Archive for the ‘Bisnis Internasional’ Category

Perilaku Etis dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan   Leave a comment

Dalam kehidupan bermasyarakat, walaupun betapa kecil populasinya tentu setidaknya kelompok tersebut memiliki nilai-nilai etika yang dijunjung bersama sehingga dapat meminimalisasi timbulnya konflik atau mencengah salah satu pihak mengalami kerugian. Begitupula dalam suatu bisnis, perusahan dalam menjalankan operasinya juga harus memperharikan etika yang berlaku karena etika secara langsung ataupun tidak langsung berpengaruh penting pada pandangan masyarakat mengenai citra perusahaan yang memproduksi produk-produk yang mereka kenali. Dias dan Shah, (2009:110) mendefinisikan etika sebagai pemahaman standar-standar perilaku moral yang diterima oleh masyarakat yang kemudian dinilai benar atau salah. Etika ini biasanya bersumber dari agama atau budaya Perbedaan antara etika dan hukum adalah dari segi ilegal atau tidaknya suatu perbuatan. Secara umum, sesuatu yang ilegal adalah juga merupakan sesuatu yang tidak etis, namun sesuatu yang tidak etis belum tentu ilegal. Contoh mencuri uang perusahaan adalah tindakan yang ilegal sekaligus tidak etis, dan patut dikenakan sanksi hukuman. Namun perbuatan membicarakan (baca: menggosipkan) pekerja lain dibelakangnya adalah hal yang tidak etis namun bukan hal yang ilegal (Dias & Shah, 2009:112). Etika dalam bisnis internasional dibagi menjadi dua yakni etika personal dan etika perusahaan.
Dalam etika personal ada lima pendekatan utama yang dapat membantu seseorang untuk membuat keputusan yang benar baik secara hukum maupun etika. Pendekatan yang pertama adalah Utilitarian atau manfaat yang berasumsi bahwa tindakan yang diambil haruslah memberikan apa yang terbaik bagi lingkungan dan diri sendiri. Kedua the rights approach yang menekankan bahwa tindakan etis adalah ketika seseorang bisa menjaga sikap dan respek terhadap hak-hak orang lain. Ketiga adalah pendekatan the fairness or justice approach yang mentyatakan bahwa tindakan etis akam membuat manusia pada posisi yang sama atau tidak sama sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Contoh perusahaan memberikan gaji pada tiap karyawannya yang jumlahnya tidaklah sama disesuaikan dengan jabatan, jenis pekerjaan, ataupun kontribusi mereka terhadap perusahaan. Yang keempat adalah pendekatan the common good approach yang merujuk pada hubungan yang terjadi dalam masyarakat yang berbasiskan pada etika rasional dan rasa respect atau saling menghormati dan rasa belas kasih terhadap satu sama lain. Kemudian pendekatan yang terakhir adalah the virtue approach yang menyatakan bahwa tindakan etis setidaknya harus bersifat konsisten dengan kebaikan ideal yang dapat mengembangkan rasa kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat (Dias & Shah, 2009: 114).
Selain manusia secara personal, perusahaan juga memiliki nilai-nilai etik tertentu yang harus ditaati yang dikodifikasikan secara formal dalam bentuk kode etik dan harus dijalankan oleh seluruh pekerjanya. Ada dua kategori kode etik perusahaan yaitu kode etik berbasis kerelaan dan kode etik berbasis integritas. Kode etik berbasis kerelaan menekankan pengenaan hukuman bagi para pelanggarnya dan meningkatkan kontrol untuk pemenuhan bagi setiap kewajiban. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dominasi penentuan keputusan, pelanggaran atau nilai benar salahnya oleh seorang saja secara khusus. Metode yang digunakan dalam penerapan kode etik ini adalah dengan meningkatkan kontrol, pendidikan, penalti, dan sebagainya. Sedangkan kode etik berbasis integritas lebih menekankan pada menetukan nilai-nilai tertentu dalam perusahaan agar mendukung terpenuhinya sikap-sikap etis tertentu. Sehingga kode etik ini terwujud baik berdasarkan standar umum seperti kode etik berbasis kerelaan juga ada kode etik standar internal tersendiri yang diciptakan. Namun keputusan tertinggi dipegang oleh manajer dengan bantuan pengacara, dan metode penerapannya dengan pelatian kepemimpinan, proses pengambilan keputusan, pendidikan, dan sebagainya (Dias & Shah, 2009: 116).
Selain menerapkan perilaku etis dalam bisnisnya, ada kegiatan salah satu kegiatan yang perlu dan penting untuk dilakukan perusahaan agar bisa meningkatkan nilai tambah dan citranya dalam masyarakat adalah dengan melakukan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu kepedulian bisnis kepada kesejahteraan masyarakat sekitar (Dias & Shah, 2009: 118). Tanggung jawab perusahaan menyangkut semua hal yang dilakukan perusahaan yang berhubungan dengan masyarakat mulai merekrut karyawan dari kelompok minoritas, menghemat energi, meminimalkan polusi dan sebagainya. Salah satu fungsi dari CSR ini adalah untuk menilai kerja sosial perusahaan yang dapat dilihat berdasarkan tiga kategori, yaitu kedermawanan perusahaan, tanggung jawab perusahaan, dan kebijakan perusahaan (Dias & Shah, 2009: 118). Kedermawanan perusahaan dapat berupa bantuan atau sumbangan sukarela yang diberikan pada kelompok-kelompok non-profit tertentu. Program ini ada yang merupakan program tetap perusahaan dan dapat dilakukan perusahaan besar maupun kecil. Dan dalam rangka menciptakan citra yang baik dengan melakukan CSR perusahaan biasanya akan menerbitkan laporan kegiatan sosialnya secara berkala kepada publik untuk. Namun untuk memberitakan kegiatan sosialnya, perusahaan harus bisa mengukur kontribusi positifnya terhadap mayarakat dan mengurangi dampak sosial negatifnya dengan menggunakan audit sosial. Audit sosial adalah evaluasi sistematik dari perkembangan masyarakat untuk mengimplementasi program tanggung jawab sosialnya dan biasanya meski dimulai oleh perusahaan namun ditangani oleh pihak luar yang ahli di bidangnya. Selain menggunakan audit sosial, biasanya ada pula kelompok-kelompok yang pekerjaannya memang mengawasi bagaimana perusahaan melaksanakan tanggung jawab sosialnya dan berlaku etis, yaitu investor yang peduli terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan, pecinta lingkungan, kelompok pekerja, dan pelanggan (Dias & Shah, 2009: 127-8).
Salah satu perbuatan etis yang paling mendasar dan minimal untuk dilakukan oleh perusahaan adalah memenuhi tanggung jawabnya pada pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut atau stakeholder yaitu meliputi pelanggan, investor, karyawan, masyarakat dan lingkungan (Dias & Shah, 2009: 122-7). Tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan yang paling penting adalah memuaskan pelanggan dengan produk dan jasanya yang berkualitas, caranya adalah dengan jujur kepada pelanggan mengenai produk yang mereka miliki dan tidak berlebihan dalam meng-iklankan produknya (baca: iklan bohong dan tidak sesuai kenyataan produk) serta dapat dipercaya. Tanggung jawab kedua adalah kepada investor dimana perusahaan harus berusaha sedemikian mungkin untuk selalu meningkatkan kekayaan investor yang telah memberikan dananya agar perusahaan tersebut bisa beroperasi dan jujur mengenai kondisi keuangan perusahaan kepada investor. Hal ini perlu dilakukan agar investor tetap mau bekerjasama dengan perusahaan. Tanggung jawab ketiga adalah kepada karyawan, diantaranya adalah tanggung jawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan menghargai karyawannya dengan perlakuan yang adil. Penghargaan ini salah satunya adalah dengan pemberian kompensasi dan membayar karyawannya dengan seharusnya. Dan tanggung jawab terakhir adalah kepada masyarakat dan lingkungan sekitar, yaitu menciptakan kesejahteraan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka tanggung jawab terhadap masyarakat adalah dengan mempromosikan keadilan sosial, donasi-donasi, berusaha melakukan bisnis tanpa membahayakan lingkungan, dan sebagainya.
Dewasa ini, tanggung jawab sosial dan perilaku etis perusahaan tidak hanya ditujukan pada lingkungan sekitar saja, namun juga kepada dunia global dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia mengingat banyak perusahaan yang berskala global (Multinational Corporation) dan hubungan bisnis dapat dijalankan semudah kita menggeser jari. Standar etis semakin hari semakin tinggi dan pelanggan tidak hanya menginginkan hal itu datang dari perusahaan di sekitar mereka saja, tapi juga perusahaan internasional lain yang mendistribusikan barangnya ke negara mereka agar perusahaan tersebut berkomitmen pada hal-hal yang melestarikan kehidupan manusia. Standar-standar tertentu juga tidak jarang ditetapkan oleh pemerintah kepada perusahaan asing yang ada di negaranya atau produknya akan diimporkan ke negaranya.
Namun yang perlu diingat menurut penulis adalah bahwa ketika banyak perusahaan internasional masuk pada suatu negara, ia seringkali disalahkan atas beberapa masalah sosial yang terjadi, padahal perusahaan disini hadir bukan untuk merusak lingkungan atau membuat para pengusaha kelas bawah menjadi gulung tikar, ia secara sederhananya ada hanya untuk merespon dan menghadirkan barang atau jasa yang orang inginkan, dengan cara itulah mereka (perusahaan) mendapatkan keuntungan. Jadi disini misi dan tujuan utama dari suatu perusahaan adalah bisnis pembuatan uang, dan selalu mengejar pada keuntungan, bukan suatu badan amal yang bertugas mengentaskan kemiskinan atau meningkatkan pendidikan (Stiglitz, 2006 : 189).. Dan dalam usaha meningkatkan profit-nya tersebut perusahaan multinasional telah banyak membawa kemajuan bagi beberapa negara berkembang seperti; membantu barang-barang dari negara berkembang untuk mencapai pasar negara-negara maju, transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang, menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan standar hidup di negara berkembang dan lain sebagainya. Dan tentunya jika ingin globalisasi berjalan maka perusahaan multinasional sangat penting keberadaannya

Referensi :
Dias, Laura dan Shah, Amit. 2009. ‘Demonstrating Ethical Behavior and Social Responsibility’ dalam Introduction to Business. New York: McGraw-Hill.
Stiglitz, J. (2006). Chapter 7 The Multinational Corporation. Dalam MAKING GLOBALIZATION WORK (hal. 187-210). New York: W W. Norton & Company, Inc. [Diunduh dari http://library.nu/docs/4HYOVEM3B1/Making%20Globalization%20Work pada 05 ‎Juni ‎2011, ‏‎21:53:30

Posted Januari 25, 2012 by moze in Bisnis Internasional

Tagged with , , ,

Pemasaran : Tempat dan Promosi   Leave a comment

Dalam marketing mix ada empat proses yang turut mempengaruhi kesuksesan suatu bisnis internasional, hal-hal tersebut adalah penentuan product, price, place dan promotion. Dalam jurnal kali ini penulis akan lebih membahas pada dua elemen terakhir yakni tempat atau place dan promosi. Tempat disini memiliki makna proses fisik dalam mendistribusikan produk dan stategi yang dipakai dalam distribusi tersebut. Dengan kata lain yang dimaksud place dalam dunia marketing adalah penentuan dan penempatan lokasi dimana produk tersebut akan dijual. Sementara promosi lebih berhubungan dengan iklan, strategi bagaimana menjual produk secara langsung kepada konsumen, public relation dan penjualan secara personal.
A. Tempat (Place)
Agar suatu produk bisa sampai dari produsen ke tangan konsumen akhir, maka suatu produk tersebut harus melewati suatu rantai distribusi atau perantara. Perantara pemasaran dalam bisnis internasional dapat dibagi menjadi tiga yakni pedagang grosir (merchant wholesaler), agen dan broker, serta retailer. Merchant wholesalers adalah perusahaan grosir independen yang memakai nama dari produk yang mereka tangani (Dias & Shah. 2009: 319). Merchant wholesaler ini dibagi lagi menjadi dua tipe yakni yang bersifat full-service yaitu pedagang grosir yang melakukan semua fungsi distribusinya dan limited function bagi pedagang grosir yang hanya melakukan beberapa fungsi distribusi seperti rack jobbers yang tugasnya hanya menyediakan semua barang dagangan dan berbagi untung dengan pengecer. Lalu tipe cash-and-carry yang melayani hampir semua pengecer yang lebih kecil namun dengan macam-macam produk yang terbatas. Dan terakhir tipe drop shippers dimana ia hanya mengumpulkan pesanan dari retailer dan pedagang grosir lainnya. Kemudian tipe perantara pemasaran yang kedua yakni agen dan broker yang mana tugas keduanya hanyalah mempertemukan antara penjual dan pembeli untuk bernegosiasi dan mereka tidak memiliki produk sendiri. Perbedaan diantara keduanya adalah hubungan yang dijalankan antara agen dan produsen lebih bersifat jangka panjang. Lalu tipe perantantara pemasan yang terakhir adalah retail intermediaries atau pengecer, mereka itu adalah pihak yang membawa produk barang maupun jasa kepada konsumen final untuk dikonsumsi (Dias & Shah. 2009: 322-323).
Kemudian masalah yang juga berkaitan dengan tempat adalah tentang bagaimana cara untuk memindahkan barang atau jasa dari satu kota ke kota lainnya atau dari satu negara ke negara lainnya secara efektif dan efisien sehingga perusahaan dapat memperoleh competitive advantages mereka seperti harga yang lebih murah dan pengiriman yang cepat sehingga dapat mendongkrak kepuasan konsumen. Untuk tujuan itulah maka perusahaan memakai supply chain management yaitu pengaturan proses pemindahan barang dan jasa satu tempat ke tempat lainnya. Ia terdiri dari supplier, manufacture, wholesaler, retailer dan konsumen. Sedangkan logistik yang nantinya akan mengatur supply chain dan segala proses yang menyertainya. Logistik disini termasuk rencana, implementasi dan kontrol terhadap aliran materi, barang serta informasi yang berkaitan dengan poin asal barang dan poin dimana barang tersebut akan dikonsumsi (Dias & Shah. 2009: 324).
Pembahasan selanjutnya adalah tentang retailing atau menjual eceran. Seorang retailer adalah perantara marketing yang menjual kepada konsumen akhir. Mengingat begitu banyaknya pengecer, maka untuk mendapatkan konsumen yang banyak pula, maka para pengecer tersebut harus berkompetisi dengan pengecer lainnya. Ada lima cara yang dapat dipakai oleh pengecer agar mendapatkan pelanggan yaitu dengan kompetisi harga, pelayanan, lokasi, pemilihan dan hiburan. Berkaitan dengan distribusi maka pengecer dikategorikan menjadi tiga, hal ini dikarenakan perbedaan produk menyebabkan perbedaan strategi distribusi yang harus dilakukan. Pertama adalah distribusi intensiv dimana sebisa mungkin menaruh sebanyak-banyaknya produk di pengecer. Kedua, distribusi selektif yang menaruh produk hanya kepada pengecer yang lebih disukai dalam satu area. Dan ketiga distribusi eksklusif yang hanya mengirim produk kepada satu pengecer dalam satu area geografis. Diluar tiga pengecer diatas, masih ada lagi tipe-tipe pengecer lain yang bermunculan ketika ia didukung oleh perkembangan teknologi seperti pengecer melalui internet, telemarketing, vending, dan direct selling atau door to door (Dias & Shah. 2009: 325-333).
B. Promosi
Secara sederhana promosi adalah usaha yang dilakukan oleh seorang pemasar (marketers) untuk menginformasikan dan mengingatkan orang-orang yang menjadi target pasarnya tentang produk mereka disertai dengan bujukan agar mereka mau membeli produk-produk tertentu. Yang menjadi fokus utama dalam promosi adalah bagaimana cara memilih metode komunikasi yang tepat serta desain pesan yang menarik agar apa yang ingin mereka sampaikan dapat dipahami dengan baik serta dapat mempengaruhi target pasar tersebut. Untuk itu seorang pemasar dapat menggunakan alat-alat seperti iklan, penjualan personal, public relation dan sales promotion. Kombinasi dari alat-alat promosi diatas disebut promotion mix (Dias & Shah. 2009: 334).
Iklan adalah komunikasi nonpersonal melalui berbagai macam media menggunakan organisasi atau individu yang dengan cara-cara tertentu mereka menyampaikan pesan dari pemasar dan sifatnya dibayar. Media yang paling efektif dalam promosi adalah televisi. Kemudian penjualan secara personal adalah presentasi face to face dan promosi barang dan jasa. Tahap tahap untuk melakukan penjualan personal adalah 1) identifikasi prospek dan kualifikasi pemenuhan syarat calon pembeli, 2) preapproach dengan mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh calon pembeli, 3) pendekatan, 4) membuat presentasi, 5) menjawab tujuan dan keberatan calon pembeli, 6) menutup penjualan dengan menanyakan komitmen konsumen untuk membeli, 7) follow up dan pemeliharaan hubungan. Lalu metode yang ketiga adalah public relation yang merupakan suatu fungsi manajemen yang mengevaluasi perilaku publik, perubahan kebijakan dan prosedur yang sesuai, serta melaksanakan program aksi dan informasi untuk mendapatkan pemahaman dan penerimaan dari masyarakat. Publisitas adalah tiap informasi mengenai individu, produk atau organisasi yang didistribusikan ke publik melalui media dan sifatnya tidak dibayar atau dikontrol oleh penjual. Selanjutnya metode yang terakhir adalah promosi dengan cara sales promotion atau menstimulasi konsumen untuk membeli dengan menggunakan serta melibatkan cara dan aktivitas yang dilaksanakan dalam waktu singkat (Dias & Shah. 2009: 334-344), contoh produk kecantikan yang mendatangi tempat-tempat umum dan menawarkan pemerikasaan kulit dan facial secara gratis jika konsumen mau membeli produk mereka.
Selain empat metode yang telah dijelaskan diatas, ada dua tipe promosi lainnya yaitu viral marketing dan word-of-mouth promotion. Viral marketing adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan aktivitas promosi yang dilakukan dengancara membayar orang untuk mengatakan hal yang positif di internet terkait dengan produk-produk tertentu, cara ini disetel degan skema multilevel dimana konsumen dapat memperoleh komisi jika berhasil mengarahkan teman-temannya atau orang lain untuk mengunjung website tertentu. Sedangkan word-of-mouth promotion adalah promosi yang dilakukan dengan melibatkan orang-orang untuk memberi tahu orang lainnya bahwa mereka telah membeli produk tertentu. Atau istilah sederhananya adalah promosi ‘dari mulut ke mulut’ (Dias & Shah. 2009: 346).
Selain empat undur promosi diatas yang dikenal dengan promotion mix, dalam dunia promosi saat ini ada istilah yang tidak kalah menarik yaitu integrated marketing communication (IMC) yaitu ‘way of thinking’ tentang promosi yang mengkombinasikan semua alat-alat promosi dan lain sebagainya dalam satu kesatuan strategi promosi yang komprehensif dan terpadu. Dalam IMC yang terjadi adalah semua area promosi menawarkan pesan yang sama kepada konsumen. Dimana perusahaan disini berusaha untuk memastikan letterhead, logo, dan warna penanda agar dapat mencerminkan iklan-iklan yang konsisten dan mendukung dan menyatukan tema bauran promosi. IMC ini diterapkan berdasarkan pertimbangan bahwa seringkali kurangnya koordinasi antara perusahaan iklan dan perusahaan dapat menyebabkan adanya inkonsistensi pesan yang disampaikan kepada konsumen. IMC biasanya digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan brand image yang positif dan untuk mempertemukan antara strategi pemasaran dan tujuan promosi dari perusahaan tersebut. IMC ini pertama-tama dapat dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan data tentang kebutuhan dari pelanggan dan stakeholder. Data tersebut kemuadian diolah untuk melihat gambaran luas dari sasaran pasar mereka dan hal tersebut tentu akan membuat tim promosi memahami apa yang harus mereka lakukan agar pesan mereka tersampaikan dengan baik dan benar serta menarik bagi konsumen (Dias & Shah. 2009: 349).

Referensi :
Dias, Laura Portolese & Shah, Amit. J. 2009. Marketing : Place and Promotion, dalam Introduction to Business. New York : McGraw-Hill.

Pemasaran : Penentuan Produk dan Harga   Leave a comment

Dalam dunia bisnis ada istilah mengenai marketing mix atau bauran pemasaran yang secara mudahnya penulis pahami sebagai strategi penggabungan dari produk, harga, tempat dan promosi (4P: Product, Price, Place and Promotion) untuk mempengaruhi keputusan kondumen agar membeli suatu produk tertentu. Dalam jurnal kali ini penulis akan mencoba membahas mengenai dua hal pertama dari bauran pemasaran yakni produk dan harga, namun sebelum membahas pokok permasalah, maka ada langkah awal dari pemasaran yang harus dilakukan oleh setiap manajer yakni melakukan segmentasi pasar dan analisi perilaku konsumen. Segmentasi pasar adalah proses pembagian keseluruhan pasar ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama (Dias & Shah, 2009: 286). Pembagian kelompok sendiri dapat dilakukan menurut geografi, demografi, psikografi, keuntungan, dan segmentasi volume. Proses ini dilanjutkan dengan targeting yaitu perusahaan akan menentukan kelompok mana yang akan dijadikan fokusnya untuk dilayani dan pengembangan seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan kelompok tersebut. Setelah menentukan pasar mana yang akan dia layani, maka perusahaan akan mempelajari perilaku orang-orang yang menjadi sasaran pasarnya tersebut dan hal-hal yang akan mempengaruhi penjualan produk mereka dalam segmen pasar tersebut seperti pengaruh psikologi, pengaruh kondisi, dan pengaruh budaya sosial (Dias & Shah, 2009: 290-1). Selain pemasaran kepada konsumen langsung, terdapat segmen pasar lain dari sebuah perusahaan yaitu perusahaan atau bisnis yang membutuhkan barang setengah jadi sebelum sampai ke tangan konsumen akhir seperti perusahaan manufaktur, retail, pemerintah, dan sebagainya.
Setelah dua hal diatas dilakukan, maka perusahaan dapat melakukan marketing mixnya, yang pertama adalah produk, dimana ia merupakan bagian inti dari kegiatan pemasaran. Apa yang diterima oleh konsumen sebagai barang jadi dan merupakan hasil akhir dari proses produksi disebut produk jadi. Produk jadi yang ditawarkan untuk dibeli ini tidak hanya meliputi barang hasil produksi, tapi termasuk juga hal-hal lain yang bisa jadi nyata dan tidak. Dan pembeli cenderung mempertimbangkan hal-hal tersebut ketika akan membeli barang seperti, harga, merk, kemasan, toko penjualan, pelayanan, pengalaman terdahulu konsumen, jaminan, kecepatan pengiriman, gambaran mengenai produk dari iklan, reputasi perusahaan, dan sebagainya (Dias & Shah, 2009: 295).
Untuk mengetahui keinginan konsumen dan pertimbangan serta keputusan apa saja yang harus dibuatnya, maka perusahaan perlu untuk melakukan penelitian yang ditujukan kepada segmen pasarnya dan juga kepada stakeholder lain seperti media, pegawai, pemerintah, dan sebagainya. Analisis pasar ini merupakan analisis yang bertujuan untuk menentukan keunggulan dan tantangan serta informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan pemasaran yang baik (Dias & Shah, 2009: 296). Contohnya adalah penelitian mengenai tren busana dan make up yang sedang populer saat ini. Penelitian perusahaan ini dilakukan dalam kerangka utma yakni secara kuantitatif dan kualitatif. Dan dapat dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan sendiri maupun data sekunder yang sudah dikumpulkan pihak lain seperti pemerintah. Hasil dari penelitian tidak hanya dapat diterapkan ke satu produk saja, namun bisa diterapkan ke beberapa produk yang mirip. Saat perusahaan telah mengerti keinginan konsumen, perusahaan akan melakukan pengembangan produk. Proses ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu pengumpulan ide, penyaringan produk, analisis produk, pengembangan, percobaan, dan komersialisasi (Dias & Shah, 2009: 302).
Ketika perusahaan telah menemukan ide ‘produk’ yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen, maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah membuat diferensiasi produk, atau dengan kata lain membuat produk mereka menjadi produk yang spesial dan berbeda dari produk keluaran kompetitior, meskipun pada dasarnya produk yang mereka keluarkan adalah jenis produk yang mirip (Dias & Shah, 2009: 298). Contohnya adalah sabun, dimana masing-masing merk mengusung tema-tema tersendiri yang berbeda. Untuk menentukan diferensasi produk, pertama-tama perusahaan harus mengklasifikasikan barang-barang yang dibeli oleh konsumen. Barang-barang ini terbagi ke dalam empat kategori. Yang pertama adalah barang & jasa konsumen, merupakan barang yang ingin dibeli oleh konsumen secara berkala dengan usaha seminimal mungkin seperti permen, susu, dan cemilan. Barang jenis ini membutuhkan diferensiasi berupa penempatan lokasi dan merk. Kedua adalah barang & jasa belanja, yaitu barang yang dibeli setelah membandingkan nilai, kualitas, harga, dan model dari berbagai merk. Model deferensiasi yang dapat dilakukan dalam barang ini adalah dengan menekankan pada harga dan kualitas. Selanjutnya adalah barang & jasa spesial yaitu barang dan jasa dengan karekteristik dan identitas merk seperti baju koleksi butik ternama atau terkenal. Dan yang keempat adalah barang & jasa yang tak terduga, merupakan jenis barang dan jasa yang tidak dipedulikan dan dibeli oleh konsumen secara berkala namun ia tiba-tiba diperlukan untuk menyelesaikan masalah tak terduga seperti dokter dan bengkel. Dalam hal ini harga tidak menjadi faktor diferensiasi yang penting namun periklanan dimana orang akan selalu mengingatnya merupakan kuncinya (Dias & Shah, 2009: 298-300).
Selain diffrensiasi produk, hal penting lainnya dalam masalah produk adalah menentukan kemasan dan pemberian nama produk atau merk. Kemasan disini merupakan hal yang sangat penting mengingat kemasan merupakan hal pertama yang akan dilihat oleh konsumen saat barang dijajarkan dengan barang lain dalam toko. Masalah penting yang harus ada dan diselesaikan oleh kemasan adalah ia harus melindungi isi produk, mudah dibuka, menarik perhatian, memberikan informasi produk, menjelaskan keuntungan produk, memberikan peringatan jika ada, memberi indikasi harga, nilai, dan kegunaan, serta memberi info mengenai berat barang. Pemberian nama produk atau merk disini bisa berupa nama atau simbol yang bisa membedakan produk dari perusahaan lain serta tidak bertentangan dengan kualitas dan gambaran yang ada di benak konsumen (Dias & Shah, 2009: 300).
Dimensi kedua dari bauran pemasaran adalah menentukan harga, penentuan harga suatu produk notabene merupakan hal yang relatif sulit dikarenakan harga akan merefleksikan kualitas, nama, dan gambaran mengenai produk, sehingga ia harus cukup tinggi untuk menciptakan keuntungan, namun cukup rendah sehingga orang mau membelinya. Harga produk biasanya ditetapkan dengan strategi tertentu yang umumnya lebih mengutamakan tujuan jangka panjang dan ia juga dipengaruhi oleh beberapa hal seperti disain produk, kemasan, nama, distribusi, dan promosi. Dalam menentukan harga suatu produk, perusahaan memiliki beberapa tujuan yang harus terpenuhi yaitu memenuhi target pengembalian untuk investasi atau keuntungan, membangun basis konsumen, memperoleh pasar yang lebih luas, menciptakan gambaran tertentu, dan mencapai tujuan sosial (Dias & Shah, 2009: 302-3). Oleh karena itu satu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa harga tidak selalu merefleksikan biaya produksi suatu produk. Harga produk yang tinggi dan mahal tidak selalu dikarenakan biaya pembuatannya yang mahal, namun ada banyak hal lain juga yang mempengaruhi harga.
Untuk menentukan harga suatu produk, maka perusahaan dapat menggunakan beberapa strategi berikut ini. Pertama menentukan harga produk berdasarkan pertimbangan umur atau masa produk. Asumsinya adalah bahwa setiap produk akan mengalami masa pengenalan, pertumbuhan, kemapanan, lalu penurunan pada keuntungannya. Sehingga semakin lama produk bertahan sebelum jatuh, semakin besar keuntungan didapat. Lamanya masa ini ditentukan oleh permintaan, semakin banyak permintaah maka masa hidup produk akan semakin lama. Harga kemudian disesuaikan dengan permintaan, semakin tinggi permintaan maka semakin mahal harganya. Selain itu produk dengan masa yang pendek-pun dapat memahalkan harganya dengan pertimbangan waktu yang hanya sedikit untuk membuat keuntungan (Dias & Shah, 2009: 305). Namun pada kenyataannya ada beberapa barang yang tidak mengalami siklus fase ini dan beberapa barang yang diantaranya mengalaminya pergantian fase dengan cepat contohnya pakaian dan alat teknologi. Strategi kedua yang dapat digunakan adalah dengan pemberian harga berdasarkan biaya produksi dan margin untuk keuntungan (Dias & Shah, 2009: 306). Kelemahan dari cara ini adalah lama-kelamaan harga yang terbentuk dari biaya produksi tersebut akan sulit memuaskan pasar dan selanjutnya pasarlah yang menentukan harga, bukan lagi produsen. Oleh karena itu sebaiknya harga tidak hanya didasarkan pada biaya produksi, tapi juga mempertimbangkan harga perkiraan untuk produk di masa selanjutnya dan harga kompetitor lainnya. Strategi selanjutnya adalah kebalikan dari strategi diatas, dimana penentuan harga berdasarkan target perusahaan atau dengan kata lain perusahaan lebih dahulu mematok harga untuk sebuah produk kemudian produk dibuat berdasarkan harga tersebut sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan yang diingikan. Target ini biasanya ditetapkan sebesar angka yang dibutuhkan perusahaan untuk pengembangan produk selanjutnya (Dias & Shah, 2009: 307).
Strategi keempat adalah berdasarkan asumsi bahwa dalam dunia bisnis selalu akan ada satu perusahaan yang secara tidak langsung menetukan standar harga yang akan diikuti oleh perusahaan lainnya sehingga dalam hal ini pemberian harga berdasarkan kompetitor. Harga disesuaikan dengan harga kompetitor, bisa di atasnya, sama, atau di bawahnya berdasarkan pelanggan setia, diferensiasi produk, dan keadaan kompetitor (Dias & Shah, 2009: 307). Kemudian adalah penetapan harga dengan menggunakan analisis persamaan break-even yaitu menetapkan harga dengan menentukan berapa banyak produk yang akan dijual sehingga mendapatkan keuntungan, caranya adalah dengan membagi biaya produksi keseluruhan dengan harga satu produk dikurangi biaya per produk (Dias & Shah, 2009: 308). Strategi keenam adalah strategi skimming yaitu perusahaan memberikan harga yang tinggi kepada produk baru agar keuntungan yang didapat bisa maksimal, hal ini biasanya dilakukan ketika produk tersebut tidak memiliki atau sepi kompetitor. Lalu strategi yang juga dapat digunakan (terutama oleh follower) adalah dengan ‘penetrasi’ yaitu pemberian harga rendah untuk menarik pelanggan dan membuat kompetitor juga merendahkan harganya. Selanjutnya adalah strategi kedelapan yakni EDLP (everyday low pricing) yaitu dengan menetapkan harga yang tinggi sehingga saat ada diskon akan lebih banyak pembeli yang tertarik. Ada pula strategi bundling dengan menyatukan beberapa produk dan menghargainya secara bersamaan sehingga orang akan membeli lebih karena akan lebih murah. Dan ada pula strategi psikologikal yaitu dengan menetapkan harga seolah-olah lebih murah dari harga aslinya (Dias & Shah, 2009: 309-11), contohnya Rp. 59.900 akan terlihat lebih murah daripada Rp. 60.000.

Referensi :
Dias, Laura Portolese dan Amit J. Shah. 2009. “Marketing: Product and Price” dalam Introduction to Business. New York : McGraw-Hill

Informasi Finansial dan Akuntansi   Leave a comment

Akuntansi adalah kegiatan mencatat, mengklasifikasi meringkas, dan menginterpretasi kegiatan dan transaksi finansial, dengan tujuan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen dan stakeholder lain untuk membuat suatu keputusan. Sedangkan yang dimaksud transaksi finansial adalah kegiatan seperti jual beli barang, membayar pekerja, membayar asuransi dan lain sebagainya. Setelah beberapa kegiatan itu dicatat maka akan dikelompokkan sesuai karakternya yang sama, misalnya penjualan barang. Metode untuk mencatat dan meringkas data akuntansi menjadi data disebut sistem akuntansi. Dapat dikatakan pula bahwa akuntasi merupakan ukuran dan laporan mengenai informasi finansial untuk berbagai pihak sesuai kegiatan ekonomi perusahaan karena laporan informasi finansial ini nantinya dapat berguna untuk orang-orang di luar perusahaan seperti pemilik, investor, pengredit, penyuplai, dan pemerintah. (Dias & Shah, 2009: 387).
Kegiatan akuntansi dibagi ke dalam lima area utama. Area pertama adalah manajerial dan finansial. Akuntansi manajerial digunakan untuk menyediakan informasi dan analisis bagi manajer di dalam organisasi untuk membantu mereka membuat keputusan, sedangkan akuntansi finansial adalah informasi secara umum yang diberikan untuk pihak di luar organisasi atau perusahaan. Pekerjaan yang dilakukan dalam akuntansi manajerial antara lain mengukur dan melaporkan biaya produksi, pemasaran, menyiapkan rencana anggaran, dan sebagainya. Sedangkan akuntansi finansial seringkali digunakan oleh pihak-pihak yang berhubungan dengan perusahaan dan ingin mengetahui keadaan perusahaan, contohnya pihak yang akan memberikan pinjaman akan ingin mengetahui apakah perusahaan memiliki keuntungan yang besar untuk dapat membayar tagihannya, dan sebagainya. Karena itu akuntani finansial memiliki tugas untuk membuat kaporan tahunan yang berisikan pernyataan keadaan finansial, kemajuan, dan harapan perusahaan (Dias & Shah, 2009: 388-389). Area kedua adalah audit, yaitu merupakan pekerjaan mengulas dan mengevaluasi catatan yang digunakan untuk menyiapkan laporan finansial perusahaan serta memastikan prosedur akuntansi dan pelaporan finansial selalu dilaksanakan (Dias & Shah, 2009: 389). Area ketiga adalah akuntansi pajak yaitu pekerjaan untuk menghitung pajak yang harus dibayar perusahaan serta menerapkan beberapa strategi untuk meminimalkan pajak yang harus dibayar perusahaan kepada pemerintah (Dias & Shah, 2009: 390). Area yang keempat dan kelima adalah akuntansi pemerintah dan non profit yaitu akuntansi yang digunakan perusahaan yang tidak mencari keuntungan namun melayani pihak-pihak sesuai dengan biaya yang seharusnya, dengan tujuan untuk memberikan infomasi pada beberapa pihak seperti kelompok kepentingan, legislatif, dan beberapa pihak lain bahwa pemerintah telah memenuhi kewajibannya dan menggunakan uang pajak dengan seharusnya. Atau informasi mengenai penggunaan terhadap uang amal dan sumbangan yang telah diberikan oleh para kontributor.
Untuk melakukan kegiatan akuntansi, maka ada setidaknya enam langkah yang harus dilewati oleh para akuntan agar tercipta satu laporan akhir. Langkah pertama adalah menganalisis dan mengategorikan dokumen. Kedua, yaitu memasukkan informasi ke dalam jurnal. Jurnal yang dimaksud adalah kumpulan catatan harian mengenai transaksi, inventaris, dan data lainnya sehingga dapat diketahui kronologis transaksi dalam waktu dan tempat tertentu (Dias & Shah, 2009: 391). Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh bookeeper yakni seorang yang hanya bertugas memasukkan data transaksi saja, bukan dilakukan oleh seorang akuntan. Langkah ketiga adalah data yang telah dimasukkan ke dalam jurnal tersebut dimasukkan secara ganda ke dalam jurnal dan buku kas induk dalam keadaan data sudah dikategorikan. Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan trial balance atau pemeriksaan saldo yaitu ringkasan segala data yang ada di dalam buku kas induk untuk memeriksa dan memastikan bahwa jumlah angka benar, seimbang, dan sesuai dengan saldo yang tertera di bank (Dias & Shah, 2009: 393). Langkah kelima adalah mempersiapkan laporan finansial yaitu ringkasan dari segala transaksi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Untuk menghitung laporan akhir ini maka dapat menggunakan persamaan fundamental akuntansi yakni, untuk menyatakan aset perusahaan maka jumlah aset perusahaan dikurangi jumlah hutang yang dimiliki perusahaan (Dias & Shah, 2009: 395). Dalam sebuah laporan finansial biasanya akan berisi beberapa hal, yaitu lembar saldo atau keadaan akhir yang melaporkan kondisi keuangan, apa yang dimiliki perusahaan, dan hutang perusahaan pada waktu yang spesifik; laporan pemasukan atau laporan keuntungan dan kerugian yaitu ringkasan pendapatan dan pengeluaran untuk jangka waktu tertentu serta keuntungan dan kerugian total perusahaan pada jangka waktu tersebut; serta laporan aliran keuangan yaitu ringkasan uang masuk dan keluar dari perusahaan. Dan langkah keenam dalam kegiatan akuntansi adalah mengevaluasi dan menganalisis laporan atau pernyataan finansial perusahaan tersebut serta kondisi umum keuangan perusahaan (Dias & Shah, 2009: 394). Oleh karena rumitnya kegiatan akuntansi, maka pembahasan mengenai langkah kelima dan keenam ini akan dibahas pada paragraf berikut ini
Dalam laporan finansial, lembar saldo disini berisikan tiga hal utama yang dihitung berdasarkan persamaan akuntansi yaitu aset, kepemilikan, dan hutang perusahaan (Dias & Shah, 2009: 396). Aset perusahaan yaitu jumlah dari kepemilikan dikurangi hutang perusahaan. Aset sendiri ada yang nampak seperti pabrik, gedung, dan sebagainya; dan ada yang tidak seperti paten, nilai merk, dan sebagainya. Aset perusahaan dapat digolongkan menjadi tiga macam berdasarkan kecepatannya untuk diubah dalam bentuk uang (likuiditasnya). Pertama, aset yang dapat ditukar dalam bentuk uang dalam jangka waktu kurang dari satu tahun seperti uang tunai, inventaris, dan sebagainya. Kedua, aset yang permanen dan sulit ditukar dalam bentuk uang seperti properti, pabrik, dan peralatan. Dan yang ketiga adalah aset jangka panjang yang tidak nyata tapi memiliki nilai yang tinggi seperti hak paten. Selain aset, yang juga wajib ada dalam lembar saldo adalah hutang. Hutang disini dapat digolongkan menjadi hutang jangka pendek yang harus terbayar kurang dari satu tahun dan hutang jangka panjang yang tidak harus terbayar dalam satu tahun. Dalam laporan pemasukan juga terdapat perhitungan tersendiri yakni, untuk menghitung keuntungan kotor adalah dengan pemasukan dikurangi harga barang yang terjual, dan untuk menghitung keuntungan bersih sebelum pajak adalah pendapatan kotor dikurangi biaya operasi, dan untuk menghitung keuntungan atau kerugian akhir adalah pemasukan bersih sebelum pajak dikurangi pajak (Dias & Shah, 2009: 401). Selain itu pemasukan bagi perusahaan tidak hanya datang dari penjualan produk, bisa juga datang dari sumber lain misalnya menyewakan asetnya atau pinjaman. Sedangkan dalam laporan aliran keuangan terdapat tiga kegiatan yang harus dimasukkan yakni biaya operasional perusahaan, investasi, dan pembayaran terhadap utang dan pinjaman. Perbedaan dari laporan ini dengan laporan pemasukan adalah laporan ini akan menunjukkan berapa banyak uang yang sedang berada di tangan perusahaan.
Setelah laporan akhir tersedia, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis laporan tersebut menggunakan analisis rasio. Analisis rasio adalah perkiraan kondisi dan performa keuangan perusahaan melalui metode perhitungan dan intepretasi dari rasio finansial yang dikembangkan oleh laporan finansial perusahaan (Dias & Shah, 2009: 407). Terdapat empat jenis rasio utama dalam bisnis yaitu rasio likuiditas, rasio hutang, rasio keuntungan, dan rasio aktivitas (Dias & Shah, 2009: 407). Rasio likuiditas adalah rasio yang menampilkan perbandingkan aset perusahaan yang likuiditasnya tinggi dengan hutang perusahaan yang harus dibayar dalam jangka waktu satu tahun. Jika angka rasio ini lebih dari 2 maka perusahaan dinyatakan aman dan dapat membayar hutangnya karena banyaknya aset yang dimiliki. Rasio kedua dalam likuiditas adalah rasio acid-test yaitu perbandingan antara uang tunai yang dimiliki perusahaan ditambah uang yang akan diterima perusahaan dalam jangka waktu pendek dan aset yang dapat dipasarkan seperti saham dibandingkan dengan hutang yang harus dibayar kurang dari satu tahun. Semakin tinggi angka rasio ini maka semakin banyak uang yang mengalir masuk ke dalam perusahaan. Tipe kedua adalah rasio hutang, yaitu rasio yang membandingkan antara hutang total perusahaan dibanding kepemilikan perusahaan, sehingga dapat digunakan untuk melihat sejauh mana perusahaan mengandalkan biaya pinjaman untuk operasi bisnisnya. Jika hasil rasio di atas 100% maka perusahaan memiliki lebih banyak hutang daripada kepemilikan dan sehingga beresiko tinggi bagi peminjam serta investor (Dias & Shah, 2009: 408). Tipe ketiga adalah rasio keuntungan yang terdiri dari tiga pembagian rasio lagi yakni, rasio keuntungan per saham yang membandingkan keuntungan bersih setelah pajak dengan jumlah saham; rasio keuntungan penjualan yaitu perbandingan keuntungan bersih dengan keuntungan penjualan; dan rasio keuntungan kepemilikan yaitu perbandingan keuntungan bersih setelah pajak dengan kepemilikan perusahaan total. Rasio keuntungan biasanya digunakan untuk menunjukkan performa manajemen perusahaan dan melihat seefektif apa perusahaan menggunakan sumber daya yang ada untuk meraih keuntungan(Dias & Shah, 2009: 409). Dan tipe terakhir adalah rasio aktvitas, yang di dalamnya termasuk rasio pergantian inventaris yang mengukur kecepatan perpindahan inventaris dalam perusahaan dan konversinya menjadi penjualan. Rasio ini dihitung dengan membandingkan harga produk yang terjual dengan rata-rata inventaris. Semakin tinggi angkanya maka berarti semakin cepat dan semakin banyak perusahaan menjual barangnya dalam kurun waktu tertentu (Dias & Shah, 2009: 411).
Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan diatas adalah bahwa kegiatan akuntansi merupakan kegiatan yang sangat krusial bagi semua organisasi terutama dalam dunia bisnis karena dengan akuntasi inilah dapat diperoleh informasi yang nantinya dapat digunakan baik bagi pihak yang menjalankan bisnis tersebut maupun bagi pihak di luar bisnis yang bersangkutan. Kegiatan akuntansi ada lima macam area yaitu akuntansi manajerial dan finansial, audit, akuntansi pajak, akuntansi pemerintah, dan akuntansi non profit. Dari kegiatan akuntasi dapat dihasilkan sebuah laporan akhir yang menunjukkan keadaan finanisal perusahaan. Dan untuk mendapatkan laporan akhir tersebut maka ada enam langkah yang harus dikerjakan yakni menganalisis sumber dokumen, mencatat transaksi dalam jurnal, memasukkan informasi ke dalam buku kas induk dan mengategorikannya, membuat pengujian saldo, menyiapkan laporan finansial, dan menganalisis laporan finansial. Dalam laporan finansial nantinya akan dicantumkan lembar saldo, keuntungan, dan aliran keuangan perusahaan kemudian laporan itu akan dianalisis dengan menggunakan rasio untuk mengetahui kondisi dan kemampuan perusahaan. Empat jenis rasio ini adalah rasio likuiditas, rasio hutang, rasio keuntungan, dan rasio aktivitas. Namun menurut penulis, terkadang ada beberapa perusahaan ‘nakal’ yang menggunakan strategi tertentu untuk memanipulasi laporan akuntansi finansial yang diberikan kepada pihak luar sebagai langkah untuk menarik investor dan mendapat kepercayaan dari pihak lain. Selain itu terkadang laporan finansial yang ada tidak bisa diakses oleh publik dan hanya ditujukan kepada pihak-pihak yang terlibat sehingga bagi akuntansi pemerintah hal itu tentu dapat mengarahkan pada tindakan korupsi, karena masyarakat tidak bida mengakses langsung terhadap laporan finansial tersebut.

Referensi :
Dias, Laura Portolese dan Amit J. Shah. 2009. “Understanding Financial Information and Accounting” dalam Introduction to Business. New York: McGraw-Hill. hlm. 384-416

Posted Januari 25, 2012 by moze in Bisnis Internasional

Pemasaran Global   Leave a comment

Dalam bisnis internasional, sebuah perusahaan yang beroperasi dan menjual produknya di berbagai negara tentunya membutuhkan strategi yang tepat guna mengintegrasikan keseluruhan manajemen operasional agar efektif dan efisien. Disamping itu perusahaan internasional tersebut tentunya harus berusaha untuk memenuhi semua permintaan dan kebutuhan konsumen mereka yang berbeda-beda di masing-masing negara. Bahkan seringkali masalah internal domestiklah yang cenderung menghambat pemasaran produk mereka di sebuah negara. Untuk itu sebuah strategi pemasaran global tentunya sangat penting untuk diterapkan di perusahan yang berskala internasional agar dapat menembus pasar banyak negara sekaligus mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Pada dasarnya prinsip pemasaran global hampir sama dengan pemasaran domestik, namun seringkali seorang manajer perlu untuk mengaplikasikannya secara berbeda guna menghadapi lingkungan yang berbeda pula (Daniels et.all , 2007 : 527). Yang pelu diperhatikan adalah strategi pemasaran internasional tergantung pada orientasi perusahaan tersebut, termasuk produksi, pelanggan, strategi (internal), dan kemasyarakatan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum suatu perusahaan memasarkan produknya ke luar negeri:
(1) Strategi Marketing dan variabel yang mempengaruhi jenis strategi yang akan diterapkan . Hal-hal yang perlu digarisbawahi dalam strategi marketing adalah Orientasi Pemasaran yang memiliki ima kata kunci yakni ; (a) Orientasi produk, dimana perusahaan diminta untuk tetap fokus pada produk-produk yang akan dijual. Fokus perusahaan ini bisa saja berupa efisiensi atau kualitas yang dimiliki oleh produk; (b) Orientasi Penjualan, yang berarti perusahaan berusaha menjual barang atau produk yang dapat dijual dalam pasar domestik dalam cara yang sama berasumsi bahwa konsumen pada hakekatnya sama secara global; (c) Orientasi Pelanggan, perusahaan melihat apa yang sebenarnya diinginkan oleh pelanggan. Antara satu pelanggan dan pelanggan lain jelas memiliki perbedaan terlebih lagi ketika para pelanggan tersebut tinggal di area yang berbeda satu sama lain; (d) Orientasi pemasaran strategis dimana orientasi ini melibatkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam produk dikarenakan kompetisi internasional. Dan yang dimaksud dengan perubahan disini adalah respon perusahaan terhadap keinginan masyarakat. Jadi jika dalam suatu bisnis dan pasar internasional suatu perusahaan tidak melakukan perubahan sedangkan lawannya melakukan perubahan, maka perusahaan tersebut akan ditinggalkan oleh pelanggannya; (e) Orientasi pemasaran kemasyarakatan, Perusahaan dengan oritenasi ini menyadari bahwa pemasaran internasional yang sukses tidak hanya bergantung pada produknya saja namun juga beberapa hal semisal lingkungan, kesehatan, dan permasalahan yang terkait dengan pekerjaan lainnya. (Daniels et all, 2007:528-530). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah segmentasi dan target pasar. Perusahaan perlu untuk untuk menentukan segmen pasar mana yang mereka tuju. Segmen ini termasuk pertimbangan akan sama atau tidaknya grup yang mereka targetkan di negara yang berbeda. Setelah menentukan segmen target mereka maka produk yang mereka hasilkan, jenis-jenis yang mereka tawarkan, promosi, penetapan harga dan distribusi haruslah sesuai dengan kebutuhan segmen mereka tersebut.
(2) Kebijakan Produk, merupakan kebijakan yang diterapkan perusahaan terhadap produk mereka dalam rangka memenuhi selera pasar internasional melalui perubahan-perubahan atau perombakan-perombakan yang dapat kita temui di dalam produk. Setidaknya ada tiga alasan mengapa suatu produk mengalami perubahan. Alasan pertama adalah alasan legal, dimana perubahan tersebut merupakan tuntutan dari host countries terhadap home countries, ketika produk tersebut tidak dapat memenuhi permintaan itu maka produk tersebut tidak dapat dipasarkan di negara tersebut. Tuntutan perubahan tersebut biasanya diminta oleh pemerintah setempat guna melindungi konsumen. Alasan kedua yakni kebudayaan, terutama yang berkaitan dengan agama atau keyakinan. Misalnya perusahaan McDonald yang tidak menggunakan bahan dasar dari sapi di India karena di India sapi dianggap sebagai hewan yang suci. Alasan ketiga yaitu ekonomi, dimana perubahan produk memang harus terjadi karena tidak semua negara merupakan negara kaya dengan pendapatan yang tinggi dan memiliki infrastruktur yang baik (Daniels et all, 2007:531-534). Macam-macam hukum legal, budaya dan kondisi ekonomi diatas seringkali menuntut perubahan suatu produk agar bisa memenuhi permintaan luar negeri, namun biaya perubahan ini harus dipertimbangkan apakah ia memang sesuai untuk mendorong potensi penjualan produk tersebut atau tidak. Selain menentukan kapan suatu perusahaan mengubah produknya, maka ia juga harus memutuskan seberapa banyak dan produk mana yang akan dijual di luar negeri. Selain produk, kadangkala perubahan juga terjadi pada biaya. Biasanya, perusahaan menurunkan menurunkan biaya produksi dan inventory yang berimbas pada standarisasi produk. Pendekatan standardisasi dalam pemasaran artinya keseragaman penuh dalam produk dan program diantara negara-negara yang menjadi tujuan pemasaran produk mereka. Meskipun pendekatan ini memakan biaya yang sedikit, namun sebagian besar perusahaan melakukan beberapa perubahan guna memenuhi kebutuhan masing-masing negara dalam rangka meningkatkan volume penjualan.
(3) Penetapan Harga. Menemtukan suatu harga (produk) secara internasional merupakan hal yang rumit karena menyangkut fluktuaksi mata uang, perbedaan dalam pemilihan produk, kenaikan biaya ekspor, variasi dalam praktek penentuan harga suatu produk, dll. Berikut ini beberapa faktor yang berpengaruh dalam keputusan penetapan harga, yaitu (a) Intervensi pemerintah melalui regulasi, dimana pemerintah menetapkan harga minimal dan maksimal untuk tiap-tiap produk yang akan dijual kenegara mereka atau pemerintah melakukan operasi pasar ‘beras bulog’ agar tidak terjadi persaingan harga diantara para pelaku usaha, (b) Greater Market Diversity, terkadang pelanggan di negara tertentu bisa saja menyukai sebuah produk dan rela untuk membayar lebih mahal. Dalam hal ini, kartu kredit juga memengaruhi permintaan terhadap barang. Mereka yang mau untuk membayar lebih pada suatu barang umumnya mereka yang menggunakan kartu kredit. (c) Kenaikan biaya ekspor, (d) Perubahan harga dan nilai pertukaran mata uang, serta inflasi di salah satu negara. Hal ini memgakibatkan apabila mata uang host countries menguat maka eksportir akan dirugikan. (e) Fixed vs Variable Pricing dan (f) Company to Company pricing.( Daniels et all, 2007:536-541)
(4) Promosi adalah penyajian pesan yang disampaikan untuk mendorong penjualan barang atau jasa. Tipe pesan tersebut dapat beraneka ragam bergantung pada ketetapan perusahaan, produk dan negara dimana perusahaan tersebut beroperasi. Untuk setiap produk di masing-masing negara, perusahaan selain harus menentukan anggaran promosi, ia juga perlu melakukan campuran antara strategi ‘push’ dan ‘pull’ dalam promosi. Pesan yang disampaikan dalam promosi dapat dikategorikan sebagai push dimana menggunakan teknik penjualan secara langsung. Push seringkali dilakukan oleh perusahaan ketika self-service tidak lagi predominan, periklanan dibatasi dan harga produk merupakan porsi yang tinggi dalam pendapatan. Sedangkan promosi dikategorikan sebagai pull ketika perusahaan tersebut melakukan promosi melalui media masa. Hubungan antara ‘push’ dan ‘pull’ biasanya tergantung pada sistem distribusi perusahaan, biaya dan ketersediaan media, perilaku konsumsi, dan harga produk dibandingkan pada penghasilan. Iklan dari perusahaan internasional terkadang memiliki standarisasi, namun kebanyakan masalah bagi iklan yang ‘terstandardisasi’ diantara negara adalah terjemah atau padanan bahasa, hukum legal, dan interpretasi yang berbeda memaknai pesan yang dibawa (Daniels et all, 2007:541-543)
(5) Branding. Brand merupakan sebuah tanda identifikasi terhadap sebuah produk atau jasa. Ketika sebuah perusahaan mendaftarkan brandnya secara legal maka akan menjadi trademark. Ketika sebuah perusahaan telah menetapkan nama merk mereka, tidak jarang hal tersebut mendapat penolakan di beberapa negara lain karena terhambat permasalahan bahasa, seperti merk atau nama produk yang konotasi negatif di negara tujuan pemasaran sehingga membutuhkan perubahan. Contoh produk coca cola diet yang diubah menjadi coca cola light di Italia dan Jerman karena kata ‘diet’ dalam bahasa kedua negara tersebut identik dengan penyakit. Ada pula brand perusahaan internasional yang menggunakan nama perusahaan lokal ketika beroperasi suatu negara, hal ini biasanya dilakukan untuk mempermudah pemasaran dengan menggunakan image (nama) nasional dan terjadi jika perusahaan tersebut melakukan akuisisi merk dagang dari perusahaan lokal. Selanjutnya, perusahaan juga diasarankan untuk mempertimbangkan pembentukan citra di host country. (Daniels et all, 2007:543-546). Brand global seringkali terhambat pada perbedaan bahasa, ekspansi dengan akuisisi, image nasional, dan hukum mengenai nama yang umum. Meskipun demikian brand global membantu mengembangkan image global pula.
(6) Distribusi, yang didefinisikan sebagai jalan atau rangkaian dimana produk barang atau jasa dibawa dari produsen kepada konsumen. (Daniels et all, 2007: 546) Jaringan distribusi pada hakekatnya berbeda-beda di masing-masing negara. Perbedaan ini tidak hanya mempengaruhi biaya relatif operasional namun juga kebebasan untuk melakukan penjualan awal. Dalam pemasaran internasional perusahaan harus memutuskan melalui chanel distribusi mana produk mereka akan diperdagangkan. Perusahaan harus memilih distributor dengan hati-hati, baik berdasarkan pertimbangan kemampuannya ataupun sifatnya yang dapat dipercaya atau tidak. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pemilihan jalur distribusi, antara lain adalah kualifikasi yang dimiliki oleh distributor yang meliputi kekuatan finansial, koneksi yang bagus serta realibilitas penampilan distributor tersebut. (Daniels et all, 2007:546-548) Ketika perusahaan telah memilih ditributor maka perusahaan diwajibkan untuk memberi insentif dan meyakinkan distributor bahwa produk yang mereka jual juga dapat memberikan keuntungan terhadap distributor. (Daniels et all, 2007:549). Di zaman globalisasi sekarang ini dimana manusia saling terhubung melalui kabel internet, banyak perusahaan yang menjual produknya lewat internet dan tidak memiliki distributor, namun meskipun internet menawarkan kesempatan bagi perusahaan untuk menjual secara internasional, menggunakan internet bukan berarti meniadakan kebutuhan perusahaan untuk mengembangkan program dalam bauran pemasaran mereka.
Dalam melakukan atau memanage keenam variabel diatas agar terintegrasi secara bersamaan dan menghasilkan operasional kerja yang efektif efisien, tentu saja bukan merupakan perkara yang mudah. Pada umumnya, perusahaan menggunakan ‘gap analysis’ yaitu sebuahmetode yang digunakan untuk memperkirakan potensi penjualan sebuah perusahaan melalui identifikasi segmen pasar. (Daniels et all, 2007:551). Analisis ‘gap’ ini merupakan alat yang dapat membantu perusahaan untuk menentukan mengapa mereka tidak dapat bertemu dengan segmen pasar potensial mereka di beberapa negara tertentu dan memutuskan bagian mana dari bauran pemasaran yang perlu ditekankan.
Pada intinya, prinsip strategi pemasaran suatu perusahaan agar produk mereka bisa menembus dan bertahan di pasar internasional hampir sama dengan prinsip strategi pemasaran di ranah domestik. Variabel-variabel yang sama tersebut antara lain adalah strategi pemasaran, penetapan harga, pemilihan jalur distribusi, merk dagang, promosi dan kebijakan produk. Namun ketika dibawa di ranah internasional, prinsip-prinsip strategi tersebut penerapannya relatif berbeda dengan apa yang telah diterapkan pada level domestik karena dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, selera makan (citarasa) masyarakat yang berbeda antara negara di kawasan barat seperti Amerika dan Eropa dengan masyarakat di kawasan timur seperti India dan Indonesia. Masyarakat Indonesia dan India cenderung memakai banyak bumbu dalam masakannya sedangkan masyarakat Amerika lebih menyukai masakan yang tidak banyak memakai bumbu. Perbedaaan selera tersebut mau tidak mau membuat perusahaan makanan internasional melakukan perombakan terhadap produk yang mereka tawarkan di berbagai negara agar dapat bersaing di pasaran. Kendala lain yang dihadapi ketika menerapkan strategi pemasaran global adalah perosalan bahasa. Seringkali, kalimat iklan suatu produk mengalami perubahan makna ataupun pesan yang berbeda jika dibawa ke negara dengan bahasa yang berbeda dan lagi-lagi perusahaan tersebut perlu untuk melakukan penesuaian agar pesan yang mereka sampaikan dalam iklan dapat dimengerti oleh konsumen di setiap negara.
Referensi :
Daniels, J. D.,et all. (2007). Marketing Globally. Dalam P, International Business : Environment and Operations (hal. 522-558). New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Posted Januari 25, 2012 by moze in Bisnis Internasional

Peran L/C (Letter of Credit) dalam perdagangan internasional   Leave a comment

Bisnis Internasional, atau lebih spesifik lagi perdagangan internasional (Ekspor-Impor) merupakan area bisnis yang penuh resiko dan sangat kompleks, dikatakan demikian karena secara logika biasanya lokasi importir dan eksportir terpisah baik secara geografi maupun geopolitik, bahkan terkadang keduanya tidak saling mengenal secara pribadi. Sehingga tentu akan sangat beresiko bagi kedua belah pihak. Di satu sisi eksportir ragu jika akan mengirimkan barangnya ke luar negeri karena belum tentu nanti barangnya akan dibayar di kemudian hari oleh importir, kemudian di pihak importir dia ragu jika ingin melakukan pembayaran di awal, takutnya setelah uang terkirim namun barang tidak sampai di tangannya, belum lagi resiko jika barang yang ia terima tidak sesuai dengan keinginannya. Hal-hal diatas merupakan resiko yang harus ditanggung oleh mereka berdua (eksportir dan importir).
Letter of Credit atau dalam bahasa sederhananya kami sebut ‘surat piutang’ ini kemudian hadir untuk menjawab resiko-resiko diatas. Cara kerjanya adalah pihak eksportir meminta pihak importir untuk membuatkan Letter of Credit atas namanya di suatu bank devisa di negara importir (Opening Bank). Kemudian pihak bank tersebut akan menghubungi bank kedua yang berada di wilayah Negara eksportir (Advising) dan membuatkan Letter of Credit bagi eksportir tersebut. Setelah Letter of Credit ada di tangan eksportir maka ia harus mengirimkan barang yang diminta oleh importir, dengan begitu ia dapat segera menguangkan Letter of Credit ini di bank manapun. Sedangkan importir hanya perlu melakukan pembayaran di bank pertama jika barangnya telah ia terima. Jadi dalam hal ini yang dijadikan jaminan pembayaran dan pengapalan barang adalah nama baik dan reputasi kedua bank tersebut. Jadi walaupun importir dan eksportir tidak saling kenal atau bertatap muka, resiko barang tidak dibayar atau tidak diterima menjadi minim karena tagihannya pasti akan dilunasi oleh bank sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Letter of Credit tersebut.
Dari penjelasan dan pengertian yang telah disebutkan diatas, jelas bahwa keberadaan Letter of Credit ini sangat penting, terutama untuk mempermudah transaksi bisnis internasional. Adapun peranannya dalam perdagangan internasional adalah a) mempermudah cara pembayaran transaksi ekspor-impor, b) mengamankan dana yang disediakan importer untuk pembayaran barang impor, 3) menjamin kelengkapan dokumen pengapalan.

Posted Januari 25, 2012 by moze in Bisnis Internasional

Manajemen Sumber Daya Manusia   Leave a comment

Efetivitas dan keberhasilan suatu organisasi tidak dapat dipungkiri tergantung pada berbagai macam aspek perusahaan dan lingkungan sekitar, termasuk sumber daya manusia dan bagaimana cara kerjanya diatur sedemikian rupa. Untuk itu diperlukan seorang manajer dalam bidang sumber daya manusia yang bertanggung jawab untuk mengawasi para pekerja agar melaksanakan kewajiban masing-masing dan mengintegrasikan sumber daya manusia tersebut dengan sumber daya fisik (kebendaan) agar menghasilkan sistem produksi yang efektif. Kegiatan manajemen sumber daya manusia ini meliputi perkiraan jumlah pegawai yang dibutuhkan, seleksi dan rekruitmen, training dan pengembangan, motivasi, kompensasi, disiplin, serta pemberhentian pegawai. Bagi perusahaan yang melakukan bisnis internasional dan beroperasi di luar negeri tentunya akan semakin membutuhkan orang-orang atau sumber daya manusia yang memiliki kemampuan lebih serta bikultural. Dalam artian para pegawai dan karyawan di perusahaan internasional haruslah mempunyai pengetahuan tentang praktik bisnis baik di negara asal maupun di negara tujuan dan kebiasaan-kebiasaannya (Wild, 2008: 542).
Beberapa penelitian mengatakan bahwa menurut para CEO yang beroperasi dalam bisnis internasional, mengembangkan suatu global mind-set merupakan prasyarat awal bagi sebuah perusahaan yang beroperasi lintas negara. Global mind-set disini berarti sebuah pemikiran yang mengkombinasikan keterbukaan dan penghargaan terhadap perbedaan pada pasar internasional serta perbedaan budaya dengan kecenderungan dan kemampuan untuk menggabungkan (mensintesa) perbedaan tersebut (Wild, 2008: 542). Atau dalam kalimat yang sederhana, seorang pegawai (manajer khususnya) yang berada dalam lingkungan bisnis global maka ia harus dapat membuka pikirannya dan menyerap perbedaan yang ada serta menyesuaikan diri dan perusahaan dengan lingkungan dimana ia berada agar dapat bertahan dan menghasilkan keuntungan. Global mind-set ini sebaiknya diterapkan dalam semua aspek manajemen sumber daya manusia.
Tahap awal manajemen sumber daya manusia adalah menentukan berapa perkiraan jumlah pegawai yang dibutuhkan dan apa saja persyaratannya, kemudian yang kedua adalah tahap rektrutmen dan seleksi dimana proses ini ditentukan oleh orientasi strategi perusahaan yang meliputi kebijakan etnosentris, polisentris, regiosentris, ataukan geosentris. Kebijakan etnosentis disini digunakan ketika sebuah perusahaan merekrut dan mempromosikan pegawainya berdasarkan ketentuan perusahaan induk di negara asal (Wild, 2008: 543). Atau dengan kata lain perusahaan di negara asal mengirimkan orang-orang dari negaranya ke negara tujuan untuk ditempatkan di posisi-posisi tertentu. Dengan demikian otoritas tertinggi tetap berada di tangan perusahaan induk termasuk evaluasi dan kontol yang sesuai dengan standar negara asal. Keuntungan dari kebijakan ini adalah dengan mengirimkan pegawai mereka ke negara lain yang memiliki perbedaan suasana dan permasalahan, maka akan menambah pengalaman pegawai tersebut dalam menyerap perbedaan dan semakin siap untuk dijadikan manajer di perusahaan induk.
Kemudian kebijakan polisentris digunakan oleh perusahaan yang berorientasi strategi multidomestik ketika ia merekrut dan mempromosikan karyawannya berdasarkan spesifikasi konteks lokal dimana anak perusahaan tersebut berada (Wild, 2008: 545). Jadi perusahaan internasional tersebut merekrut dan menepatkan penduduk lokal di posisi-posisi penting dengan asumsi orang lokal lebih memahami situasi dan kondisi dimana perusahaan tersebut beroperasi sehingga diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan yang tepat. Kebijakan polisentris ini memiliki ortoritas yang lemah dari perusahaan induk sehingga evaluasi dan kontrol-nya pun dibentuk secara lokal dan aliran informasi dan komunikasi antara perusahaan induk dan cabang relatif sedikit. Hal ini terkadang mengakibatkan kebijakan yang dibuat di ranah cabang tidak sesuai dengan visi misi perusahaan induk.
Lalu kebijakan regiosentris dilakukan ketika suatu perusahaan merekrut atau mempromosikan karyawannya berdasarkan konteks spesifikasi regional dimana perusahaan tersebut beroperasi. Dalam artian perusahaan mengambil pegawai dari wilayah regional tertentu untuk menempati posisi posisi penting di manapun perusahaan tersebut berada, namun masih dalam regional teresebut. Otoritas tertinggi perusahaan, berada dan ditentukan secara regional, termasuk kontrol, evaluasi, komunikasi dan informasi. Oleh karena itu kebijakan ini banyak diadopsi oleh perusahaan dan bisnis yang berorientasi strategi regional (Wild, 2008: 546).
Dan mekanisme rekrutmen-seleksi yang terakhir yakni menggunakan kebijakan geosentris yang mana banyak digunakan oleh perusahaan internasional dengan orientasi strategi transnasional. Dalam artian perusahaan merekrut dan mempromosikan karyawannya berdasarkan kemampuan dan pengalamannya tanpa mempertimbangkan ras atau kewarganegaraan. Hal ini dilakukan dengan cara perusahaan memilih orang-orang terbaik dimanapun di seluruh dunia untuk ditempatkan di posisi-posisi strategis perusahaan cabang manapun. Otoritasnya juga berdasarkan kolaborasi dari semua perusahaan baik induk ataupun cabang di seluruh dunia yang terintegrasi secara global baik dalam mekanisme konrol-evaluasi ataupun komunikasi-informasi (Wild, 2008: 547).
Aktivitas manajemen sumber daya manusia yang ketiga yakni pelatihan dan pengembangan yang mana berkaitan dengan proses rekrutmen diatas. Proses rekrutmen inilah yang nantinya menentukan jenis pelatihan seperti apa yang dibutuhkan oleh pegawai. Secara garis besar sebelum mengirim pegawainya untuk mengoperasikan perusahaan cabang, biasanya perusahaan melatih dan membekali mereka dengan berbagai macam kemampuan yang sekiranya dibutuhkan agar dapat beradaptasi dengan baik, seperti bahasa (terutama bahasa Inggris dan bahasa lokal) dan kebudayaan negara tujuan/host country.
Dari penjelasan tentang rekrutmen diatas maka dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia (SDM) perusahaan internasional dapat diperoleh baik dari negara asal perusahaan, negara tujuan perusahaan ataupun dari negara ketiga. Perkrutan ini kemudian membawa dampak munculnya expatriat di negara tujuan perusahaan. Expatriat disini didefinisikan sebagai seseorang yang bertempat tinggal diluar wilayah kewarganegaraannya (Wild, 2008: 542). Keberadaan expratriat disini berguna untuk menghadirkan atau membawa kemampuan teknis atau manajerial yang jarang ditemui di negara tujuan serta mentransfer baik sistem perusahaan atau kebudayaan. Namun keberadaan expatriat ini membutuhkan perhatian yang lebih besar dan pertimbangan yang matang agar performa kinerjanya tetap bagus. Oleh karena itu sebelum mengirim pegawainya ke luar negeri, perusahaan perlu memberikan pelatihan bahasa dan budaya lokal negara tujuan agar terhindar dari language trap (situasi dimana seseorang yang melakukan bisnis internasional hanya dapat berbicara dengan bahasa ibunya) dan masalah culture shock akibat tidak bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi negara dimana ia ditempatkan. Selain itu perusahaan juga perlu memperhatikan keluarga dari pegawai expatriat tersebut, karena berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa 9 dari 10 kegagalan expatriat berkaitan dengan masalah keluarga (Wild, 2008: 551).
Bahkan setelah expatriat bertugas di luar negeri dan kembali ke negara asalnya, masih ada kemungkinan masalah lain seperti repatriation atau kondisi dimana ia mengalami culture shock di negera asalnya akibat kebiasaan yang diperoleh dari luar negeri (Wild, 2008: 554). Oleh karena itu menjadi penting untuk merencanakan kembalinya expatriat tersebut sebelum persetujuan pengiriman ke luar negeri dibuat. Perencanaan pengembalian itu termasuk konseling repatriation bagi mereka yang kesulitan untuk kembali ke kebiasaan lama negara asal.
Bagi sebuah perusahaan internasional (terutama pemilik) tentu merupakan hal yang agak sulit jika mempercayakan bisnis mereka di tangan pegawai yang dikirim ke luar negeri, untuk itu para expatriat perlu diberi fasilitas-fasilitas khusus dan istimewa agar dapat bekerja dengan maksimal dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya (baca: kompensasi untuk mendapatkan loyalitas expatriat). Kompensasi itu meliputi gaji pokok, allowance, bonus, dan status internasional (Wild, 2008: 555). Gaji pokok adalah sejumlah bayaran yang diberikan kepada expatriat sesuai dengan pekerjaan yang dijaklankannya. Sedangkan allowance adalah kompensasi bayaran pegawai yang ditambahkan pada gaji pokok karena pengeluaran yang lebih tinggi saat hidup di luar negeri, meliputi tempat tinggal, biaya hidup, pajak, pendidikan dan biaya kepindahan. Kemudian bonus yang merupakan kompensasi bayaran pegawai expatriat yang ditambahkan pada gaji pokok dan allowance dikarenakan kerja kerasnya, gangguan yang dialaminya ataupun jika terlibat bahaya. Bonus disini meliputi keistimewaan bekerja di luar negeri, pembayaran akhir kontrak, kesempatan untuk kembali atau berkunjung ke negara asal (Wild, 2008: 555-558). Pada intinya performa kerja dan kemauan expatriat untuk dikirim ke luar negeri salah satunya adalah tergantung pada fasilitas yang dijanjikan oleh perusahaan. Melihat fakta yang ada sekarang dimana dengan adanya globalisasi baik bisnis maupun teknologi serta transportasi, maka prospek keberadaan expatriat ini akan semakin meningkat.
Referensi :
Wild, John J. et.al. 2008. “Human Rescoursce Management” dalam Business : the Challenges of Globalisation. New Jersey : Pearson

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.