Neo-Liberalisme Vs Neo-Realisme   Leave a comment

Berakhirnya Great Debate pertama antara Liberalis dan Realis dengan kemenangan di pihak kaum realis yang dibuktikan dengan gagalnya Liga Bangsa-Bangsa dalam membangun iklim yang aman bagi dunia dan tercetusnya Perang Dunia II tenyata tidak lantas mengakhiri perdebatan itu sendiri. Setelah sempat dipengaruhi oleh teori behavioralis, keduanya muncul lagi dalam bentuk yang baru yakni Neo-Liberalis dan Neo-Realis. Perdebatan antara generasi Neo ini merupakan turunan dari perdebatan sebelumnya (progany atau off spring) namun perdebatan yang terjadi tidak menyinggung permasalahan prinsipil seperti perdebatan antara liberalis dan realis sebelumnya. Yang membuatnya berbeda selain sudut pandang (asumsi) yang melihat ke ‘luar negara’ (general overview) juga pada vocal point yang diperdebatkan, seperti signifikansi non-state actor, power, institusi internasional, absolute gain, state priority, cooperation serta survivalence.

Neo-Liberalis

Teori Neoliberalisme mulai muncul pada kurun waktu 1980-an dan membangun eksistensinya melalui asumsi bahwa manusia sebagai makhluk ekonomi (homo oeconomicus) serta memandang melalui kacamata pendekatan ekonomi, artinya semua tingkah laku manusia sangat dipengaruhi oleh ekonomi. begitu pula negara, jika keadaan ekonomi sebuah negara dikatakan tercukupi, maka kemungkinan negara tersebut untuk melakukan perang dapat diminimalisasi. Neo-liberalisme juga membangun asumsi bahwa negara perlu mengembangkan strategi-strategi dan forum-forum bagi kerjasama meliputi seluruh rangkaian isu dan wilayah-wilayah baru  (Steans & Pettiford, 2009:130). Neoliberal menekankan kepada ekonomi politik dan fokus kepada permasalahan kerjasama dan institusi internasional untuk mencapai keamanan dunia. Neo-liberalis juga mempertimbangkan bahwa semua negara menginginkan keuntungan dari absolute gains yang dihasilkan dari usaha-usaha perjanjian dan kerja sama internasional

Menurut Anjrah Lelono Broto, S.Pd (www.kompasiana.com) pengandaian manusia sebagai homo oeconomicus direntang luas untuk diterapkan pada semua dimensi hidup manusia. Pada gilirannya, perspektif oeconomicus itu direntang untuk menjadi prinsip pengorganisasian seluruh masyarakat. Dalam visi neoliberal tiap orang atau perusahaan bertanggung jawab atas diri sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Jadi menurut mereka cara untuk membangun perdamaian dunia adalah dari segi ekonomi. Serta mereka ingin adanya interdependensi negara-satu dengan negara lainnya atau negara dengan aktor seperti perusahaan internasional atau institusi-institusi internasional dalam hubungan internasional. Kaum neoliberalisme sangat percaya bahwa peran pemerintah harus dibatasi, dan membiarkan pasar berjalan apa adanya. Selain itu kaum neo-liberal memandang institusi  sebagai pemeran utama dalam menengahi dan memecahkan konflik  (Steans & Pettiford, 2009:141)

Neo-Realis

Pelopor dari pemikir ini adalah Kenneth Waltz (1979). Dalam pandangannya teori HI yang terbaik adalah yang memfokuskan pada struktur sistem, unit-unit yang berinteraksi, kesinambungan dan perubahan sistem. Neorealis sering juga disebut ‘Realisme struktural’ yang berasumsi bahwa manusia terdiri dari beberapa struktur sistemis yang bekerja sama, begitupula dengan negara yang seharusnya dilihat dari segala aspek strukturalnya bukan hanya aspek kekuasaan atau politik saja.  Dengan menggambarkan sistem politik internasional secara keseluruhan, dengan derajat struktural dan unit yang berbeda dan berhubungan pada waktu bersamaan, neorealisme mewujudkan otonomi politik internasional. Teori ini berupaya menyangkal pernyataan bahwa adalah mungkin untuk memperkirakan kondisi politik internasional dari komposisi internal negara (Waltz dalam Burchiil & Linklater, 2009:115). Struktur internal negara sangat tidak relevan bagi sikap internasional mereka. Apa yang penting adalah posisi negara dalam susunan kekuatan global. Contoh AS dan Uni Soviet mempunyai perbedaan yang mendasar mengenai pandangan politik maupun sosialnya, namun sikap mereka pada saat perang dingin benar-benar sama. Sama-sama mencari kekuasan militer, pengaruh, eksploitasi wilayah dll.

Paham neorealis menekankan pentingnya struktur dan meremehkan potensi negara untuk mengubah sistem internasional. Neorealisme mengimplikasikan bahwa, dalam bentuknya yang sekarang, negara bangsa adalah perangkat permanen dalam sistem internasional. Dan, selalu ada kecenderungan untuk ‘tidak stabil‘ dalam sistem internasional, namun hal ini bisa dicegah jika negara ‘dominan‘ memainkan peran kepemimpinan atau hegemonis ( Charles Kindleberger dalam Steans & Pettiford, 2009:77). Neo realis juga berfikir bahwa pengaruh anarki internasional dapat dikurangi atau diringankan dengan keberadaan institusi dan juga cenderung berfikir bahwa masalah kemanan adalah yang realisme terutama bagi Negara dan sangat memperhatikan isu kepentingan nasional. Selain itu mereka lebih menekankan kepada studi keamanan dan fokus pada power dan survival. Berbeda dengan Neo-Liberalis, Neo-realis menjelaskan bahwa semua negara harus dikaitkan dengan relative gains yang dihasilkan dari usaha-usaha perjanjian dan kerja sama internasional.

Kesimpulan

Selain itu dalam perdebatan Neo-Neo ini yang terjadi bukanlah intersection (pemisahan) namun pendekatan (saling mengakomodir). Bahkan terdapat asimilasi atau perkawinan antar varian dalam Neo-liberalis dan Neo-Realis. Disini dicontohkan tentang Teori Hegemonic Stability dalam teori tersebut ada unsur dari Liberalis yang dibawa yaitu nilai-nilai demokrasi dan perdagangan bebas, sedangkan unsur yang dibawa oleh realis adalah kenyataan bahwa adanya kebutuhan untuk menjadi hegemon. Pandangan Neo-Liberalis dan Neo-Realis juga berbeda dengan realis dan liberalis klasik, jika mereka memandang suatu kasus dari faktor internal aktor, maka Neo-liberalis dan Neo-Realis memandang segala tindakan yang dilakukan oleh negara merupakan existing structure (reaksi negara sama saja terhadap sistem anarki dunia internasional) (Dugis 2010)

Jadi, terlepas dari segala perbedaan pandangan dalam beberapa hal, Neo-Liberalis dan Neo-Realis sama-sama menekankan struktur dalam sistem internasional, organisasi internasional merupakan hal yang mutlak bagi kerjasama namun keberadaannya sangat bergantung kepada negara.

Sources :

Broto, A. L. (2009, July 26). umum : Neolib, Esensi dan Visi: Tinjauan “A Brief History of Neoliberalism” David Harvey. Retrieved Maret 30, 2010, from Kompasiana sharing.connecting: http://www.kompasiana.com

Burchiil, S., & Linklater, A. (2009). Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung : Nusamedia.

 

Dugis, V. (2010) ‘Neo-liberalis Vs Neo-realis, lecture notes distributed in the topic COMM5610 Teori Hubungan Internasional.Airlangga University on 16 April 2010

 

Steans, J., & Pettiford, L. (2009). Hubungan Internasional : Perspektif dan tema. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted Oktober 9, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: