Gender dan Feminisme   Leave a comment

Ada pepatah yang mengatakan “ dibalik pria yang sukses, terdapat wanita yang hebat”. Pepatah diatas memang seolah-olah mengagungkan keberadaan perempuan yang bisa mempengaruhi jalan hidup dan sukses tidaknya seorang pria, namun dari yang perlu digaris bawahi adalah peran mereka (perempuan) dalam mempengaruhi ini hanya sebatas dibalik layar, dan tidak perlu tampil secara langsung di arena yang hanya berisikan kaum pria. Sudah sejak dahulu kala perempuan diabaikan dan dipinggiran dari segala sesuatu yang berbau ‘high politics’, bagi tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles, diikuti oleh St. Agustinus dan Thomas Aquinas pada Abad Pertengahan, hingga John Locke, Rousseau dan Nietzsche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Wanita disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya. Paderi-paderi Gereja menuding perempuan sebagai pembawa sial dan sumber malapetaka, biang-keladi kejatuhan Adam dari sorga, bahkan studi HI sebagai suatu disiplin tidak terpisah dari praktik pemisahan gender dan realitas hierarki gender: perempuan dan kaum feminis telah disingkirkan dari teori HI seperti halnya mereka disingkirkan dari praktek panggung politik  Pada umumnya dipercaya bahwa posisi perempuan berada diluar wilayah studi HI karena perempuan dipandang tidak relevan hubungan antar-negara, dan pada akhirnya perempuan selalu saja dikaitkan dengan ranah pribadi ke-domestik-an, moralitas, subjektifitas, gairah, ke-feminim-an yang bukan merupakan lapangan kajian HI. kata ‘internasional’ dalam disiplin HI dicirikan sebagai suatu bentuk ‘politik tingkat tinggi’ antar negara yang impersonal dan beresiko. Dan ‘tindakan negara atau lebih tepatnya tindakan laki-laki untuk negara’ telah memberi dominasi atas sebuah ‘hubungan’ (Burchiil & Linklater, 2009, p. 281-284). Hal-hal diataslah yang merupakan fokus serangan dan argumen yang digunakan kaum feminis dalam memandang dunia yang selama ini telah didominasi pria. Sejatinya yang dikritik oleh feminisme bukanlah jenis kelamin ‘pria’ namun lebih pada perbedaan gender antara pria dan wanita.

Perspektif feminisme sebanarnya sangat umum, tidak ada satu feminisme, dan tidak ada satu pendekatan tunggal dalam mengkonstruksikan feminisme, alih-alih ada banyak macam feminisme yang diliputi kontradiksi dan tumpang tindih mengenai posisi, kajian serta praktiknya. Ada feminisme konservatif, feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme sosialis, feminisme radikal, eko-feminism, feminisme kultural, feminisme lesbian, feminisme perempuan Dunia Ketiga, feminisme standpoint, feminisme posmodernisme, feminisme poskolonial, dan lain sebagainya (Burchiil & Linklater, 2009, p. 283). Namun secara singkat ada beberapa titik penting dari perspektif feminisme yaitu (1) menggunakan gender sebagai suatu kategori utama dari analisis; (2) menganggap gender sebagai sebuah jenis hubungan kekuasaan tertentu; (3) mencermati penggolongan publik-privat sebagai isu utama dalam pemahaman kita tentang hubungan internasional; (4) menelusuri cara-cara dimana  ide-ide tentang gender dapat menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi usaha untuk memfungsikan lembaga-lembaga internasional utama; (5) menyarankan agar gender diletakkan dalam tatanan internasional; dan (6) menentang asumsi-asumsi dominan yang membagi antara yang penting- tidak penting, atau apa yang marjinal atau sentral dalam hubungan internasional  (Steans & Pettiford, 2009, p. 325).  singkanya feminisme berasumsi bahwa sifat dasar manusia merupakan sesuatu yang berubah, lebih lanjuta lagi Wendy Broun mengatakan bahwa semua dalam dunia manusia merupakan konstruksi yang ter-gender-kan. Gender yang dimaksud disini adalah hubungan antara jenis kelamin  disuatu kelompok masyarakat atau budaya dimanapun, dan gender ditentukan secara sosial dan budaya, tidak sama dengan jenis kelamin yang merupakan karakter biologis yang kodrati (Steans & Pettiford, 2009, p. 322). Gender terbentuk melalui konstruksi sosial asimetris maskulinitas dan feminitas. Maskulinitas sendiri selalu dikaitkan dengan rasionalitas, kekuatan, otonomi, kedaulatan serta diberi nilai dan status yang lebih tinggi dari feminitas yang selalu dihubung-hubungkan dengan emosionalitas,kelemahan, dan subjektifitas. Pandangan seperti ini menempatkan pria dan wanita dalam posisi binary, jika ingin menjadi maskulin maka tinggalkan segala sifat feminin yang ada. Kaum feminis menganggap bahwa selama ini teori dan praktik yang ada di HI yang selalu menggaung-gaungkan istilah keamanan, anarki, perang, perdamaian, konflik serta kerjasama merupakan aktifitas gender dan tidak terlepas dari nilai-nilai maskulinitas laki-laki (Jackson & Sorensen, 2009, p. 333). Dan kaum feminis (terutama liberal) ingin mengkonstruksi ulang pandangan mengenai gender itu sendiri dan meningkatkan status perempuan di mata dunia. Mereka megataakan bahwa perempuan, seperti halnya laki-laki adalah juga makhluk yang rasional sehingga mempunyai hak untuk ikut serta dalam kehidupan publik (memberikan sumbangan pada perdebatan tentang isu-isu politik, sosial, dan moral), berpartisipasi aktif dalam membentuk tatanan politik serta mendapatkan akses pada kekuasaan daripada sebagai makhluk yang terkurung dalam ruang privat di rumah dan keluarga, dan praktek politik internasional nyata telah mengalami kerugian karena mengabaikan perspektif feminis. Pada intinya tuntutan kaum feminis adalah perempuan seharusnya memiliki akses yang sama seperti laki-laki pada kesempatan politik, ekonomi dan pendidikan.

Untuk mencapai keamanan kaum feminis liberal menekankan nilai penting dari tidak hanya hak-hak sipil dan politik, tetapi juga hal-hak ekonomi dan sosial, serta hak asasi perempuan harus diakui sebgai hal utama untuk mencapai keamanan dalam arti yang sebenar-benarnya. Mereka juga mengatakan bahwa tingkatan orang merasa atau benar-benar sedang ‘terancam’ sangatlah beragam sesuai dengan lingkungan ekonomi, sosial, atau personal mereka. Keamanan dan kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh serangkaian faktor, missal stabilitas perekonomian global, tekanan politik, etnisitas dan lain sebagainya (Steans & Pettiford, 2009, p. 362).  wacana-wacana feminis tentang perdamaian menekankan keterhubungan manusia, dialog-dialog, dan kerjasama atas dominasi dan konfrontasi kekerasan.

Seiring dengan berjalannya waktu dan arus globalisasi yang makin meluas di dunia ini, menyebabkan batas-batas wilayah kenegaraan semakin kabur, dan dari perspektif feminis sekarang sesuatu yang privat tidak hanya bersifat publik, tetapi kini makin juga bersifat global  (Steans & Pettiford, 2009, p. 352). dalm perspektif feminis keadaan seperti sekarang ini tentu mau tidak mau dalam hubungan internasional tidak hanya aktor negara saja yang ikut berkecimpung dalam hubungan internasional melainkan banyak aktor-aktor yang ikut berpartisipasi membentuk tatanan masyarakat global dan sistem internasional, misal NGO, MNC. Bahkan yang lebih ekstrim keadaan rumah tangga seorang presiden dapat mempengaruhi indeks saham yang ada. Menurut Cyntia Enloe  (dalam Jackson & Sorensen, 2009, p. 335) salah satu penyebab kehancuran rezim komunis dan berakhirnya Perang Dunia II adalah penarikan mundur dukungan ibu-ibu bangsa Rusia untuk tentara Uni Soviet sebagai akibat perang di Afghanistan, dari contoh ini terlihat jelas bagaimana pluralisnya aktor yang ada dalam hubungan internasional.

Sources :

Burchiil, S., & Linklater, A. (2009). Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung : Nusamedia.

Jackson, R., & Sorensen, G. (2009). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Steans, J., & Pettiford, L. (2009). Hubungan Internasional : Perspektif dan tema. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted Oktober 9, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: