Arsip untuk kategori ‘all about International Relations Theory

STKS : Perkembangan Studi Strategi   Leave a comment

Studi mengenai strategi secara akademik mulai muncul setelah Perang Dunia II, namun dasar-dasarnya telah ada sejak berabad-abad lalu ketika seorang jenderal besar Cina yakni Sun Tzu menuliskan pemikirannya menegenai bagaimana strategi mencapai tujuan perang dalam bukunya Thr Art of War. Namun dalam tulisan ini kami hanya ingin membahas mengenai perkembangan studi strategis setelah masa Perang Dunia II.
Studi strategis pada mulanya berkembang diluar para akademia universitas dan sangat identik dengan dunia militer serta perang. Setelah Perang Dunia I, benih-benih empirik munculnya studi strategis ini mulai ada ketika beberapa universitas mendirikan jurusan hubungan internasional sebagai upaya menghindari terjadinya kembali perang. Namun pada kenyataannya studi strategis ini pada masa itu muncul dan banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu alam seperti fisika dan teknik. Pada perkembangan selanjutnya kondisi dunia yang mengalami Perang Dingin dan perlombaan senjata memungkinkan stidi strategis berkembang pesat, namun lagi-lagi masih sangat berbau militer. Beberapa usaha mendirikan dan mengembangkan studi strategis sebagai subjek akademik telah dilakukan dengan memanfaatkan kondisi Perang Dingin. Namun barbagai pergantian kebijakan membuat studi ini sulit untuk berdiri di universitas sehingga saat itu belum ada kurikulum yang pasti mengenai studi strategi (Freedman, 2007, hal. 357-358).
Selanjutnya studi strategi pada masa Perang Dingin sebenarnya cukup simpel, hanya fokus pada syarat-syarat apa yang disebut deterrence. Deterrence sebagai isu utama saat itu banyak digunakan oleh kedua kubu (Amerika Serikat vs Uni Soviet) untuk saling menggertak lawan dengan tujuan agar lawan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengancam keseimbanagan dunia dengan memulai perang lagi. Sehingga sebelum tahun 1991 cakupan studi strategi menjadi semakin luas dan berkenaan dengan konteks politik hubungan internasional. Saat itu studi strategi belum dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu hanya merupakan area studi yang luas dan hadir dibawah tema-tema utama seperti perdamaian, perang, keamanan dll. Ketika Perang Dingin berakhir, studi strategis memasuki dunia baru dimana banyak terjadi konflik etnik yang melibatkan lingkungan internasional sehingga memerlukan cakupan keahlian yang lebih luas. Pasca perang dingin ini dunia dalam ketidakteraturan dan para pembuat kebijakan kurang memperhatikan apa yang dikatakan oleh para akademisi, sehingga membuat para pemerhati studi strategi merubah perhatiannya pada teori dan metodologi saja (Freedman, 2007, hal. 358-360).
Sementara itu, ketegangan yang tidak bisa diabaikan muncul antara para akademisi studi strategi dan dunia politik yang semuanya berakar dari perbedaan tanggung jawab yang diemban oleh masing-masing pihak. Para ‘praktisioner’ seringkali mengeluhkan tentang ketidaksesuaian antara studi staretegi secara akademik dengan masalah yang benar-benar mereka hadapi. Hal ini disebabkan karena dalam dunia nyata, suatu kebijakan yang sangat penting harus diambil secepat mungkin dan para akademisi dinilai terlalu banyak pertimbangan sehinggga ditakutkan waktu yang digunakan untuk berpikir akan menghilangkan kesempatan yang bagus dalam menyerang. Selain itu para praktisioner seakan memiliki intuisi dan firasat berkenaan dengan strategi itu sendiri yang mereka peroleh dari pengalaman. Ahli strategi tentunya akan mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat dipentuhnya namun pada praktiknya waktu selalu membatasi pertimbangan yang luas. Strategi pada kenyatannya meliputi banyak hal dan bersifat interdisipliner serta tidak seperti gambaran sempit yang difokuskan oleh mayoritas departemen (Freedman, 2007, hal. 360-362).
Studi strategis fokus pada aktor individu dan pentingnya untuk berhati-hati dalam memilih kebijakan serta memetakan masalah pada ilmu sosial, selain itu studi strategis juga menekankan pada pola perilaku secara luas dan kesempatan terbatas untuk mencapai perubahan yang signifikan. Perubahan yang dimaksud adalah tujuan pokok dan utama dari serangan yang dilakukan. Jadi hal pertama yang dilakukan oleh ahli strategi adalah memetakan kekuatan diri sendiri dan lawan serta memahami secara mendalam bagaimana kondisi medan pertempuran. Lalu mengaplikasikan informasi itu untuk merangkai strategi jitu yang dapat melumpuhkan lawan tanpa harus bersusah payah. Para ahli strategi adalah ‘voyeurs’ yang meneliti secara cermat pilihan atau keputusan apa yang dibuat oleh pihak lain yang terkait dengan keputusan sulit mengenai peran angkatan bersenjata (Freedman, 2007, hal. 363-364).
Studi strategis sejatinya banyak memiliki kesinambungan dengan aliran realisme yang asumsi dasarnya adalah manusia adalah makhluk yang egois dan ingin menang sendiri. Ini sejalan dengan studi strategi yang menganggap pihak lain sebagai lawan dan mempelajari bagaimana menaklukan lawan. Meskipun ada banyak kritikan yang dilancarkan kepada kaum realis namun aliran pemikiran ini memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat bagi studi strategi, disamping elemen lainnya yang dapat dikembangkan sesuai zaman. Aliran realis ini memberikan pendekatan yang lebih halus pada peran kekuatan dalam politik internasional daripada pendekatan neo-realis yang menekankan bahwa struktur yang mempengaruhi atau memaksa perilaku negara. Selain aliran realisme, pendekatan para konstruktifis juga banyak membantu pengembangan studi srtategis dengan memberikan fokus perhatiannya pada pentingnya dinamika hubungan antara ‘tujuan’ dan ‘cara’ yang sangat krusial dan mempengaruhi hasil akhir dalam setiap konflik (Freedman, 2007, hal. 365-366).
Realisme pada perkembangannya membutuhkan fokus yang lebih luas daripada masa lalu untuk dapat memahami nature (sifat alami) dari konflik yang terjadi saat ini, namun ia tidak harus mengabaikan peran angkatan bersenjata. Strategi selalu ada dimana politik berada meskipun tujuan politik itu dapat dicapai tanpa kekerasan dan perang. Meskipun studi strategi mencoba untuk mengaplikasikan analogi ‘perang’ secara luas, namun studi strategis juga fokus pada peran angkatan bersenjata dalam situasi damai maupun perang (Freedman, 2007, hal. 366-368).
Kesimpulan :
Studi strategis pada hakekatnya merupakan studi yang dinamis serta peka dengan perubahan zaman. Di masa Sun Tzu dan awal-awal kemunculannya studi strategi hanya fokus pada bidang militer dan perang saja. Namun pada perkembangan selanjutnya setelah Perang Dingin ia banyak digunakan oleh para elite politik untuk mencapai tujuan politis. Sehingga studi strategi bukan lagi hanya masalah keamanan dalam arti daya tangkal atau kemampuan militer dalam mengatasi serangan musuh, tetapi juga kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam bidang ekonomi, pengembangan teknologi, kerjasama internasional, dan sebagainya. Di masa-masa sekarang, strategi bahkan dipakai oleh kalangan ekonomi dan bisnis untuk memajukan usahanya.

Referensi :
Freedman, L. (2007). The Future of Strategic Studies. Dalam J. Baylish, Strategy in The Contemporary Age (hal. 356-370). Oxford: Oxford University Press.

Nama : Muzainiyeh (070912061)
Tugas : Studi Strategi dan Tata Kelola Strategi minggu ke 3

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

STKS : General Tao Hanzhang’s Commentary on the Art of War   Leave a comment

Sun Tzu merupakan pemikir strategi perang yang hidup di periode 403-221 SM. Pokok-pokok pikiran yang dia tuangkan dalam bukunya The Art of War mengenai strategi bukanlah suatu gagasan yang muncul begitu saja melainkan berdasarkan produk kebiasaan sosial dimana dan kapan ia hidup serta pengaruh lingkungannya pada masa itu. Ditinjau dari segi historis, Sun Tzu hidup pada akhir Periode Catatan Musim Bunga dan Musim Rontok (Period of Spring and Autumn Annals) hingga Periode Peperangan Antar Negara (Period of Warring States). Dimana kondisi sistem masyarakat Cina Kuno saat itu sedang mengalami peralihan dari masyarakat perbudakan menjadi masyarakat feodal, oleh karena itu banyak terjadi pergolakan di antara kerajaan-kerajaan kecil saat itu sampai terbentuknya Negara Kesatuan pertama kalinya di Cina dengan sistem Kekaisaran (Hanzhang, 1998: 107).
Estimasi mendasar dalam karya Sun Tzu adalah bagaimana caranya mengatasi musuh dengan kebijaksanaan dan tidak hanya dengan kekuatan saja. Dia percaya bahwa perjuangan militer tidak hanya mengenai kompetisi antara kekuatan militer tapi juga mencakup banyak hal seperti politik, ekonomi, keuatan militer dan diplomasi. Sun Tzu berkata “ Perang merupakan sesuatu yang sangat vital bagi suatu negara, yang berkaitan dengan hidup dan mati, jalan menuju keberlangsungan hidup atau kehancurannya” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 63). Oleh karena itu penting bagi setiap pihak yang berperang agar menggunakan strategi yang jitu untuk menghindari korban yang terlalu banyak dan kehancuran perekonomian. Strategi penting yang diletakkan Sun Tzu dalam perang adalah “Hal penting terbaik dalam perang adalah mengecewakan rencana strategi lawan, kemudian mengacaukan aliansinya dengan cara diplomasi, lalu menyerang tentaranya dan keputusan yang paling buruk adalah menyerang kotanya” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 67).
Dari penjelasan diatas, jelas bahwa Sun Tzu mengutamakan dimensi Diplomasi dalam setiap peperangan. Karena itu penting untuk melakukan aliansi dengan pihak lainnya yang disebut focal ground atau area persimpangan tiga negara utama. Pihak yang mampu mengontrol focal ground akan memperoleh dukungan dari negara-negara tersebut dan menciptakan aliansi yang banyak. Jadi posisi ini akan menguntungkan dan strategis. Untuk menguasai focal ground dibutuhkan kemampuan berdiplomasi yang memadai dan kekuatan ekonomi. MenurutSun Tzu mengalahkan 100 musuh dalam 100 pertempuran bukanlah pertanda akan keahlian dalam perang tapi mengalahkan musuh tanpa berperang itulah yang dinamakan skill terbaik. Kata-katanya yang terkenal mengenai hal ini adalah “to subdue the enemy’s troops without fighting is the supreme exellence” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 109).
Menurut Sun Tzu, ada lima faktor fundamental dalam perang yang harus diperhatikan oleh para perancang strategi dan memperbandingkannya dengan kondisi lawan. Kelima faktor tersebut adalah politik, cuaca atau iklim, medan tempur (terrain), pemimpin dan doktrin (seperti organisasi militer, hierarki pasukan, dll) sebelum memulai perang. Dan menurutnya kemenangan hanya dapat dicapai jika kesemua factor tersebut dimasukkan dalam pertimbangan yang komprehensif (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 64). Pertimbangan akan kelima faktor diatas nantinya akan membantu pemimpin perang untuk berinisiatif kapan ia akan menyerang atau strategi apa yang cocok diterapkan dan sesuai dengan kondisi pasukan yang dimilikinya serta bertempur dalam tempo yang cepat dan tidak memperpanjang perang.
Buku The Art of War secara garis besar berkata bahwa dalam setiap perang terdapat unsur penipuan, Sun Tzu berkata “ Perang adalah sebuah ‘bahan tipuan’ untuk membuat lawanmu kebingungan. Cobalah selalu menangkap musuhmu dengan tiba-tiba dan menyerang ketika musuh merasa dirinya aman dan dalam kondisi tak teratur. Gunakan pasukanmu dalam tempat dan waktu yang tepat yang tidak dapat diprediksi” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:…) Oleh karena itu lakukanlah kepura-puraan, jika kita siap menyerang maka pura-pura tidak siap, jika pasukan aktif bergerak maka pura-pura pasif, jika posisi dekat dengan musuh maka buatlah seakan jarak kita jauh, dan terus sebaliknya. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan informasi yang diperoleh lawan melalui mata-mata. Gunakan hal ini sebagai sisi lemah musuh.. Cobalah untuk merenggut hal-hal yang paling penting dari peperangan. Selain itu pasukan harus mampu berpindah dengan cepat dan mengatasi kemungkinan terburuk. Disaat bersamaan diperlukan adanya kebijaksanaan dalam merancanakan masa depan, kewaspadaan, keberanian, dan kehati-hatian Hindari terjebak dalam sesuatu yang sempurna atau pasti. Serta harus fleksibel dalam menerapkan taktik berperang. Semakin bersifat fleksibel suatu pasukan maka akan semakin cepat kemenangan diperoleh, sebab kapabilitas dalam menyesuaikan diri terhadap berbagai permasalahan dan kondisi mendorong pasukan melakukan taktik secara terstruktur dan lancar menuju kemenangan mutlak terhadap musuh. Seperti kata-kata “ Ingatlah, tidak ada prinsip yang universal yang dapat memenangkan pertempuran” (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998: 84). Contoh pada tahun 279 SM, jenderal Qi, Tian Dan, dikepung oleh pasukan Jimo yang secara militer lebih kuat. Untuk menyelamatkan kerajaannya dia menerapkan taktik, mewarnai ribuan lembu yang ia miliki dan memberi tanduknya dengan rerumputan dan pada malam hari ketika pasukan lawan tertidur ia menyerang tenda-tendanya dengan lembu tersebut, hingga pada akhirnya ia memenangkan pertarungan tersebut. (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:79).
Dalam perang, sangat penting untuk mengetahui ciri-ciri dan watak dari musuh serta pemimpinnya. Oleh karena itu penggunaan mata-mata merupakan hal yang penting dalam pertempuran. Tujuannya adalah untuk menyadari keberadaan musuh. Sun Tzu berkata ‘ketahuilah musuhmu dan dirimu, maka dalam ratusan pertarungan kamu tidak akan pernah dikalahkan’ hal ini penting agar ketika seorang komandan atau pasukan menjalankan strategi dan taktiknya mereka benar-benar sadar akan kondisi aktual peperangan dan basis pengetahuan penuh terhadap musuh. Sehingga pasukan dapat berfokus pada kemampuan dalam membaca situasi musuh dengan variasi informasi tanpa mengindahkan hal-hal mistis maupun mitos. (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:79).’
Cara memanfaatkan pasukan harus luar biasa dan bervariasi sehingga pihak lawan tidak dapat memprediksi pergerakan dari pasukan tersebut. Dalam Sun Tzu’s The Art of War, di chapter Void and Actuality, Sun Tzu menuliskan: “dalam peperangan, seorang pasukan harus menghindari kekuatan dan menyerang kelemahan. Seorang pasukan juga harus berhasil menjadi seorang pemenang ketika berhadapan dengan musuh”. Muslihat sangat mutlak diperlukan untuk memenangkan perperangan. Berkonsentrasilah pada persebaran pasukan sesuai dengan keadaan dan bergeraklah ketika hal tersebut menguntungkan Hindarilah musuh jikalau musuh terlihat sangat kuat dan tunggu saat ia mulai lemah dan kemudian kau berhak untuk menyerangnya (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:85-86).
Penulis disini setuju dengan apa yang telah dituliskan oleh Sun Tzu berabad-abad silam bahwa peperangan tidak melulu tentang unjuk kekuatan militer tapi berkaitan dengan masalah ekonomi, politik, alam dll. Oleh karena itu para pemimpin harus lebih fokus pada interest yang ingin dicapainya dan tidak meletakkan perang sebagai solusi utama konflik. Perang tidak perlu terjadi jika masih ada jalan lain yang bisa ditempuh seperti diplomasi. Adapun mengenai strategi perang Sun Tzu menurut penulis masih relevan jika digunakan dimasa sekarang, hanya memerlukan sedikit modifikasi pada teknologi dan informasi.

Referensi :
Hanzhang, Tao. 1998. “General Tao Hanzhang’s Commentary on the Art of War”. Hertfordshire: Wordworth Classic of World Literature, pp. 63-130

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

Globalisai dan Strategi : On Capital and Authority   Leave a comment

Salah satu ciri utama dalam globalisasi adalah adanya free-trade atau perdagangan bebas, baik perdagangan barang maupun perpindahan Capital atau modal. Dalam jurnal kali ini kami akan mencoba membahas mengenai krisis financial yang terjadi di Asia pada tahun 1997 dan mengkaitkannya dengan perpindahan arus modal serta wewenang atau peran pemerintah dalam mengatur perekonomian suatu negara. Untuk mempermudah pembahasan maka kami akan membaginya ke dalam tiga pertanyaan besar yakni : 1) Bagaimana prospek otoritas dalam globalisasi financial?; 2) Sejauh mana globalisasi financial perlu diregulasi?; dan 3) Bagaimana mensiasati volatilitas financial global?
Dalam tulisan Bhagwati (2004) yang berjudul “ The Perils og Gung-ho International Financial Capital ” ada beberapa pendapat pakar ekonomi yang mengatakan bahwa krisis yang terjadi di Asia tenggara merupakan salah satu bentuk teori ‘diminishing return’ yang mengatakan bahwa penambahan factor produksi yang terus menerus pada akhirnya tidak akan membawa pada ke’efisien’an pada hasil produksi malah akan merugikan dan menjadi tidak efektif, contoh dalam satu hari seorang tukang kebun dengan satu gunting dapat memotong rumput di lahan seluas satu hektar, jika tukang kebun tersebut diberi tambahan satu gunting lagi (gunting sebagai factor produksi) tanpa tambahan tukang kebun lain, maka tindakan penambahan tersebut tidak benyak berpengaruh pada luas lahan yang rumputnya berhasil dipotong. Begitu pula yang terjadi di Asia, menurut teori ini beberapa negara di Asia mengalami akumulasi modal yang sangat banyak dalam bentuk investasi sehingga mendorong pertumbuhan, namun akumulasi modal ini tidak berdampak pada penguatan factor produksi yang lain seperti teknologi. Para pakar ekonomi seharusnya memperhitungkan hal tersebut dan mencegah diminishing return terjadi dengan cara memajukan teknologi yang dapat mendorong produksi dalam jumlah besar, dalam contoh diatas misalnya memberi tukang kebun alat pemotong rumput elektronik (Bhagwati, 2004, p. 200).
Bhagwati dalam artikelnya tidak setuju dengan teori diminishing return diatas, karena pada kenyataannya negara-negara di Asia telah banyak mengalami kemajuan teknologi dengan banyak mengimpor alat-alat produksi yang dapat menghasilkan barang dalam jumlah besar. selain itu sungguh sangat tidak masuk akal jika teori diminishing return ini terjadi dengan begitu cepat dan melanda negara-negara yang berusaha menempatkan diri dalam perdagangan bebas. Oleh karena itu dalam artikenya Bhagwati menyebutkan alasan pakar ekonomi lainnya mengenai penyebab krisis Asia yakni crony capitalism yang menuntun pada pelanggaran oleh para pemegang jabatan (baca : korupsi) (Bhagwati, 2004, p. 201) seperti perlindungan yang diberikan oleh para pemegang otoritas kepada beberapa perusaaan asing dengan iming-iming uang.
Berbeda dengan dua teori diatas, Bhagwati lebih fokus pada mengapa aliran modal begitu mudahnya berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Dia menjelaskan bahwa financial global ibaratkan memilih satu diantara tiga restaurant dalam satu mall dan kita sebagai pembeli tidak tahu harus memasuki yang mana. Ketika kita melihat salah satu restaurant itu banyak pengunjungnya dan dua yang lainnya kosong maka kita akan berasumsi bahwa restaurant tersebut lebih unggul daripada lainnya, dan kemudian kita memutuskan untuk membeli makanan disana. Begitupula dalam financial global negara ibaratkan restaurant dan investor sebagai pembeli, akibatnya ketika kepercayaan akan stabilitas perekonomian suatu negara tergoyahkan, maka informasi mengenai ketidak-stabil-an ini akan menyebabkan serangkaian tindakan oleh negara lain (Economic of Fallibility). Jadi ekonomi disini sudah berubah menjadi tidak rasional lagi dan banyak dipengaruhi oleh factor selain motif ekonomi seperti figur pemimpin negara atau pemerintah. Sedangkan menurut Bhagwati sendiri alasan mengapa sampai terjadi krisis di Asia adalah a) Adanya benih-benih kepanikan dan ketidakpercayaan dalam pinjaman modal jangka pendek seperti yang sudah kami jelaskan diatas; b) Praktik kelembagaan yang belum menyesuaikan diri dengan rezim free-trade; dan c) Buruknya regulasi perbankan dan financial di negara-negara Asia. Sehingga ketika bank-bank komersial meminjam modal jangka pendek dari luar negeri, karena tidak adanya regulasi yang mengikat maka bank-bank tersebut merasa bebas dan meminjamkan dana tersebut dalam jangka panjang terhadap investor domestik tanpa perlindungan yang memadai. Akibatnya ketika kepanikan terjadi dan pihak asing datang menagih hutang ke bank-bank komersial arus modal banyak mengalir keluar sehingga bank-bank tersebut juga berusaha menarik pinjamannya. Selain itu bank central juga mengurangi suplai uang yang beredar dan menyimpannya sebagai cadangan. Hal-hal diatas akhirnya menyebabkan para pebisnis gulung tikar dan kolapsnya bank (Bhagwati, 2004, p. 203)
Yang menarik dari krisis Asia ini adalah negara-negara yang menolak mengurangi kontrolnya terhadap aliran modal seperti India dan China tidak mengalami krisis. Alih-alih krisis menimpa negara yang berusaha ber-integrasi dengan pasar financial global. Kemudian negara Malaysia yang berhasil pulih dari krisis dengan begitu cepatnya karena negara tersebut menolak IMF sehingga lepas dari control organisasi tersebut. Dan menerapkan teori Keynesian dengan cara memperbaiki regulasi, kontrol terhadap aliran modal serta penguatan institusi (Bhagwati, 2004, p. 206). Dari penjelasan diatas maka jawaban kami untuk pertanyaan nomer 1) Bagaimana prospek otoritas dalam globalisasi financial? Adalah otoritas dan control pemerintah memiliki peran yang signifikan dalam globalisasi. Karena dalam globalisasi, pasar financial global disini memang menandingi otoritas negara namun tidak men-take over segalanya (baca: Age of Emulation).
Selanjutnya jika regulasi pemerintah disini berperan penting dalam mengatur aliran modal yang keluar-masuk, agar tidak menimbulkan krisis lagi dan menurunkan tingkat kesejahteraan rakyat, maka pertanyaan nomer 2) Sejauh mana globalisasi financial perlu diregulasi? Menurut pendapat kami perlu adanya tarif dalam globalisasi financial, dengan kata lain pasar dunia harus membayar jika ingin investasi di suatu negara dan sector-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikontrol oleh pemerintah.
Pertanyaan selanjutnya adalah 3) Bagaimana mensiasati volatilitas financial global? Volatilitas atau ketidakpastian aliran modal yang keluar masuk di suatu negara, menurut kami disebabkan oleh bibit-bibit kepanikan atau ketidakpercayaan terhadap stabilitas perekonomian suatu negara, oleh karena itu untuk mensiasati volatilitas financial global ini maka pemerintah setempat harus memastikan keamanan negaranya, kepastian regulasi serta stabilitas politik, dan tak ketinggalan pemerintah juga perlu menerapkan selective capital atau memilih modal investasi seperti apa yang bisa masuk ke negaranya. Serta mengutamakan local trade dan local investment.

Referensi :
Bhagwati, J. (2004). The Perils of Gung-ho International Financial Capitalism. In J. Bhagwati, In Defense of Globalization (pp. 199-207). New York: Oxford University Press.

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

Globalisasi dan Strategi : On Growth and Equality   Leave a comment

Globalisasi disini seperti yang kami pahami dari berbagai sumber bacaan singkatnya adalah merupakan suatu proses pembentukan tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah sehingga mereka semakin terhubungkan (interconnected) satu sama lainnya dalam berbagai aspek kehidupan mereka baik dalam hal budaya, ekonomi, politik, agama, teknologi, maupun lingkungan. Arus globalisasi ini berlangsung di setiap sudut dunia dengan didukung oleh kemajuan teknologi, transportasi dan komunikasi yang meliputi berbagai produk ekonomi, bisnis, sosial dan budaya yang berkembang pesat dan cepat. Sehingga globalisasi ini telah sukses menisbikan jarak, waktu dan batas antar negara, ideologi, dan sosiologi-budaya-agama bahkan keluarga. Intinya adalah bahwa globalisasi telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia, terutama aspek ekonomi. Bahkan para kaum globalis mengatakan bahwa “ciri penting globalisasi adalah ketika dunia dan pasar-pasar terintegrasi dan terkoneksi satu sama lain dalam lingkungan global yang tanpa batas. Pasar merupakan fenomena alamiah dan globalisasi adalah fakta sejarah yang tidak dapat dikelola”(Winarno. 2008, hal. 1). Berkaitan dengan masalah globalisasi dan ekonomi, berikut kami akan mencoba untuk menjawab tiga pertanyaan utama mengenai perekonomian dalam dunia globalisasi yaitu : 1) Apakah globalisasi mengentaskan kemiskinan?; 2) Bagaimana prospek pertumbuhan ekonomi dalam globalisasi?; 3) Sejauh mana kesuksesan globalisasi terkait pemerataan ekonomi?
Kemiskinan sejatinya merupakan persoalan yang bersifat inheren dan fungsional dalam kehidupan manusia. Kemiskinan selalu berjalan beriringan dengan kekayaan atau kemakmuran, tidak akan pernah ada kekayaan kalau tidak ada kemiskinan, keduanya bagaikan sekeping mata uang yang mempunyai dua sisi. Dalam setiap masa kehidupan pasti selalu ada kondisi kemiskinan, kita tidak dapat memberantas habis masalah kemiskinan ini, namun yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha mengurasi kemiskinan yang melanda umat manusia. Bahkan jika mengutip teori pertumbuhan : setiap bangsa di dunia memulai kehidupan mereka dari tingkat materi yang paling rendah (Winarno. 2008, hal. 3). Kemudian jika pertumbuhan ekonomi berlangsung terus menerus, pada akhirnya kehidupan setiap penduduk akan terangkat diatas garis kemiskinan absolut. Dengan demikian kemiskinan absolut adalah kondisi awal manusia. Bahkan kaum penganut neoliberal mengatakan bahwa suatu negara tak perlu membuat negara lain menjadi miskin unjuk menjadikan dirinya kaya. Adapun kemunduran yang terjadi di negara dunia ketiga disebabkan oleh kurangnya mereka membuka pasar-pasar nasional terhadap pasar-pasar global (Winarno. 2008, hal. 3). Dengan kata lain suatu negara terbelakang dan mengalami kemiskinan karena negara tersebut tak tersentuh globalisasi. Namun kami tidak sependapat dengan pernyataan diatas karena pertama di dunia ini berlaku hukum rimba yaitu yang menang mengalahkan yang kuat, sehingga jika suatu negara ingin kaya maka ia harus memiskinkan negara lain dan berebut sumber daya yang terbatas. Kedua tidak semua negara siap dan memiliki daya tahan yang cukup untuk terlibat dalam kancah lalu lintas perdagangan dan finansial global, karena setiap negara memiliki ke-khas-an dan kekurangannya masing-masing. Ketiga pertumbuhan tidak bersifat pasif dengan hanya mengandalkan teori trickle-down effect yang mengatakan bahwa jika pertumbuhan terjadi di lapisan penduduk menengah atas maka pertumbuhan itu akan menetes ke bawah dan ikut menguntungkan pula bagi penduduk lapisasan bawah. Melainkan pertumbuhan itu harus bersifat aktif dengan mengandalkan dorongan strategi dan kebijakan yang tepat bagi pengentasan kemiskinan. Untuk menjawab apakah Globasisasi mengentaskan kemiskinan? Maka jawaban kami adalah iya, globalisasi di satu sisi turut mengentaskan kemiskinan seseorang atau sebuah negara dan di sisi lain juga mendorong pada jurang kemiskinan bagi negara lain.
Selanjutnya, alam globalisasi seperti yang telah dijelaskan oleh para pakar dan pendukungnya menjanjikan dunia yang lebih bebas dan mudah. Begitupula halnya yang terjadi dengan pasar dan perdagangan. Globalisasi memberikan kesempatan yang luas bagi setiap individu untuk berpartisipasi dan berkompetisi di dalamnya, termasuk dalam dunia perdagangan yang dikenal dengan free trade. Seperti yang telah dijelaskan dalam bukunya Bhagwati bahwa perdagangan disini berperan sangat penting untuk mendorong pertumbuhann ekonomi dan pertumbuhan tersebut nantinya dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Bahkan menurut Sir Denis Robertson ”perdagangan adalah mesin pertumbuhan” (Bhagwati. 2004, hal. 53). Dengan membuka negara kita pada pasar bebas maka kita akan mendapatkan beberapa kenyamanan menikmati fasilitas dan teknologi yang mutakhir sehingga mempermudah dan mempercepat produksi maupun konsumsi dalam negeri. Kami contohkan, karena globalisasi-lah maka kita sekarang dapat menikmati renyahnya ayam goreng khas McDonald dan meraup untung karena berbisnis lewat internet. Selain itu dengan adanya free trade yang dibawa oleh globalisasi maka bisnis ekspor-impor semakin lancar dan tidak tersendat sendat oleh birokrasi yang tidak jelas. Namun seperti yang sudah kami utarakan diatas bahwa dalam globalisasi tetap berlaku aturan hukum rimba. Jadi untuk menjawab bagaimana prospek pertumbuhan ekonomi dalam globalisasi? Maka jawaban kami adalah prospek pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan oleh globalisasi sangat bagus dan menjanjikan, dengan catatan bagi individu dan negara yang mampu beradaptasi dan mengendalikan globalisasi itu sendiri. Bagi individu atau negara yang tidak mampu beradaptasi maka dia akan semakin dihancurkan oleh globalisasi dan negara maju lainnya. Contohnya saja berapa banyak warung dan toko keluarga yang gulung tikar karena kalah bersaing dengan indomaret?
Kembali lagi pada penjelasan utama kami bahwa globalisasi membawa keuntungan bagi seseorang atau sebuah negara sebesar dia memberikan kerugian pada individu atau negara lainnya. Hal inilah yang kemudian menjelaskan kenapa masih ada negara miskin dan negara kaya di dunia ini. Menurut laporan yang dilansir oleh Asian Development Bank, China mengalami pertumbuhan 10% pertahun dan penduduknya yang miskin berkurang dari 28% pada tahun 1978 menjadi 9% pada tahun 1998. Begitu pula yang terjadi di India dengan tingkat pertumbuhan 6% pertahun dia berhasil memangkas kemiskinan dari yang awalnya 51% di tahun 1977 turun menjadi 26% di tahun 1999 (Bhagwati. 2004, hal. 65). Semua itu berkat kemudahan yang diberikan oleh globalisasi. Namun di sisi lain ILO (International Labour Organization) memperkirakan ada peningkatan penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan dari 53,5 pada tahun 1985 menjadi 54% pada tahun 1990 di Afrika Sub-Sahara dan 23% menjadi 27,8% di Amerika Latin. Dan sebanyak kurang lebih 33% penduduk dunia yang berada di negara berkembang menghabiskan hanya 1 dolar AS perhari sebagai konsumsi. Belum lagi laporan Laporan Human Development dan UNDP tahun 1992 : 20% dari populasi dunia yang tinggal di negara maju memperoleh 82,7% dari total pendapatan dunia, sementara 20% lainnya yang tinggal di negara termiskin hanya menerima 1,4%. dan berdasarkan laporan tahun 1989 rata rata pendapatan 20% masyarakat yang hidup di negara terkaya mencapai 60 kali lipat lebih tinggi dibandiingkan dengan 20% masyarakat yang hidup di dunia termiskin (Winarno. 2008, hal. 5). Jadi disini kami beranggapan bahwa globalisasi belumlah dan tidak akan pernah sukses dalam pemerataan ekonomi, karena globalisasi sendiri adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan terus menerus sehingga selalu ada suatu negara yang maju dan ada negara yang tertinggal.
Adapun kesimpulan dan opini yang kami dapat dari uraian diatas adalah jangan sekali-kali menceburkan diri atau membiarkan negara kita terseret arus globalisasi jika modal, sarana, prasarana dan sumber daya kita belum mencukupi bagi kita untuk ikut bersaing di dalamnya. Globalisasi ekonomi menyangkut siapa yang mendapatkan kue terbesar dari proses globalisasi tersebut dan fakta menunjukkan bahwa negara majulah yang mendapatkan porsi terbesar sedangkan negara miskin tetap rugi dan bertambah miskin. Free trade adalah sebuah pilihan bukan keharusan oleh karena itu pasar tetaplah hasil ciptaan manusia dan dapat diarahkan untuk kemajuan sebaik-baiknya bagi warga negara oleh pemerintah. Tidak ada invisible hands yang mengendalikan pasar, namun sebaliknya keberadaan pasar adalah dikarenakan hasil dari serangkaian kebijakan pemerintahan nasional yang mendukung liberalisasi pasar pada suatu titik tertentu. Jadi pada intinya dalam globalisasi diperlukan strategi dan kebijakan yang jitu agar tidak mudah diperdaya dan dihancurkan oleh negara-negara yang telah mengalami kemajuan lebih dulu.

Sources :
Bhagwati, J. (2004). Poverty : Enhanced or Diminished ? Dalam In Defense of Globalization (hal. 51-67). Oxford: Oxford University Press.
Winarno, B. (2008). Globalisasi peluang atau ancaman bagi Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Posted April 21, 2011 by moze in all about International Relations Theory

IR Between World War I & World War II   Leave a comment

INTERNATIONAL RELATIONS JOURNAL

BY :

ARIF SETYANTO                               (070912051)

ANDONO WICAKSONO                 (070912088)

MUZAINIYEH                                     (070912061)

RISKA ROSALINE                               (070912098)

Dinar Okti N.S.                                    (070912076)

 

DEPARTEMEN HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK

UNIVERSITAS AIRLANGGA

23  November 2009

 

 

Perang Dunia I dan Perang Dunia II merupakan peperangan terbesar di sejarah manusia. Di dalam jurnal ini akan di bahas berbagai hal yang terjadi pada saat PD I dan PD II. Akan dibahas lebih lanjut dalam jurnal ini Deskripsi ringkas mengenai Perang Dunia I & II, hubungan antara Nasionalisme dan dua perang dunia tersebut, Konstelasi Sistem Internasional pada masa PD I & II, Implikasi PD terhadap sistem internasional, dan Implikasi PD terhadap studi Hubungan Internasional (Pasca Perang).

Deskripsi ringkas mengenai Perang Dunia I & II

Perang Dunia I

Sebab Terjadinya :

Perang Dunia I mengubah dunia dan menghasilkan jurang pemisah antara peradaban sebelum dan sesudah perang yang lebih keras. Perang yang sebenarnya adalah perang saudara di Eropa yang juga merupakan perang antara beberapa cabang keluarga kerajaan Eropa ini terjadi berawal karena terbunuhnya pewaris tahta Austria-Hungaria sekaligus kritikus nasionalisme Serbia, Archduke Ferdinand, pada tanggal 28 Juni 1914 oleh seorang siswa Bosnia berumur 18 tahun, Gavrilo Princip-anggota kelompok nasionalis Serbia, “Black Hand”, di Sarajevo. Hal ini menyulut kemarahan Austria-Hungaria hingga akhirnya negara ini menyatakan perang terhadap Serbia.

Jalannya Perang :

Pernyataan Perang Austria-Hungaria didukung oleh Jerman. Tak kalah dengannya, Serbia pun didukung penuh oleh Rusia. Diawali dengan mobilisasi serdadu melawan Austria-Hungaria pada 29 Juli, dengan sendirinya Jerman merasa posisinya terancam. Dengan rancangan strategi militer yang diberi nama “Rencana Schlieffen”. Rencana pertamanya adalah menduduki Luxemburg pada 3 Agustus, dan pasukan kedua menyeberangi perbatasan Belgia sehari kemudian. Pada 16 Agustus setelah pemboman dan pengepungan Jerman, kota Liege jatuh. Sedangkan, pasukan pertama Jerman menyerang Belgia, menguasai Brussel, lalu bergerak ke selatan dipimpin oleh Alexander Von Kluck, memaksa Perancis dan BEF ( British Expeditionary Force ) untuk mundur dari Charleroi dan Mons.

Karena terlalu cepat dan hebatnya serangan pada 16 Agustus, kekuatan Jerman melemah, sehingga Prancis serta BEF dapat memukul mundur Jerman pada 13 September dari sungai Marne ke dataran tinggi Chemin des Dames dan ke Timur, ke arah Verdun, pertempuran ini dikenal sebagai “Pertempuran Marne”.

Pada bulan Desember 1914 terjadi genjatan senjata tidak resmi antara Jerman dan Inggris. Pada tanggal 26 Desember tepatnya pada jam 8.30 pagi, setelah merayakan natal permusuhan kembali dimulai.

Perang yang berlangsung ini adalah sebuah bentuk perang baru yang lebih berupa pertahanan posisi dalam parit daripada gerakan cepat. Perang total Industrialis yang melibatkan rakyat sipil dan juga tentara ini merupakan sebuah fenomena sejarah baru. Inggris mengerahkan pasukan sukarelawan yang diberi nama Pasukan Kitchner. Perang telah menimbulkan banyak korban seperti pada Mei 1915, Kapal penumpang Lusitania ditenggelamkan kapal selam Jerman U-20. Sebanyak 1.198 penumpang kapal itu tenggelam.

Tahun1915 merupakan tahun yang buruk. Cacatnya taktik militer yang dimiliki sekutu menimbulkan banyak kehilangan besar walaupun di Garis Depan Barat sekutu memenangkan pertempuran Neuve Chapelle pada bulan Maret namun pertempuran kedua Ypres saat Jerman menyerang dengan gas beracun, Prancis menderita korban yang sangat banyak. Begitu pula yang dialami oleh Inggris yang kehilangan 16.000 serdadunya. Karena tidak adanya pemecahan, Pemerintah Inggris memutuskan untuk membuka garis depan baru, di Peninsula Gallipoli, Turki.

Pada 25 April sebuah serangan darat dipimpin oleh Liman Von Sanders menjebak pasukan Inggris, Prancis, dan ANZAC ( Australia dan Selandia Baru ). Terjadi penyerangan kembali, di ANZAC dan Suvla pada 16 Oktober yang menimbulkan banyak korban, 200.000 serdadu tewas dalam pertempuran ini.

Hingga akhir 1915 perang ini telah menghabiskan banyak korban dan materi. Namun, perperangan masih berlanjut. Pertempuran di kota Verdun menjadi pengawal pada tahun 1916. Dalam perang yang paling berdarah ini tidak ada pihak yang memenangkan keuntungan telak. Di Natal ini terlihat bahwa serangan Jerman terhadap benteng Douaumont, Vaux, dan Thiaoumont mengalami kegagalan dan Prancis berhasil mempertahankan Verdun.

Pertempuran dilanjutkan di Somme. Serangan Somme yang telah dirancang sebelumnya pada tahun 1915 memberi perubahan dramatis. Inggris ingin menyerang dengan bergerak berdampingan namun hal ini malah menimbulkan banyak korban dari sekutu. Sebanyak 600.000 serdadu tewas sia-sia dalam pertempuran ini.

Setelah tragedi memilukan di atas, perang dilanjutkan. Dikenal sebagai “Pertempuran Ketiga Ypres”. Pertempuran yang terdiri dari enam pertempuran terpisah ini yaitu: Pertempuran Menin Road, Pertempuran Polygon Wood, Pertempuran Broodseinde, Pertempuran Poelkapelle, dan Pertempuran Pertama dan Kedua Passchendaele. Berulang kali serangan ini di Passchendaele ini gagal melawan pertahanan Jerman. Pada 5 November Kanada mnguasai Passchendaele. Pertempuran ini tidak memberi keuntungan pada sekutu. Tiga hari pada April 1918, Jerman dapat merebut kembali titik tersebut.

Berakhirnya Perang :

Akhirnya perang dunia I berakhir pada tanggal 11 November 1918. Gagalnya Jerman dan berhasilnya serangan sekutu di Hindenburg menyebabkan Jerman menyerah. Diawali pada tanggal 3 Oktober Pangeran Max Von Baden meminta Presiden Amerika Serikat, Preseiden Woodrow, untuk menengahi sebuah genjatan senjata. Sebulan kemudia, Austria-Hungaria menyerah, dan pada 30 Oktober, Turki mengikuti. Di sebuah gerbong kereta di Compiegne, Pada 6 November Jerman menandatangani perjanjian genjatan senjata. Jerman sepakat untuk mundur dari semua wilayah dan menyerahkan angkatan lautnya. Sekutu menduduki Rhineland, sebelah barat Jerman, pada 1 Desember untuk mengontrol seluruh bagian negara. Perang pun berakhir.

Perang Dunia II :

Sebab Terjadinya :

Setelah Perang Dunia I berakhir dibuat sebuah perjanjian pada 28 Juni 1919. Para pemimpin gerakan sekutu berkumpul untuk menentukan syarat-syarat perjanjian perdamaian di Bangsal Kaca di Versailles dekat Paris. Jerman dipaksa untuk mnyetujui segala isi dari “Perjanjian Versailles” ini dan tidak memiliki hak untuk berargumen. Di dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa Jerman harus menerima tanggung jawab karena memulai peang, berjanji membayar ganti rugi sebesar 6.000 poundsterling untuk kerusakan yang diakibatkannya dan angkatan perang yang dibatasi hanya 100.000 serdadu. Jerman juga wajib menyerahkan wilyahnya di Eropa dan diambilnya koloni-koloni di Afrika. Tidak diperkenankan pula bagi Jerman untuk bergabung dalam Liga Bangsa-Bangsa, atau bersatu dengan Austria.

Syarat-syarat perjanjian ini begitu memberatkan Jerman sehingga menimbulkan kebencian dan politik ekstrem. Perang Dunia I yang dikiranya adalah akhir dari segala bentuk perang ternyata keliru. Selama 20 tahun setelah Perjanjian Vershailes dibuat, Jerman mempersiapkan adanya perang kembali. Persis ketika Pemerintahan Amerika dibutuhkan, negara  ini malah masuk ke dalam kebijakan isolasi, yang mencegah bantuan apa pun dalam restrukturasi keuangan global dan pembayaran utang. Selain itu, banyaknya komunis penghasut menyebabkan keruntuhan. Perjanjian Vershailles yang menegaskan Jerman hanya dapat menyimpan 100.000 serdadu bersenjata menyebabkan banyak mantan serdadu yang membentuk kelompok ekstrem sayap kanan selama kekacauan sosial pada tahun 1920-an. Ditambah dengan adanya inflasi tinggi dan tidak mampunya pemerintah Jerman mengatasinya, akhirnya terbentuklah Partai Sosialis Nasional ( Nazi ) di bawah Adolf Hitler, perdana menteri terpilih tahun 1933. Adolf Hitler mengembangkan fasisme dan kemudian memulai Perang Dunia II dengan menyerbu Polandia pada tanggal 1 September 1939 di kota Danzig. Peristiwa itulah yang menjadi sebab langsung terjadinya Perang Dunia II.

Polandia merupakan negara di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bamgsa. Hitler menuntut Danzig karena pendudukanya adalah bangsa Jerman, tetapi Polandia menolak tuntutan itu. Pada tanggal 3 September 1939 negara-negara pendukung LBB terutama Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada Jerman, kemudian diikuti sekutu-sekutunya. Sedangkan Perang Dunia di Pasifik disebabkan oleh serbuan Jepang terhadap Pangkalan Armada Laut Amerika di Pearl Harbour, Hawai pada 7 Desember 1941.

Jalannya Perang :

Setelah penyerangan Jerman terhadap Polandia. Jerman melakukan serangan ke utara yakni ke Denmark dan Norwegia pada 9 April 1940. Berhasil menduduki dua negara ini, Jerman pada Mei 1940 berhasil pula menduduki Belanda sehingga Ratu Wilhelmina mengungsi ke Inggris. Dilanjutkan pada 10 Juni 1940 Italia mengumumkan perang kepada Perancis dan Inggris, kemudian Italia menyerbu Perancis. Italia ikut menyerang sebab Italia merasa telah diperlakukan tidak adil dan semena-mena di Versailles walau berada di sisi sekutu. Pada bulan Juni 1940 pasukan Jerman berhasil menduduki Perancis, tentara Perancis mengungsi pula ke Inggris dipimpin oleh Charles de Gaulle.

Kekuatan kedua negara penganut fasisme ini makin kuat. Angkatan Udara Jerman menyerbu Inggris tetapi gagal kemudian beralih mengebom angkatan laut Inggris. Kemudian, Jerman, Italia, dan Jepang bergabung dalam “Perjanjian Tiga Negara” pada 27 September 1940.

Finlandia dan Rumania membantu pula Jerman menyerang Rusia pada tanggal 22 Juni 1941 walaupun sebenarnya 18 bulan sebelumnya Hitler telah mengadakan perjanjian dengan Uni Soviet untuk tidak saling menyerang.

Tidak hanya di Eropa, perperangan dilaksanakan pula di Afrika. Inggris dapat memukul mundur tentara Italia di Afrika Utara. Pada 23 Oktober 1942 sekutu menyerang Blok Sentral yang dipusatkan di El Alamien, Mesir. Di tangan Jenderal Erwin Rommel tentara Jerman menyerbu Afrika dan menghantam Inggris sampai di muka Alexandria. Serangan ini dapat ditaklukan oleh Inggris dan Amerika Serikat pada tanggal 12 November 1942.

Berakhirnya Perang :

Bala bantuan dari Amerika ini membuat Jerman semakin rapuh. Pada 19 November 1942 Jerman kalah melawan Rusia dalam pertempuran di Stalingrad. Lalu, Rusia menyerbu Balkan dan Polandia, Rumania dan Bulgaria pun menyerah. Hongaria pun menyerah pada tanggal 13 Februari 1945. Berlin pun akhirnya dapat diduduki sekutu dari segala arah. Akhirnya, pada tanggal 30 April 1945 Hitler bunuh diri, dan pada tanggal 7 Mei 1945 Jerman menyerah kepada sekutu tanpa syarat di Reeims, Perancis.

Jalannya Perang Medan Asia Pasifik :

Perang di medan Asia Pasifik diawali dengan penyerbuan pangkalan Armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 7 Desember 1941 oleh Jepang. Perang yang menewaskan 2.330 tentara Amerika Serikat dan 100 orang sipil di samping menghancurkan peralatan perang Amerika Serikat.

Amerika Serikat tidak tinggal diam dengan tindakan Jepang. Mereka memakai taktik serangan dari pulau satu ke pulau yang lain. Dipimpin Jendral Dauglags dan Laksamana mereka menyerang tentara Jepang di Laut Karang dan Midway ( 7 Mei 1942 ). Lalu Amerika Serikat dapat dengan mudahnya merebut Filipina, Iwo Jima, Okinawa. Kemudian Inggris menyerbu Birma dan menghancurkan tentara Jepang. Dari Saipan dan Okinawa Amerika Serikat menyerang kota-kota di Jepang. Namun, Jepang tidak pernah menyerah.

Akhir Perang  :

Pada 6 Agustus 1945  kota Hiroshima dijatuhi bom atom dan dilanjutkan pada tanggal 9 Agustus 1945 di Nagasaki, karena telah menjatuhkan banyak korban Jepang akhirnya menyerah pada sekutu pada 14 Agustus 1945, namun, secara resmi tanggal 2 September 1945 di Kapal “Missouri” di Teluk Tokyo.

Nasionalisme dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II

Nasionalisme bisa dikatakan sebagai penyebab dan juga efek dari perang dunia. Nasionalisme sendiri dapat didefinisikan sebagai persepsi identitas seseorang terhadap suatu kolektifitas politik yang terorganisasi secara teritorial. Jika merujuk kepada sejarah penyebab khusus perang dunia pertama, pembunuhan Pangeran Ferdinand dari Austria-Hongaria yang menyulut nasionalisme dari Austria untuk berkonfrontasi dengan Serbia. Persepsi tentang identitas bersama yang bersifat ideologis pada akhirnya akan menimbulkan sebuah gerakan yang mengacu pada nasionalisme. Begitu juga dengan Jerman yang menjadi pihak yang kalah dalam perang dunia pertama, terbentuklah sebuah nasionalisme yang menjadi akar perang dunia kedua. pada perang dunia kedua dimana terdapat pemikiran bahwa negara sama dengan organisme yang hidup, yang melalui fase-fase kelahiran, masa remaja, dan ahirnya menjadi tua. Mereka mengklaim peranan yang dominan bagi bangsa mereka karena menganggap mempunyai warisan biologis yang unggul. Pemikiran tersebut yang menyebabkan aliran pemikiran organik, yaitu negara harus besar sebelum negara itu mati, karena itu penakluan terhadap ruang kehidupan (lebensraum) menjadi sangat vital. Adolf Hitler dan Benito Mussolini merupakan penganut nasionalisme organik yang ekstrim yang menjadi pemain penting dalam perang dunia kedua.

Konsepsi negara bangsa organik dibangun berdasarkan pemahaman filosofis yang merujuk pada seorang filsuf Jerman bernama Georg William Hegel. Hegel memandang negara nasional adalah bentuk unit politik tertinggi. Kurangnya subordinasi akan menyebaban anarki dan kekacauan. Negara atau pemerintah muncul sebagai perwujudan dari keinginan dan tujuan bangsa. Negara juga tidak memiliki tugas yang lebih tinggi selain membela dan memperkuat dirinya sendiri. Menurut konsepsi ini individu-individu adalah alat negara yang nilainya akan diukur melalui kontribusi mereka bagi kelangsungan hidup organisme negara tersebut. Pemikiran yang dikemukakan sosialis jerman adolf hitler mendesak negara bangsa versi liberal abad 19 dan menghendaki adanya formasi sistem negara-negara eropa yang bersifat hierarkis yang dikuasai oleh ras yang secara biologis terpilih menurut kemurnia ideologi dan kekuatan. Perang dunia kedua merupakan penyebab dari nasionalisme di Asia Afrika yang dulunya merupakan daerah koloni. Kekalahan pihak kolonial pada perang dunia, menyebabkan nasionalisme yang menjadi sebuah ideologi akhirnya timbul national self determination yang merupakan kepercayaan yang lahir di banyak negara bekas koloni sehingga banyak negara yang memerdekakan diri di akhir perang dunia kedua.

Konstelasi Sistem Internasional pada masa PD I & II

Pada bulan Agustus 1914, sebuah perang besar pecah di Eropa. Pembunuhan oleh orang Serbia terhadap putra mahkota Austria Frans Ferdinand mengawali pecahnya perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Dunia 1 ini. Industrialisme, nasionalisme, dan imperialisme menjadi akar dari pecahnya perang ini (Tobjorn L. Knutsen, 1997). Perang ini melibatkan beberapa negara yang memang telah membentuk sistem aliansi. Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia tergabung dalam sebuah aliansi yang dikenal dengan Triple Alliance. Lahirnya aliansi berawal sejak Austria-Hungaria mengalami krisis dengan Bosnia yang telah dibantu oleh Serbia dan Rusia pada. Oleh karena itu Austria-Hungaria meminta bantuan pada Jerman pada tahun 1879. Sedangkan Italia yang sedang berselisih dengan Perancis dalam memperebutkan Tunisia menjalin kerjasama dengan kedua negara (Jerman, Austria-Hungaria). Italia memiliki tujuan yang sama dengan kedua negara tersebut yakni untuk menjadi Great Power di Eropa. Aliansi in kemudian dikenal sebagai Blok Poros. Sistem aliansi lain yang menjadi tandingan aliansi ini adalah Triple Etente. Triple Etente ini terdiri dari Inggris, Perancis, dan Rusia yang telah menandatangani Anglo Russian Etente atau Anglo Russian Convention pada 31 Agustus1907 di St Petersburg. Hasil dari Anglo Russian Etente itu menggambarkan masing-masing mereka diharuskan saling memperbaiki hubungan diplomatik dan memperbesar kekuasaan. Aliansi ini kemudian sebagai Blok Sekutu.

Setelah berakhirnya perang dunia, maka cita-cita untuk menciptakan perdamaian yang abadi dengan melenyapkan perang dari muka bumi, selalu timbul setelah orang mengalami kengerian peperangan besar. Hal tersebutlah yang mendorong berdirinya Liga Bangsa Bangsa (Leahue of Nations). Dimana LBB ini merupakan gagasan dari presiden Amerika yaitu Woodrow Wilson. Beliau mengusulkan suatu konsep perdamaian yang disebut dengan “Peace Without Victory”. Usul tersebut kemudian menjelma menjadi Wilson’s Fourteen Poin (14 pasal perdamaian Wilson). Pasal-pasal inilah yang akhirnya menjadi landasan lahirnya LBB pada tanggal 10 Januari 1920. Pada awal berdirinya LBB mempunyai anggota 24 negara selanjutnya berkembang menjadi 60 negara dengan berkedudukan di Jenewa, Swiss. Pada intinya LBB bertujuan menjamin perdamian dunia, melenyapkan perang, mengadakan diplomasi terbuka dan menaati hukum internasional dan perjanjian internasional. Dalam susunan organisasi, LBB mempunyai empat badan utama yaitu Sidang Umum (the council), Sekretariat Tetap (the secretary), Dewan Khusus dan Mahkamah Internasional (the world court). Sedangkan sifat dari keanggotaan LBB adalah sukarela, tidak mengikat, walaupun ada sangsi berupa boikot untuk negara-negara yang melanggar tetapi negara lain sukarela menjalankan atau tidak. Maka dengan hal tersebut pada akhirnya LBB mengalami kegagalan dan tidak mampu menciptakan perdamaian dikarenakan negara-negara besar menggunakan LBB untuk kepentingan sendiri.

Disamping hal tersebut LBB tidak mempunyai alat kekuasaan yang nyata untuk memaksa suatu negara yang menentangnya untuk tunduk kembali ke LBB. Dan hal inilah tujuan LBB tergelincir dari soal-soal perdamaian menjadi soal politik belaka, akibatnya LBB menjadi alat politik negara-negara besar

Liga Bangsa-Bangsa yang telah dibentuk ternyata tidak bertahan lama. Kegagalan LBB yang tidak sanggup menjamin perdamaian sehingga terjadi perlombaan senjata dan politik alliansi atau politik mencari kawan, yang terdiri dari tiga blok besar yaitu Blok Perancis, (demokrasi), Blok Jerman (Fascis/Nazi), dan Blok Rusia (komunis) menyebabkan pecahnya perang dunia 2. Sistem aliansi ini juga mewarnai Perang Dunia 2. Perang Dunia 2 juga diwarnai dengan nasionalisme yang kuat namun menjurus pada chauvinisme. Nazisme yang lahir di Jerman dan Fasisme yang berkembang di Italia adalah suatu contoh nasionalisme yang berlebihan yang juga mewarnai perang dunia 2. Pada awalnya Rusia tidak terlibat PD 2 karena terikat perjanjian dengan Jerman untuk tidak saling menyerang pada tanggal 23 Agustus1941, tetapi Jerman menyalahi sendiri perjanjiannya pada tanggal 22 Juni 1941 dengan menyerbu ke Rusia. Hal ini penting artinya bagi jalannya peperangan. Demikian pula bagi Amerika yang semula bersikap netral dalam PD 2 tetapi karena Amerika merupakan gudang kebutuhan perang bagi sekutu (Arsenal of Democracy) diserang Jepang 7 Desember 1941, dan akibatnya tanggal 8 Agustus 1941 Amerika menyatakan perang kepada Jepang yang diikuti dengan pernyataan perang Jerman, Italia kepada Amerika tanggal 11 Desember 1941. Dengan demikian perang dunia 2 meluas tidak hanya di Eropa tetapi meliputi seluruh dunia. Akibat yang ditimbulkan oleh Perang Dunia 2 adalah Amerika dan Rusia sebagai pemenang dan sekaligus yang menyebabkan kemengan kemenangan sehingga Amerika dan Rusia mempunyai pengaruh besar. Pengaruh Amerika dan Rusia disebabkan karena Amerika mempunyai kedudukan pensuplai materil yang kuat sedangkan Rusia memiliki kedudukan psikologis yang kuat dengan baying-bayang komunisme yang sangat ditakuti sebagai akibatnya terjadilah perebutan hemegoni (pengaruh) antara Amerika dan Rusia. Perebutan hemegoni antara Amerika dan Rusia menimbulkan politik perimbangan (Balance of Power Policy) yang akhirnya mengarah kepada terbentuknya politik allianci yang berdasarkan keamanan bersama (Collective Security) yaitu seperti NATO, METO, SEATO dan PAKTA WARSAWA. Akibat lain yang ditimbulkan PD 2 dalam bidang politik adalah adanya politik memecah belah seperti Jerman, Korea, Indochina dan Berlin. Dan yang terpenting dari akibat PD 2 ini adalah jatuhnya imperialisme politik yang mengakibatkan negara-negara di Asia Afrika merdeka termasuk Indonesia. Perang dunia 2 merusak ekonomi seluruh dunia kecuali Amerika, sehingga Amerika berupaya membantu negara-negara yang membantu negara-negara yang mengalami kehancuran ekonomi agar tidak jatuh ketangan Rusia di komunismenya. Bantuan tersebut antara lain dalam bentuk Truman Doctrine (1947) bantuan ekonomi dan militer untuk Turky dan Yunani. Point Four Truman, bantuan ekonomi dan militer untuk negara-negara keterbelakangan di Asia. Tentu masih banyak bantuan-bantuan Amerika dan sekutunya untuk membendung pengaruh komunis tersebut. Kesengsaraan yang disebabkan oleh perang dunia 2 menginsyafkan sekali lagi, bagaimana jahatnya perang. Untuk itu timbul keinginan kembali menciptakan LBB melalui beberapa konferensi yang dilaksanakan oleh Amerika, Inggris, Rusia dan China seperti Atlantic Charter, Dumbarton Caks di Washington dalam Konferensi Yalta. Akhirnya dimenangkan krim serta kenferensi San Francisco yang dihadiri 50 negara, maka tanggal 24-10-1945 UNO/PBB resmi berdiri, dengan sidang pertamanya di London tanggal 10 Januari 1946.

Dari uraian di atas dapat diketahui keadaan sistem internasional pada masa perang dunia 1 dan 2 memiliki ciri khas yang hampir sama yaitu adanya politik aliansi dan dalam setiap perangnya selalu diakhiri dengan pembentukan suatu lembaga internasional yang diharapkan dapat menciptakan perdamaian dunia. Dari sini pula dapat diketahui bahwa ternyata muncul hegemoni dari Amerika sebagai negara yang cukup kuat pengaruhnya pada masa perang dunia 1 dan perang dunia 2.

Implikasi Perang Dunia terhadap Sistem Internasional

Berakhirnya Perang Dunia II dengan kemenangan di  pihak sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet)  tidak serta merta  mengakhiri konflik. Bahkan kemenangan sekutu ini berdampak pada munculnya  masalah baru yaitu adanya pertentangan kepentingan dan persaingan serta  perebutan hegemoni atau pengaruh  antara negara anggota sekutu dalam usaha untuk menjadi negara yang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia. Perang Dunia II juga telah meruntuhkan hegemoni negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis yang sudah berabad-abad memegang kendali kekuasaan dan memiliki negara jajahan di berbagai belahan dunia. Serta memunculkan dua kekuasaan yang saling bersaing dalam memberikan pengaruh  baik dalam hal perekonomian maupun ideologi mereka yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. (Cerny. 2008: 1-46 dalam http://setabasri01.blogspot.com/ )

Keadaan seperti ini dimana dunia dikuasai oleh dua kutub yang saling bersaing disebut bipolaritas kekuasaan. Bipolaritas inilah yang kemudian memunculkan “Perang Dingin”. Selama Perang Dingin, Amerika dan Uni Soviet saling berlomba dalam berbagai bidang, memamerkan perkembangan teknologi, persenjataan, kekuatan militer, koalisi militer, ideologi, psikologi,  industri, pertahanan, perlombaan nuklir  dan banyak lagi. Sehingga masyarakat dunia selalu dikhawatirkan akan terjadinya peran lagi. Meskipun kedua negara adikuasa tersebut tidak pernah berperang secara langsung, tapi konflik ini secara tidak langsung juga menimbulkan perang lokal dan perpecahan negara seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, Korea Utara da Korea Selatan. (Boyle…)

Dalam hal persaingan ideologi kedua negara adikuasa tersebut memiliki ideologi yang berlawanan dimana Amerika Serikat dengan ideologi Liberalis-Kapitalis (paham yang mengutamakan kemerdekaan individu) sementara Uni Soviet dengan ideologi Sosialis-Komunis (paham yang menghendaki suatu masyarakat disusun secara kolektif). Kedua negara tersebut saling berlomba menanamkan pengaruhnya pada negara lain dengan  menghalalkan berbagai cara, akibatnya negara-negara di dunia terpecah  menjadi dua kutub dimana negara Jerman Timur dan beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Utara, Kamboja, Laos, Vietnam serta negara-negara Eropa Timur berada dibawah pengaruh Uni Soviet yang selanjutnya dikenal dengan Blok Timur dan mendirikan pakta pertahanan “Warsawa”. Sementara negara-negara seperti Jerman Barat, Eropa Barat dan banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berada dibawah kekuasaan Amerika Serikat yang kemudian  dikenal sebagai  Blok Barat dan juga memiliki pakta pertahanan NATO.

Selain melahirkan konsep bipolaritas dan perang dingin, Perang Dunia juga memunculkan era dekolonisasi di negara-negara Asia dan Afrika yang merupakan bekas jajahan bangsa barat seperti Indonesia, India, Pakistan, Srilanka, dan Filipina. Mereka muncul sebagai negara baru yang merdeka sebagai dampak positif dari Perang Dunia II.

Sebelum dan pada masa Perang Dunia Sistem Internasional berupa Multi-polar dengan banyak negara Eropa sebagai pusat kekuasaannya. Namun setelah Perang Dunia II sistem ini berubah menjadi Bipolar dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai pusat kekuasaan. Dan pada akhirnya Uni Soviet runtuh pada tahun 1991 dan Sistem  Internasional berubah lagi menjadi Unipolar dengan Amerika Serikat sebagai pusat kekuasaan.(Wohlforth. 1999: 55-41)

 

 

Implikasi PD terhadap studi hubungan Internasional (Pasca Perang Dunia)?

Sebelum Perang Dunia I, studi Hubungan Internasional pada umumnya hanya terbatas pada Sejarah Diplomasi, Hukum Internasional, dan Ekonomi Internasional. Setelah Perang Dunia I ditambah dengan pelajaran Hubungan Internasional dan Organisasi Internasional. Disiplin Ilmu HI berkembang terutama di Amerika Serikat dan Inggris. Sedangkan di negara-negara Eropa kurang berkembang karena orang-orang Eropa bersikap lebih berhati-hati untuk menyimpang dari disiplin-disiplin yang lebih dulu ada. Di tahun 1930, Politik Internasional, Geografi Politik, dan opini publik sudah banyak menjadi perhatian.Di Amerika Serikat beberapa Universitas mulai menyusun kurikulum dan gelar kesarjanaan yang tinggi dalam bidang Hubungan Internasional. Kemudian di Inggris pada umumnya yang menjadi pokok perhatian adalah sejarah politik internasional dan perkembangan serta bekerjanya lembaga-lembaga Internasional. Kecenderungan ini mungkin disebabkan bahwa pengetahuan rtentang aspek-aspek hubungan antarnegara ini dapat membantu usaha tercapainya perdamaian dunia pada saat itu. Perang Dunia II dan pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberikan dorongan baru kepada ilmu pengetahuan ini, bahkan memyebabkan timbulnya gagasan pemerintahan dunia (world government). Akhirnya pada tahun 1940-an dunia mengalami Perang Dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur. Pada tahun1960-an dan tahun 1970-an perkembangan studi Hubungan Internasional makin kompleks dengan masuknya aktor IGO dan INGOs Serta makin kuatnya peran negaradi luar Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam kancah Hubungan Internasional. Pada tahun 10980-an pola Hubungan Internasional masih bersifat state centric (Masih bipolar) tetapi muncul kekuatan-kekuatan sub-groups yang mengemuka. Pada sekade 1980-an studi Hubungan Internasional adalah studi tentang interaksi yang terjadi antara negara-negara yang berdaulat di dunia, juga merupakan studi tentang Non-State Actors yang perilakunya memiliki pengaruh terhadap kehidupan negara-bangsa(Nation-State). Hubungan internasional mengacu pada segala aspek bentuk interaksi. Hubungan Inernasional merupakan bentuk interaksi antara aktor atau anggota masyarakat yang satu dengan aktor atau anggota masyarakat lain. Terjadinya Hubungan Internasional merupakan suatu keharusan sebagai akibat adanya saling ketergantungan dan bertambah kompleksnya kehidupan manusia dalam masyarakat internasional sehingga interdpendensi tidak memungkinkan adanya suatu negara yang menutup diri dari dunia luar.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Basri, seta.2009. Hubungan Internasional. 13 Februari 2009. Seta Basri : Blog [Accesed November 20, 2009]. http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/hubungan-internasional.html
  2. Boyle, peter G American – soviet, from Russian revolution to the fall of communism, routledge
  3. Cerny, Philip G. 2008. Embedding Neoliberalism: The Evolution of a Hegemonic Paradigm, The Journal of International Trade and Diplomacy 2 (1)
  4. Coloumbis, Theodore A. and Wolfe, James H. Introduction to International Relations: Power and Justice, 3rd. Prentice Hall Inc. 1986.
  5. Herjunanto Nanang.2008.Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
  6. Jackson, R.& Sorensen, Georg. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  7. Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Theory, Manchester University Press
  1. Mas’oed, Mohtar. Ilmu HI Disiplin dan Metodologi. Penerbit LP3S: Yogyakarta
  1. Nasution, Dahlan (1991) Politik Internasional Penerbit Erlangga: Jakarta.
  2. Perwita, Anak Agung Banyu & Yani, Yanyan Mochamad. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya: Bandung
  3. Saunders Nicholas.2005.Kisah yang Terlewatkan : Perang Dunia I. Jakarta : PT Elex Media Komputindo
  4. Wohlforth, William C. 1999.The Stability of a Unipolar World, International Security, Vol. 24, No. 1

 

 

 

Posted Oktober 19, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Great Debate dalam dunia HI   2 comments

I Pendahuluan

Latar Belakang Terjadinya Great Debate dan Keadaan Politik Internasional dalam Study Hubungan Internasional

Semenjak awal berdiri hingga perkembangannya, ilmu hubungan internasional dibangun  oleh teori-teori yang terus berkembang bahkan dengan latar belakang pemikiran yang berbeda-beda. Perdebatan-perdebatan ini melibatkan berbagai perspective, paradigm, approach, worldview, general theory, image, general explanation, framework menurut perkembangan zamannya (zeitgeist). Ada tiga perdebatan besar (great debate) sejak HI menjadi subjek akademik di akhir perang dunia hingga sekarang, dan sekarang kita sedang berada pada tahap awal perdebatan besar yang keempat (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 45). Perdebatan pertama adalah antara realisme dengan liberalisme utopian (idealisme). Perdebatan ini terjadi di tengah-tengah Perang Dunia 1. Kondisi internasional yang carut marut membawa kaum liberalis pada sebuah pemikiran bahwa upaya perdamaian dapat dicapai dengan membentuk sebuah collective power yang tercermin dari dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa. Menurut kaum liberalis hal ini dapat menghentikan perang yang telah berlangsung. Namun kaum realis bepikiran bahwa perang yang tejadi adalah lebih karena sifat dasar manusia yang selalu ingin mengejar kekuasaan yang pada akhirnya sangat mudah menimbulkan agresi. Kaum realis menganggap bahwa pemikiran kaum liberal yang menyatakan bahwa perang dapat dihentikan melalui pembentukan Liga Bangsa-Bangsa guna menciptakan perdamaian dunia adalah suatu hal yang terlalu utopis. Hal ini dibuktikan dengan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dalam menjaga perdamaian dunia sehingga Perang Dunia 2 akhirnya pecah.

Perdebatan besar yang kedua terjadi antara pemikiran kaum tradisional dengan pemikiran kaum behavioral. Setelah perang dunia 2, disiplin akademik HI meluas dengan cepat khususnya ke Amerika (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 59). Badan-badan pemerintah dan yayasan swasta ingin mendukung penelitian HI ilmiah yang dapat mereka benarkan seperti dalam kepentingan nasional. Menurut Robert Jackson & George Sorensen (1999), hal ini dilakukan demi tercapainya perdamaian dunia dari pendekatan ilmu secara metodologis yang tepat dengan menggunakan data empiris tentang hubungan internasional. Behavioralis juga berusaha mengklarifikasikan, mengukur, dan memformulasikan hukum-hukum layaknya ilmu pasti seperti fisika atau kimia tanpa memberi ruang bagi etika moral dalam teori internasional. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pemikiran kaum tradisional yang melihat sebuah hubungan internasional dari hal-hal mendasarnya seperti ketertiban, kebebasan, dan keadilan (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 85). Pada akhirya tidak ada yang menang pada perdebatan ini, dan kedua metode tersebut digunakan dalam disiplin HI.

Dikombinasikannya konsep tradisional dan behavioral memunculkan aliran baru yaitu neorealis dan neoliberalis sebagai pengembangan dari mainstream terdahulu. Metode-metode ini kemudian ditantang oleh metode neo-marxis yang kemudian menjadi perdebatan besar ketiga. Inti dari perdebatan ini adalah dilandaskan pada ekonomi yang selama ini dianggap memegang peranan kedua dalam sebuah negara setelah politik (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 74). Pergerakan negara-negara dunia ketiga pada tahun1970an dan hegemoni Amerika yang telah ada semenjak perang dunia 1 dan kemudian mendapat tantangan dari Jepang dan Eropa Barat menjadi fokus utamanya. Analisis masing-masing metode mengenai upaya negara-negara dunia ketigalah yang menjadi topik utama dalam perdebatan besar ini. Singkatnya perdebatan besar ketiga telah menggeser isu-isu politik dan militer yang kemudian digantikan oleh isu-isu sosial ekonomi pada dunia ketiga.

Perdebatan besar kempat yang sekarang sedang terjadi adalah adanya pemikiran-pemikiran baru melihat dari kondisi internasional pasca perang dingin. Banyaknya isu-isu baru seperti lingkungan hidup, gender, penghapusan ras, dll dinilai oleh penganut aliran alternatif tidak dapat dijelaskan oleh metode terdahulu yaitu neoliberal dan neorealis (Robert Jackson & George Sorensen, 1999). Metodologi-metodologi juga kembali dipertanyakan oleh penganut aliran alternatif ini sebagai bentuk serangan pada teori yang telah mapan. Singkatnya, perdebatan keempat ini juga mencoba menggiring dan menunjukkan arah disipin akademik HI yang lebih sesuai dengan hubungan internasional pada milenium baru dengan tidak hanya sekedar berkutat pada politik, militer, dan ekonomi sebagai bahasannya (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 80).

 

 

II Pembahasan

A Great Debate Pertama: Liberalisme melawan Realisme

Subjek akademik HI muncul pertama kali karena dampak dari perang dunia pertama tahun 1914-1918. Perang yang mengakibatkan terbunuhnya jutaan jiwa itu telah menyisakan trauma yang mendalam bagi banyak orang. Pada periode 1920-1940an, terdapat sebuah kebutuhan untuk menyusun sistem politik yang dianggap bisa membuat seluruh dunia merasa tenang tanpa perang. Teori akademik pertama, muncul dengan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran liberal. Amerika Serikat saat itu akhirnya terlibat perang di tahun 1917, dan intervensi militernya sangat menentukan hasil perang. Saat itu Amerika Serikat mempunyai Presiden Woodrow Wilson, seorang professor yang mempunyai pandangan bahwa misi utamanya adalah membawa nilai-nilai demokrasi liberal ke eropa ke seluruh dunia dan perang besar akan dicegah  hanya dengan cara seperti itu.

Liberalisme dalam HI sangat erat kaitannya dengan munculnya negara liberal modern. Filsuf liberal, dimulai dari John Locke di abad ke tujuhbelas, melihat potensi yang besar bagi kemajuan manusia dalam civil society dan perekonomian kapitalis modern (Robert Jackson & George Sorensen, 1999). Kaum liberal memandang sifat manusia cenderung positif tetapi mereka juga percaya bahwa individu selalu mementingkan diri sendiri, walaupun dalam hal ini kaum liberalis juga menyatakan bahwa individu memiliki kepentingan sehingga dapat terlibat dalam aksi sosial yang kolaboratif dan kooperatif. Sehingga dapat diartikan bahwa perang dan konflik dapat dihindarkan ketika manusia menggunakan akal pikirannya untuk dapat bekerjasama bukan hanya delam negeri tetapi lintas batas internasional.

Menurut Jill Steans, ada beberapa asumsi dasar mengenai liberalisme, diantaranya adalah

  • Kaum liberal percaya bahwa seluruh manusia adalah makhluk rasional
  • Kaum liberal menulai kebebasan individu di atas segalanya
  • Liberalisme berpandangan positif tentang karakteristik manusia
  • Liberalisme yakin terhadap kemajuan
  • Dengan berbagai cara, liberalisme menentang pembagian antara wilayah domestik dan internasional.

Pada perdebatan pertama ini, kami lihat bahwa yang diperdebatkan adalah substansi yang sebaiknya digunakan dalam studi HI, pengetahuan mengenai apa itu HI diperdebatkan di sini. Realisme klasik telah muncul jauh sebelum perang dunia, yaitu ketika Thucydides, Machiavelli, dan Thomas Hobbes berbicara mengenai power. Realisme sendiri berkembang setelah gagalnya idealisme liberal. Hal ini ditandai dengan gagalnya liga bangsa-bangsa di tahun 1930an dan pecahnya perang dunia kedua. Menurut Jill Steans, ada beberapa asumsi dasar mengenai realisme, diantaranya adalah:

  • Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan diri sendiri. Negara, seperti manusia, bertingkah laku mementingkan diri sendiri.
  • Negara merupakan aktor utama studi hubungan internasional
  • Kekuasaan merupakan kunci untuk memahami tingkah laku internasional dan motivasi negara dan politik internasional adalah perjuangan demi kekuasaan
  • Sejarah pasti akan berulang.

B Perubahan dari Klasik Realisme dan Liberalisme Menjadi Neo-realisme dan Neo-liberalisme

Terdapat banyak perubahan dari liberalisme klasik hingga neoliberal. Liberal klasik sendiri menilai bahwa realitas manusia akan menjadi semakin kompleks dan kualitas manusia juga akan menjadi semakin baik.. Perdamaian menjadi syarat dari proses yang tidak dapat dihalangi, pencegahan perang menjadi mungkin, dan teori ini juga menganggap bahwa karena manusia memiliki akal pikirannya mereka dapat tiba pada kerjasama yang saling menguntungkan. Teori ini bertahan hingga akhirnya muncul pandangan baru yang disebut realis.

Munculnya realisme sebagai penentang dari teori Idealisme Liberal memberi warna tersendiri dalam studi HI. Pemikiran tentang realisme ini hidup di atas perdebatan-perdebatan dan mengalami perubahan-perubahan konsep, dari realisme klasik hingga akhirnya muncullah konsep baru yang biasa disebut neorealisme. Berawal dari konsep realisme klasik yang diprakarsai oleh Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes yang menggagas nilai-nilai realisme sebagai suatu paham yang percaya bahwa kondisi manusia adalah kondisi yang tidak aman dan berkonflik yang harus diperhatikan dan dihadapi, terdapat pula sekumpulan pengetahuan politik, atau kebijaksanaan, untuk menghadapi masalah keamanan, dan masing-masing dari mereka mencoba untuk mengidentifikasikan elemen-elemen pokoknya, serta tidak adanya pelarian akhir dari kondisi manusia yang merupakan bentuk permanen kehidupan manusia. Mereka menganggap politik dan sejarah politik sebagai siklus sebab dan akibat yang prosesnya dapat dianalisa dan dimengerti, tetapi tidak mungkin dipengaruhi secara intelektual ( Budiono:1986 ). Konsep yang berkembang pada tahun 1930-1950-an yang memenangkan Great Debate Pertama ini diakui sebagai petunjuk paling baik dalam Hubungan Internasional karena terbukti benar adanya.

Setelah kemenangannya dalam Great Debate pertama muncullah perdebatan baru setelah perang dunia II antara tradisionalis dan behavioralis. Tidak ada pemenang dalam perdebatan kedua ini. Namun, terjadi evolusi behavioralis yang akhirnya melahirkan konsep neoralisme. Behavioralis yang menekankan teorinya pada fakta yang dapat diamati agar mendapatkan pola perilaku yang berulang pada ‘hukum-hukum hubungan Internasional ini didukung oleh para penstudi Amerika Serikat yang pada akhirnya membuka jalan bagi formulasi baik realisme maupun liberalisme yang sangat dipengaruhi oleh metodelogi kaum behavioralis.. Formulasi dari realis dan liberalis ini disebut neo-liberalis dan neo-realis.

Perubahan dalam liberalis menjadi neo-liberalis terletak pada penggunaan teori-teori dan pemakaian metode-metode baru yang ilmiah yang sebelumnya tidak digunakan dalam teori liberalis klasik. Selain itu neo-liberal juga menolak pandangan idealisme yang ada sebelumnya. Dalam teori neo-liberalis juga muncul cabang aliran-aliran liberal yakni liberalisme sosiologis, interdependensi, institusional, dan republikan. Walaupun memiliki konsep yang berbeda tentang liberalisme baru ini. Namun aliran yang berbeda ini saling mendukung dalam memberikan suatu argumen menyeluruh yang konsisten untuk Hubungan Internasional yang lebih damai dan kooperatif.

Sedangkan dalam neorealis ditekankan pada struktur sistem, pada unit-unitnya yang berinteraksi, dan pada kesinambungan dan perubahan sistem. Para pencetus neorealis seperti Kenneth Waltz menyebutkan bahwa bentuk dasar hubungan Internasional adalah struktur anarki yang tersebar di antara negara-negara. Negara-negara serupa dalam semua hal fungsi dasarnya. Pendekatan neoralis ini tidak menyediakan membahas pada sifat-sifat manusia seperti yang ada pada teori realis klasik, teori ini menekankan lebih pada struktur sistem. Noerealis juga mengilhami nilai-nilai yang bersifat lebih bersifat normatif.

C       Marxisme dan Neo-Marxisme

1        Asumsi dasar Marx terhadap Marxisme

Marxisme/Komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.

Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu “manifesto Komunis” di mana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis. Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), ya bahkan tanpa negara (stateless society): sosialisme/komunisme. Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas / kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya.

Falsafah hidup atau “weltanschauung” marxisme adalah Ateisme. Pertama-tama ateisme itu harus dimengerti dari konteks kelahiran Marxisme, di mana terutama gereja Kristen Protestan gagal untuk merespon tantangan-tantangan sosial yang muncul pada abad ke-19 di Eropa. Kalau Marx berbicara tentang agama sebagai “opium untuk bangsa” – di depan matanya terutama adalah suatu agama seperti gerakan Pietisme Kristen Protestan yang mengutamakan “keselamatan jiwa” seseorang dan tidak peduli terhadap kondisi sosial dan politik. Karl Marx mengalami bentuk agama yang hanya menstabilkan status quo dan yang beraliansi dengan penguasa-penguasa zamannya. Allah diperalat untuk melegitimasi struktur-struktur kuasa dan sistem politik-kapitalis.

Namun, Ateisme komunis bukan hanya hasil konteks sosial-politis abad ke-19, tetapi berkembang menjadi suatu ideologi anti-agama. Dalam dialog antara komunisme dan agama yang dilaksanakan dalam pelbagi bentuk khususnya pada tahun enampuluhan abad ke-20, beberapa orang komunis memang mengakui bahwa agama bisa juga merupakan suatu faktor pembebasan dan keadilan sosial, tetapi pendirian ateis tidak pernah dipertanyakan. Untuk Marxisme, agama adalah projeksi manusia (Feuerbach) dan hanya mencerminkan struktur-struktur kuasa masyarakat. Manusia harus membebaskan diri dari semua ketergantungan dan otoritas, baik manusiawi maupun ilahi.

Menurut Etika Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang bedasarkan pernyataan/wahyu ilahi atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materiel masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (mis. dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya – yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas – untuk “keselamatan” seluruh bangsa.

Disini nampak antropologi (gambar tentang manusia) dari marxisme yang sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, yang melalui kerja manusia alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses me-masyarakat-kan, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll.) ditiadakan.  Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.

Disini muncul jurang yang sangat besar antara teori dan praktek marxisme, antara ideologi komunisme dan sosialisme real”. Negeri yang pertama kali menerapkan sistem komunisme adalah Uni Soviet, 1917 di bawah pimpinan Lenin (…Stalin, Krushev…Brezhnev, Gorbachev), dan banyak negara lain yang ikut, sampai sesudah perang dunia II, dunia dibagi menjadi dua: dunia “kapitalis” dan “dunia komunis” yang saling memusuhi dalam “perang dingin”. Bahkan ada negara yang dibagikan, seperti Korea Selatan dan Korea Utara atau Jerman Barat dan Jerman Timur. Kita memang bisa lihat beberapa contoh, di mana nilai-nilai sosial komunisme diwujudkan dengan cara yang menyakinkan, namun secara garis besar kita dapat bilang bahwa nilai-nilai itu akhirnya membuktikan diri bahwa tidak dapat diwujudkan dalam sistem politik dengan cara yang menguntungkan masyarakat. Melainkan, nilai-nilai sosial sering dikurbankan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan dalam konteks nasional dan internasional.

2        Asumsi Lenin terhadap Marxisme

Sebuah label pendekatan Lenin Marxisme di awal abad ke-20, di Rusia kapitalis yang muncul dari feodalisme. Sementara Lenin menganggap dirinya hanya seorang Marxis, setelah kematiannya teori dan praktek diberikan label Marxisme-Leninisme, yang dianggap sebagai evolusi secara keseluruhan Marxisme dalam “era revolusi proletar”. Marxisme-Leninisme adalah teori politik resmi dari bekas negara Soviet dan dipaksakan di seluruh sebagian besar mantan pemerintah sosialis Eropa Timur pada abad ke-20.

Sejarah Pembangunan: Penciptaan dan perkembangan Marxisme-Leninisme dapat dibagi menjadi dua kategori umum: pembuatan dan pengembangan oleh Stalin (1924-1953), dan revisi oleh Khrushchev dan berkesinambungan revisi oleh pemerintah Soviet (1956-1991) .

Leninisme Stalin didefinisikan dalam karyanya The Foundations of Leninisme: “Leninisme adalah Marxisme dalam zaman imperialisme dan revolusi proletar. Untuk lebih tepatnya, Leninisme adalah teori dan taktik revolusi proletar pada umumnya, teori dan taktik dari kediktatoran proletariat pada khususnya. ” Leninisme Stalin menjelaskan bahwa pertama kali dimulai pada tahun 1903, dan ini identik dengan Bolshevisme. Stalin menjelaskan bahwa dasar dari teori Marxis-Leninis adalah bahwa revolusi sosialis hanya bisa dicapai oleh Partai Komunis bangsa tertentu, garda depan kelas pekerja (para penyelenggara dan pemimpin). Setelah revolusi sosialis telah terpengaruh, pelopor ini akan bertindak sebagai satu-satunya wakil dari kelas pekerja.

Sementara dalam beberapa hal produk langsung dari filsafat Lenin untuk Rusia, Marxisme-Leninisme juga mengambil pendekatan baru. Sebagai contoh, walaupun Lenin percaya bahwa sosialisme hanya bisa ada di skala internasional, Marxisme-Leninisme Stalin didukung teori “Sosialisme di Satu Negara”. Stalin ditegakkan Marxisme-Leninisme sebagai platform internasional dengan menjelaskan bahwa prinsip-prinsip dan praktek-praktek yang diterapkan ke seluruh dunia.

Dengan cara ini, Marxisme-Leninisme menjadi satu-satunya yang benar teori dan praktek Marxisme di abad ke-20 ‘tanpa mengikuti Marxisme-Leninisme sebuah revolusi sosialis tidak dapat dicapai’. Pernyataan ini sebagian didasarkan pada salah satu dasar pemikiran dialektis materialis: bahwa praktek adalah kriteria kebenaran. Stalin menjelaskan bahwa Lenin telah menunjukkan melalui praktik, dengan cara tertentu untuk membentuk suatu pemerintahan sosialis di Rusia; sehingga terbukti bahwa praktek teori Lenin berlaku di Rusia pada awal abad ke-20. Namun tertentu, diambil dari konteks sejarah dan diubah menjadi universal. Oleh karena itu dasar untuk mengapa beberapa label dianggap Marxis-Leninis untuk menjadi sebagian idealis, karena meletakkan kondisi praktek khusus ke Rusia pada awal abad ke-20 berlaku bagi semua negara di dunia.

Meskipun Stalin penciptaan dan evolusi Leninis Marxis filsafat, istilah ini kemudian digunakan oleh pemerintah Soviet dalam mendukung “De-Stalinification”. Sementara Stalin mengenali teori pelopor Komunis sebagai ciptaan Lenin, pemerintah Soviet yang dipimpin oleh Khrushchev telah menjelaskan bahwa pelopor komunis itu sebenarnya adalah bagian dari “Marxis” aspek Marxisme-Leninisme (suatu aspek yang sampai sekarang telah sedikit dialamatkan). Leninis aspek, Khrushchev menjelaskan, mulai dalam “era revolusi proletar dan sosialis konstruksi”.

Khrushchev mengembangkan Marxisme-Leninisme untuk menjelaskan bahwa perang di seluruh dunia antara pekerja dan kapitalis tidak lagi diperlukan, tetapi yang ideal adalah hidup berdampingan secara damai yang melekat pada perjuangan kelas. Pemerintah Soviet yang baru lebih jauh menjelaskan bahwa sementara Marxisme-Leninisme diciptakan oleh teori dan praktek kediktatoran proletariat (yang Lenin telah dijelaskan sebagai pendek dan bentuk pemerintahan transisi) Marxisme-Leninisme berkembang menjadi teori tentang “keadaan seluruh rakyat “(Perkembangan ini tepat di seberang Marx, Engels, dan Lenin teori negara – negara yang selalu bertindak di kepentingan kelas tertentu, dan bila tidak ada kelas-kelas yang ada, negara akan tidak ada lagi).

Setelah kematian Lenin, penciptaan, pengembangan dan evolusi dari Marxisme-Leninisme adalah fokus melumpuhkan pertempuran sektarian di seluruh dunia atas “apa yang benar-benar dimaksudkan” oleh Lenin. Stalin menjelaskan bahwa praktik dan pemahaman Trotsky benar-benar kebalikan dari Leninisme (Trotskyisme atau Leninisme?), Sedangkan Trotsky mengkritik Stalin Marxisme-Leninisme sebagai sebuah kegagalan (Revolusi yang Dikhianati)

Menurut Hazel Smith sumbangan terbesar Marxisme terhadap studi hubungan internasional bukanlah terletak pada penyelidikan teoritikal atas teori marxisme klasik maupun interpretasi empiris atas kondisi internasional kontemporer. Melainkan pada pengembangan (development) teori internasional yang saat ini didefinisikan sebagai strukturalisme atau neo-marxisme (Groom & Light 1994)

Asumsi neomarxisme pada dasarnya adalah sama dengan asumsi dasar dari marxisme itu sendiri hanya saja berbeda dalam hal aktor dan struktur. Asumsi dasar dari neomarxisme itu sendiri adalah dunia ini bukanlah terpilah berdasarkan sovereignity yang dimiliki oleh negara sehingga menentukan batas-batasnya dalam sistem internasional. Tetapi yang diasumsikan oleh neomarxisme adalah sistem internasional yang terpilah berdasarkan kelas. Yaitu kelas kapitalis-eksploiter (dalam marxisme adalah borjuis) dan kelas negara dunia ketiga atau negara periphery (dalam marxisme adalah proletar) yang menjadi obyek eksploitasi karena memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara bermodal (kapital) (Wallerstein 1979: 1991).

3        Apa itu Neo-Marxis :

Menurut Baran & Davis (2000) Neo-Marxism adalah sebuah aliran yang berkembang di abad ke 20 yang mengingatkan kepada awal tulisan Marx sebelum dipengaruhi oleh Engels. Aliran ini memusat pada idealisme dialektika dibanding fahaman materialisme dialektika yang menolak determinisme ekonomi awal Marx. Pemahaman Neo Marxist tidak mengamalkan perubahan secara evolusi. Menurut teori ini, transformasi boleh berlaku secara perlahan. Pemahaman neomarxist memusatkan pada suatu revolusi psikologis bukan fisik, yang bermakna bahawa perubahan idea yang datang dari jiwa seseorang lebih penting daripada perubahan secara fisik. Neo Marxisme adalah aliran pemikiran Marx yang menolak penyempitan dan reduksi ajaran Karl Marx oleh Engels. Ajaran Marx yang dicoba diinterpretasikan oleh Engels ini adalah bentuk interpretasi yang kemudiannya dikenali sebagai “Marxisme” rasmi. Marxisme Engels ini adalah versi interpretasi yang digunakan oleh Lenin. Interpretasi Lenin nanti pada akhirnya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme (atau yang lebih dikenal dengan Komunisme).

Di kalangan neo marxis dari Universitas Frankfurt Jerman timbul pemikiran baru yng dinamakan Teori Kritis. Sekolah Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai titik tolak pemikiran sosialnya. Tapi yang perlu harus diingat adalah bahwa Sekolah Frankfurt tetap mengambil semangat dan alur dasar pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisisme ideal Immanuel Kant sampai pada puncak pemikiran kritisisme historis dialektisnya Georg William Friederich Hegel. Dengan sangat cerdas, sebagian besar pemikir dalam sekolah Franfurt berdialog dengan Karl Marx, Hegel dan I. Kant. (menekankan pada aspek komunisme tanpa kekerasan dan juga tidak mendukung kapitalisme)

• Perbedaan neo-marxisme dengan Marxis ortodoks dalam beberapa hal sebagai berikut: Marxis ortodoks melihat imperialisme dari sudut pandang negara-negara utama (core countries), sebagai tahapan lebih lanjut dari perkembangan kapitalisme di Eropa Barat, yakni kapitalisme monopolistic, neo-marxisme melihat imperialisme dari sudut pandang negara pinggiran, dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperilalisme pada negara-negar dunia ketiga. Marxis ortodoks cenderung

berpendapat tentang tetap perlu berlakunya pelaksanaan dua tahapan revolusi. Revolusi borjuis harus terjadi lebih dahulu sebelum revolusi sosialis. Marxis ortodoks percaya bahwa borjuis progresif akan terus melaksanakan revolusi borjuis yang tengah sedang berlangsung dinegara Dunia Ketiga dan hal ini merupakan kondisi awal yang diperlukan untuk terciptanya revolusi sosialis dikemudian hari. Dalam hal ini neo Marxisme percaya, bahwa negara Dunia Ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis. Terakhir, jika revolusi soaialis terjadi, Marxisme ortodoks lebih suka pada pilihan percaya, bahwa revolusi itu dilakukan oleh kaum proletar industri di perkotaan. Dipihak lain, neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba. Ia berharap banyak pada kekuatan revolusioner dari para petani di pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat.

D Asumsi-asumsi dasar Post-modernisme

Suatu hari ada dua yang sedang berdebat mengenai pengertian dari suatu benda. Orang pertama mengatakan, “Lihat, di sana ada buku dan pintu, dan aku menyebutnya buku dan pintu sebagaimana yang aku lihat.” Orang kedua mengatakan, “Mengapa harus buku dan pintu? Kedua benda tersebut bukanlah apa-apa, tetapi keduanya adalah ‘buku dan pintu’ setelah kita sepakat menyebutnya demikian.” Mengapa perdebatan seperti ini terjadi ? Dalam percakapan ini, orang pertama mewakili modern dan orang kedua mewakili postmodern.  Apa itu postmodern? Apakah berbeda  jauh dengan modern? Apa asumsi-asumsi dasar dari post-modernisme? Disini kita berusaha menyoroti post-modernisme melalui dua pandangan utamanya yaitu dekonstruksionisme dan relativisme radikal.

Gerakan postmodernisme hanyalah sebuah reaksi terhadap modernisme. Ia merupakan semangat pemikiran yang mencoba menggugat asumsi-asumsi dasar modernisme. Bagi postmodernisme nalar dan paradigma modern adalah bangunan pemikiran yang telah usang dan oleh karena itu tidak berlaku kembali. Tapi meskipun demikian postmodernisme ini pada hakekatnya juga bagian dari modernisme.Ia bukanlah gerakan pemikiran independen yang seratus persen terlepas dengan modernisme. Menurut Lyotard, kata post dalam post modernisme bukan bermakna telah atau paska modernisme. Gerakan postmodernisme ini tidak bisa dianggap sebagai gerakan baru setelah modernisme atau strukturalisme. Ia tetap merupakan bagian yang integral dari modernisme. Dia juga menjelaskan bahwa Postmodernisme adalah ketidakpercayaan terhadap metanaratif. (Lyotard dalam Jackson dan Sorensen 2009 :303) Ada juga pengertian lain :

  • “Postmodernism is incredulity towards metanarratives.” () Jean-Francois Lyotard
  • “Postmodernist fiction is defined by its temporal disorder, its disregard of linear narrative, its mingling of fictional forms and its experiments with language.” (Postmodernis fiksi didefinisikan oleh gangguan temporal, yang mengabaikan narasi linear, dengan percampuran bentuk-bentuk fiksi dan eksperimen dengan bahasa) Barry Lewis, Kazuo Ishiguro
  • “It’s the combination of narcissism and nihilism that really defines postmodernism,” (Ini kombinasi narsisme dan nihilisme yang benar-benar mendefinisikan postmodernisme) Al Gore (www.syariah-unsiq.co.cc)

Dalam perdebatan diatas orang modern percaya bahwa kebenaran berasal dari hasil pengamatan dan pertimbangan rasio terhadap suatu benda atau hal secara obyektif. Akan tetapi, bagi orang-orang postmodern (yang dalam percakapan di atas diwakili oleh orang kedua) pengungkapan kebenaran seperti yang dilakukan oleh orang pertama adalah suatu hal yang mustahil karena menurut mereka apa yang orang modern sebut sebagai “realita,” bagi postmodernis tidak lain adalah konstruksi konsep dan bahasa kita sendiri, sebagai hasil dari pengalaman hidup kita. Salah seorang tokoh postmodern, Richard Rorty, mengatakan bahwa pada dasarnya semua manusia tidak pernah sungguh-sungguh sampai pada apa yang namanya realita, selain daripada apa yang kita sebut sebagai “realita” adalah pemilihan deskripsi kita sendiri di dalam simbol bahasa. Dengan demikian, pengungkapan kebenaran senantiasa diwakili oleh pembentukan (konstruksi) lingustik (bahasa). Cara berpikir postmodernis semacam itu disebut dekonstruksionisme (deconstructionism).

Menurut Jacques Derrida, dengan dekonstruksi, narasi-narasi besar, yang serba pasti, tunggal, seragam dan absolut tersebut dicoba oleh postmodernisme untuk diganti dengan paradigma yang serba mungkin, plural, warna-warni dan relativ bahkan nihilis. Sehingga dunia postmodernisme adalah dunia yang tanpa pusat dan standar baku secara universal. Pandangan dunia modern yang cenderung dipakemkan, didisiplinkan dan ditotalitaskan akhirnya menjadi puing-puing kebenaran yang berserakan dan tak teratur

Berangkat dari dekonstruksionisme, dapat disimpulkan bahwa bagi orang-orang postmodern, kebenaran tidak lain adalah hasil pembentukan atau konstruksi, bukan hanya oleh individu tetapi juga merupakan hasil kesepakatan kelompok sosial di dalam wujud bahasa. Jadi bahasa itu sendiri tidak menunjukkan realita secara obyektif. Bahasa digunakan hanya untuk mewakili sesuatu yang hendak kita katakan, tetapi bukan realita itu sendiri (not reality itself). Teoritisi postmodernisme berupaya membuat ilmuwan sadar atas penjara konseptualnya  (Vasquez dalam Jackson dan Sorensen 2009 :303). Penjara yang paling penting adalah modernitas itu sendiri dan pemikiran menyeluruh bahwa modernisasi menyebabkan kemamjuan dan kehidupan yang lebih baik bagi semuanya. Kaum postmodernis juga mmelihat noerealisme sebagai esensi dari kesalahan  dan penjara intelektual (Jackson dan Sorensen 2009 :303)

Mereka juga menolak klaim tentang kebenaran yang bersifat tunggal, mutlak, dan universal (berlaku bagi semua orang). Selain itu menurut mereka klaim tersebut bukan hanya dinilai salah, tetapi juga menyatakan kesombongan  dengan tidak menerima kritik dari luar dan hal tersebut sangat membahayakan perkembangan ilmu pengetahuan. Metode-metode saintifik hanya akan menjadi penghalang bagaikan “kacamata kuda” yang memaksa pemakainya untuk berpikir sesuai aturan dan tidak membiarkan imajinasi berkembang. Karena itu, untuk mendapatkan kebenaran bagi kebutuhan umat manusia harus dibuka pintu selebar mungkin bagi sebanyak mungkin metode atau cara. Tetapi, berbagai metode tersebut bukan untuk diintegrasikan atau disimpulkan menjadi satu kebenaran, melainkan tetap saja dibiarkan berbeda, sebab pada dasarnya tidak ada kesepakatan universal tentang apa yang benar. Artinya, kita harus membiarkan masing-masing orang atau kelompok sosial untuk menemukan kebenaran dengan caranya sendiri. Postmodernis tidak mencari kebenaran yang mutlak dan universal, melainkan kebenaran yang pluralistik (beraneka ragam) dan relatif secara radikal. ( Cooper :1996).

Relativisme radikal, mengajarkan kepada kita agar mentoleransi dan menghargai semua pandangan indvidu atau kelompok tentang kebenaran. Karena itu kita harus dapat menghargai dan menerima keabsahan semua sudut pandang, entah itu tradisional, kontemporer, dikenal banyak orang, maupun asing. Semuanya dianggap memiliki perspektif masing-masing. Masing-masing melihat kebenaran berdasarkan cara pandang mereka sendiri, dan karenanya tidak perlulah kita mencari pandangan siapa lebih benar, atau bahkan yang paling benar. Semuanya dianggap benar dan sah. Seperti contoh  di negara Saudi Arabia, hukuman potong tangan bagi pencuri disana adalah wajar karena negara tersebut menganut atau memakai hukum agama Islam sebagai dasar dari hukum negara mereka. Tapi oleh kaum modern hal tersebut dinilai dan dipandang merupakan pelanggaran HAM dan mereka beramai ramai mengecam hukum tersebut. Sebaliknya kaum post-modern menganggap hal tersebut wajar saja karena memang sesuai dengan budaya disana. Demikian pula, bagi postmodernis orang yang sakit tidak usah diharuskan meminum obat apabila ia yakin dengan ramuan daun-daunan atau menyembah patung dapat menyembuhkannya.

Beberapa landasan filsafat pendidikan Postmodernisme mencakup hal-hal berikut:
1. Adalah tidak mungkin untuk menentukan kebenaran obyektif
2. Bahasa tidak menolong kita bersentuhan dengan realitas
3. Bahasa dan makna dikonstruksi secara sosial
4. Pengetahuan adalah kekuatan
5. Pentingnya pemahaman atas pluralitas dari perspektif yang berbeda

III Kesimpulan

Perdebatan pertama dalam studi HI lebih menitikberatkan kepada masalah substansi atau ontologi masalah dalam studi HI, perdebatan ini terjadi sekitar tahun 1920-1940an dan melibatkan kaum realisme dan liberalisme. Perdebatan ini ahirnya dimenangkan oleh realisme, karena memang keadaan lebih berpihak kepada kaum realis. Perdebatan yang kedua terjadi antara tradisionalisme dan behavioralisme, perdebatan ini terjadi setelah berakhirnya perang dunia kedua sekitar tahun 1950-1970an, dan lebih menitikberatkan kepada masalah epistemologi-metodologi ilmu HI. Pada perdebatan ini, menurut kami tidak ada pemenangnya karena antara tradisionalisme dan behavioralisme telah melakukan perpaduan sehingga munculah perdebatan ketiga, yaitu perdebatan intra-paradigma yang melibatkan neo liberalisme yang merupakan kelanjutan liberalisme tetapi tanpa idealisme, neo-realisme sebagai jawaban atas adanya neo liberalisme, adanya intervensi dari neo-marxisme dan rasionalisme (realisme liberal). Perdebatan ini terjadi sekitar paruh kedua perang dingin tahun 1980an hingga sekarang dan akhirnya mendapatkan tantangan dari fondalisme atau pos positivis, yang menurut George Sorensen disebut perdebatan keempat. Adanya perdebatan-perdebatan ini memang menjadi fondasi dalam perkembangan studi HI yang dinamis dan terus berkembang.

 

IV Daftar Pustaka

A.J.R Groom & Margot Light (ed.).1994. Contemporary International Relations: A Guide to Theory, New York & London: Pinter Publisher.

Baran,  Stanley J. & Davis, Dennis K. 2000. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future. Wadsworth Pub. Co

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: gramedia pustaka utama

Jackson, R.& Sorensen, Georg. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kusumohamidjojo Budiono.1987. Hubungan Internasional : Kerangka Studi Analitis. Jakarta : Binacipta

Marshall, Gordon. 1998. A Dictionary of Sociology. © A Dictionary of Sociology 1998, originally published by Oxford University Press 1998. ( Hide copyright information )Oxford University Press

Steans, Jill & Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

http://www.marxists.org

 

 

 

 

 

 

 

INTERNATIONAL RELATIONS JOURNAL

Understanding Basic of Concepts IR: National Interest

 

 

 

 

 

 

By:

Arif Setyanto                                           070912051

Muzainiyeh                                             070912061

Dinar Okti N.S.                                       070912076

Andono Wicaksono                              070912088

Rizka Rosaline                                         070912098

 

DEPARTEMEN HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK

UNIVERSITAS AIRLANGGA

 

Posted Oktober 19, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Gender dan Feminisme   Leave a comment

Ada pepatah yang mengatakan “ dibalik pria yang sukses, terdapat wanita yang hebat”. Pepatah diatas memang seolah-olah mengagungkan keberadaan perempuan yang bisa mempengaruhi jalan hidup dan sukses tidaknya seorang pria, namun dari yang perlu digaris bawahi adalah peran mereka (perempuan) dalam mempengaruhi ini hanya sebatas dibalik layar, dan tidak perlu tampil secara langsung di arena yang hanya berisikan kaum pria. Sudah sejak dahulu kala perempuan diabaikan dan dipinggiran dari segala sesuatu yang berbau ‘high politics’, bagi tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles, diikuti oleh St. Agustinus dan Thomas Aquinas pada Abad Pertengahan, hingga John Locke, Rousseau dan Nietzsche di awal abad modern, citra dan kedudukan perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Wanita disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik maupun akalnya. Paderi-paderi Gereja menuding perempuan sebagai pembawa sial dan sumber malapetaka, biang-keladi kejatuhan Adam dari sorga, bahkan studi HI sebagai suatu disiplin tidak terpisah dari praktik pemisahan gender dan realitas hierarki gender: perempuan dan kaum feminis telah disingkirkan dari teori HI seperti halnya mereka disingkirkan dari praktek panggung politik  Pada umumnya dipercaya bahwa posisi perempuan berada diluar wilayah studi HI karena perempuan dipandang tidak relevan hubungan antar-negara, dan pada akhirnya perempuan selalu saja dikaitkan dengan ranah pribadi ke-domestik-an, moralitas, subjektifitas, gairah, ke-feminim-an yang bukan merupakan lapangan kajian HI. kata ‘internasional’ dalam disiplin HI dicirikan sebagai suatu bentuk ‘politik tingkat tinggi’ antar negara yang impersonal dan beresiko. Dan ‘tindakan negara atau lebih tepatnya tindakan laki-laki untuk negara’ telah memberi dominasi atas sebuah ‘hubungan’ (Burchiil & Linklater, 2009, p. 281-284). Hal-hal diataslah yang merupakan fokus serangan dan argumen yang digunakan kaum feminis dalam memandang dunia yang selama ini telah didominasi pria. Sejatinya yang dikritik oleh feminisme bukanlah jenis kelamin ‘pria’ namun lebih pada perbedaan gender antara pria dan wanita.

Perspektif feminisme sebanarnya sangat umum, tidak ada satu feminisme, dan tidak ada satu pendekatan tunggal dalam mengkonstruksikan feminisme, alih-alih ada banyak macam feminisme yang diliputi kontradiksi dan tumpang tindih mengenai posisi, kajian serta praktiknya. Ada feminisme konservatif, feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme sosialis, feminisme radikal, eko-feminism, feminisme kultural, feminisme lesbian, feminisme perempuan Dunia Ketiga, feminisme standpoint, feminisme posmodernisme, feminisme poskolonial, dan lain sebagainya (Burchiil & Linklater, 2009, p. 283). Namun secara singkat ada beberapa titik penting dari perspektif feminisme yaitu (1) menggunakan gender sebagai suatu kategori utama dari analisis; (2) menganggap gender sebagai sebuah jenis hubungan kekuasaan tertentu; (3) mencermati penggolongan publik-privat sebagai isu utama dalam pemahaman kita tentang hubungan internasional; (4) menelusuri cara-cara dimana  ide-ide tentang gender dapat menjadi sesuatu yang sangat bernilai bagi usaha untuk memfungsikan lembaga-lembaga internasional utama; (5) menyarankan agar gender diletakkan dalam tatanan internasional; dan (6) menentang asumsi-asumsi dominan yang membagi antara yang penting- tidak penting, atau apa yang marjinal atau sentral dalam hubungan internasional  (Steans & Pettiford, 2009, p. 325).  singkanya feminisme berasumsi bahwa sifat dasar manusia merupakan sesuatu yang berubah, lebih lanjuta lagi Wendy Broun mengatakan bahwa semua dalam dunia manusia merupakan konstruksi yang ter-gender-kan. Gender yang dimaksud disini adalah hubungan antara jenis kelamin  disuatu kelompok masyarakat atau budaya dimanapun, dan gender ditentukan secara sosial dan budaya, tidak sama dengan jenis kelamin yang merupakan karakter biologis yang kodrati (Steans & Pettiford, 2009, p. 322). Gender terbentuk melalui konstruksi sosial asimetris maskulinitas dan feminitas. Maskulinitas sendiri selalu dikaitkan dengan rasionalitas, kekuatan, otonomi, kedaulatan serta diberi nilai dan status yang lebih tinggi dari feminitas yang selalu dihubung-hubungkan dengan emosionalitas,kelemahan, dan subjektifitas. Pandangan seperti ini menempatkan pria dan wanita dalam posisi binary, jika ingin menjadi maskulin maka tinggalkan segala sifat feminin yang ada. Kaum feminis menganggap bahwa selama ini teori dan praktik yang ada di HI yang selalu menggaung-gaungkan istilah keamanan, anarki, perang, perdamaian, konflik serta kerjasama merupakan aktifitas gender dan tidak terlepas dari nilai-nilai maskulinitas laki-laki (Jackson & Sorensen, 2009, p. 333). Dan kaum feminis (terutama liberal) ingin mengkonstruksi ulang pandangan mengenai gender itu sendiri dan meningkatkan status perempuan di mata dunia. Mereka megataakan bahwa perempuan, seperti halnya laki-laki adalah juga makhluk yang rasional sehingga mempunyai hak untuk ikut serta dalam kehidupan publik (memberikan sumbangan pada perdebatan tentang isu-isu politik, sosial, dan moral), berpartisipasi aktif dalam membentuk tatanan politik serta mendapatkan akses pada kekuasaan daripada sebagai makhluk yang terkurung dalam ruang privat di rumah dan keluarga, dan praktek politik internasional nyata telah mengalami kerugian karena mengabaikan perspektif feminis. Pada intinya tuntutan kaum feminis adalah perempuan seharusnya memiliki akses yang sama seperti laki-laki pada kesempatan politik, ekonomi dan pendidikan.

Untuk mencapai keamanan kaum feminis liberal menekankan nilai penting dari tidak hanya hak-hak sipil dan politik, tetapi juga hal-hak ekonomi dan sosial, serta hak asasi perempuan harus diakui sebgai hal utama untuk mencapai keamanan dalam arti yang sebenar-benarnya. Mereka juga mengatakan bahwa tingkatan orang merasa atau benar-benar sedang ‘terancam’ sangatlah beragam sesuai dengan lingkungan ekonomi, sosial, atau personal mereka. Keamanan dan kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh serangkaian faktor, missal stabilitas perekonomian global, tekanan politik, etnisitas dan lain sebagainya (Steans & Pettiford, 2009, p. 362).  wacana-wacana feminis tentang perdamaian menekankan keterhubungan manusia, dialog-dialog, dan kerjasama atas dominasi dan konfrontasi kekerasan.

Seiring dengan berjalannya waktu dan arus globalisasi yang makin meluas di dunia ini, menyebabkan batas-batas wilayah kenegaraan semakin kabur, dan dari perspektif feminis sekarang sesuatu yang privat tidak hanya bersifat publik, tetapi kini makin juga bersifat global  (Steans & Pettiford, 2009, p. 352). dalm perspektif feminis keadaan seperti sekarang ini tentu mau tidak mau dalam hubungan internasional tidak hanya aktor negara saja yang ikut berkecimpung dalam hubungan internasional melainkan banyak aktor-aktor yang ikut berpartisipasi membentuk tatanan masyarakat global dan sistem internasional, misal NGO, MNC. Bahkan yang lebih ekstrim keadaan rumah tangga seorang presiden dapat mempengaruhi indeks saham yang ada. Menurut Cyntia Enloe  (dalam Jackson & Sorensen, 2009, p. 335) salah satu penyebab kehancuran rezim komunis dan berakhirnya Perang Dunia II adalah penarikan mundur dukungan ibu-ibu bangsa Rusia untuk tentara Uni Soviet sebagai akibat perang di Afghanistan, dari contoh ini terlihat jelas bagaimana pluralisnya aktor yang ada dalam hubungan internasional.

Sources :

Burchiil, S., & Linklater, A. (2009). Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung : Nusamedia.

Jackson, R., & Sorensen, G. (2009). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Steans, J., & Pettiford, L. (2009). Hubungan Internasional : Perspektif dan tema. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Posted Oktober 9, 2010 by moze in all about International Relations Theory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.