Compellence, Deterrence, and Defense   Leave a comment

Compellence, Deterrence, and Defense

Berangkat dari asumsi bahwa setiap negara akan menggunakan pengaruhnya atau power yang mereka miliki untuk terus melakukan ekspansi atau melakukan segala cara untuk mencapai kepentingan nasionalnya, maka tentu dibutuhkan kondisi yang memungkinkan agar stabilitas dan keamanan internasional bisa tercapai. Lalu muncullah konsep balance of power atau perimbangan kekuasaan. Dimana menurut Theodore sistem ini beranggotakan setidaknya dua atau beberapa aktor utama, yang tidak ada satupun bisa mengungguli yang lain dan memiliki ideologi yang relatif sama dengan tujuan pemeliharaan ketertiban dan keamanan minimum, bukan perdamaian (Mas’oed, 1990, p. 132). Ketiga hal diatas, yaitu compellence, deterrence dan defense merupakan beberapa upaya yang dilakukan oleh aktor negara dalam menciptakan suatu keseimbangan kekuatan atau balance of power. Konsep compellence, deterrence dan defense ini merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dari Perang Dingin karena banyak digunakan oleh negara-negara pada saat itu.

Namun balance of power yang terjadi saat Perang Dingin merupakan keadaan yang serba tidak pasti sehingga negara-negara terus dihantui perasaan takut diserang oleh negara lain. Oleh karena itu menurut Thomas Schelling negara-negara berupaya untuk meningkatkan keamanan dirinya sendiri yang berdampak mengurangi keamanan negara lain (your security own my insecurity. My security is your insecurity) (Rudy, 2002:165). Dalam upayanya untuk memelihara keamanannya sendiri, sebuah negara dapat mengambil langkah langkah yang berdampak mengurangi keamanan negara lainnya dan pada gilirannya negara-negara ini akan mengambil langkah langkah tertentu yang telah diambil oleh negara pertama. Negara pertama kemudian akan merasa terancam dan terpaksa mengambil tindakan lanjut yang dapat memprovokasi tindakan balasan negara lain dan demikian seterusnya.

Yang dimaksud deterrence adalah  upaya penggetar, dengan kata lain penambahan kekuatan, atau pengembangan teknologi persenjataan baru, untuk mencegah dan menggetarkan lawan yang berniat untuk menyerang (melakukan agresi) Dalam buku Theodore A. Coulombis dan James H. Wolfe disebut bahwa Deterrence adalah suatu konsep yang memiliki arti khusus yang berasal dari daya hancur yang dimiliki senjata nuklir  (Couloumbis & Wolfe, 1978) contohnya tindakan negara AS dengan mengembangkan teknologi senjata nuklir untuk menggetarkan atau menghindarkan keinginan serta kemampuan lawan (terutama Uni Soviet) untuk menyerang AS. Tujuan dari strategi deterrence ini adalah untuk mencegah permusuhan secara terbuka, megatasi ancaman dari negara-negara lain serta melindungi negara mereka sendiri.

Thomas Schelling dalam bukunya, Arms and Influence (1966)  memperkenalkan konsep  compellence sebagai instrumen untuk menakuti dan memaksa lawan dengan kepemilikan atau penggunaan strategi senjata militer. Atau penggunaan doktrin strategi AS saat superioritas nuklir dimilikinya (www.theglobalpolitics.com). Dengan kata lain menggunakan nuklir untuk mempengaruhi negara lain. Dapat dicontohkan ketika Amerika Serikat memaksa negara lain untuk mematuhi keinginannya dengan ancaman jika tidak menurutinya maka negara tersebut akan diserang dengan senjata nuklir. Strategi compellance biasanya dilakukan oleh negara dengan power yang lebih kuat, terutama dalam hal persenjataan milliter. Tujuan strategi compellence adalah  untuk memaksa pihak lawan agar mengikuti kemauan negara yang lebih kuat dalam usaha untuk mencapai kepentingan-kepentingan nasional negara tersebut Compellance dapat pula disebut sebagai ’forceful persuasion’.

Sedangkan Defense secara konseptual berarti penjagaan atau pertahanan atau lebih jelasnya merupakan  usaha untuk mengurangi kemampuan pihak musuh untuk menghancurkan atau menguasai sesuatu dari pihak defender. Tujuannnya adalah untuk melawan pihak penyerang guna meminimalkan kerugian setelah deterrence gagal (www.globalpolitics.com). Contohnya adalah pada tahun 1983 ketika presiden AS Ronald Reagan mengusulkan pertahanan yang berlandaskan angkasa luar dalam melawan rudal balistik. Disebut Strategic Defense Initiative atau Star Wars. Dengan menggunakan teknologi canggih untuk menghentikan laju rudal nuklir di angkasa luar sehingga membuat senjata nuklir impoten dan ketinggalan jaman. Realis melihat konsep defense ini merupakan kebijakan yang rasional yang tentunya harus dikorelasikan dengan konteks situasi dan kondisi.  Sedangkan kaum Neo-Realis berasumsi bahwa Defense merupakan keterpaksaan karena lingkungan yang tidak memungkinkan. Jadi secara singkat defense merupakan konsep pertahanan diri untuk mengantisipasi ancaman dari luar.

Kesimpulan :

Sebuah negara akan berusaha dengan menggunakan cara apapun agar negaranya aman, ketiga konsep diatas yakni deterrence, compellence dan defense diperlukan dan digunakan oleh negara jika eksistensi dan kepentinganya terancam oleh negara lain (agresor). Ketiga konsep ini memang banyak digunakan terutama saat terjadi Perang Dingin dan keberadaannya sangat penting dalam menjaga balance of power yang berlangsung pada saat itu.

Sources :

Couloumbis, T. A., & Wolfe, J. H. (1978). Introduction to International Relation : Power and Justice. Englewood Cliffs: Prentice Hall.

Mas’oed, M. (1990). Ilmu hubungan internasional : disiplin dan metodologi. Jakarta: LP3ES.

Rudy, T. M. (2002). Studi Strategis Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin. Bandung: Refika Aditama.

Setiawan, A. (2008, Oktober 21). Doktrin Strategi Perang Dingin dan Sesudahnya. Retrieved April 19, 2010, from The Global Politics : theory, analysis, opinion of International Relation: http://www.theglobalpolitics.com

Posted September 27, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: