Postmodernisme   Leave a comment

Postmodernisme

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan dunia yang terus terjadi, studi Hubungan Internasional tak pelak lagi juga mengalami kemajuan dalam bidang teori, ilmu, serta perspektif yang turut membangunnya, maupun kemajuan dalam kritik yang terus dilancarkan terhadap studi ini. Lalu muncullah suatu perspektif baru yang lahir dari kritik tersebut dan memposisikan dirinya sebagai salah satu kacamata yang dapat dipakai dalam membantu memahami Teori Hubungan Internasional itu sendiri. Salah satunya adalah Postmodernisme, yang pada perkembangannya  mulai menggeser studi-studi pendahulunya, serta pikiran-pikiran tradisional lainnya yang muncul sebelum postmodernisme ini lahir di dunia hubungan internasional. Ada semacam suatu sifat dasar yang dimiliki kaum postmodernis yaitu menentang terhadap segala sesuatu yang mainstream terutama penentangan terhadap tradisi serta disiplin-disiplin di dalam Hubungan Internasional. Serta selalu mencari dan memandang segala hal melalui sudut pandang yang ter-alien-asikan atau melihat ‘diluar’ yang dipahami kebanyakan orang. Dengan demikian dia memposisikan dirinya berada di luar yang biasanya (baca : modern). Bahwa para kaum postmodernist cenderung untuk selalu mempertanyakan, mengkritik dan mencoba meng-konsepsualisasikan adanya “realitas” dalam Hubungan Internasional.

Pada awalnya gerakan postmodernisme hanyalah sebuah reaksi terhadap modernisme. Ia merupakan semangat pemikiran yang mencoba menggugat asumsi-asumsi dasar modernisme. Teori postmodernisme berupaya membuat ilmuawan sadar atas penjara konseptualnya, terutama modernitas itu sendiri dan pemikiran menyeluruh bahwa modernisasi menyebabkan kemajuan dan kehidupan yang lebih baik bagi semuanya. Bagi postmodernisme nalar dan paradigma modern adalah bangunan pemikiran yang telah usang dan oleh karena itu tidak berlaku kembali. Tapi meskipun demikian postmodernisme ini pada hakekatnya juga bagian dari modernisme. Ia bukanlah gerakan pemikiran independen yang seratus persen terlepas dengan modernisme. Menurut Lyotard, kata post dalam post modernisme bukan bermakna telah atau paska modernisme. Gerakan postmodernisme ini tidak bisa dianggap sebagai gerakan baru setelah modernisme atau strukturalisme. Ia tetap merupakan bagian yang integral dari modernisme. Dia juga menjelaskan bahwa Postmodernisme adalah ketidakpercayaan terhadap metanaratif (Lyotard dalam Jackson & Sorensen, 2009 :303)

Dalam teori-teori positivisme, dasar segala pengetahuan itu dipahami berasal dari objek itu sendiri yang ditemukan (baca:observasi) oleh subjek. Dengan demikian realitas itu berada ‘diluar’ subjek dan ide mengenai subjek dan objek ini terpisah satu sama lainnya (fondasionalisme epistemologi) dengan demikian positivism secara ontologi (klaim mengenai makhluk atau sesuatu) mempunyai pola pemikiran yang memposisikan manusia sebagai satu-satunya subyek dan dunia eksternal manusia sebagai obyek (Hadi, 2008:240). Namun bagi postmodernisme apa yang dikatakan sebagai ‘realitas luar’ tak lain merupakan representasi tertentu dari subjek tertentu. Tidak ada alasan apapun untuk mendasarkan suatu pengetahuan atau kebenaran pengetahuan, karena tidak ada lagi realitas objektif yang dapat dimaknai kecuali lewat keterlibatan subjek yang subjektif itu sendiri. Postmodernisme sangat menekankan pada ketidakpercayaan terhadap teori sebagai penggambaran realitas dan pada keabsahan tertentu teori, yang kemudian berujung pada anti-positivism dan hilangnya kepercayaan akan jaminan pencapaian ilmu pengetahuan yang objektif. Selain itu metode-metode saintifik yang dibawa oleh kaum positivis hanya akan menjadi penghalang bagaikan “kacamata kuda” yang memaksa pemakainya untuk berpikir sesuai aturan dan tidak membiarkan imajinasi berkembang.

Karena menurut kaum postmodernisme memahami realitas dalam konteks sosial yang berubah dan bersifat subjektif. Maka realitas yang ‘objektif’ dipahami dalam konteks pembacaan (konstruksi) seseorang atas objek realitas itu dan realitas tak lebih daripada sebuah ‘tekstualitas’ yang menurut Jacques Derrida konstruksi dunia sosial dibentuk seperti teks, dalam arti bahwa interpretasi dunia merefleksikan konsep-konsep dan struktur bahasa, yang kemudian disebut Intertextual (Hadi, 2008 :244). Jadi semuanya tergantung cara pembacaan kita terhadap realitas, ia berlaku bagaimana kita memberi teks dan konteks dengan menyembunyikan ‘ketegangan kepentingan’ yang ada di baliknya.

Adapun kritik postmodernisme terhadap kaum neorealis adalah biasnya kaum strukturalis menyangkut teori. Struktur anarki sistem internasional yang diagung-agungkan oleh neorealisme memposisikan aktor-aktor individual sebagai realitas material yang ‘given’ dan tidak dapat diubah, sehingga satu-satunya jalan bagi mereka agar dapat bertahan adalah beradaptasi dengan lingkungan yang anarkis tersebut, dikarenakan struktur anarki ini akan berlaku selamanya. Aktor yang adapun seolah-olah hanya sekedar objek belaka yang diharuskan berpartisipasi dalam sistem dan struktur internasional yang ada. Menurut kaum postmodernis teori ini ahistoris dan dapat melahirkan pemikiran tentang masa depan yang tidak memiliki alternatif lain selain pilihan terpaksa antara lingkungan negara berdaulat dan anarki  (Hadi, 2008 :242). Bagaimanapun pemikiran seperti ini banyak dipengaruhi oleh perspektif Genealogi, yang sederhananya adalah suatu jenis pemikiran historis yang mengungkap dan mencatat signifikansi dalam relasi kekuasaan-pengetahuan  (Burchiil & Linklater, 2009 :247) oleh sebab itu genealogi tidak berkaitan dengan kesadaran, persepsi, pandangan, perspektif, paradigma, ideologi, melainkan berkaitan erat dengan taktik dan strategi kekuasaan yang menyebar melalui penanaman, distribusi, pembatasan, dan pengontrolan terhadap ruang imajinatif pembaca dan teritori. Selama ini mungkin neorealis menganggap dirinya bebas nilai, netral, praktis-operasional dan ilmiah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa para teoritisi neorealisme dan karya-karya HI sebagian besar ditentukan oleh tempat mereka tinggal, sehingga para pengarang karya HI tidak berada dalam ruang hampa dalam membaca dan mendefinisikan politik internasional, melainkan menempati ruang wacana Eropa dan tradisi Barat. Oleh sebab itu tradisi pemikiran Hubungan Internasional modern (terutama neorealisme) yang kita pelajari selama ini merupakan representasi dari kuasa modern (Barat) yang sudah mengontrol, menguasai, dan menanamkan wacananya bagi pengetahuan kita. Atau yang saya pahami adalah bahwa struktur anarki yang saat ini dikuasai Barat tidak dapat diubah.

Seperti struktur anarki yang terjadi saat ini, diplomasi pun banyak didominasi oleh Barat. Dengan menggunakan perspektif genelogi juga, muncul pertanyaan tentang silsilah diplomasi yang diajukan oleh kaum postmodernis, yang selama ini diabaikan oleh sarjana realis, termasuk pertanyaan tentang bagaimana budaya diplomasi barat telah dibentuk dan kemudian dijadikan proyek yang bersifat universal dan dapat diterapkan tanpa perlu diragukan lagi dalam seperempat abad terakhir di abad ke20 ini. Menurut postmodernis diplomasi hanya semakin membatasi ruang gerak manusia, para presiden yang melakukan diplomasi tidak boleh melakuakan atau memakai sesuatu yang khas dirinya sendiri misalkan makan pakai tangan alih-alih memakai sendok, garpu, pisau dll. Selain itu kritik kaum postmodernis juga dilancarkan pada konsep HI mengenai sovereignty, foreign policy, dan one world. Yang mereka tanyakan sekaligus kritisi adalah sejak kapan negara punya kekuasaan untuk mengatur manusia yang ingin bepergian keluar negeri ? kita adalah manusia bebas dan memegang kedaulatan penuh atas diri kita sendiri ; lalu foreign policy hanya merupakan bagian dari upaya negara untuk jadi penguasa ; dan dalam dunia ini tidak boleh ada sistem ekonomi yang seragam maupun sistem politik yang cuma satu, harusnya dunia ini dibiarkan terdiri dari many world yang mengakomodasi keberagaman nilai, norma sehingga terjadi partikularisasi dan keamanan karena segala kepentingan berjalan sendiri-sendiri (Mubah.2010). Karena itu kita harus dapat menghargai dan menerima keabsahan semua sudut pandang, entah itu tradisional, kontemporer, dikenal banyak orang, maupun asing. Semuanya dianggap memiliki perspektif masing-masing. Masing-masing melihat kebenaran berdasarkan cara pandang mereka sendiri, dan karenanya tidak perlulah kita mencari pandangan siapa lebih benar, atau bahkan yang paling benar. Semuanya dianggap benar dan sah.

Sources :

Burchiil, S., & Linklater, A. (2009). Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung : Nusamedia.

Hadi, S. (2008). Third Debate dan Kritik Positivisme Ilmu Hubungan Internasional . Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.

Jackson, R., & Sorensen, G. (2009). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mubah, A.S.(2010) ‘Postmodernisme, lecture notes distributed in the topic SOH201 Teori Hubungan Internasional.Airlangga University, Gedung A FISIP on 09 Juni 2010

Posted September 27, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: