Konstruktivisme   Leave a comment

Pada dasarnya teori dibentuk untuk mempermudah manusia dalam memahami realitas dari sebuah fenomena yang tengah dihadapi sehingga mampu menyikapi fenomena tersebut dengan tepat. Merupakan tugas teori hubungan internasional untuk mengungkapkan dan menjelaskan segala fenomena yang terjadi dan berkaitan dengan hubungan internasional itu sendiri, misal Perang Dunia I & II, runtuhnya rezim Uni Soviet, Globalisasi dan lain sebagainya. Namun ketika teori-teori yang ada tidak lagi mampu menjelaskan fenomena tersebut, maka teori tersebut tidak dapat dipakai dan butuh teori lain untuk menjelaskan fenomena tersebut. Disini kostruktivisme hadir untuk melakukan kritik (antitesis) terhadap positivisme hubungan internasional. Orang pertama yang memperkenalkannya dalam HI adalah Nicholas Onuf dengan tulisannya yang berjudul ‘World Our Making‘ pada tahun 1989 dan kemudian dilanjutkan oleh Alexander Wendt pada tahun 1992 dengan karyanya ‘Anarchy Is What States Makes of It‘ (Poerbasari, 2009, p. 178). Secara singkat ada empat kelemahan  positivisme yang dikritik konstruktivis, yaitu (1) mengenai fakta pendukung teori, dia berpendapat bahwa fakta ‘hanyalah‘ sejauh fakta, bilamana ia berada dalam kerangka teoritis. Realitas hanya ada dalam mental/konstruk yang berpikir tentang realitas tersebut; (2) menyangkut aspek determinatif sebuah teori konstruktivisme berkata suatu teori tidak dapat diuji secara universal karena adanya masalah yang muncul dari metode induksi. Teori yang dihasilkan hanya menjelaskan fakta-fakta sejauh yang didapat saja yang kemudian memungkinkan adanya konstruksi dimana suatu realitas dilihat melalui bingkai teori, baik secara implisit atau eksplisit; (3) mengenai nilai-nilai pendukung beragam fakta yang dikatakan kaum positivis bahwa kegiatan ilmiah adalah kegiatan yang bebas nilai, konstruktivisme berargumen bahwa jika realitas hanya dapat dijelaskan dari bingkai teori, maka sama halnya dengan melihat melalui bingkai nilai-nilai dan hal ini memungkinkan munculnya konstruksi; (4) menyangkut interaksi antara subjek dan objek, konstruktivisme sangat yakin bahwa suatu objektivitas tidak akan tercapai karena penelitian ilmiah selalu merupakan hasil interaksi antara keduanya (Poerbasari, 2009, p. 174)

Syarat utama dari suatu pengetahuan agar dapat disebut ‘ilmu pengetahuan‘ berdasarkan paradigma umu ilmu pengetahuan adalah dia harus mampu menjawab tiga pokok pertanyaan yakni ontologi, epistemologi, dan metodologi. Pertanyaan ontologi menyangkut hakikat realitas. Pertanyaan epistemologi menyangkut hubungan antara pengamat, peneliti atau penahu (knower) dengan objek yang diteliti (the known). Selanjutnya pertanyaan metodologi terkait dengan cara, langkah, proses, atau bagaimana pengamat (knower) membangun pengetahuannya. Asumsi dasar dari konstruktivisme mengenai tiga hal diatas adalah; dari sudut ontologi, diasumsikan jika banyak interpretasi dapat diajukan untuk suatu realitas (objek pengamatan) dan jika tidak dapat ditentukan adanya suatu kebenaran tertinggi atau falsifikasi terhadap konstruksi tersebut, maka tidak ada jalan lain kecuali mengambil relativisme sebagai suatu posisi. Dunia sosial, termasuk hubungan internasional merupakan suatu konstruksi manusia (Jackson & Sorensen, 2009, p. 307). Serta merupakan wilayah intersubjektif (dibuat atau dibentuk oleh masyarakat pada waktu dan tempat tertentu) oleh karena itu realitas bercorak plural dan realitas itu sendiri berada di pikiran masing-masing orang. Perbedaan diakui sehingga memungkinkan lahirnya konstruksi-konstruksi baru agar memperoleh pemahaman yang mendalam atas realitas. Secara epistemologi konstruktivisme menempatkan diri pada posisis subjektivis sebagai sarana untuk membangun suatu konstruksi, dan dunia pengetahuan ada di dalam konstruksi sosial. Pengamat tidak pernah berada dalam posisi netral, karena ide dan peristiwa bukanlah fenomena yang independen. Dengan demikian mereka mengaggap interaksi subjektif adalah satu-satunya cara untuk dapat mengakses ‘realitas‘ tersebut (Poerbasari, 2009, p. 175). Mereka juga berkata bahwa dunia sosial bukanlah sesuatu yang ‘given‘ dan berada ‘diluar sana‘ yang hukum-hukumnya dapat ditemukan melalui penelitian ilmiah dan dijelaskan melalui teori ilmiah seperti yang dikatakan kaum positivis dan behavioralis. Tidak ada ‘realitas objektif diluar sana‘ yang ada hanyalah subjektif-subjektif masyarakat. Adapun masalah-masalah historis, hukum dan moral politik dunia tidak dapat diterjemahkan ke dalam istilah pengetahuan tanpa salah memahami mereka. Pada intinya letak perdebatan epistemologi positivis dan konstuktivis adalah tentang menjelaskan dunia secara ilmiah atau memahami dunia tersebut. Selanjutnya dari sisi metodologi, pada mulanya kaum konstruktivis mengidentifikasi berbagai konstruksi yang ada, kemudian melalui metode hermeneutika dan dialektika konsensus-pun  akan tercapai. Dan pada akhirnya istilah-istilah yang dihasilkannya lebih merupakan konsensus (Poerbasari, 2009, p. 175). Jadi konstruktivisme tidak bertujuan untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memprediksi, mengontrol, dan mentransformasi dunia ‘riil‘, melainkan merekonstruksi dan mentransformasi ‘dunia pikiran‘ bukan dunia ‘riil‘. Jika demikian adanya maka kita dapat mengakumulasikan pengetahuan tentang dunia. Adapun realitas hubungan internasional, merupakan konstruksi sosial dan bukan material. Dengan demikian konsep-konsep dalam sistem internasional pun dapat direproduksi dan direkonseptualisasi. Dan, salah satu kritik kaum konstruktivis terhadap neorealisme adalah konsep ‘anarki‘ yang menurutnya merupakan apa yang dibuat negara darinya, oleh karena itu tidak ada satupun di dunia ini yang tidak dapat dihindari atau tidak dapat diubah tentang politik dunia.

Kaum konstruktivis pada hakekatnya selalu menekankan peran pemikiran, pengetahuan bersama atas dunia sosial (Wendt dalam Jackson & Sorensen, 2009, p. 308). Sebagai contoh, dilema keamanan yang terjadi diantara negara-negara bukan hanya dibuat dari fakta bahwa dua negara berdaulat memilki senjata nuklir, ia juga tergantung pada bagaimana negara-negara tersebut memandang satu sama lain. Contoh konkritnya adalah jika negara Inggris mempunyai 700 buah senjata nuklir, hal tersebut tentu tidak akan begitu merisaukan dan mengancam Amerika Serikat, lain halnya jika yang memiliki nuklir tersebut negara Korea Utara, bahkan walaupun cuma 7 buah saja, Amerika pasti akan langsung kalang kabut dan merasa terancam. Pemikiran seperti ini ada karena Inggris merupakan teman Amerika Serikat sedangkan Korea Utara bukan. Dan disini persahabatan dan permusuhan adalah fungsi dari pemahaman bersama.

Selain hadir sebagai kritik terhadap positivis, konstruktivisme juga berusaha untuk menjadi jembatan penghubung (penengah) antara positivisme dan pospositivisme. Ada keadaan dimana konstruktivisme setuju dengan kaum positivis bahwa kita dapat membangun teori-teori empiris yang mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam hubungan internasional. Dan di sisi lain dia juga menekankan pentingnya pemikiran dan pengetahuan bersama yang diusung kaum pospositivis, seperti menganalisis pengalaman subjektif dan penilaian atas aktor-aktor penting dalam politik dunia (Jackson & Sorensen, 2009, p. 309). Konstruktivisme berusaha untuk menghindari posisi paling ekstrim objektivis (murni naturalis: dunia sosial hubungan internasional pada dasarnya merupakan suatu benda, objek, diluar sana dan secara luas dibentuk oleh struktur material sistem internasional) dan posisi paling ekstrim subjektifis (murni idealis: dunia sosial hubungan internasional pada dasarnya merupakan pemikiran atau konsep bahwa masyarakat berbagi tentang bagaimana mereka seharusnya mengatur dirinya dan berhubungan satu sama lain secara politis; ia dibentuk melalui bahasa, pikiran-pikiran dan konsep-konsep). Dengan demikian kaum konstruktivis berpendapat bahwa pilihan antara faktor-faktor dan pemikiran-pemikiran material bukan ini/itu (either/or) tetapi baik/maupun (both/and) (Jackson & Sorensen, 2009, p. 310).

Sources :

Jackson, R., & Sorensen, G. (2009). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Poerbasari, A. S. (2009). Mendekati Hubungan Internasional dengan Konstruktivisme Onuf. In Asruddin, & M. J. Suryana, Refleksi Teori Hubungan Internasional dari Tradisional ke Kontemporer (pp. 171-190). Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Posted Oktober 9, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: