English School   Leave a comment

Pasca Great Debate II yang seolah-olah menempatkan kaum behavioralis sebagai pemenang, yang kemudian dibuktikan dengan kemunculan debat selanjutnya antara Neo-realis, Neo-liberal dan Neo-marxis. Dalam perdebatan ketiga perspektif neo tersebut, terlihat sangat jelas sekali pengaruh behavioralis dalam tiap-tiap perspektif yang ada, yang kesemuanya baik secara langsung maupun tidak langsung mengusung tema ‘struktural’ dan ilmiah dalam perkembangannya. Namun yang tidak boleh dilewatkan adalah adanya salah satu perspektif yang ikut andil dalam perdebatan tersebut dengan prinsipnya yang menentang teori ‘bebas nilai’ bagi ilmu sosial yang dibawa kaum behavioralis, yaitu English School atau lebih dikenal dengan Rasionalisme yang dibawa oleh Martin Wight dan Masyarakat Internasional yang dicetuskan Hedley Bull. Padahal dalam English School sendiri ada banyak aliran, dan baik Rasionalisme dan Masyarakat Internasional merupakan salah satu yang paling berpengaruh diantara teori English School lainnya. Namun, diantara beberapa teoritisi ini ada persamaan yang mendasar yaitu tetap mempertahankan pendekatan tradisional yang berdasarkan pada pemahaman,  penilaian, norma-norma, dan sejarah manusia dalam memahami hubungan internasional. (Jackson & Sorensen, 2009:70). Menurut pandangan ini, Hubungan Internasional secara keseluruhan merupakan bidang yang mencakup hubungan antar manusia, oleh karena itu selalu mengandung nilai. Tidak pernah ada jawaban ilmiah yang bebas nilai dalam kehidupan manusia karena setiap jawaban akan dipengaruhi oleh situasi dan dengan demikian pada dasarnya akan selalu bercirikan sejarah.

Asumsi dasar dari English School ini adalah : (1) Bahwa hubungan internasional adalah cabang dari hubungan manusia yang pada intinya merupakan nilai-nilai dasar seperti kemerdekaan, keamanan, ketertiban dan keadilan ; (2) Pendekatan yang digunakan berfokus pada manusia : penstudi HI diminta menginterpretasikan pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi dari masyarakat yang timbul dalam hubungan internasional ; (3) Penerimaan premis anarki internasional  (Jackson & Sorensen, 2009 :181). Inti pendekatan yang dipakai oleh perspektif ini adalah menganalogkan negara sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat Internasional dan hubungan internasional merupakan interaksi antara ‘masyarakat’ negara-negara berdaulat. Lebih lanjut lagi seperti yang dikatakan Wight tentang konsep ‘masyarakat negara (society of state). Sebuah ‘masyarakat negara’ ada ketika sekelompok negara, sadar akan adanya kepentingan dan nilai-nilai umum tertentu, membentuk suatu masyarakat dalam artian bahwa mereka menempatkan diri mereka sendiri sehingga terikat oleh serangkaian peraturan umum dalam hubungan mereka dengan yang lain, dan bekerja bersama-sama dalam lembaga-lembaga umum (Burchiil & Linklater, 2009:131). Dari keterangan diatas dapat dikatakan pula bahwa English School merupakan ‘via media’ atau penghubung antara realisme dan liberalisme. Teori ini berusaha merangkai dan membuat teorinya sendiri dengan mengambil dan memasukkan unsur-unsur yang positif dari realisme dan liberalisme. Menurut mereka jika ada konflik pasti juga ada kerjasama, ada negara juga ada individu, ada kekuatan ada hukum dan unsur-unsur ini tidak bisa dipisahkan dan disederhanakan kedalam suatu teori tunggal yang hanya menekankan salah satu elemen. Masing-masing teori tidaklah lengkap karena hanya mencakup salah satu aspek dan dimensi hubungan internasional. Mereka menolak pandangan pesimis kaum realis tentang negara sebagai organisasi politik yang berhubungan dengan negara lain hanya berdasarkan kepentingan mereka, dan cenderung pada perselisihan dan konflik. Namun mereka mengakui bahwa memang terdapat anarki internasional dalam arti tidak ada pemerintahan dunia, tapi anarki internasional merupakan suatu kondisi sosial bukan anti-sosial : yaitu politik dunia adalah suatu ‘masyarakat anarkis’ (Bull dalam Jackson & Sorensen, 2009 :70). Adapun pandangan yang ditolak teori English School adalah optimisme kaum liberal klasik tentang hubungan internasional sebagai komunitas dunia yang berkembang dan kondusif bagi kemajuan manusia dan perdamaian abadi yang tidak terbatas. Mereka mengakui adanya organisasi internasional, organisasi non-pemerintah, perusahaan multinasional, organisasi antarpemerintah dan lainnya namun menurut mereka semua organisasi itu berada di bawah kedaulatan negara dan merupakan bentuk pinggiran daripada bentuk utama politik dunia (Jackson & Sorensen, 2009 :184).

Dengan demikian menurut mereka ketertiban dunia ini dapat dicapai bila disandarkan pada keseimbangan norma-norma universal, terutama budaya dan kepentingan. Namun yang perlu dicatat dari perspektif English School ini adalah aturan dan norma yang berlaku tidak mutlak dan tidak dapat dengan sendirinya menjamin harmoni dan kerjasama internasional.

Ada empat kunci yang ditekankan dalam tradisi English School, pertama : pemikiran operatif terkemuka yang terlihat membentuk pemikiran, kebijakan, dan aktivitas dari rakyat yang terlibat dalam hubungan internasional ; kedua : dialog antar pemikiran, nilai, dan keyakinan terkemuka yang turut berperan dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri ; ketiga : dimensi sejarah dari hubungan internasional ; keempat : aspek normatif hubungan internasional seperti yang tertera jelas dalam sejarah, mengabaikan aspek ini berarti gagal memahami karakter manusia dimana negara diumpamakan seperti manusia. Yang menurut paham Rasionalisme negara seperti halnya manusia harus memfokuskan diri pada bagaimana negara mempelajari seni mengakomodasikan kepentingannya kepada yang lain dan menciptakan tatanan sipil bahkan dalam kondisi anarkis. Tatanan tersebut tergantung dari keseimbangan norma-norma universal dan kultur serta kepentingan tertentu masing-masing bangsa. Tatanan antar bangsa sifatnya tidak absolut, karena tatanan sesuai dengan sifat dasar manusia dan selalu berubah seiring dengan perubahan iklim politik dunia (Burchiil & Linklater, 2009:154).

Ada beberapa kritik yang dilancarkan  terhadap English School, terutama oleh kaum realis, liberalis dan EPI. Kaum realis berkata bahwa tidak ada bukti yang dapat menunjukkan bahwa dalam mengatur kebijakan yang diambilnya, baik kebijakan dalam dan luar negeri negara berpegang teguh atau dipengaruhi oleh norma internasional. Kalaupun suatu negara terikat dengan beberapa aturan bersama itu hanya dikarenakan adanya keuntungan dan kepentingan dalam melakukan hal tersebut. Kemudian disusul kritik kaum liberalis tentang pengabaian faktor politik domestik sebuah negara oleh tradisi English School danketidakmampuannya dalam menjelaskan perubahan progresif dalam politik internasional. Selanjutnya kritik dari golongan EPI yang mengatakan bahwa English School terlalu menekankan politik sehingga mengabaikan aspek ekonomi dan kelas sosial dalam hubungan internasional. Selain itu kritik dari ‘masyarakat global’ yang tidak setuju dengan pendekatan English School yang cenderung state-centric yang menganggap negara sebagai aktor ‘yang serupa individu’ dan mengabaikan hubungan sosial kompleks yang mempersatukan individu dengan negara dan buta terhadap keberadaan ‘masyarakat dunia’ yang hidup melalui hubungan sosial yang terlibat dalam produksi dan pertukaran komoditas global, melalui budaya global dan media massa serta melalui peningkatan pembangunan politik dunia. Juga yang paling penting adalah teori tentang masyarakat internasioanal ini telah mengorbankan manusia pada altar negara berdaulat dan menjadi subordinat dan sekunder (Jackson & Sorensen, 2009:215-220).

Sources :

Burchiil, S., & Linklater, A. (2009). Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung : Nusamedia.

Jackson, R., & Sorensen, G. (2009). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted Oktober 9, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: