Politik Luar Negeri Republik Indonesia Era Soeharto   Leave a comment

Disusun oleh:
Maleona Sarah L. 070912042
Mandra Farrandy 070912046
Sheila Fitriani 070912049
Tsabita Shabrina 070912057
Muzainiyeh 070912061

Politik Luar Negeri Indonesia Era Soeharto
Presiden Soeharto adalah presiden kedua Republik Indonesia. Dia mulai menggantikan posisi Presiden pertama RI yakni Soekarno setelah mendapat mandat dari presiden Soekarno melalui Supersemar sebagai Komando Pemulihan Keamanan dalam menghadapi kudeta G-30S yang disinyalir didalangi oleh Partai Komunis Indonesia. Masa kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden bermula pada tahun 1967 ketika MPRS Indonesia mengangkatnya menjadi akting presiden dan baru tahun 1968 Soeharto secara resmi menjadi Presiden RI melalui pemilihan parlemen. Namun, masa kepemimpinan Soeharto ini sudah berlangsung mulai tanggal 12 Maret 1967 sampai dengan 21 Mei 1998, selama 32 tahun (Pudjiastuti. 2008:112). Masa kepemimpinan era Soeharto ini dikenal dengan sebutan’Orde Baru’ dan berakhir ketika para mahasiswa melakukan reformasi serta menuntut Soeharto untuk turun jabataan.
Dalam bidang ekonomi Soeharto mendapat julukan Bapak Pembangunan karena semasa pemerintahannya perekonomian Indonesia dapat dikatakan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Bahkan Dirjen Food A. Organization (FAO) Mr.Edouard Saouma memberikan penghargaan atas keberhasilan Indonesia dalam berswasembada beras (Pudjiastuti. 2008:152). Prestasi ini tidak lain dikarenakan kebijakan politik saat itu (Era Soeharto) memang diarahkan pada stabilitas politik keamanan dan pembangunan ekonomi (Pudjiastuti. 2008:115). Bahkan Soeharto telah mencanangkan Trilogi Pembangunan yang bertujuan untuk membangun perekonomian Indonesia di segala bidang, yang terdiri atas : 1) pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya mengarah pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia, 2) pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan 3) stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Dan untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang terlanjur terpuruk saat itu Soeharto banyak mengambil kebijakan yang bersifat kooperativ dan tidak revolusioner serta radikal seperti pada era pemerintahan Soekarno. Di awal pemerintahannya Soeharto mulai membangun hubungan yang baik dengan pihak-pihak Barat dan good neighbourhood policy melalui pembentukan ASEAN serta mulai menghindari Negara-negara komunis (Cina-Uni Soviet). Semua hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, karena sektor ekonomi yang ditinggalkan pemerintahan Soekarno sangat membutuhkan perombakan, dimana tingkat inflasi mencapai 650%, dan harga beras naik 500 kali lipat (Pudjiastuti. 2008:143).
Politik luar negeri Era Soeharto dibagi menjadi dua masa, yaitu satu masa dimana kebijakan politik laur negeri yang diambil Soeharto sangat kental dengan kecenderungan dan ketergantungannya pada para elit politik dan ekonomi Negara, ini terjadi sebelum pemilu tahun 1982. Dikarenakan saat itu ia (Soeharto) tidak memiliki banyak pengalaman dalam masalah-masalah internasional sehingga ia tidak terlibat secara intens dalam politik luar negeri baik dalam hal perumusannya maupun pelaksanaanya (Suryadinata. 1998: 48). Dan kedua, masa setelah Pemilu 1982, dimana saat itu partai yang dipimpinnya, Golkar menjadi pemenang mutlak dalam pemilu. Alhasil, dia semakin percaya diri dan mulai berperan aktif dalam perumusan politik luar negeri serta keputusannya tidak lagi bergantung dan sepakat pada para elit politik yang saat itu mendukungnya (baca: militer) (Suryadinata. 1998: 81). Berikut akan dibahas peride kepemimpinan Soeharto pada paruh pertama kekuasaannya (sebelum pemilu 1982).
Tahun 1966 merupakan masa awal konsolidasi bagi Soeharto dalam menata kekuasaan dan polik dalam negerinya. Hubungan Soeharto dan militer saat itu sangat erat dan menjadi modal utamanya dalam mengembangkan kebijakan-kebijakannya. Pada tahun ini juga mulai terlihat pergeseran pusat perhatian pemerintah yang biasanya (di era Soekarno) terfokus pada masalah pembangunan bangsa beralih ke masalah pembangunan ekonomi (Pudjiastuti. 2008:113). Perubahan fokus perhatian ini tentunya tidak hanya merambah persoalan dalam negeri melainkan juga mencakup kebijakan luar negeri yang diajalankan saat itu. Pemerintah mulai membuka hubungan dengan pihak barat, dan investasi asing mulai ditingkatkan karena dinilai mereka akan dapat membantu memulihkan kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk. Karena hubungan yang buruk dengan Cina -akibat Negara tirai bambu ini diduga terlibat dalam percobaan kudeta tahun 1965-, dan hubungan yang dingin dengan Uni Soviet maka Indonesia tidak punya pilihan lain dalam mencari sumber bantuan selain Negara-negara Barat yang saat itu terlibat perang dingin dengan Uni soviet. Oleh karena itu dalam tahun-tahun pertama era Orde Baru hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat dan Jepang memang lebih menonjol daripada hubungan Indonesia dengan Cina dan Uni Soviet.
Selanjutnya, Indonesia mulai memperbaiki citra dan hubungannya dengan Negara-negara lain, terbukti dengan masuknya kembali Indonesia kedalam forum PBB dan mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia (1967) serta mulai menaruh perhatian pada regionalisme di kawasan Asia Tenggara sehingga pada tanggal 8 Agustus 1967 terbentuklah ASEAN. Bagi Indonesia, tindakan-tindakan kooperatif diatas sangat penting dilakukan umtuk menciptakan stabilitas dan kedamaian lingkungan baik regional maupun internasional, yang mana keduanya merupakan prasyarat yang mutlak dibutuhkan untuk mengentaskan diri dari krisis yang melanda negeri. Stabilitas politik dan kebijakan anti-komunisme saat itu dijadikan senjata oleh Soeharto untuk menarik simpati Negara-negara barat agar memberikan bantuan dana maupun investasi ke Indonesia, selain itu kebijakan annti-komunisme juga dia gunakan untuk memberantas lawan politiknya (Pudjiastuti. 2008:171)
Setidaknya ada dua kelompok yang mempengaruhi atau menentukan perumusan politik luar negeri saat itu yakni, militer (meliputi dep. HANKAM, LEMHANAS, BAKIN, BAIS dan Setneg ) dan Departemen Luar Negeri. Adapula Bappenas dan CSIS yang berasal dari kalangan sipil kadang juga ikut mempengaruhi politik luar negeri saat itu. Menurut teori ada pembagian kerja diantara mereka yaitu, Deplu menangani politik luar negeri dalam bidang politik, militer berurusan dengan politik luar negeri yang bersentuhan dengan masalah-masalah keamanan, dan Bappenas berhubungan debgan masalah-masalah ekonomi yang berkaitan dengan soal-soal dalam negeri dan luar negeri. Namun pada kenyataannya, di awal-awal tahun Orde Baru militer seringkali mengintervensi di berbagai bidang (Suryadinata. 1998: 49-55) dan menjadi sangat dominan.
Adapun masa kepemimpinan Soharto di periode sesudah pemilu 1982 sangat dominan dengan kebijakan-kebijakan yang terfokus ‘keluar’ dan semakin aktif dalam pentas perpolitikan dunia serta tidak hanya mementingkan faktor ekonomi saja dalam berhubungan dengan Negara lain karena pada tahun 80an ini perekonomian Indonesia mulai stabil. Agenda-agenda yang penting saat itu adalah, peringatan 30 tahun KAA (1985), JIM (Jakarta Informal Meeting) yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik antara Vietnam dan Kamboja, peningkatan hubungan dengan pasifik selatan, normalisasi hubungan dengan Cina (1990), menjadi ketua GNB (1992), dan ikut serta dalam APEC (1994) dan tidak ketinggalan isu penting timor-timur yang menyeret nama Indonesia ke dalam kecaman dunia Internasional. Peristiwa-peristiwa diatas tidak lepas dari peran presiden yang semakin dominan dan mulai meninggalkan gaya kepemimpinan low profile menjadi high profile. Hal ini dikarenakan partai Golkar yang dipimpinnya memperoleh kemenangan mutlak dalam pemilu 1982 sehingga semakin memperkuat posisinya dan membuatnya semakin percaya diri dalam mengangani urusan dalam maupun luar negeri. Di paruh kedua kepemimpinannya ini perhatian dunia banyak tertuju pada Soeharto secara personal daripada sebagai Presiden Republik Indonesia Ia pun mulai mengurangi peran militer dan tidak selalu sepakat dengan kalangan militer. Keadaan ini diperparah dengan isu kekerasan yang dilakukan militer di timor-timur dan membuat Soeharto mendapat tekanan internasional untuk mengusut tuntas peristiwa yang memakan korban sipil. Akhirnya tim khusus dibentuk dan melaporkan bahwa militer bereaksi terlalu keras terhadap masyarakat (Suryadinata. 1998: 78). Akibatnya kondisi yang sama juga berlangsung di tubuh militer, ada isu yang beredar bahwa militer akan menarik dukungannya terhadap Soeharto dan akan menggulingkannya dari tampuk kepemimpinan. Selain itu Soeharto mulai melirik kelompok-kelompok islam yang saat itu mulai naik daun dan berkembang pesat akibat tertular semangat revolusi yang terjadi di Iran. Soeharto segera menggandeng kelompok islam tersebut agar tidak menyusahkannya di kemudian hari.
Walaupun pada akhirnya Soeharto diturunkan dari jabatan Presiden pada tahun 1998, namun kita tidak memungkiri bahwa banyak sekali kemajuan yang dicapai pada masa dia menjadi pemimpin dengan program-program yang dia canangkan (REPELITA). Kemajuan yang dicapai Indonesia saat itu antara lain pembangunan kemandirian industry, ekspor non-migas melaju pesat dan menjadi sumber pendapatan utama Negara, terjadi penguatan, pendalaman serta keragaman sumber-sumber kapital yang merupakan sumber ekonomi Indonesia, pesatnya pertumbuhan lembaga perbankan dan non-perbankan (Pudjiastuti. 2008: 153).
Referensi :
Pudjiastuti, Tri Nuke, 2008. ”Politik Luar Negeri Indonesia Era Orde Baru”, dalam Ganewati Wuryandari (ed.), 2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik. Jakarta: P2P LIPI dan Pustaka Pelajar, hlm. 112-173.
Suryadinata, Leo, 1998. “Politik Luar Negeri Indonesia Selama Orde Baru: Munculnya Militer”, dalam Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto, [terj.], Jakarta, LP3ES

About these ads

Posted Oktober 27, 2010 by moze in Studi Strategis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: