Konsepsi Nasution tentang Perang Rakyat Semesta di era Globalisasi   2 comments

Tulisan ini dibuat untuk tugas ujian akhir semester mata kuliah Studi Strategis Indonesia I

Pernyataan No.4: Bahwa konsepsi Nasution tentang perang rakyat semesta merupakan strategi pertahanan yang usang dalam globalisasi

Globalisasi yang terjadi  saat ini dan selalu identik dengan konsep pengurangan kedaulatan sebuah negara, penghilangan batas wilayah sebuah negara, kecanggihan teknologi, penyempitan ruang dunia dan pengembangan transaksi perdagangan berdasarkan kepada pemikiran perdagangan bebas. Terlihat bahwa globalisasi bukan saja membawa ideologi yang bersifat global dalam hal ini demokrasi liberal di kalangan penduduk dunia, tetapi juga turut mengancam proses pembentukan negara bangsa, karena globalisasi pada intinya ingin mewujudkan negara tanpa batas (Borderless). Di era globalisasi dengan kecanggihan teknologi yang dibawanya, sebuah  negara (Indonesia terutama) sangat rentan terhadap ancaman  baik dari luar ataupun dari dalam negara itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menjaga keutuhan NKRI maka diperlukan strategi pertahanan yang sesuai dan tahan banting terhadap arus globalisasi.

Adapun konsep pertahanan yang disampaikan oleh Nasution yakni ‘ perang rakyat semesta’ menghendaki strategi-strategi perang gerilya dengan mengandalkan agresivitas, mobilitas, dan fleksibilitas serta komponen pendukungnya terdiri dari rakyat sipil, partisan, dan tentara. Tidak heran jika menurut Nasution bahwa strategi inilah yang paling efektif mengingat betapa luasnya wilayah NKRI dan betapa banyaknya wilayah yang berbatasan langsung dengan perairan sehingga sangat sulit sekali untuk menerapkan strategi pertahanan kontinental seperti negara-negara maju lainnya. Namun kesulitan untuk membangun pertahanan secara kontinen ini tidak boleh dijadikan alasan oleh pemerintah untuk mengabaikan pengembangan terhadap angkatan laut dan udara. Angkatan bersenjata di darat memang sangat vital bagi pertahanan Indonesia terutama untuk menyerang para agresor dan filtrasi pihak asing, namun alangkah baiknya jika kita mempunyai pasukan yang bisa mengetahui kedatangan musuh dan menghancurkannya sebelum mendarat di wilayah NKRI. Selain itu negara Indonesia merupakan negara yang memiliki perairan yang sangat luas beserta kekayaan sumber daya alamnya, banyak pulau-pulau kecil di Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah negara lain namun masih tak berpenghuni sehingga mudah disusupi dan dimanfaatkan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab sehingga menyebabkan permasalah dan kerugian berskala nasional. Beberapa masalah  diantaranya adalah penyelundupan barang seperti pembalakan liar dan  narkoba, pemindahan tanda-tanda batas wilayah untuk tujuan yang merugikan, pncurian Sumber Daya Alam hingga menghilangkan prospek-prospek kemakmuran (ex: illegal logging dan kasus ekspor pasir ke singapura), pelanggaran prosedur imigrasi dan isu keamanan seperti; imigran gelap, lalu lintas teroris dan gerakan separatis (Ramli, 2010, p. 10). Beberapa permasalahan diatas menunjukkan bahwa negeri ini sangat membutuhkan kesigapan dari segala lapisan masyarakat  serta angkatan darat, laut dan udara yang kompeten, dan tidak hanya mengandalkan pertahanan darat.

Mengenai pernyataan No.4 diatas bahwa konsep ‘perang rakyat semesta’ sudah usang dalam globalisasi, penulis tidak setuju dengan pernyataan tersebut dikarenakan tiga alasan yaitu  (1) meskipun nantinya negara Indonesia sudah mengalami kemajuan di berbagai bidang (angkatan bersenjata terutama), namun posisi strategis kita, terutama faktor geografis tetap demikian maka ‘perang rakyat semesta’ tetap diperlukan adanya. Apalagi (2) di era globalisasi ini dimana perubahan terjadi di segala sektor kehidupan manusia dengan kecepatan yang luar biasa, kekuasaan dan struktur yang tidak lagi terpusat serta kemudahan akses  informasi, sehingga memperlancar jalur keluar masuk pihak asing. Pada akhirnya yang terjadi saat ini musuh tidak lagi terlihat jelas ada dan datang darimana, bahkan sangat mungkin musuh yang mengancam keutuhan NKRI sendiri bersarang dan tumbuh subur dalam masyarakat, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melumpuhkan nagara Indonesia. (3) Pertahanan yang harus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia tidak hanya pertahanan dalam bentuk militer, karena ancaman yang datang menunggangi globalisasi tidak hanya dalam bentuk penjajahan dan penyerangan secara fisik, namun juga meliputi aspek lain misal budaya, ideologi, moral, politik, teknologi, dan ekonomi terutama. Benar apa yang dikatakan Nasution bahwa untuk memerangi musuh bersama negeri ini , diperlukan dua garis pertahanan. Garis pertama barisan para Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menjaga keutuhan NKRI di garis-garis depan wilayah yang berbatasan langsung dengan zona luar dan  garis kedua berbentuk perlawanan gerilya dan partisan yang merata di tiap-tiap distrik (Nasution, 1984, p. 88). Yang mana tugas dari barisan kedua adalah untuk mengganggu, menghambat, dan menekan musuh. Namun penulis melihat bahwa selain mempunyai fungsi diatas, dalam barisan kedua juga diperlukan adanya beberapa kesatuan yang mempunyai senjata lengkap, teratur dan lebih terlatih untuk melakukan penghancuran pada pihak musuh, tapi jumlah ini tidak perlu terlalu banyak. Untuk barisan kedua yang bertugas merepotkan musuh memang diperlukan jumlah yang relatif banyak (kuantitas) dan untuk barisan kedua yang memiliki skill penghancur yang dibutuhkan adalah kualitas mereka. Jika penulis sesuaikan dengan keadaan sekarang maka yang ada di garis pertama pertahanan dan titik-titik yang rawan konflik adalah tugas TNI baik Angkatan Darat, Laut dan Udara, kemudian yang berada di garis kedua adalah Polisi, Densus 88, Satpol PP (Pamong Praja) yang tugasnya selain melumpuhkan musuh (kriminal, teroris, preman), menertibkan masyarakat juga sebagai pengayom dan memberi rasa aman terhadap rakyat. Namun ada beberapa hal atau oknum aparat yang  menurut penulis agak ‘melenceng’ dari fungsi awal mereka dibentuk. Seperti keberadaan beberapa oknum polisi yang kerap mengambil keuntungan dari rakyat (baca: makelar kasus, penyuapan, dana tilang yang masuk kantong pribadi) dan akhir-akhir ini terkait pemberitaan santer mengenai pengungkapan dugaan ‘rekening gendut’ oknum Polri yang diungkap oleh majalah Tempoe. Belum lagi keputusan Menteri Dalam Negeri yang membolehkan beberapa anggota Satpol PP untuk membawa senjata api dalam pelaksanaan tugasnya. Padahal sebagian besar tugas yang dipikul Satpol PP menempatkannya untuk selalu berhadapan langsung dengan masyarakat umum, misal penggusuran pasar, menghalau unjuk rasa dan demonstrasi. Yang menurut hemat penulis orang-orang tersebut bukanlah musuh yang harus dihancurkan, cukuplah dengan bersenjatakan tameng, tongkat rotan/karet, dan bom asap, tidak perlu senjata api karena masyarakat inilah yang seharusnya dilindungi oleh para aparat. Aparat disini harusnya menjadi pelindung rakyat bukan hanya sekedar alat bagi para pemimpin atau orang-orang berduit yang ingin melanggengkan kekuasaannya. Dan selain itu penulis ingin menambahkan satu poin mengenai siapa saja yang berada garis pertahan yang dikemukakan oleh Nasution. Oleh karena globalisasi yang kian menjamur maka alangkah baiknya jika tiap-tiap penduduk Indonesia juga menerapkan pertahan diri sebagai bentuk garis ketiga pertahanan nasional dari segala gempuran pihak yang akan merugikan bangsa ini baik partikular maupun secara keseluruhan. Hal yang bisa dijadikan sebagai tameng oleh masyarakat adalah nasionalisme, moral, dan pengetahuan. Contoh gampangnya adalah dengan peduli dengan lingkunga sekitar, tidak membiarkan bibit-bibit perpecahan tumbuh subur dan melindungi para generasi penerus kita. Contoh kasusnya adalah perhatian dengan tetangga siapatahu dia merupakan salah satu kelompok teroris atau penyelundup narkoba, dalam hal ini pelaporan masyarakat sekitar sangat dibutuhkan agar kejahatan tidak semakin melebar. Adapun kasus yang sempat membuat negara ini heboh adalah kasus video porno yang diduga pelakunya selebritis papan atas negeri ini, sungguhpun jika tiap-tiap orang sudah tahu bahwa hal ini bertentangan dengan nilai dan moral bangsa ini, tak perlulah kita mencari dan menonton video itu dengan dalih memuaskan rasa penasaran. Inilah yang penulis sebut dengan pertahan garis ketiga.

Selanjutnya hal yang juga penulis amini dari pernyataan Nasution adalah “semangat saja tak cukup, kepandaian dan keahlian harus ada. Akhlak dan pengetahuan sama-sama diperlukan. Maka pendidikan ilmu dan kepandaian tidaklah berarti mengabaikan akhlak. Akhlak yang berdasar baik akan berkembang baik karena pendidikan yang demikian. Maka pendidikan militer yang teratur pada akhirnya bukanlah mengembangkan terutama ilmu, melainkan justru sifat-sifat dan tabiat-tabiat keprajuritan” (Nasution, 1984, p. 92). Sehingga dalam prakteknya tidak akan terjadi ‘premanisme berseragam’ yang menyerang secara membabi buta tidak peduli itu rakyat sipil atau musuh. Dengan bekal pendidikan yang cukup diharapkan para penegak hukum tersebut menghindari agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah atau setidaknya meminimalisasi korban dan lebih mengutamakan tindakan persuasif dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu mereka seharusnya dapat berpindah-pindah posisi dari ‘taktik gerilya’ ke ‘taktik reguler’ biasanya jika kondisi tidak memungkinkan dan sebaliknya.

Di era globalisasi seperti ini, faktor pertahanan nasional dalam bentuk informasi juga sangat penting adanya. Perang tidak lagi berbentuk saling berhadapan antar-pasukan perang sekarang lebih pada melalui media teknologi dan informasi dan segala aspek kehidupan manusia. Perang ini lebih dikenal dengan Perang Asimetris. Dalam makalahnya Prof. Dr.-Ing. Kalamullah Ramli, M. Eng menjelaskan bahwa model peperangan asimetris ini dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra, yaitu perpaduan antara:

  • Trigatra – geografi, demografi, dan sumber daya alam
  • Pancagatra – ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya

Perang asimetri selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang. Dan salah satu titik infiltrasi yang diserang adalah saluran informasi. Indonesia sendiri sebenarnya memiliki daftar panjang dijadikan sebagai sasaran perang asimetri. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia terus melakukan perang asimetri terhadap: Pendudukan Belanda hingga 1950, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Krisis Timor-Timur, Gerakan Pengacau Keamanan di Papua, dan lainnya. Oleh karena itu Indonesia perlu mengembangkan sistem Network Centric Warfare (NCW) yang meliputi antara lain: Kemampuan mengumpulkan ,memberikan, mengakses dan melindungi informasi. Kemampuan berkolabolarasi dalam domain informasi, yang membuat pasukan mampu meningkatkan tingkat informasi yang dimiliki melalui proses korelasi, penggabungan dan analisis. Keunggulan informasi karena banyaknya jumlah sumber dalam domain informasi (Ramli, 2010, pp. 2-3). Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin integrasi baik teritori maupun ideologi NKRI. Satu hal yang perlu dicatat bahwa dalam globalisasi segalanya bersifat lentur dan tidak pasti oleh karena itu sistem pertahanan kita tidak boleh terlalu kaku dalam menghadapi globalisasi, dia harus ikut menyesuaikan diri dengan keadaan zaman (baca: agar selalu up to date) jika tetap ingin bertahan. Dan ‘perang rakyat semesta’ atau gerilya sangat sesuai dengan globalisasi karena ia juga bersifat lentur, gampang menggabungkan diri juga gampang melepaskan diri, dikarenakan bergerilya adalah panggilan sanubari dan mengutamakan kerelaan. Satu-satunya yang perlu ditakutkan dalam perang gerilya maupun perang rakyat semesta adalah jika para rakyat indonesia terutama pemudanya sudah tak lagi memiliki nasionalisme dan hasrat untuk memperjuangkan ideologi dan revolusi, sehingga mereka takut untuk maju dan lebih memilih kepentingan pribadi bukan kepentingan NKRI.

Jumlah kata: 1659

Sources :

Nasution, J. A. (1984). “Gerilya dan Prang Kita yang Akan Datang”, dalam  Pokok-Pokok Gerilya dan Pertahanan Republik Indonesia di Masa Lalu dan yang akan Datang. Bandung: Angkasa.

Ramli, K, Prof.(2010). Teknologi Informasi dan Ketahan Nasional. Pendidikan Ketahanan Nasional untuk Pemuda (p. 28). Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga, 23 Maret 2010.

Warganegara, A. (2008). GLOBALISASI: PENDEKATAN DALAM ILMU SOSIAL PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN SAINS DAN TEKNOLOGI. Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, (pp. II – 306). Lampung.

About these ads

Posted Oktober 19, 2010 by moze in cuap2

Tagged with ,

2 responses to “Konsepsi Nasution tentang Perang Rakyat Semesta di era Globalisasi

Subscribe to comments with RSS.

  1. allow salam kenal

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: