Realisme dan Neorealisme   Leave a comment

Realis :

Pada awalnya perspektif realis ini muncul sebagai bentuk serangan langsung terhadap liberalisme utopian, terutama pada gagasan tentang keamanan kolektif dengan mencoba menghapuskan perang dari instrumen dalam bernegara. Juga untuk menyoroti kegagalan Liga Bangsa Bangsa dalam menjaga perdamaian dunia, hal itu terbukti dengan pecahnya Perang Dunia II.  Penganut paham realis yang sangat terkenal dan sampai sekarang pemikirannya banyak mempengaruhi para penstudi HI adalah E.H. Carr dan Hans Morgenthau. Disini kebanyakan pemikiran E. H. Carr difokuskan untuk mengungkapkan fakta tentang doktrin keseklarasan kepentingan yang dibawa oleh utopianisme hanya melayani kepentingan negara berkuasa yang memenangkan perang (Morgenthau dalam Scott Burchiill & Andrew L. 2009 : 93 & 96 ) . Sedangkan Morgenthau, ingin mempengaruhi pemikiran dalam HI dan memandu para pembuat kebijakan luar negeri AS yang dihadapkan pada ketidak pastian perang dingin ( E.H. Carr dan Morgenthau dalam Scott Burchiill & Andrew L. 2009: 96 & 99 ) .

Realisme mempunyai asumsi bahwa kekuasaan berakar pada kodrat manusia (pencarian rasional akan kepentingan pribadi, keperluan maksimal ,dll), betapapun tidak sempurnanya , sudah ditetapkan dan harus diterima apa adanya (Morgenthau dalam Scott Burchiill 2009: 103 &106 ). Artinya manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan diri sendiri. Layaknya manusia, Negara pun juga berperilaku demikian. Dalam berinteraksi dengan negara lain suatu negara selalu termotivasi untuk mengejar kekuasaan dan kepentingan nasional negaranya sendiri. Ditambah pula adanya kondisi anarkis, dimana tidak adanya otoritas tertinggi atau pemerintah dunia untuk mengatur hubungan antarnegara. Tidak ada hukum internasional yang mengikat atau sistem hukum yang bisa membuat negara mempertimbangkan tindakan tindakannya yang bisa merugikan negara lain. Sehingga sering terjadi benturan-benturan kepentingan nasional antara beberapa negara yang bisa memicu perang. Bahkan menurut mereka perang dalam kenyataannya bisa menjadi satu-satunya jalan yang akan memposisikan kembali kekuasaan dalam sistem internasional. Konflik dan perang merupakan realitas yang selalu ada dalam hubungan internasional dan tidak bisa dihilangkan.

Menurut kaum realis perdamaian hanya dapat dicapai dengan adanya keseimbangan kekuasaan yang nyata antar negara dalam sistem internasional yang diwujudkan dalam mekanisme pendistribusian kekuasaan. Cara kerja mekanisme ini adalah mencegah dominasi dari satu negara manapun dalam sistem internasional (Jill Steans & Lloyd Pettiford 2009 :63). Dengan kata lain, dalam tatanan sistem internasional diperlukan  adanya aliansi-aliansi antarnegara yang mencegah satu negara manapun menjadi adikuasa sehingga dapat menjadi ancaman  bagi negara lainnya. Dalam sistem internasional, stabilitas keamanan dan perdamaian tidak pernah menjadi bagian permanen. Perdamaian hanyalah gencatan senjata sementara berdasarkan pada keseimbangan kekuatan negara, antara periode ketegangan dan konfik (Morgenthau dalam Scott Burchiil 2009 :104). Praktis, kaum realis menganggap negara bangsa sebagai actor utama dalam politik internasional, dan hamper mengabaikan actor lain semisal wewenang non pemerintahan dan pasar internasional (Morgenthau dalam Scott Burchiill & Andrew L. 2009 : 105) .

Neorealis :

Neo realisme merupakan sebuah bentuk atau gaya baru dari teori realisme. Neorealisme muncul sebagai respon atas tantangan yang dikemukakan oleh teori independensi dan sebagai koreksi terhadap realis yang mengabaikan kekuatan ekonomi. Pelopor dari pemikir ini adalah Kenneth Waltz (1979). Dalam pandangannya teori HI yang terbaik adalah yang memfokuskan pada struktur sistem, unit-unit yang berinteraksi, kesinambungan dan perubahan sistem. Neorealis sering juga disebut ‘Realisme struktural’ yang berasumsi bahwa manusia terdiri dari beberapa struktur sistemis yang bekerja sama, begitupula dengan negara yang seharusnya dilihat dari segala aspek strukturalnya bukan hanya aspek kekuasaan atau politik saja.  Dengan menggambarkan sistem politik internasional secara keseluruhan, dengan derajat struktural dan unit yang berbeda dan berhubungan pada waktu bersamaan, neorealisme mewujudkan otonomi politik internasional (Waltz dalam Scott Burchiill & Andrew L. 2009 : 115). Teori ini berupaya menyangkal pernyataan bahwa adalah mungkin untuk memperkirakan kondisi politik internasional dari komposisi internal negara (Waltz dalam Scott Burchiill & Andrew L.  20010: 115). Contoh AS dan Uni Soviet mempunyai perbedaan yang mendasar mengenai pandangan politik maupun sosialnya, namun sikap mereka pada saat perang dingin benar-benar sama. Sama-sama mencari kekuasan militer, pengaruh, eksploitasi wilayah dll.

Paham neorealis menekankan pentingnya struktur dan meremehkan potensi negara untuk mengubah sistem internasional. Neorealisme mengimplikasikan bahwa, dalam bentuknya yang sekarang, negara bangsa adalah perangkat permanen dalam sistem internasional. Dan, selalu ada kecenderungan untuk ‘tidak stabil‘ dalam sistem internasional, namun hal ini bisa dicegah jika negara ‘dominan‘ memainkan peran kepemimpinan atau hegemonis ( Charles Kindleberger dalam Jill Steans & Lloyd Pettiford 2009 :77).

Salah satu perbedaan paling mendasar antara realis dan neorealis adalah  dalam memahami tatanan internasional, neorealis lebih menekankan pada kerjasama dan peranan institusi-institusi baik pemerintah maupun non-pemerintah dalam hubungan internasional. Terutama tentang interdependensi ekonomi antar negara. Kaum neorealis percaya bahwa negara-negara bertujuan untuk memaksimalkan kekayaan mereka, dan cara terbaik untuk mencapainya adalah dengan  bekerjasama dalam mewujudkan liberalisasi ekonomi (Jill Steans & Lloyd Pettiford 2009 :76), sehingga akan tercipta suasana yang aman. Perbedaan mendasar lain antara realisme klasik dan neorealisme adalah realisme lebih mendasarkan pusat perhatiannya pada aktor utama politik internasional yaitu negara sedangkan Neo realisme lebih mendasarkan perhatiannya pada struktur dan aktor selain negara seperti MNCs, sebab neo realis berasumsi bahwa struktur-struktur itulah yang mendasari tindakan.

Sumber :

F Steans, Jill & Pettiford, Lloyd.2009. Hubungan Internasional perspektif dan Tema. Yogjakarta: Pustaka Pelajar

F Burchiil, Scott & Linklater, Andrew. 2009. Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung : Nusamedia

Posted September 27, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: