Great Debate dalam dunia HI   2 comments

I Pendahuluan

Latar Belakang Terjadinya Great Debate dan Keadaan Politik Internasional dalam Study Hubungan Internasional

Semenjak awal berdiri hingga perkembangannya, ilmu hubungan internasional dibangun  oleh teori-teori yang terus berkembang bahkan dengan latar belakang pemikiran yang berbeda-beda. Perdebatan-perdebatan ini melibatkan berbagai perspective, paradigm, approach, worldview, general theory, image, general explanation, framework menurut perkembangan zamannya (zeitgeist). Ada tiga perdebatan besar (great debate) sejak HI menjadi subjek akademik di akhir perang dunia hingga sekarang, dan sekarang kita sedang berada pada tahap awal perdebatan besar yang keempat (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 45). Perdebatan pertama adalah antara realisme dengan liberalisme utopian (idealisme). Perdebatan ini terjadi di tengah-tengah Perang Dunia 1. Kondisi internasional yang carut marut membawa kaum liberalis pada sebuah pemikiran bahwa upaya perdamaian dapat dicapai dengan membentuk sebuah collective power yang tercermin dari dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa. Menurut kaum liberalis hal ini dapat menghentikan perang yang telah berlangsung. Namun kaum realis bepikiran bahwa perang yang tejadi adalah lebih karena sifat dasar manusia yang selalu ingin mengejar kekuasaan yang pada akhirnya sangat mudah menimbulkan agresi. Kaum realis menganggap bahwa pemikiran kaum liberal yang menyatakan bahwa perang dapat dihentikan melalui pembentukan Liga Bangsa-Bangsa guna menciptakan perdamaian dunia adalah suatu hal yang terlalu utopis. Hal ini dibuktikan dengan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dalam menjaga perdamaian dunia sehingga Perang Dunia 2 akhirnya pecah.

Perdebatan besar yang kedua terjadi antara pemikiran kaum tradisional dengan pemikiran kaum behavioral. Setelah perang dunia 2, disiplin akademik HI meluas dengan cepat khususnya ke Amerika (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 59). Badan-badan pemerintah dan yayasan swasta ingin mendukung penelitian HI ilmiah yang dapat mereka benarkan seperti dalam kepentingan nasional. Menurut Robert Jackson & George Sorensen (1999), hal ini dilakukan demi tercapainya perdamaian dunia dari pendekatan ilmu secara metodologis yang tepat dengan menggunakan data empiris tentang hubungan internasional. Behavioralis juga berusaha mengklarifikasikan, mengukur, dan memformulasikan hukum-hukum layaknya ilmu pasti seperti fisika atau kimia tanpa memberi ruang bagi etika moral dalam teori internasional. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pemikiran kaum tradisional yang melihat sebuah hubungan internasional dari hal-hal mendasarnya seperti ketertiban, kebebasan, dan keadilan (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 85). Pada akhirya tidak ada yang menang pada perdebatan ini, dan kedua metode tersebut digunakan dalam disiplin HI.

Dikombinasikannya konsep tradisional dan behavioral memunculkan aliran baru yaitu neorealis dan neoliberalis sebagai pengembangan dari mainstream terdahulu. Metode-metode ini kemudian ditantang oleh metode neo-marxis yang kemudian menjadi perdebatan besar ketiga. Inti dari perdebatan ini adalah dilandaskan pada ekonomi yang selama ini dianggap memegang peranan kedua dalam sebuah negara setelah politik (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 74). Pergerakan negara-negara dunia ketiga pada tahun1970an dan hegemoni Amerika yang telah ada semenjak perang dunia 1 dan kemudian mendapat tantangan dari Jepang dan Eropa Barat menjadi fokus utamanya. Analisis masing-masing metode mengenai upaya negara-negara dunia ketigalah yang menjadi topik utama dalam perdebatan besar ini. Singkatnya perdebatan besar ketiga telah menggeser isu-isu politik dan militer yang kemudian digantikan oleh isu-isu sosial ekonomi pada dunia ketiga.

Perdebatan besar kempat yang sekarang sedang terjadi adalah adanya pemikiran-pemikiran baru melihat dari kondisi internasional pasca perang dingin. Banyaknya isu-isu baru seperti lingkungan hidup, gender, penghapusan ras, dll dinilai oleh penganut aliran alternatif tidak dapat dijelaskan oleh metode terdahulu yaitu neoliberal dan neorealis (Robert Jackson & George Sorensen, 1999). Metodologi-metodologi juga kembali dipertanyakan oleh penganut aliran alternatif ini sebagai bentuk serangan pada teori yang telah mapan. Singkatnya, perdebatan keempat ini juga mencoba menggiring dan menunjukkan arah disipin akademik HI yang lebih sesuai dengan hubungan internasional pada milenium baru dengan tidak hanya sekedar berkutat pada politik, militer, dan ekonomi sebagai bahasannya (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 80).

 

 

II Pembahasan

A Great Debate Pertama: Liberalisme melawan Realisme

Subjek akademik HI muncul pertama kali karena dampak dari perang dunia pertama tahun 1914-1918. Perang yang mengakibatkan terbunuhnya jutaan jiwa itu telah menyisakan trauma yang mendalam bagi banyak orang. Pada periode 1920-1940an, terdapat sebuah kebutuhan untuk menyusun sistem politik yang dianggap bisa membuat seluruh dunia merasa tenang tanpa perang. Teori akademik pertama, muncul dengan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran liberal. Amerika Serikat saat itu akhirnya terlibat perang di tahun 1917, dan intervensi militernya sangat menentukan hasil perang. Saat itu Amerika Serikat mempunyai Presiden Woodrow Wilson, seorang professor yang mempunyai pandangan bahwa misi utamanya adalah membawa nilai-nilai demokrasi liberal ke eropa ke seluruh dunia dan perang besar akan dicegah  hanya dengan cara seperti itu.

Liberalisme dalam HI sangat erat kaitannya dengan munculnya negara liberal modern. Filsuf liberal, dimulai dari John Locke di abad ke tujuhbelas, melihat potensi yang besar bagi kemajuan manusia dalam civil society dan perekonomian kapitalis modern (Robert Jackson & George Sorensen, 1999). Kaum liberal memandang sifat manusia cenderung positif tetapi mereka juga percaya bahwa individu selalu mementingkan diri sendiri, walaupun dalam hal ini kaum liberalis juga menyatakan bahwa individu memiliki kepentingan sehingga dapat terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif. Sehingga dapat diartikan bahwa perang dan konflik dapat dihindarkan ketika manusia menggunakan akal pikirannya untuk dapat bekerjasama bukan hanya delam negeri tetapi lintas batas internasional.

Menurut Jill Steans, ada beberapa asumsi dasar mengenai liberalisme, diantaranya adalah

  • Kaum liberal percaya bahwa seluruh manusia adalah makhluk rasional
  • Kaum liberal menulai kebebasan individu di atas segalanya
  • Liberalisme berpandangan positif tentang karakteristik manusia
  • Liberalisme yakin terhadap kemajuan
  • Dengan berbagai cara, liberalisme menentang pembagian antara wilayah domestik dan internasional.

Pada perdebatan pertama ini, kami lihat bahwa yang diperdebatkan adalah substansi yang sebaiknya digunakan dalam studi HI, pengetahuan mengenai apa itu HI diperdebatkan di sini. Realisme klasik telah muncul jauh sebelum perang dunia, yaitu ketika Thucydides, Machiavelli, dan Thomas Hobbes berbicara mengenai power. Realisme sendiri berkembang setelah gagalnya idealisme liberal. Hal ini ditandai dengan gagalnya liga bangsa-bangsa di tahun 1930an dan pecahnya perang dunia kedua. Menurut Jill Steans, ada beberapa asumsi dasar mengenai realisme, diantaranya adalah:

  • Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan diri sendiri. Negara, seperti manusia, bertingkah laku mementingkan diri sendiri.
  • Negara merupakan aktor utama studi hubungan internasional
  • Kekuasaan merupakan kunci untuk memahami tingkah laku internasional dan motivasi negara dan politik internasional adalah perjuangan demi kekuasaan
  • Sejarah pasti akan berulang.

B Perubahan dari Klasik Realisme dan Liberalisme Menjadi Neo-realisme dan Neo-liberalisme

Terdapat banyak perubahan dari liberalisme klasik hingga neoliberal. Liberal klasik sendiri menilai bahwa realitas manusia akan menjadi semakin kompleks dan kualitas manusia juga akan menjadi semakin baik.. Perdamaian menjadi syarat dari proses yang tidak dapat dihalangi, pencegahan perang menjadi mungkin, dan teori ini juga menganggap bahwa karena manusia memiliki akal pikirannya mereka dapat tiba pada kerjasama yang saling menguntungkan. Teori ini bertahan hingga akhirnya muncul pandangan baru yang disebut realis.

Munculnya realisme sebagai penentang dari teori Idealisme Liberal memberi warna tersendiri dalam studi HI. Pemikiran tentang realisme ini hidup di atas perdebatan-perdebatan dan mengalami perubahan-perubahan konsep, dari realisme klasik hingga akhirnya muncullah konsep baru yang biasa disebut neorealisme. Berawal dari konsep realisme klasik yang diprakarsai oleh Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes yang menggagas nilai-nilai realisme sebagai suatu paham yang percaya bahwa kondisi manusia adalah kondisi yang tidak aman dan berkonflik yang harus diperhatikan dan dihadapi, terdapat pula sekumpulan pengetahuan politik, atau kebijaksanaan, untuk menghadapi masalah keamanan, dan masing-masing dari mereka mencoba untuk mengidentifikasikan elemen-elemen pokoknya, serta tidak adanya pelarian akhir dari kondisi manusia yang merupakan bentuk permanen kehidupan manusia. Mereka menganggap politik dan sejarah politik sebagai siklus sebab dan akibat yang prosesnya dapat dianalisa dan dimengerti, tetapi tidak mungkin dipengaruhi secara intelektual ( Budiono:1986 ). Konsep yang berkembang pada tahun 1930-1950-an yang memenangkan Great Debate Pertama ini diakui sebagai petunjuk paling baik dalam Hubungan Internasional karena terbukti benar adanya.

Setelah kemenangannya dalam Great Debate pertama muncullah perdebatan baru setelah perang dunia II antara tradisionalis dan behavioralis. Tidak ada pemenang dalam perdebatan kedua ini. Namun, terjadi evolusi behavioralis yang akhirnya melahirkan konsep neoralisme. Behavioralis yang menekankan teorinya pada fakta yang dapat diamati agar mendapatkan pola perilaku yang berulang pada ‘hukum-hukum hubungan Internasional ini didukung oleh para penstudi Amerika Serikat yang pada akhirnya membuka jalan bagi formulasi baik realisme maupun liberalisme yang sangat dipengaruhi oleh metodelogi kaum behavioralis.. Formulasi dari realis dan liberalis ini disebut neo-liberalis dan neo-realis.

Perubahan dalam liberalis menjadi neo-liberalis terletak pada penggunaan teori-teori dan pemakaian metode-metode baru yang ilmiah yang sebelumnya tidak digunakan dalam teori liberalis klasik. Selain itu neo-liberal juga menolak pandangan idealisme yang ada sebelumnya. Dalam teori neo-liberalis juga muncul cabang aliran-aliran liberal yakni liberalisme sosiologis, interdependensi, institusional, dan republikan. Walaupun memiliki konsep yang berbeda tentang liberalisme baru ini. Namun aliran yang berbeda ini saling mendukung dalam memberikan suatu argumen menyeluruh yang konsisten untuk Hubungan Internasional yang lebih damai dan kooperatif.

Sedangkan dalam neorealis ditekankan pada struktur sistem, pada unit-unitnya yang berinteraksi, dan pada kesinambungan dan perubahan sistem. Para pencetus neorealis seperti Kenneth Waltz menyebutkan bahwa bentuk dasar hubungan Internasional adalah struktur anarki yang tersebar di antara negara-negara. Negara-negara serupa dalam semua hal fungsi dasarnya. Pendekatan neoralis ini tidak menyediakan membahas pada sifat-sifat manusia seperti yang ada pada teori realis klasik, teori ini menekankan lebih pada struktur sistem. Noerealis juga mengilhami nilai-nilai yang bersifat lebih bersifat normatif.

C       Marxisme dan Neo-Marxisme

1        Asumsi dasar Marx terhadap Marxisme

Marxisme/Komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.

Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu “manifesto Komunis” di mana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis. Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), ya bahkan tanpa negara (stateless society): sosialisme/komunisme. Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas / kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya.

Falsafah hidup atau “weltanschauung” marxisme adalah Ateisme. Pertama-tama ateisme itu harus dimengerti dari konteks kelahiran Marxisme, di mana terutama gereja Kristen Protestan gagal untuk merespon tantangan-tantangan sosial yang muncul pada abad ke-19 di Eropa. Kalau Marx berbicara tentang agama sebagai “opium untuk bangsa” – di depan matanya terutama adalah suatu agama seperti gerakan Pietisme Kristen Protestan yang mengutamakan “keselamatan jiwa” seseorang dan tidak peduli terhadap kondisi sosial dan politik. Karl Marx mengalami bentuk agama yang hanya menstabilkan status quo dan yang beraliansi dengan penguasa-penguasa zamannya. Allah diperalat untuk melegitimasi struktur-struktur kuasa dan sistem politik-kapitalis.

Namun, Ateisme komunis bukan hanya hasil konteks sosial-politis abad ke-19, tetapi berkembang menjadi suatu ideologi anti-agama. Dalam dialog antara komunisme dan agama yang dilaksanakan dalam pelbagi bentuk khususnya pada tahun enampuluhan abad ke-20, beberapa orang komunis memang mengakui bahwa agama bisa juga merupakan suatu faktor pembebasan dan keadilan sosial, tetapi pendirian ateis tidak pernah dipertanyakan. Untuk Marxisme, agama adalah projeksi manusia (Feuerbach) dan hanya mencerminkan struktur-struktur kuasa masyarakat. Manusia harus membebaskan diri dari semua ketergantungan dan otoritas, baik manusiawi maupun ilahi.

Menurut Etika Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang bedasarkan pernyataan/wahyu ilahi atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materiel masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (mis. dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya – yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas – untuk “keselamatan” seluruh bangsa.

Disini nampak antropologi (gambar tentang manusia) dari marxisme yang sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, yang melalui kerja manusia alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses me-masyarakat-kan, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll.) ditiadakan.  Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.

Disini muncul jurang yang sangat besar antara teori dan praktek marxisme, antara ideologi komunisme dan sosialisme real”. Negeri yang pertama kali menerapkan sistem komunisme adalah Uni Soviet, 1917 di bawah pimpinan Lenin (…Stalin, Krushev…Brezhnev, Gorbachev), dan banyak negara lain yang ikut, sampai sesudah perang dunia II, dunia dibagi menjadi dua: dunia “kapitalis” dan “dunia komunis” yang saling memusuhi dalam “perang dingin”. Bahkan ada negara yang dibagikan, seperti Korea Selatan dan Korea Utara atau Jerman Barat dan Jerman Timur. Kita memang bisa lihat beberapa contoh, di mana nilai-nilai sosial komunisme diwujudkan dengan cara yang menyakinkan, namun secara garis besar kita dapat bilang bahwa nilai-nilai itu akhirnya membuktikan diri bahwa tidak dapat diwujudkan dalam sistem politik dengan cara yang menguntungkan masyarakat. Melainkan, nilai-nilai sosial sering dikurbankan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan dalam konteks nasional dan internasional.

2        Asumsi Lenin terhadap Marxisme

Sebuah label pendekatan Lenin Marxisme di awal abad ke-20, di Rusia kapitalis yang muncul dari feodalisme. Sementara Lenin menganggap dirinya hanya seorang Marxis, setelah kematiannya teori dan praktek diberikan label Marxisme-Leninisme, yang dianggap sebagai evolusi secara keseluruhan Marxisme dalam “era revolusi proletar”. Marxisme-Leninisme adalah teori politik resmi dari bekas negara Soviet dan dipaksakan di seluruh sebagian besar mantan pemerintah sosialis Eropa Timur pada abad ke-20.

Sejarah Pembangunan: Penciptaan dan perkembangan Marxisme-Leninisme dapat dibagi menjadi dua kategori umum: pembuatan dan pengembangan oleh Stalin (1924-1953), dan revisi oleh Khrushchev dan berkesinambungan revisi oleh pemerintah Soviet (1956-1991) .

Leninisme Stalin didefinisikan dalam karyanya The Foundations of Leninisme: “Leninisme adalah Marxisme dalam zaman imperialisme dan revolusi proletar. Untuk lebih tepatnya, Leninisme adalah teori dan taktik revolusi proletar pada umumnya, teori dan taktik dari kediktatoran proletariat pada khususnya. ” Leninisme Stalin menjelaskan bahwa pertama kali dimulai pada tahun 1903, dan ini identik dengan Bolshevisme. Stalin menjelaskan bahwa dasar dari teori Marxis-Leninis adalah bahwa revolusi sosialis hanya bisa dicapai oleh Partai Komunis bangsa tertentu, garda depan kelas pekerja (para penyelenggara dan pemimpin). Setelah revolusi sosialis telah terpengaruh, pelopor ini akan bertindak sebagai satu-satunya wakil dari kelas pekerja.

Sementara dalam beberapa hal produk langsung dari filsafat Lenin untuk Rusia, Marxisme-Leninisme juga mengambil pendekatan baru. Sebagai contoh, walaupun Lenin percaya bahwa sosialisme hanya bisa ada di skala internasional, Marxisme-Leninisme Stalin didukung teori “Sosialisme di Satu Negara”. Stalin ditegakkan Marxisme-Leninisme sebagai platform internasional dengan menjelaskan bahwa prinsip-prinsip dan praktek-praktek yang diterapkan ke seluruh dunia.

Dengan cara ini, Marxisme-Leninisme menjadi satu-satunya yang benar teori dan praktek Marxisme di abad ke-20 ‘tanpa mengikuti Marxisme-Leninisme sebuah revolusi sosialis tidak dapat dicapai’. Pernyataan ini sebagian didasarkan pada salah satu dasar pemikiran dialektis materialis: bahwa praktek adalah kriteria kebenaran. Stalin menjelaskan bahwa Lenin telah menunjukkan melalui praktik, dengan cara tertentu untuk membentuk suatu pemerintahan sosialis di Rusia; sehingga terbukti bahwa praktek teori Lenin berlaku di Rusia pada awal abad ke-20. Namun tertentu, diambil dari konteks sejarah dan diubah menjadi universal. Oleh karena itu dasar untuk mengapa beberapa label dianggap Marxis-Leninis untuk menjadi sebagian idealis, karena meletakkan kondisi praktek khusus ke Rusia pada awal abad ke-20 berlaku bagi semua negara di dunia.

Meskipun Stalin penciptaan dan evolusi Leninis Marxis filsafat, istilah ini kemudian digunakan oleh pemerintah Soviet dalam mendukung “De-Stalinification”. Sementara Stalin mengenali teori pelopor Komunis sebagai ciptaan Lenin, pemerintah Soviet yang dipimpin oleh Khrushchev telah menjelaskan bahwa pelopor komunis itu sebenarnya adalah bagian dari “Marxis” aspek Marxisme-Leninisme (suatu aspek yang sampai sekarang telah sedikit dialamatkan). Leninis aspek, Khrushchev menjelaskan, mulai dalam “era revolusi proletar dan sosialis konstruksi”.

Khrushchev mengembangkan Marxisme-Leninisme untuk menjelaskan bahwa perang di seluruh dunia antara pekerja dan kapitalis tidak lagi diperlukan, tetapi yang ideal adalah hidup berdampingan secara damai yang melekat pada perjuangan kelas. Pemerintah Soviet yang baru lebih jauh menjelaskan bahwa sementara Marxisme-Leninisme diciptakan oleh teori dan praktek kediktatoran proletariat (yang Lenin telah dijelaskan sebagai pendek dan bentuk pemerintahan transisi) Marxisme-Leninisme berkembang menjadi teori tentang “keadaan seluruh rakyat “(Perkembangan ini tepat di seberang Marx, Engels, dan Lenin teori negara – negara yang selalu bertindak di kepentingan kelas tertentu, dan bila tidak ada kelas-kelas yang ada, negara akan tidak ada lagi).

Setelah kematian Lenin, penciptaan, pengembangan dan evolusi dari Marxisme-Leninisme adalah fokus melumpuhkan pertempuran sektarian di seluruh dunia atas “apa yang benar-benar dimaksudkan” oleh Lenin. Stalin menjelaskan bahwa praktik dan pemahaman Trotsky benar-benar kebalikan dari Leninisme (Trotskyisme atau Leninisme?), Sedangkan Trotsky mengkritik Stalin Marxisme-Leninisme sebagai sebuah kegagalan (Revolusi yang Dikhianati)

Menurut Hazel Smith sumbangan terbesar Marxisme terhadap studi hubungan internasional bukanlah terletak pada penyelidikan teoritikal atas teori marxisme klasik maupun interpretasi empiris atas kondisi internasional kontemporer. Melainkan pada pengembangan (development) teori internasional yang saat ini didefinisikan sebagai strukturalisme atau neo-marxisme (Groom & Light 1994)

Asumsi neomarxisme pada dasarnya adalah sama dengan asumsi dasar dari marxisme itu sendiri hanya saja berbeda dalam hal aktor dan struktur. Asumsi dasar dari neomarxisme itu sendiri adalah dunia ini bukanlah terpilah berdasarkan sovereignity yang dimiliki oleh negara sehingga menentukan batas-batasnya dalam sistem internasional. Tetapi yang diasumsikan oleh neomarxisme adalah sistem internasional yang terpilah berdasarkan kelas. Yaitu kelas kapitalis-eksploiter (dalam marxisme adalah borjuis) dan kelas negara dunia ketiga atau negara periphery (dalam marxisme adalah proletar) yang menjadi obyek eksploitasi karena memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara bermodal (kapital) (Wallerstein 1979: 1991).

3        Apa itu Neo-Marxis :

Menurut Baran & Davis (2000) Neo-Marxism adalah sebuah aliran yang berkembang di abad ke 20 yang mengingatkan kepada awal tulisan Marx sebelum dipengaruhi oleh Engels. Aliran ini memusat pada idealisme dialektika dibanding fahaman materialisme dialektika yang menolak determinisme ekonomi awal Marx. Pemahaman Neo Marxist tidak mengamalkan perubahan secara evolusi. Menurut teori ini, transformasi boleh berlaku secara perlahan. Pemahaman neomarxist memusatkan pada suatu revolusi psikologis bukan fisik, yang bermakna bahawa perubahan idea yang datang dari jiwa seseorang lebih penting daripada perubahan secara fisik. Neo Marxisme adalah aliran pemikiran Marx yang menolak penyempitan dan reduksi ajaran Karl Marx oleh Engels. Ajaran Marx yang dicoba diinterpretasikan oleh Engels ini adalah bentuk interpretasi yang kemudiannya dikenali sebagai “Marxisme” rasmi. Marxisme Engels ini adalah versi interpretasi yang digunakan oleh Lenin. Interpretasi Lenin nanti pada akhirnya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme (atau yang lebih dikenal dengan Komunisme).

Di kalangan neo marxis dari Universitas Frankfurt Jerman timbul pemikiran baru yng dinamakan Teori Kritis. Sekolah Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai titik tolak pemikiran sosialnya. Tapi yang perlu harus diingat adalah bahwa Sekolah Frankfurt tetap mengambil semangat dan alur dasar pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisisme ideal Immanuel Kant sampai pada puncak pemikiran kritisisme historis dialektisnya Georg William Friederich Hegel. Dengan sangat cerdas, sebagian besar pemikir dalam sekolah Franfurt berdialog dengan Karl Marx, Hegel dan I. Kant. (menekankan pada aspek komunisme tanpa kekerasan dan juga tidak mendukung kapitalisme)

• Perbedaan neo-marxisme dengan Marxis ortodoks dalam beberapa hal sebagai berikut: Marxis ortodoks melihat imperialisme dari sudut pandang negara-negara utama (core countries), sebagai tahapan lebih lanjut dari perkembangan kapitalisme di Eropa Barat, yakni kapitalisme monopolistic, neo-marxisme melihat imperialisme dari sudut pandang negara pinggiran, dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperilalisme pada negara-negar dunia ketiga. Marxis ortodoks cenderung

berpendapat tentang tetap perlu berlakunya pelaksanaan dua tahapan revolusi. Revolusi borjuis harus terjadi lebih dahulu sebelum revolusi sosialis. Marxis ortodoks percaya bahwa borjuis progresif akan terus melaksanakan revolusi borjuis yang tengah sedang berlangsung dinegara Dunia Ketiga dan hal ini merupakan kondisi awal yang diperlukan untuk terciptanya revolusi sosialis dikemudian hari. Dalam hal ini neo Marxisme percaya, bahwa negara Dunia Ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis. Terakhir, jika revolusi soaialis terjadi, Marxisme ortodoks lebih suka pada pilihan percaya, bahwa revolusi itu dilakukan oleh kaum proletar industri di perkotaan. Dipihak lain, neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba. Ia berharap banyak pada kekuatan revolusioner dari para petani di pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat.

D Asumsi-asumsi dasar Post-modernisme

Suatu hari ada dua yang sedang berdebat mengenai pengertian dari suatu benda. Orang pertama mengatakan, “Lihat, di sana ada buku dan pintu, dan aku menyebutnya buku dan pintu sebagaimana yang aku lihat.” Orang kedua mengatakan, “Mengapa harus buku dan pintu? Kedua benda tersebut bukanlah apa-apa, tetapi keduanya adalah ‘buku dan pintu’ setelah kita sepakat menyebutnya demikian.” Mengapa perdebatan seperti ini terjadi ? Dalam percakapan ini, orang pertama mewakili modern dan orang kedua mewakili postmodern.  Apa itu postmodern? Apakah berbeda  jauh dengan modern? Apa asumsi-asumsi dasar dari post-modernisme? Disini kita berusaha menyoroti post-modernisme melalui dua pandangan utamanya yaitu dekonstruksionisme dan relativisme radikal.

Gerakan postmodernisme hanyalah sebuah reaksi terhadap modernisme. Ia merupakan semangat pemikiran yang mencoba menggugat asumsi-asumsi dasar modernisme. Bagi postmodernisme nalar dan paradigma modern adalah bangunan pemikiran yang telah usang dan oleh karena itu tidak berlaku kembali. Tapi meskipun demikian postmodernisme ini pada hakekatnya juga bagian dari modernisme.Ia bukanlah gerakan pemikiran independen yang seratus persen terlepas dengan modernisme. Menurut Lyotard, kata post dalam post modernisme bukan bermakna telah atau paska modernisme. Gerakan postmodernisme ini tidak bisa dianggap sebagai gerakan baru setelah modernisme atau strukturalisme. Ia tetap merupakan bagian yang integral dari modernisme. Dia juga menjelaskan bahwa Postmodernisme adalah ketidakpercayaan terhadap metanaratif. (Lyotard dalam Jackson dan Sorensen 2009 :303) Ada juga pengertian lain :

  • “Postmodernism is incredulity towards metanarratives.” () Jean-Francois Lyotard
  • “Postmodernist fiction is defined by its temporal disorder, its disregard of linear narrative, its mingling of fictional forms and its experiments with language.” (Postmodernis fiksi didefinisikan oleh gangguan temporal, yang mengabaikan narasi linear, dengan percampuran bentuk-bentuk fiksi dan eksperimen dengan bahasa) Barry Lewis, Kazuo Ishiguro
  • “It’s the combination of narcissism and nihilism that really defines postmodernism,” (Ini kombinasi narsisme dan nihilisme yang benar-benar mendefinisikan postmodernisme) Al Gore (www.syariah-unsiq.co.cc)

Dalam perdebatan diatas orang modern percaya bahwa kebenaran berasal dari hasil pengamatan dan pertimbangan rasio terhadap suatu benda atau hal secara obyektif. Akan tetapi, bagi orang-orang postmodern (yang dalam percakapan di atas diwakili oleh orang kedua) pengungkapan kebenaran seperti yang dilakukan oleh orang pertama adalah suatu hal yang mustahil karena menurut mereka apa yang orang modern sebut sebagai “realita,” bagi postmodernis tidak lain adalah konstruksi konsep dan bahasa kita sendiri, sebagai hasil dari pengalaman hidup kita. Salah seorang tokoh postmodern, Richard Rorty, mengatakan bahwa pada dasarnya semua manusia tidak pernah sungguh-sungguh sampai pada apa yang namanya realita, selain daripada apa yang kita sebut sebagai “realita” adalah pemilihan deskripsi kita sendiri di dalam simbol bahasa. Dengan demikian, pengungkapan kebenaran senantiasa diwakili oleh pembentukan (konstruksi) lingustik (bahasa). Cara berpikir postmodernis semacam itu disebut dekonstruksionisme (deconstructionism).

Menurut Jacques Derrida, dengan dekonstruksi, narasi-narasi besar, yang serba pasti, tunggal, seragam dan absolut tersebut dicoba oleh postmodernisme untuk diganti dengan paradigma yang serba mungkin, plural, warna-warni dan relativ bahkan nihilis. Sehingga dunia postmodernisme adalah dunia yang tanpa pusat dan standar baku secara universal. Pandangan dunia modern yang cenderung dipakemkan, didisiplinkan dan ditotalitaskan akhirnya menjadi puing-puing kebenaran yang berserakan dan tak teratur

Berangkat dari dekonstruksionisme, dapat disimpulkan bahwa bagi orang-orang postmodern, kebenaran tidak lain adalah hasil pembentukan atau konstruksi, bukan hanya oleh individu tetapi juga merupakan hasil kesepakatan kelompok sosial di dalam wujud bahasa. Jadi bahasa itu sendiri tidak menunjukkan realita secara obyektif. Bahasa digunakan hanya untuk mewakili sesuatu yang hendak kita katakan, tetapi bukan realita itu sendiri (not reality itself). Teoritisi postmodernisme berupaya membuat ilmuwan sadar atas penjara konseptualnya  (Vasquez dalam Jackson dan Sorensen 2009 :303). Penjara yang paling penting adalah modernitas itu sendiri dan pemikiran menyeluruh bahwa modernisasi menyebabkan kemamjuan dan kehidupan yang lebih baik bagi semuanya. Kaum postmodernis juga mmelihat noerealisme sebagai esensi dari kesalahan  dan penjara intelektual (Jackson dan Sorensen 2009 :303)

Mereka juga menolak klaim tentang kebenaran yang bersifat tunggal, mutlak, dan universal (berlaku bagi semua orang). Selain itu menurut mereka klaim tersebut bukan hanya dinilai salah, tetapi juga menyatakan kesombongan  dengan tidak menerima kritik dari luar dan hal tersebut sangat membahayakan perkembangan ilmu pengetahuan. Metode-metode saintifik hanya akan menjadi penghalang bagaikan “kacamata kuda” yang memaksa pemakainya untuk berpikir sesuai aturan dan tidak membiarkan imajinasi berkembang. Karena itu, untuk mendapatkan kebenaran bagi kebutuhan umat manusia harus dibuka pintu selebar mungkin bagi sebanyak mungkin metode atau cara. Tetapi, berbagai metode tersebut bukan untuk diintegrasikan atau disimpulkan menjadi satu kebenaran, melainkan tetap saja dibiarkan berbeda, sebab pada dasarnya tidak ada kesepakatan universal tentang apa yang benar. Artinya, kita harus membiarkan masing-masing orang atau kelompok sosial untuk menemukan kebenaran dengan caranya sendiri. Postmodernis tidak mencari kebenaran yang mutlak dan universal, melainkan kebenaran yang pluralistik (beraneka ragam) dan relatif secara radikal. ( Cooper :1996).

Relativisme radikal, mengajarkan kepada kita agar mentoleransi dan menghargai semua pandangan indvidu atau kelompok tentang kebenaran. Karena itu kita harus dapat menghargai dan menerima keabsahan semua sudut pandang, entah itu tradisional, kontemporer, dikenal banyak orang, maupun asing. Semuanya dianggap memiliki perspektif masing-masing. Masing-masing melihat kebenaran berdasarkan cara pandang mereka sendiri, dan karenanya tidak perlulah kita mencari pandangan siapa lebih benar, atau bahkan yang paling benar. Semuanya dianggap benar dan sah. Seperti contoh  di negara Saudi Arabia, hukuman potong tangan bagi pencuri disana adalah wajar karena negara tersebut menganut atau memakai hukum agama Islam sebagai dasar dari hukum negara mereka. Tapi oleh kaum modern hal tersebut dinilai dan dipandang merupakan pelanggaran HAM dan mereka beramai ramai mengecam hukum tersebut. Sebaliknya kaum post-modern menganggap hal tersebut wajar saja karena memang sesuai dengan budaya disana. Demikian pula, bagi postmodernis orang yang sakit tidak usah diharuskan meminum obat apabila ia yakin dengan ramuan daun-daunan atau menyembah patung dapat menyembuhkannya.

Beberapa landasan filsafat pendidikan Postmodernisme mencakup hal-hal berikut:
1. Adalah tidak mungkin untuk menentukan kebenaran obyektif
2. Bahasa tidak menolong kita bersentuhan dengan realitas
3. Bahasa dan makna dikonstruksi secara sosial
4. Pengetahuan adalah kekuatan
5. Pentingnya pemahaman atas pluralitas dari perspektif yang berbeda

III Kesimpulan

Perdebatan pertama dalam studi HI lebih menitikberatkan kepada masalah substansi atau ontologi masalah dalam studi HI, perdebatan ini terjadi sekitar tahun 1920-1940an dan melibatkan kaum realisme dan liberalisme. Perdebatan ini ahirnya dimenangkan oleh realisme, karena memang keadaan lebih berpihak kepada kaum realis. Perdebatan yang kedua terjadi antara tradisionalisme dan behavioralisme, perdebatan ini terjadi setelah berakhirnya perang dunia kedua sekitar tahun 1950-1970an, dan lebih menitikberatkan kepada masalah epistemologi-metodologi ilmu HI. Pada perdebatan ini, menurut kami tidak ada pemenangnya karena antara tradisionalisme dan behavioralisme telah melakukan perpaduan sehingga munculah perdebatan ketiga, yaitu perdebatan intra-paradigma yang melibatkan neo liberalisme yang merupakan kelanjutan liberalisme tetapi tanpa idealisme, neo-realisme sebagai jawaban atas adanya neo liberalisme, adanya intervensi dari neo-marxisme dan rasionalisme (realisme liberal). Perdebatan ini terjadi sekitar paruh kedua perang dingin tahun 1980an hingga sekarang dan akhirnya mendapatkan tantangan dari fondalisme atau pos positivis, yang menurut George Sorensen disebut perdebatan keempat. Adanya perdebatan-perdebatan ini memang menjadi fondasi dalam perkembangan studi HI yang dinamis dan terus berkembang.

 

IV Daftar Pustaka

A.J.R Groom & Margot Light (ed.).1994. Contemporary International Relations: A Guide to Theory, New York & London: Pinter Publisher.

Baran,  Stanley J. & Davis, Dennis K. 2000. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future. Wadsworth Pub. Co

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: gramedia pustaka utama

Jackson, R.& Sorensen, Georg. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kusumohamidjojo Budiono.1987. Hubungan Internasional : Kerangka Studi Analitis. Jakarta : Binacipta

Marshall, Gordon. 1998. A Dictionary of Sociology. © A Dictionary of Sociology 1998, originally published by Oxford University Press 1998. ( Hide copyright information )Oxford University Press

Steans, Jill & Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

http://www.marxists.org

 

 

 

 

 

 

 

INTERNATIONAL RELATIONS JOURNAL

Understanding Basic of Concepts IR: National Interest

 

 

 

 

 

 

By:

Arif Setyanto                                           070912051

Muzainiyeh                                             070912061

Dinar Okti N.S.                                       070912076

Andono Wicaksono                              070912088

Rizka Rosaline                                         070912098

 

DEPARTEMEN HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK

UNIVERSITAS AIRLANGGA

 

Posted Oktober 19, 2010 by moze in all about International Relations Theory

2 responses to “Great Debate dalam dunia HI

Subscribe to comments with RSS.

  1. menurut Mbah Google , jika kita ingin memenangkan perdebatan yg harus dilakukan adalah : 1. Lembut dan solid2. Tempatkan lawan di sisi kita3. Jangan menyerang4. Janganlah menjadi tidak fair 5. Tunjukkan hal-hal yang mendasar6. Kembali ke Pokok Materi7. Ajukan pertanyaan-pertanyaan8. Tenanglah9. Kenalilah fakta-fakta yang Anda ajukan10. Ketahuilah di saat Anda mendapatkan pukulan …jadi praktekkan ya …qiqiqiqii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: