NATO, METO, SEATO dan PAKTA WARSAWA. Akibat lain yang ditimbulkan PD 2 dalam bidang politik adalah adanya politik memecah belah seperti Jerman, Korea, Indochina dan Berlin. Dan yang terpenting dari akibat PD 2 ini adalah jatuhnya imperialisme politik yang mengakibatkan negara-negara di Asia Afrika merdeka termasuk Indonesia. Perang dunia 2 merusak ekonomi seluruh dunia kecuali Amerika, sehingga Amerika berupaya membantu negara-negara yang membantu negara-negara yang mengalami kehancuran ekonomi agar tidak jatuh ketangan Rusia di komunismenya. Bantuan tersebut antara lain dalam bentuk Truman Doctrine (1947) bantuan ekonomi dan militer untuk Turky dan Yunani. Point Four Truman, bantuan ekonomi dan militer untuk negara-negara keterbelakangan di Asia. Tentu masih banyak bantuan-bantuan Amerika dan sekutunya untuk membendung pengaruh komunis tersebut. Kesengsaraan yang disebabkan oleh perang dunia 2 menginsyafkan sekali lagi, bagaimana jahatnya perang. Untuk itu timbul keinginan kembali menciptakan LBB melalui beberapa konferensi yang dilaksanakan oleh Amerika, Inggris, Rusia dan China seperti Atlantic Charter, Dumbarton Caks di Washington dalam Konferensi Yalta. Akhirnya dimenangkan krim serta kenferensi San Francisco yang dihadiri 50 negara, maka tanggal 24-10-1945 UNO/PBB resmi berdiri, dengan sidang pertamanya di London tanggal 10 Januari 1946.

Dari uraian di atas dapat diketahui keadaan sistem internasional pada masa perang dunia 1 dan 2 memiliki ciri khas yang hampir sama yaitu adanya politik aliansi dan dalam setiap perangnya selalu diakhiri dengan pembentukan suatu lembaga internasional yang diharapkan dapat menciptakan perdamaian dunia. Dari sini pula dapat diketahui bahwa ternyata muncul hegemoni dari Amerika sebagai negara yang cukup kuat pengaruhnya pada masa perang dunia 1 dan perang dunia 2.

Implikasi Perang Dunia terhadap Sistem Internasional

Berakhirnya Perang Dunia II dengan kemenangan di  pihak sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet)  tidak serta merta  mengakhiri konflik. Bahkan kemenangan sekutu ini berdampak pada munculnya  masalah baru yaitu adanya pertentangan kepentingan dan persaingan serta  perebutan hegemoni atau pengaruh  antara negara anggota sekutu dalam usaha untuk menjadi negara yang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia. Perang Dunia II juga telah meruntuhkan hegemoni negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis yang sudah berabad-abad memegang kendali kekuasaan dan memiliki negara jajahan di berbagai belahan dunia. Serta memunculkan dua kekuasaan yang saling bersaing dalam memberikan pengaruh  baik dalam hal perekonomian maupun ideologi mereka yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. (Cerny. 2008: 1-46 dalam http://setabasri01.blogspot.com/ )

Keadaan seperti ini dimana dunia dikuasai oleh dua kutub yang saling bersaing disebut bipolaritas kekuasaan. Bipolaritas inilah yang kemudian memunculkan “Perang Dingin”. Selama Perang Dingin, Amerika dan Uni Soviet saling berlomba dalam berbagai bidang, memamerkan perkembangan teknologi, persenjataan, kekuatan militer, koalisi militer, ideologi, psikologi,  industri, pertahanan, perlombaan nuklir  dan banyak lagi. Sehingga masyarakat dunia selalu dikhawatirkan akan terjadinya peran lagi. Meskipun kedua negara adikuasa tersebut tidak pernah berperang secara langsung, tapi konflik ini secara tidak langsung juga menimbulkan perang lokal dan perpecahan negara seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, Korea Utara da Korea Selatan. (Boyle…)

Dalam hal persaingan ideologi kedua negara adikuasa tersebut memiliki ideologi yang berlawanan dimana Amerika Serikat dengan ideologi Liberalis-Kapitalis (paham yang mengutamakan kemerdekaan individu) sementara Uni Soviet dengan ideologi Sosialis-Komunis (paham yang menghendaki suatu masyarakat disusun secara kolektif). Kedua negara tersebut saling berlomba menanamkan pengaruhnya pada negara lain dengan  menghalalkan berbagai cara, akibatnya negara-negara di dunia terpecah  menjadi dua kutub dimana negara Jerman Timur dan beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Utara, Kamboja, Laos, Vietnam serta negara-negara Eropa Timur berada dibawah pengaruh Uni Soviet yang selanjutnya dikenal dengan Blok Timur dan mendirikan pakta pertahanan “Warsawa”. Sementara negara-negara seperti Jerman Barat, Eropa Barat dan banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berada dibawah kekuasaan Amerika Serikat yang kemudian  dikenal sebagai  Blok Barat dan juga memiliki pakta pertahanan NATO.

Selain melahirkan konsep bipolaritas dan perang dingin, Perang Dunia juga memunculkan era dekolonisasi di negara-negara Asia dan Afrika yang merupakan bekas jajahan bangsa barat seperti Indonesia, India, Pakistan, Srilanka, dan Filipina. Mereka muncul sebagai negara baru yang merdeka sebagai dampak positif dari Perang Dunia II.

Sebelum dan pada masa Perang Dunia Sistem Internasional berupa Multi-polar dengan banyak negara Eropa sebagai pusat kekuasaannya. Namun setelah Perang Dunia II sistem ini berubah menjadi Bipolar dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai pusat kekuasaan. Dan pada akhirnya Uni Soviet runtuh pada tahun 1991 dan Sistem  Internasional berubah lagi menjadi Unipolar dengan Amerika Serikat sebagai pusat kekuasaan.(Wohlforth. 1999: 55-41)

 

 

Implikasi PD terhadap studi hubungan Internasional (Pasca Perang Dunia)?

Sebelum Perang Dunia I, studi Hubungan Internasional pada umumnya hanya terbatas pada Sejarah Diplomasi, Hukum Internasional, dan Ekonomi Internasional. Setelah Perang Dunia I ditambah dengan pelajaran Hubungan Internasional dan Organisasi Internasional. Disiplin Ilmu HI berkembang terutama di Amerika Serikat dan Inggris. Sedangkan di negara-negara Eropa kurang berkembang karena orang-orang Eropa bersikap lebih berhati-hati untuk menyimpang dari disiplin-disiplin yang lebih dulu ada. Di tahun 1930, Politik Internasional, Geografi Politik, dan opini publik sudah banyak menjadi perhatian.Di Amerika Serikat beberapa Universitas mulai menyusun kurikulum dan gelar kesarjanaan yang tinggi dalam bidang Hubungan Internasional. Kemudian di Inggris pada umumnya yang menjadi pokok perhatian adalah sejarah politik internasional dan perkembangan serta bekerjanya lembaga-lembaga Internasional. Kecenderungan ini mungkin disebabkan bahwa pengetahuan rtentang aspek-aspek hubungan antarnegara ini dapat membantu usaha tercapainya perdamaian dunia pada saat itu. Perang Dunia II dan pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberikan dorongan baru kepada ilmu pengetahuan ini, bahkan memyebabkan timbulnya gagasan pemerintahan dunia (world government). Akhirnya pada tahun 1940-an dunia mengalami Perang Dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur. Pada tahun1960-an dan tahun 1970-an perkembangan studi Hubungan Internasional makin kompleks dengan masuknya aktor IGO dan INGOs Serta makin kuatnya peran negaradi luar Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam kancah Hubungan Internasional. Pada tahun 10980-an pola Hubungan Internasional masih bersifat state centric (Masih bipolar) tetapi muncul kekuatan-kekuatan sub-groups yang mengemuka. Pada sekade 1980-an studi Hubungan Internasional adalah studi tentang interaksi yang terjadi antara negara-negara yang berdaulat di dunia, juga merupakan studi tentang Non-State Actors yang perilakunya memiliki pengaruh terhadap kehidupan negara-bangsa(Nation-State). Hubungan internasional mengacu pada segala aspek bentuk interaksi. Hubungan Inernasional merupakan bentuk interaksi antara aktor atau anggota masyarakat yang satu dengan aktor atau anggota masyarakat lain. Terjadinya Hubungan Internasional merupakan suatu keharusan sebagai akibat adanya saling ketergantungan dan bertambah kompleksnya kehidupan manusia dalam masyarakat internasional sehingga interdpendensi tidak memungkinkan adanya suatu negara yang menutup diri dari dunia luar.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Basri, seta.2009. Hubungan Internasional. 13 Februari 2009. Seta Basri : Blog [Accesed November 20, 2009]. http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/hubungan-internasional.html
  2. Boyle, peter G American – soviet, from Russian revolution to the fall of communism, routledge
  3. Cerny, Philip G. 2008. Embedding Neoliberalism: The Evolution of a Hegemonic Paradigm, The Journal of International Trade and Diplomacy 2 (1)
  4. Coloumbis, Theodore A. and Wolfe, James H. Introduction to International Relations: Power and Justice, 3rd. Prentice Hall Inc. 1986.
  5. Herjunanto Nanang.2008.Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
  6. Jackson, R.& Sorensen, Georg. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  7. Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Theory, Manchester University Press
  1. Mas’oed, Mohtar. Ilmu HI Disiplin dan Metodologi. Penerbit LP3S: Yogyakarta
  1. Nasution, Dahlan (1991) Politik Internasional Penerbit Erlangga: Jakarta.
  2. Perwita, Anak Agung Banyu & Yani, Yanyan Mochamad. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya: Bandung
  3. Saunders Nicholas.2005.Kisah yang Terlewatkan : Perang Dunia I. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
  4. Wohlforth, William C. 1999.The Stability of a Unipolar World, International Security, Vol. 24, No. 1

 

 

 

Posted Oktober 19, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: